Kamis, 10 Januari 2013

Romantika Pernikahan, Masa Lalu dan Sekarang

Banyak sekali kisah-kisah romantik bernama pernikahan. Pernikahan adalah sebuah karunia terindah dalam kehidupan seorang wanita. Karenanya banyak orang menilai kunci kebahagiaan wanita terletak dari pernikahannya.

Jika pernikahannya itu mendatangkan bahagia, maka bahagialah wanita, namun sebaliknya jika pernikahan itu gagal maka meranalah yang akan dihadapi oleh wanita. Itulah ungkapan dari kawan SMA dulu, sebut saja namanya Fulanah, bukan nama sebenarnya, telah dikaruniai tiga anak, dua laki-laki dan perempuan.

Dia sangat senang dapat bertemu dengan saya. Karena saat masih di SMA dulu, kawan saya ini termasuk siswi yang cukup pendiam. Jika tidak diajak bicara, dia akan diam saja. Makanya, saya termasuk yang sering diajak ngobrol olehnya. Kata dia, saya ini orangnya enak diajak ngobrol sekaligus tempat curhat.

Lalu, kawan saya ini bercerita tentang kehidupan rumah tangganya yang sudah dijalaninya selama 11 tahun lebih yang akhirnya ‘kandas’ ditengah jalan. Dia bercerita, awalnya saat dia dan suaminya beli rumah di daerah Bekasi.

Lalu, saat baru menempati rumah barunya itu, dia dan suami hingga 11 tahun pernikahan sangat mesra sekali. Namun, saat ada tetangga beberapa rumah darinya yang pindahan, seorang janda cantik, katanya. Lama kelamaan suami dan beberapa suami dari tetangga pun tergoda.

Hingga akhirnya, suaminya menikah dengan sang janda dan menceraikan kawan saya ini. “Yah, begitulah Pram hidup ini,” kata kawan saya ini bercerita. Terkadang diatas, tapi kadang juga dibawah.

“Hidup gue kayaknya serasa paling menderita di dunia ini deh. Dua kali menikah, dua kali juga mengalami kegagalan. Pernikahan pertamaku kandas di tengah jalan ketika aku telah dikaruniai tiga orang anak. Aku terpaksa bercerai dengan suamiku,” ceritanya terlihat tegar. Sampai aku kaget dibuatnya. “Sudah 2 kali menikah?” tanyaku padanya.

Kawan saya ini melanjutkan cerita tentang suami keduanya. “Begitupun dengan pernikahan kedua. Lagi-lagi gue mengalami kegagalan. Lagi-lagi suamiku selingkuh dengan wanita lain (seorang janda, seperti cerita diatas juga), hingga perempuan selingkuhannya itu hamil diluar nikah. “Haruskah aku kembali bercerai dengan suami keduaku ini? Akhirnya gue pun cerai pram,” cerita kawan saya sambil melihat langit yang saat itu berwarna biru.

“Gue nggak nyangka Pram, jika perjalanan nasib gue akan seperti ini. Nggak pernah terbayangkan sebelumnya, jika gue mengalami kepahitan hidup yang menderaku setiap saat,” ceritanya menutup pembicaraan.

Tapi, kayaknya kalo gue ngeliat Pram bahagia ajah yah? “Kok nggak dibawa istri sama anak-anak Pram,” tanyanya ke saya. “Istri lagi ada acara, anak juga nggak mau ikutan ke acara reuni ini, karena lagi tanding futsal, jadilah saya sendirian datang kesini,” cerita saya kepadanya.

Setelah lama mengobrol, maka saya pun memberikan motivasi untuk kawan saya ini agar terus semangat dalam menjalani kehidupan ini, walaupun telah mengalami perceraian dua kali. “Mungkin saja ada hikmah dibalik ujian itu yang kita belum tahu,” papar saya kepadanya.

Kita wajib mensyukuri apa pun yang menimpa diri kita. Bukan karena masalah keberuntungan. Namun, bersyukur menuntun kita untuk senantiasa menyingkirkan sisi negatif dari kehidupan dunia ini. Orang lain mungkin mengatakan bahwa kita tidak realistis.

Namun, sebenarnya sikap kita jauh lebih realistis, yaitu membebaskan diri kita dari kecemasan atas kesalahan yang kita alami di masa lalu dan menutup diri dari hal-hal di masa mendatang. Bersyukur, dapat mendorong kita untuk bergerak maju dengan penuh antusias. Tak ada yang meringankan hidup kita selain sikap bersyukur kita kepada Allah SWT.

Hanya kepada-Nya kita tumpahkan segala musibah yang menimpa kita. Semakin banyak kita bersyukur semakin banyak kita menerima. Semakin banyak kita mengingkari, semakin berat beban yang kita jejalkan pada diri kita. Kebanyakan orang lebih terpaku pada kegagalan lalu mengingkarinya.

Nah, banyak diantara kita yang sedikit sekali melihat pada keberhasilan lalu mensyukurinya. Karena, kita takkan pernah berhasil dengan menggerutu dan berkeluh kesah. Demikian motivasi yang saya berikan untuk sahabat SMA saya ini. Semoga menjadi kebaikan buat dirinya dan diri kita semuanya. Wallahua’lam


0 komentar:

Posting Komentar