Senin, 14 Januari 2013

Berdakwah Kedalam Hati

Seorang da'i atau juru dakwah, terkadang suka berlebihan dalam mengajak manusia untuk meninggalkan dunia. Dunia dianggap oleh juru dakwah itu barang yang kotor, jijik, banyak menghasilkan benih-benih kelalaian dan kemaksiatan. Sehingga seorang yang baru belajar agama, ia akan berfikir beberapa kali untuk mengikuti seruan itu.

Namun, mereka akan mengikuti kita jika dapat menyeru dengan lebih bijaksana serta dengan bahasa komunikasi yang lebih mengena dan cocok untuk mereka. Bisa jadi metode komunikasi dakwah yang lebih komunikatif akan terbentuk pribadi kaya yang dapat menjadi penopang dakwah, sebagaimana Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan.

Menurut Ibnu Qoyim, seorang yang bijak (juru dakwah) tidak akan menyuruh manusia untuk meninggalkan dunia, karena mereka tidak dapat meninggalkan dunia. Maka meninggalkan dunia hukumnya sunnah, sedangkan meninggalkan dosa hukumnya wajib.

Bagaimana seseorang bisa diperintahkan untuk mengerjakan yang sunah, sementara ia sendiri tidak mengerjakan yang wajib. Jika mereka sulit meninggalkan dosa, maka bersungguh-sungguhlah untuk menjadikan mereka mencintai Allah SWT dengan mengingat tanda-tanda nikmat, kebaikan, sifat-sifat, kesempurnaan dan keagunganNya.

Karena secara fitrah, hati manusia pasti mencintaiNya. Jika hati sudah mencintaiNya, maka mudah baginya untuk meninggalkan dan melepaskan diri dari dosa. Dan hal itulah yang kini sering terjadi. Hal itu karena hati mereka telah terbuka dari mengingat padaNya, sang pencipta alam raya ini.

Seorang ulama, Yahya Ibnu Muadz pernah berkata, “Orang pandai yang mencari dunia lebih baik dari orang bodoh yang meninggalkannya”. Orang bijak akan menyeru manusia kepada Allah SWT dari keduniaan mereka, sehingga mudah bagi mereka memenuhi panggilannya.

Sedangkan seorang zahid menyeru manusia kepada Allah SWT, agar meningglkan dunia sehingga sulit bagi mereka memenuhi panggilannya. Sangat sulit bagi seorang anak yang menyusu pada ibunya untuk berhenti, jika ia tidak mampu menahannya.

Akan tetapi pilihlah ibu sususan yang pandai dan bijak. Susu juga akan berpengaruh terhadap tabiat anak yang disusui, dan susuan wanita tidak baik akan menyebabkan ketidakbaikan atau kebodohan pada anak.

Nah, mungkin nasehat Ibnu Qayim itu dapat kita jadikan renungan, agar kita bisa lebih berhati-hati lagi dalam menyampaikan dakwah kepada manusia. Jangan sampai seruan dakwah yang kita sampaikan, justru akhirnya malah membuat orang lari dari dakwah itu, akibat cara penyampaian yang kurang tepat serta komunikasi yang tidak nyambung.

Mari kita jadikan nilai-nilai dakwah Islam ini menjadi target sasaran kita, untuk terus berusaha semaksimal komitmen dan kemampuan diri kita. Jadikanlah diri kita ini sebagai 'embun' yang jatuh pada pagi hari. Ia akan menyejukkan orang yang mendapatkannya.

Mari bangunkan diri kita dari tidur panjang kenikmatan dunia. Buang jauh-jauh 'kebodohan' yang ada di dalam hati kita untuk menuju cahaya Islam. Agar seruan dakwah yang kita sampaikan kepada manusia langsung masuk kedalam hati mereka. Wallahua'lam


0 komentar:

Posting Komentar