Selasa, 15 Januari 2013

Kontribusi Terhadap Dakwah

Jika kita memperhatikan secara seksama perjalanan hidup kita, maka akan didapati bahwa Allah SWT telah memberikan kita nikmat serta karunia yang tidak terhingga. Dimulai saat kita terlahir dalam keluarga muslim dan hingga sekarang Allah SWT masih memberikan nikmat iman dan Islam.

Berapa banyak manusia yang terlahir dalam lingkungan keluarga non-muslim hingga dewasa, bahkan hingga ajal menjemput. Mereka tetap tidak mendapatkan atau menjaga fitrah penciptaannya, yaitu Islam seperti disebutkan dalam hadits, “Kullu mauluudin yuuladu ‘alal fithrah (Tiap bayi dilahirkan atas fitrah Islam)”.

Jika demikian, bukankah hal itu merupakan karunia besar yang patut kita syukuri? Allah SWT mencela dan mengancam orang yang tidak mensyukuri nikmat dengan siksa yang pedih nanti di akhirat. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat". (QS Ibrahim:7)

Alquran mengungkapkan berbagai limpahan kebaikan Allah SWT dengan ungkapan “tabaarak” yang arti sebenarnya adalah Maha Pemberi kebaikan yang berlimpah dan tak terhingga. Pengertian ini dapat kita lihat di ayat lain yang menyebutkan. “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya”. (QS Ibrahim: 34)

Ini menjadi bukti untuk kita semuanya sebagai seorang muslim untuk bersyukur dan membela Islam. Dalam tinjauan yang lebih luas lagi, Islam bukan hanya agama pribadi, tetapi juga sebuah arus dan ideologi yang harus diperjuangkan agar nilai-nilainya berjalan di muka bumi. Untuk tujuan ini, maka berkontribusi kepada Islam dan perjuangan dakwah Islam menjadi suatu keharusan dan wujud dari rasa syukur manusia kepada Allah SWT.

Islam adalah ideologi dan risalah Allah SWT yang harus sampai kepada seluruh manusia atau menjadi rahmat bagi semesta. Tugas besar ini memerlukan orang-orang yang memiliki komitmen dan loyalitas serta keterikatan yang kuat kepada Islam.

Pembelaan dan keberpihakan kepada Islam merupakan wujud kontribusi kita kepada Islam dan gerakan dakwah. Ekspresi rasa syukuran kita atas semua nikmat ini harus benar-benar terwujud dalam bentuk kerja nyata serta komitmen yang tinggi.

Orang yang merdeka adalah orang menjaga (merawat) kasih sayang (ukhuwah) yang hanya sebentar atau orang yang berafiliasi kepada orang yang telah memberikan manfaat meski hanya satu kata. Dakwah dan tarbiyah telah memberikan sesuatu yang banyak kepada kita. Kita bukan hanya menerima ukhuwah sesaat dari saudara kita lainnya, bahkan bertahun-tahun kita telah hidup menjalin ukhuwah.

Ilmu dan nilai yang bermanfaat buat kehidupan telah banyak kita dapatkan dari murabbi kita, dari pemimpin dan saudara seperjuangan. Jadi kita telah banyak berutang kepada dakwah dan pelaku dakwah itu sendiri, apalagi kepada Allah SWT, sumber segala kebaikan.

Dengan banyaknya kebaikan yang kita dapatkan dari dakwah dan tarbiyah, maka kita belum dapat dikatakan merdeka jika kita tidak dapat berterima kasih kepada para dai, murabbi, qiyadah, pemimpin kita yang telah menunaikan hak ukhuwah kepada kita.

Sudah sepantasnya dan tanpa ragu-ragu, kita harus memberikan kontribusi kita kepada dakwah dan gerakan dakwah ini sebagai wujud dan bukti intima kita kepada Islam. Misi dakwah telah dibebankan kepada para dai. Mereka adalah manusia.

Kepada merekalah kita menunjukkan intima Islam kita. Kepada para pembimbing dan pemimpin dan kepada mereka yang urusan kita menjadi tanggungannya kita bekerja sama dan beramal jamai. Ketaatan kita kepada seorang pemimpin merupakan cerminan intima kita kepada gerakan dakwah, karena Allah SWT memerintahkan kita untuk taat kepada pemimpin.

Jika nikmat keislaman kita syukuri dengan berwala kepada Allah, Rasul dan pemimpin Islam, maka nikmat berukhuwah dapat kita syukuri dengan senantiasa berafiliasi kepada gerakan dakwah dalam kerja dan ketaatan kepada kebijakan dakwah. Wallahua’lam.


0 komentar:

Posting Komentar