Selasa, 27 November 2012

YES MAN (FILM 2005)


Seorang karyawan bernama Carl Allrm menjalani kehidupan yang buram. Baginya pekerjaan adalah sebuah rutinitas yang membosankan. Bukan hanya urusan pekerjaansaja yang membuat hidupnya berantakan, begitu juga dengan kehidupan cintanya.

Ia adalah jomblo sejati, tidak memiliki kekasih yang bisa membuatnya tersenyum bahagia. Sebetulnya bukan karena dia tidak memiliki pekerjaan yang baik atau memiliki tampang pas-pasan, melainkan pola pikirnya yang negatif.

Ia selalu pesimis dalam memandang hidup. Paradigmanya itu terlihat dari sikapnya yang selalu menolak dan mengatakan tidak pada setiap ajakan dan kesempatan yang diberikan, baik oleh atasannya atau pun oleh teman-temannya. Rupanya sikap seperti itulah yang membuat karier dia tidak cemerlang, bahkan hidupnya menjadi monoton tanpa gairah.

Pada suatu hari Carl Allrm diajak (lebih tepatnya dipaksa) untuk mengikuti sebuah seminar motivasi yang diyakini bisa membuat hidupnya menjadi bergairah. Sang motivator yang memiliki banyak pengikut itu menawarkan sebuah perjanjian "aneh" yaitu harus selalu mengatakan Iya pada setiap ajakan, tawaran, atau permintaan dari siapa pun. Jika dilanggar maka hidupnya akan sial. Singkat cerita, setelah Ia selalu mengatakan iya pada setiap ajakan dan permintaan, dari mulai mengiyakan tugas lembur dari atasannya, hingga mengiyakan ajakan pesta teman-temannya. Dan memang betul, kini hidupnya berubah total menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.

Ya betul. Itu adalah cerita dalam film berjudul Yes Man. sebuah film komedi Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 2008 dan dibintangi oleh Jim Carrey. Film ini diangkat dari kisah hidup Danny Wallace, seorang pengarang asal Inggris. Sebelum diangkat menjadi film, awalnya cerita ini ditulis dalam sebuah buku berjudul The Yes Man yang diterbitkan tahun 2005 dan ditulis sendiri oleh Danny Wallace.

Mengatakan Iya pada setiap permintaan, perintah dan ajakan memang tidak mudah karena ini menyangkut ego seseorang yang memiliki penilaian tersendiri dengan pertimbangan apakah itu menguntungkan atau merugikan diri sendiri? Nah, bicara soal kesetiaan, dalam lingkup dunia kerja kata yang pas bagi orang yang setia pada perusahaan adalah memiliki loyalitas. Loyalitas berasal dari kata dasar loyal yang berarti setia atau patuh. Istilah loyalitas ini sering didefinisikan bahwa seseorang akan disebut loyal atau memiliki loyalitasnya tinggi jika mau mengikuti apa yang diperintahkan.

Pada sekitar tahun 1995, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh pakar Psikologi dan Neurologi, Daniel Goleman mempopulerkan konsep Kecerdasan Emosi atau yang kita kenal dengan singkatan EQ. Konsep ini menyatakan bahwa kecerdasan emosional berperan sangat penting bagi kesuksesan seseorang dalam berkarier. Salah satu ciri dari orang-orang yang memiliki kecerdasan emosi adalah mereka tidak mementingkan diri sendiri atau egois. Mereka tulus dalam melakukan tugasnya dan loyal pada perusahaannya. Dengan kata lain, seseorang yang loyal pada pimpinan dan perusahaannya, secara umum memiliki peluang lebih besar untuk sukses dibandingkan dengan mereka yang tidak loyal.

Belum lama ini saya mendapat pencerahan dari seorang guru spiritual yang mengatakan bahwa, para nabi dan orang-orang suci tidak pernah mengatakan tidak saat diminta tolong. Mereka selalu mengatakan Iya walau pun harus mengorbankan kepentingan dirinya. Mereka seperti lilin yang menerangi sekelilingnya tanpa pilih kasih atau merasa telah dimanfaatkan. Meskipun untuk itu ia harus melelehkan dirinya. Kenapa mereka melakukan itu? Karena mereka loyal pada Tuhannya. Mereka selalu ingin melayani mahluk ciptaan-Nya, baik diminta atau pun tidak. Jika Anda menjadi YES MAN! dalam pengertian seperti ini, Anda termasuk dalam katagori orang yang loyal atau setia. Anda juga tidak hanya memilki Kecerdasan Emosi melainkan juga memiliki Kecerdasan Spiritual.

0 komentar:

Posting Komentar