Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label motivasi islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 November 2013

Bersyukur Selamanya

Apakah kita ingat sesuatu yang khusus yang kita lakukan tepat satu minggu yang lalu, atau satu bulan yang lalu, pada hari ini? Apa yang dapat kita lakukan hari ini yang akan membuat hari-hari untuk kasih sayang dalam waktu yang lama datang?

Hari ini adalah satu hari dalam hidup kita. Kita memiliki kesempatan untuk hidup sehari ini sedemikian rupa bahwa hal itu akan membuat perbedaan positif di tahun-tahun mendatang.

Kita dapat mengekspresikan cinta kita dengan cara yang baru dan unik. Kita dapat memulai sebuah proyek ambisius yang sudah lama untuk memulai dengan waktu yang lama.

Kita bisa meluangkan waktu dan membuat upaya untuk belajar keterampilan baru yang akan menambah nilai setiap hari dalam hidup kita. Kita juga bisa mengunjungi tempat yang belum pernah kita datangi sebelumnya, atau menghubungkan kembali dengan teman lama.

Kita dapat berpikir kembali untuk berkomitmen diri dengan prioritas tertinggi. Dan kemudian kita dapat mengambil hal yang nyata, yaitu tindakan efektif yang akan membawa kepada prioritas hidup.


Selasa, 05 November 2013

Buka Lembaran Baru di Tahun Hijriyah

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al Hasyr: 18)

Islam sebagai agama yang bukan saja mengatur bagaimana cara beribadah kepada Allah SWT, tetapi juga mengatur hubungan antar sesama manusia. Islam juga mengajarkan kepada para pemeluknya dalam pergaulan hidup bermasyarakat, tanpa melihat pangkat, jabatan dan keturunan, bangsa dan bahasa serta kepercayaan dan agama.

Pergantian tahun baru Islam 1434 Hijriyah menuju tahun 1435 Hijriyah, adalah isyarat agar setiap muslim dapat mengenal diri sekaligus menganalisis dengan pencapaian dalam bentuk amal kebaikan atau kegiatan lain yang dilaksanakan sepanjang tahun lalu, menuju kejalan kebaikan.

Marilah kita sambut tahun baru Islam 1435 Hijriyah, yang jatuh pada hari Selasa, 5 November 2013 dengan penuh kesyukuran dan kebersamaan. Kita buka lembaran baru dan kita jadikan tahun lalu sebagai pengalaman kita, sementara tahun ini membawa harapan tinggi menggunung.

Mari kita renungkan sabda Rasullullah SAW yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud: “Barangsiapa yang amal perbuatannya hari ini lebih baik dari hari ini atau kemarin, maka ia tergolong kedalam golongan orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang amal perbuatannya hari ini sama dengan kemarin, maka ia orang yang merugi. Dan barangsiapa yang amal perbuatannya hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia tergolongan dalam golongan orang yang mendapat laknat Allah”.

Islam mengajak seluruh manusia saling kenal mengenal antara satu dengan yang lain. Dengan perkenalan itu akan melahirkan rasa hormat menghormati, harga menghargai, bekerjasama dan mempunyai faham yang sama dalam segala hal mengikut kepentingan bersama. “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”. (QS Al Hujurat: 13)

Islam juga mengajarkan agar jangan menghina atau mengecilkan keyakinan orang lain. Mengapa? karena perbuatan seperti itu akan menyebabkan orang yang dihina akan menghina dan memaki diri kita hingga melampaui batas. Karena menghormati pendirian orang lain adalah penting, asalkan saja kita berpegang teguh kepada keyakinan terhadap Allah SWT, dan tidak menyembah selain-Nya.

Kehadiran tahun baru Islam 1435 Hijriyah ini, hendaklah dijadikan sebagai wujud kesadaran peningkatan diri, dan setiap pribadi muslim sama dalam hubungannya kepada Allah SWT atau sesama manusia.

Kini Islam tidak lagi menuntut umatnya supaya berhijrah dari segi geografi, namun apa yang dituntut adalah dengan hijrah yang hakiki, yaitu dalam bentuk peningkatan amal, perubahan sikap, mutu kerja, akhlak mulia dan kepedulian terhadap sesama. Wallahua’lam


Kamis, 19 September 2013

Bila Gerakan Dakwah Memasuki Wilayah Politik

“Pergilah kepada Fir'aun, sesungguhnya ia benar-benar telah melampaui batas”. (QS Thaha: 24). Seruan dakwah para nabi dan utusan Allah bertujuan tegaknya agama di muka bumi.

Kenyataan menunjukan bahwa jagat politik merupakan salah satu dari dimensi kehidupan manusia. Karena itu, keberadaannya sama dengan dimensi kehidupan lainnya, seperti ideologi, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

Mereka yang ingin dakwah ini berjalan sesuai jalurnya (gerakan dakwah ilallah), agar banyak dirasakan masyarakat tentunya menyadari bahwa kemenangan politik hanya dapat dicapai melalui perjuangan dakwah yang melibatkan aspek politik.

Sementara itu, kehidupan kaum muslimin dewasa ini menuntut pembaruan orientasi dikalangan gerakan dakwah. Pembaruan orientasi itu meliputi arah dan model dakwah yang sesuai dengan tuntutan dan problematika masyarakat kontemporer (kekinian).

Dalam menghadapi tuntutan-tuntutan itu semua, maka gerakan dakwah hendaknya berorientasi pada pembangunan masyarakat Islam dalam satu sisi dan memobilisasi kekuatan politik umat hingga membuahkan kemenangan politik.

Menjauhnya umat Islam dari risalah Nabi Muhammad SAW dan dengan adanya konspirasi besar-besaran yang menyerbu umat Islam dari berbagai penjuru, diyakini memperparah kelemahan umat Islam dalam menghadapi serbuan peradaban materialistic, yang berujung melemahnya kekuatan dalam perjuangan dakwah Islam.

Namun demikian, ternyata kondisi seperti itu tidak memusnahkan semua potensi kekuatan serta peninggalan peradabannya. Aqidahnya tetap utuh, kokoh sekaligus kuat dan ajaran-ajarannya tidak tergusur meskipun usaha-usaha pembusukan dan langkah memandulkan serta meminggirkan gerakan Islam dan kaum muslimin terus berjalan dan berlangsung hingga kini.

Bahkan gerakan-gerakan dakwah Islam yang ingin mengembalikan ‘izzatul Islam wal Muslimin’ terus marak dan berkembang dihampir semua bagian di muka bumi ini. Gerakan-gerakan itu ingin menegakkan agama Allah di muka bumi dengan sejumlah agenda-agenda perubahan yang dicanangkan untuk menuju masyarakat yang madani.

“Karena itu, serulah (mereka beriman) dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti hawa nafsu (keinginan) mereka dan katakanlah, "Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil diantara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali”. (QS Asy Syura: 15)

Rabu, 18 September 2013

Keutamaan Zikir

Dalam Al Quran ada begitu banyak ayat yang memerintahkan kita untuk memperbanyak zikir. Dan penjelasan tentang keutamaannya juga ada di banyak ayat Al Quran dan hadits Rasulullah Saw.

Di dalam QS Al Ahzab: 35 yang berisikan ciri-ciri orang-orang yang akan mendapat ampunan dan pahala yang besar dimulai dari laki-laki dan perempuan yang muslim, mukmin, taat, jujur, sabar, khusyu, bersedekah, berpuasa, menjaga kehormatannya hingga akhirnya puncak kriterianya adalah orang yang banyak mengingat Allah (berzikir).

Di ayat 41 dan 42, Allah SWTberfirman, “Hai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang”.

Keutamaan zikir juga nampak dalam hadits, “Aku terserah kepada persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia mengingat-Ku (berzikir) dalam dirinya, maka Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam sebuah jama’ah, Aku akan menyebutnya di dalam jama’ah yang lebih baik dari mereka”. (Hadits Qudsi, Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah).

Paling tidak ada beberapa keutamaan zikir yang dapat disebut di antaranya ialah:

Pertama, memperoleh ketenangan hati dan ketenteraman jiwa. Iman dan kekuatan zikir serta hubungan dengan Allah SWT menjadi kekuatan jiwa, sehingga seseorang selalu diliputi ketenangan dengan ketenteraman karena selalu ingat Allah SWT. Seperti dalam hadits Nabi SAW: “Sungguh ajaiblah orang yang beriman. Bila diberi karunia ia bersyukur (mengembalikannya kepada Allah) dan itu baik untuknya. Bila diberi musibah ia bersabar dan itu lebih baik lagi untuknya”.

Kedua, memberatkan timbangan hasanat di Yaumul Mizan. Kata Rasulullah ada ucapan zikir yang ringan diucapkan dan berat timbangan kebaikannya yaitu: “Subhanallah, walhamdulillah walaa ilaha illallah wallahu akbar”.

Ketiga, dijauhkan dari segala tipu daya setan dan marabahaya. Dengan seseorang rajin berzikir ma’tsurat (zikir yang ma’tsur) misalnya di waktu pagi dan petang, maka ia terhindar dari segala marabahaya yang datang dari syaitan jenis manusia maupun jin. Tidak akan terkena terkena tipu daya setan, hipnotis, santet, pelet, dan ilmu hitam lainnya.

Keempat, memperoleh keberuntungan dan kemenangan. “Hai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseur untuk melaksanakan shalat Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Maka apabila telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”. (QS Al Jumu’ah: 9-10)

Jadi berzikir kepada Allah banyak-banyak adalah kunci keberuntungan dan kemenangan.

Kelima, sebagai alat kontrol dan pengendali diri jika sudah berhasil meraih kemenangan dan kesuksesan. Dalam QS. 110, Allah berfirman: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat”.

Ayat itu mengingatkan kita agar tetap berzikir seandainya kemenangan sudah kita raih karena zikir akan jadi pengendali agar kita tidak lupa diri, ghurur atau takabbur. Semoga kita selalu terjaga dengan tetap selalu berzikir, baik dalah keadaan berdiri, duduk maupun berbaring. Tiada hari tanpa berzikir kepada Allah SWT.


Minggu, 15 September 2013

Kenali 4 Macam Takdir

Takdir mempunyai makna, yaitu ketetapan yang telah dibuat oleh Allah SWT menurut ilmu dan sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan kata lain, segala sesuatu yang telah terwujud di masa lalu, di masa kini maupun di masa yang akan datang, semuanya telah ditetapkan kewujudannya oleh Allah SWT

Takdir ada empat macam. Namun, semuanya kembali kepada takdir yang ditentukan pada zaman azali dan kembali kepada Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Keempat macam takdir tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, Takdir Umum (Takdir Azali). Takdir yang meliputi segala sesuatu dalam lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Di saat Allah SWT memerintahkan al-Qalam (pena) untuk menuliskan segala sesuatu yang terjadi dan yang belum terjadi sampai hari kiamat.

Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini. “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS Al Hadid: 22)

“Allah-lah yang telah menuliskan takdir segala makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum diciptakan langit dan bumi. Beliau bersabda, ‘Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.” (HR Muslim)

Kedua, Takdir Umuri. Yaitu takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya ketika pembentukan air sperma (usia empat bulan) dan bersifat umum. Takdir ini mencakup rizki, ajal, kebahagiaan, dan kesengsaraan. Hal ini didasarkan sabda Rasulullah SAW berikut ini.

“…Kemudian Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk meniupkan ruhnya dan mencatat empat perkara: rizki, ajal, sengsara, atau bahagia....” (HR Bukhari)

Ketiga, Takdir Samawi. Yaitu takdir yang dicatat pada malam Lailatul Qadar setiap tahun. Perhatikan firman Allah berikut ini: “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS Ad Dukhan: 4)

Ahli tafsir menyebutkan bahwa pada malam itu dicatat dan ditulis semua yang akan terjadi dalam setahun, mulai dari kebaikan, keburukan, rizki, ajal, dan lain-lain yang berkaitan dengan peristiwa dan kejadian dalam setahun. Hal ini sebelumnya telah dicatat pada Lauh Mahfudz.

Keempat, Takdir Yaumi. Yaitu takdir yang dikhususkan untuk semua peristiwa yang akan terjadi dalam satu hari; mulai dari penciptaan, rizki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, dan lain sebagainya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS Ar Rahman: 29). Ketiga takdir yang terakhir tersebut, kembali kepada takdir azali: takdir yang telah ditentukan dan ditetapkan dalam Lauh Mahfudz.


Sabtu, 14 September 2013

Gambaran Singkat Tentang Kisah Jin Dan Al-Quran

Katakanlah (Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan),” lalu mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al Quran), (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, dan sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. Dan sesungguhnya orang yang bodoh diantara kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. (QS Al Jin: 1-4)

Dalam riwayat shahih dijelaskan bahwa golongan jin telah mendengarkan Nabi SAW di saat beliau sedang shalat dengan para sahabatnya dan membaca Al Quran dengan lantunan suara yang mendorong jin bergerak menuju ke haribaannya.

Setelah mereka mendengarkannya dengan sungguh-sungguh dan memahami hakikat Kalamullah, maka mereka bertolak dan bergerak menuju masyarakatnya (kaumnya) untuk memberi kabar gembira dan mengajarkan apa-apa yang telah mereka pahami.

Allah SWT mewahyukan hal ini kepada Nabi SAW agar hatinya merasa tentram dan jiwanya tetap menggelora dalam dakwahnya meskipun orang-orang musyrik berpaling darinya.

Ayat jin ini diturunkan dalam surat Al Ahqaf secara global pada dua ayat 29 dan 30 dan secara terperinci seperti yang digambarkan dalam surat jin ini untuk memberikan teguran pada Kuffar Quraisy dan Arab yang terlambat merespon keimanan, sementara jin yang bukan dari golongan manusia lebih cepat merespon dakwah dari pada mereka.

Mereka Kuffar Quraisy tidak beriman dan bahkan mendustakannya dikarenakan sifat hasud yang menyelimuti diri mereka dan benci apabila Allah menurunkan anugerahnya kepada orang yang dikehendakiNya.

Beriman Kepada Qadha dan Qadar

Apa pun yang terjadi di dunia dan yang menimpa diri manusia pasti telah digariskan oleh Allah Yang Mahakuasa dan Yang Mahabijaksana. Semua telah tercatat secara rapi dalam sebuah Kitab pada zaman azali.

Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan celaka telah ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan ilahiah yang tidak pernah diketahui oleh manusia.

Dengan tidak adanya pengetahuan manusia tentang ketetapan dan ketentuan Allah ini, maka ia memiliki peluang atau kesempatan untuk berlomba-lomba menjadi hamba yang saleh-muslih, berusaha keras untuk mencapai yang dicita-citakan tanpa berpangku tangan menunggu takdir, dan berupaya memperbaiki citra diri.

Dengan bekal keyakinan terhadap takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT, seorang mukmin tidak pernah mengenal kata frustrasi dalam kehidupannya, dan tidak berbangga diri dengan apa-apa yang telah diberikan Allah SWT.

Ia akan berubah menjadi batu karang yang tegar menghadapi segala gelombang kehidupan dan senantiasa sabar dalam menyongsong badai ujian yang silih berganti. Ia juga selalu bersyukur apabila kenikmatan demi kenikmatan berada dalam genggamannya.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al Hadid: 22-23)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS Al An'am: 59)

Kamis, 12 September 2013

Bahaya Lidah

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ada kisah menarik yang disampaikan Ibnu Katsir dalam menjelaskan asbabun nuzul Surah Al-Hujurat ayat 6. Kisah ini pernah dialami isteri Rasulullah SAW, Aisyah r.a, di bulan Sya'ban tahun kelima hijriyah.

Saat itu, Aisyah r.a, mengalami kegelisahan luar biasa akibat fitnah yang disebarkan oleh kaum munafik di Madinah. Isunya pun tidak main-main. Isteri Rasul SAW yang mulia ini dikabarkan telah berselingkuh dengan seorang sahabat Rasul yang bernama Shafwan.

Fakta-fakta pun terangkai dan tertata apik, seolah isu itu memang benar-benar terjadi. Mulai dari tidak tahunya sang suami, Rasulullah SAW, kalau Aisyah tidak pulang bersamanya dari suatu tempat dalam sebuah peperangan di Bani Musthaliq. Hingga, Aisyah r.a yang tiba-tiba datang berdua dengan seorang pemuda ganteng. Itulah dia Shafwan Ibnu Mu'aththal.

Dengan cara apa lagi Aisyah r.a menjelaskan kalau dirinya tidak seperti yang diisukan, padahal tidak ada seorang saksi pun kecuali mereka berdua. Fitnah pun merebak begitu subur dan meluas di seantero Madinah.

Kalau saja bukan karena firman Allah SWT yang menegaskan kesucian Aisyah, mungkin fitnah tersebut akan menjadi petaka besar bagi dakwah Islam saat itu.

Firman Allah SWT, "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Jangan kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan ia baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barang siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula).” (QS An Nur: 11)

Demikian dahsyatnya bahaya lidah (Afatul Lisan). Ketajaman lidah jauh melebihi pisau dan pedang sekalipun. Karena, sekali ia beraksi dan berjalan, maka korbannya tidak hanya satu atau dua orang saja, melainkan bisa seluruh kampung, daerah, negara, bahkan jamaah sekali pun.

Islam mengajarkan kita untuk selalu berhati-hati dengan ucapan. "Siapa yang banyak bicara maka banyak pula salahnya. Siapa yang banyak salahnya, banyak pula dosanya. Dan, siapa yang banyak dosanya, maka api neraka lebih utama baginya." (HR Athabrani)

"Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan), niscaya aku menjamin baginya surga." (HR Bukhari)


Rabu, 11 September 2013

Bekali Diri Dengan Al Quran

Al Quran adalah Minhajul Hayah bagi manusia yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Allah SWT telah memberikan jaminan terhadap kebenaran, keindahan serta kemudahan dalam menikmati Al Quran yang tidak hanya dapat dirasakan oleh siapa saja dan berlaku sepanjang zaman (QS Al Qomar 17,22, 32 dan 40).

Ungkapan syukur yang tak terkira kepada Allah SWT jika kita telah merasakan kemudahan menikmati Al Quran namun sungguh suatu musibah yang amat besar jika ternyata keakraban kita dengan Al Quran sangat lemah.

Kita harus berlindung kepada Allah SWT agar tidak menjadi orang yang menjadikan Al Quran sebagai mahjura (sesuatu yang ditinggalkan) tetapi sebaliknya kita harus menjadi orang seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang artinya: “Perumpamaan mukmin yang aktif membaca Al Qur'an bagaikan buah Urtujjah, bau harum dan rasanya lezat.” (HR Muttafaqun 'alaih)

Maksudnya, kapanpun dan dimanapun kita berada, maka Al Quran harus memberi shibghah, artinya keberadaan kita ditengah-tengah keluarga dan masyarakat harus dapat menyebarkan semerbak ketakwaan, mujahadah, jihad dan sabar. Diamnya kita dapat membawa ketenangan dan kebahagiaan bagi semua orang yang ada disekitar kita.

Kita sadar betapa pentingnya AlQuran dalam segala aspek kehidupan. Al Quran akan menumbuhkan ‘quwwatudz dzikr, quwwatul munajat, quwwatu hubb’ dalam diri kita sehingga melahirkan hati yang peka dalam menerima taujihat (pengarahan) Allah SWT.

Untuk mencapai hal tersebut kita harus membekali diri dengan Al Quran dengan tahapan-tahapan yang benar agar menghidupkan ruh Al Quran dan berinteraksi dengan Al Quran diantaranya:

Pertama, tumbuhkan sedalam-dalamnya keimanan kepada Allah SWT. Kedua, membiasakan diri tadabur Al Quran melalui terjemahan, kitab tafsir atau mengikuti kajian tafsir di masjid, mushala, kajian mingguan, dan lainnya.

Ketiga, berusaha melaksanakan segala yang diinginkan Allah SWT karena merealisasi satu ayat tidak hanya berdampak bagi peningkatan iman tetapi berdampak pula pada semakin dalamnya pemahaman kita terhadap isyarat Al Quran. Keempat, berusaha merasakan bahwa semua Khitab (intruksi) atau arah pembicaraan Allah adalah Khitab untuk diri sendiri bukan untuk orang lain.

Minggu, 01 September 2013

Wanita Muslimah Lebih Cantik Daripada Bidadari

Meskipun sudah banyak dijelaskan tentang kecantikan bidadari, akan tetapi seorang wanita shalihah, yang taat kepada Allah dan suaminya yang mukmin, maka kecantikannya di surga akan melebihi bidadari tujuh puluh kali.

Hal itu dikarenakan wanita shalihah selalu mendirikan shalat, puasa, ikut bertanggung jawab dalam dakwah dan iman kepada Allah SWT.

Wahai saudaraku muslimah, ketahuilah bahwa engkau kelak akan lebih cantik dari bidadari, dengan syarat engkau bersabar dan taat kepada Allah dan beriman pada-Nya.

Sekarang dengan jilbab/hijab mu, imanmu, malumu, engkau adalah wanita cantik. Teruslah bersabar, hingga engkau mendapatkan telaga Rasulullah SAW dan melihat Dzat Allah SWT

Kesuksesan Hakiki

Tujuan setiap mukmin adalah masuk ke dalam surga dan selamat dari siksa api neraka. Itulah kesuksesan yang hakiki.

Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang diperdayakan.” (QS Ali Imran: 185)

Lalu, bagaimana perasaan kita? Ketika datang pada Hari Kiamat, sementara pintu-pintu surga terbuka untuk kita, dan kita dipersilahkan masuk dari pintu mana saja. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar

Jumat, 17 Mei 2013

Mereka Yang Mendustakan Hari Kiamat

“Dan tidak ada yang mendustakannya (hari pembalasan) kecuali setiap orang yang melampaui batas dan berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “itu adalah dongeng orang-orang dahulu”. Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutup hati mereka. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu mereka benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. (QS Al Muthaffifin: 12-16)

Lima ayat surat Al Muthaffifin di atas, Allah SWT memberitahukan kepada kita sekaligus menjelaskan karakteristik orang-orang yang mendustakan hari kiamat dan ayat-ayat-Nya serta azab yang bakal mereka tanggung dan Allah timpakan.

Maha Benar Allah, manusia-manusia dengan karakteristik seperti itu kadang kita temui. Mereka dapat muncul sebagai sanak-famili, kawan, kerabat, atau bos di kantor. Cirinya pun jelas.

Mereka sangat intens dengan pekerjaan, karier, atau perusahaannya sedemikian rupa, sehingga target-target material, dead line, keuntungan-keuntungan dunia serta goal-goal ekonomi menguasai penuh fikiran, perasaan, hidup dan masa depan mereka.

Hatinya telah tertambat, terikat, tak dapat lepas lagi. Mereka tak dapat melihat lain selain yang ada di depan matanya, bisnis, pekerjaan, serta gagasan-gagasan mereka. Maka gaya hidup, style, dan standar, semuanya muncul dalam pola tunggal material, paling tinggi keilmuan atau intelektual. Maka kecerdasan menjadi barang mewah. Rasio tinggi posisinya.

Mereka tak dapat melihat lain selain masa yang pendek, selain masa yang dekat, keberhasilan yang di depan mata, hanya sebatas dunia. Cita-citanya sangat sederhana, hidup senang di dunia selama hanya kurang-lebih 40 tahun; hanya itu, tidak lebih.

Maka manakala ayat-ayat Allah dibacakan, manakala kebenaran disampaikan untuk memberi peringatan, mereka malah mengeras, kaku bak batu karang. Kelembutan berbalas kata-kata kasar. Maka fitnah, caci-maki, penghinaan mereka hamburkan dengan entengnya.

Seakan mereka yakin azab Allah tak akan datang pada diri mereka. “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutup hati mereka”. Maka Allah mengunci mati hati itu. Masya Allah.

Jika hal itu terjadi, maka yang ada hanya sesaat berkepanjangan. Sesungguhnya azab Allah sangat pedih, neraka Allah sangat dahsyat. Dan Allah tak pernah lengah akan janji-Nya. Mereka bisa jadi ada diantara sanak-famili, kaum kerabat, atau salah seorang bos kita. Namun insya Allah mereka bukanlah diri kita. Wallahua'lam

>> follow @CepPangeran


Selasa, 07 Mei 2013

Kebaikan di Dunia dan di Akhirat

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka”. (QS Al Baqarah: 201).

Kebahagiaan itu tidak harus mempunyai kekuasaan, harta yang bergelimang atau keturunan darah biru. Karena kebahagiaan itu letaknya di hati dan hati yang baik akan memberikan respon kebahagiaan yang sebenarnya kepada pemiliknya.

Untuk menggapai tujuan, cita-cita, dan harapan dalam hidup, manusia senantiasa diwajibkan untuk selalu berusaha atau ikhtiar. Agar usahanya maksimal, maka dibuatlah berbagai program, target, atau langkah-langkah yang akan ditempuh.

Namun, kenyataan hidup di dunia mengajarkan, apa yang dilakukan terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Usaha terkadang tidak sebanding dengan hasil yang kita inginkan. Rencana dan target kehidupan yang sudah kita buat, terkadang hasilnya jauh diluar perkiraan. Inilah yang kita sebut dengan kegagalan

Dan kegagalan adalah bukti bahwa manusia memiliki kelemahan dan keterbatasan. Manusia dipertintahkan hanya wajib berusaha, tetapi tidak wajib untuk berhasil. Manusia boleh berusaha dan berencana, namun garis atau takdir kehidupan telah punya rencananya sendiri.

Di sini, kegagalan dalam hidup mengajarkan satu hal kepada kita semua, bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk yang jauh dari kesempurnaan. Yang sempurna hanyalah pemilik diri dan jiwa manusia, dialah Allah SWT bukan yang lain.

Di saat kegagalan sebagai akhir dari usaha yang kita dapatkan, maka suasana yang menyelimuti diri kita adalah resah, kecewa, galau bahkan putus asa. Dan kondisi saat itulah kita memerlukan tempat untuk bersandar, nasihat yang mendalam, penggugah motivasi, dan kekuatan untuk bangkit kembali untuk tegar menghadapi kehidupan.

Sehingga harapan-harapan baru akan muncul sebagai pemantik gairah potensi positif yang kembali melahirkan usaha-usaha keras. Disinilah rekonstruksi visi dunia-akhirat sangat penting sekali.

Visi dalam kehidupan, terutama sebagai muslim sejati, tidak terbatas pada kehidupan di dunia ini saja, akan tetapi jauh menembus kehidupan dan kebahagiaan akhirat. Wallahua’lam

>> follow @CepPangeran

Sabtu, 04 Mei 2013

Manisnya Iman, Karena Cinta Allah dan Rasul

Seseorang akan merasakan manisnya iman manakala di dalam hatinya ada rasa cinta yang mendalam kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan manisnya akan semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk senantiasa menyempurnakan cintanya kepada Allah, ridha serta memperbanyak amalan yang dicintai Allah SWT serta menjalankan sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW.

Jika seseorang telah merasakan keridhaan kepada Allah SWT, agama dan Rasul-Nya, maka ia akan merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah SWT, baik dalam salatnya, tilawah AlQuran, serta aktifitas lainnya berkumpul dengan orang-orang shaleh serta keterlibatannya dalam barisan dakwah.

Selain itu, ia juga akan merasakan lezatnya menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berdakwah. Kelelahan, keletihan, dan hal-hal yang menyakiti perasaannya akibat celaan orang karena menjalankan syariat Islam, atau bahkan mencederai fisiknya. Semua itu semakin membuatnya nikmat dalam berdakwah. Semua inilah yang akan senantiasa melahirkan manisnya Iman.

Dari Abbas bin Abdul Muthalib, Rasulullah SAW bersabda, “Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR Muslim)

Manisnya iman yang dimaksudnya adalah mersakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.

Ridha adalah puncak dari segala kepuasan jiwa. Seorang mukmin barulah dikatakan ridha bertuhankan Allah SWT, ridha akan pembagian rizki dari Allah. Sabar menerima cobaan dari Allah. Mensyukuri akan segala nikmat Allah.

Seorang mukmin baru dikatakan beragama Islam, apabila ia sungguh-sungguh mengagungkan kehormatan Islam, mengagungkan tanda syiar Islam, selalu bersungguh-sungguh menambah ilmu dan amal untuk memperkuat serta menambah istiqamah dan mendalamnya ilmu tentang agama Islam. Sangat cinta kepada Islam, dan takut dirinya terlepas dari Islam. Menghormati orang Islam dan tidak mencintai atau membela orang yang mengkufuri Islam.

Tentu saja setiap muslim akan sangat berbahagia karena dapat menikmati lezatnya iman. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengucapkan ketika pagi dan ketika sore tiga kali “Radhiitubillahi rabba wa bil islaami diina wabi muhammadin nabiyya”. Sungguh bahwa Allah SWT akan membuat ia menjadi ridha”.

Ridha Allah menjadi Tuhannya, ridha Islam menjadi agamanya dan ridha Nabi Muhammad SAW menjadi Nabinya. Oleh karena itu, pasti dibalasnya dengan penguatan dan pengukuhan sifat ridha itu pula di dalam hatinya, sehingga ia dapat menikmati lezat imannya.

Semoga kita semua dianugerahi sikap hidup dan dianugerahi hati yang selamat dan sehat, sehingga berbahagia dapat menikmati lezatnya iman di dunia dan di akhirat. Amin. Wallahua'lam

>> follow @CepPangeran
 

Sabtu, 09 Maret 2013

Kematian

Tiap manusia yang hidup di muka bumi ini pasti ditakdirkan Allah SWT untuk mati. Tanpa terkecuali, mereka semua akan mati, tiap orang.

Kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS Al Ankabut: 57)

Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik.

Coba kita renungkan, seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka.

Hanya Allah SWT yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya. Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, ia pasti akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al Jumuah: 8)

Senin, 04 Maret 2013

Berdzikir, hati jadi Tenteram

Ada banyak ibadah yang menjadi kewajiban seorang muslim dalam menjalani kehidupan sehari-harinya, salah satunya adalah dengan dzikir.

Dzikir (atau zikir) merupakan salah satu ibadah yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya akan mendatangkan ketenangan bagi para pelakunya.

Allah SWT berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. (QS Ar Ra’du: 28). Berdzikir (mengingat Allah) bisa dilakukan dimana dan kapanpun, baik duduk, berdiri, sujud, tiduran, berjalan, dan lainnya mungkin untuk dilakukan.

Dari sini hati kita akan menjadi tenang. Terhindar dari rasa kuatir yang berlebihan dan bisa mengontrol diri. Kesemua itu bisa dilakukan dengan hitungan-hitungan tertentu dengan tasbih atau tidak.

Nabi Muhammad SAW berpesan kepada para sahabat, “Wahai sahabatku, hendaklah kalian tidak meninggalkan doa Allahumma a’innii ‘alaa Dzikrika wasyukrika wahusni ‘ibaadatika, Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu serta beribadah dengan baik”.

Amalan dzikir tidaklah mudah diterapkan, terkadang kita ingat pada saat tertentu, tetapi lupa pada saat yang lain. Dzikir merupakan benteng dari godaan setan untuk melakukan larangan-laranganNya.

Allah SWT berfirman: ”Setan telah mengusai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang rugi”. (QS Al Mujadilah: 19)

Artinya, bila diri kita sudah dikendalikan oleh setan, maka kita akan lupa mengingat Allah dan berpotensi untuk melakukan larangan-laranganNya. Kita akan menjadi sahabat setan, dan termasuk kelompok yang merugi. Oleh karena itu, bentengilah diri kita dengan selalu berdzikir kepada Allah SWT.

Di dalam surat Al Ahzab ayat 41-42, Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”.

Dzikir juga merupakan syarat mutlak jika ingin menang dalam berdakwah, juga melawan pasukan musuh, sebagaimana firman Allah dalam AlQuran surat Al Anfal ayat 45: “Wahai orang-orang yang beriman! apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung”.

Sudahkah di setiap aktifitas kita selalu berdzikir ataupun berdoa kepada Allah SWT, jika belum, maka lakukanlah. Agar hati ini selalu tenang, damai dan tenteram. Wallahua’lam

Kamis, 14 Februari 2013

Islam dan Kepedulian Sosial

Rasululullah SAW bersabda, “Tidak beriman salah seorang kalian sampai dia mencintai saudaranya, seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini termasuk hadits shahih dan cukup populer di kalangan kaum muslimin umum sekalipun. Yang subtansif pada hadits ini adalah mengaitkan iman dengan masalah sikap hati dalam hal ini mencintai orang lain selain dirinya.

Mencintai orang itupun ditentukan bobotnya oleh Rasulullah yaitu sama dengan mencintai diri sendiri. Rasanya ini sangat berat dan sulit dilaksanakan, namun jika iman itu benar-benar ada dan hidup dalam jiwa maka yang berat dan sulit itupun sangat bisa terealisir.

Konsep kepedulian khususnya masalah sosial dalam Islam sungguh cukup jelas dan tegas. Bila diperhatikan dengan seksama, dengan sangat mudah ditemui bahwa masalah kepedulian sosial dalam Islam terdapat dalam bidang akidah dan keimanan, tertuang jelas dalam syariah serta jadi tolok ukur dalam akhlak seorang mukmin.

Begitu juga Allah SWT menghargai mereka yang melaksanakan amal sosial dalam kontek kepedulian sosial tersebut, sebagaimana Alah juga sangat mengecam mereka yang tidak mempunyai rasa kepedulian sosial.

Iman kepada Allah merupakan rukun utama dan pertama dalam Islam. Bagaimana implikasi kepada Allah dijelaskan Al Quran dan hadits. Salah satunya berkaitan dengan kepedulian sosial.antara lain, misalnya didalam surat Al Anfal ayat 2: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah (1). mereka yang jika disebut nama Allah gemetar hatinya. (2) dan apabila dibacakan kepadanya bertambah keimanannya (3) dan mereka bertawakkal kepadanya.(4) Mereka yang melaksanakan sholat dan (5) menafkahkan sebagian harta yang diberikan kepada mereka”.

Jadi menafkahkan sebagian harta untuk orang lain termasuk indikasi/ukuran bagi keimanan sesorang dalam kehidupan ini. Hadits-hadits yang menekankan hal ini cukup banyak antara lain Siapa yang beriman dengan Allah dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamu/tetangga.

Dalam Islam, para pemberontak negara haru diperangi sampai habis total dan tuntas. Termasuk disini adalah mereka yang tak mau bayar zakat. Artinya tidak mau bayar zakat merupakan kesalahan besar di mata hukum Islam. Islam juga mewajibkan amar ma’ruf nahi mungkar yang kesemuanya terkait dengan hukum dan segala konsekuensinya. Orang yang tidak memberi makan fakir miskin dapat terjerat vonis pedusta agama. (QS Al Ma'un: 3)

Dalam Islam seseorang dianggap mulia, jika ia memelihara anak yatim. Orang yang paling disenangi Allah adalah mereka yang paling dermawan. Orang-orang yang berinfak atau bersedekah diberi ganjaran pahala sampai 70 x lipat. Dalam hadits Rasulullah disebutkan bahwa Allah akan selalu membantu hambaNya selama hamba tersebut membantu saudaranya. Pada hadits lain Rasulullah menyebutkan, bahwa bakhil itu sifat tercela dan pemboros itu adalah kawan-kawan syeitan.

Jika dibahas secara terinci, tentang kepedulian Islam terhadap masalah sosial maka kita akan menemukan bahwa ternyata amal ibadah secara umum lebih banyak berurusan dengan hamblum minannas ketimbang hablum minallah. Cuma kesemuanya itu harus dikunci dengan prinsip utama. Wallahua'lam

Kamis, 17 Januari 2013

Sibghatullah (Celupan Allah)

“Wa man ahsanu minallahi sibghah”, artinya, dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada celupan Allah. Metode kehidupan mana yang lebih baik daripada metode kehidupan yang telah di buat Allah? Lebih adil mana jalan kehidupan yang ada di dunia ini selain jalan hidup yang ditunjukkan Allah. Dan hanya milik Allah lah, yang terbaik itu.

Di dalam Surat Al Baqarah ayat 208-209, Allah SWT berfirman “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Orang yang telah bersyahadat, yang telah menetapkan hatinya bahwa Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, akan selalu setia untuk mewarnai seluruh kehidupannya dengan warna Islam.

Tidak hanya salat, puasa, namun semuanya. Hidupnya, matinya, seluruh jiwa raganya, seluruh aktifitasnya, hanya untuk keridhaan Allah, dan semuanya dilakukan dengan suasana iman, suasana tauhid, yang citranya akan menimbulkan cinta, persahabatan, kedamaian, dan keindahan.

Sesunguhnya, seorang muslim itu adalah orang yang mempunyai pegangan yang kuat, kokoh. Dia adalah orang yang mempunyai prinsip dan pendirian, yang tidak mudah pudar, yang akan menjaga dan menuntunnya ke arah kebajikan.

Maka dikatakan, jika kita berserah diri kepada Allah SWT, lantas kita beraktifitas positif, berbuat kebajikan, maka sesungguhnya kita telah berpegang pada buhul (tali) yang kuat, bahwa sebenarnya kita sedang dalam jalan yang benar.

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah lah kesudahan segala urusan.” (QS Luqman: 22)


Dakwah Sekolah Jangan Terhenti

Dakwah sekolah, atau disingkat DS, adalah media dakwah yang digulirkan di kalangan pelajar, khususnya di lingkungan sekolah. Objek dakwah sekolah sendiri tidak saja siswa itu sendiri, melainkan seluruh elemen yang ada di sekolah. Namun, sekali lagi sasaran utama dari pembinaan adalah para siswa dan siswi.

Dakwah sekolah sangatlah penting dan prospektif. Hal itu karena objek utama dari dakwah sekolah ini adalah para siswa siswi, yang merupakan calon pemimpin bangsa di masa depan. Dilihat dari kondisi para siswa yang kian hari makin memprihatinkan, sudah seharusnya para juru dan kader dakwah tergerak untuk menyelamatkan mereka.

Secara umum, potensi yang ada dan mereka miliki sangatlah besar. Pertama, mereka adalah kalangan terdidik. Tentu saja hal ini akan memudahkan kita untuk berdakwah kepada mereka, karena mereka dididik untuk menerima sesuatu secara ilmiah, bukan asal ikut.

Kedua, usia mereka adalah usia emas dan produktif. Pada masa inilah, prestasi mereka dapat dimunculkan. Kita bisa melejitkan potensi yang ada dalam diri mereka, sesuai potensi dan minat mereka.

Bahkan kita juga bisa mengarahkan mereka untuk berprestasi dalam bidang masing-masing, seperti menjadi atlet, ilmuwan, peneliti, penulis, entertainer, dan apa saja selama hal itu berkontribusi positif bagi orang banyak. Namun, hal yang cukup sulit adalah, ketika kita melakukan kegiatan perekrutan pelajar.


Secara syiar dakwah, rata-rata kegiatan yang diadakan mendapat animo yang besar dari peserta dan terbilang sukses.Dan tindak lanjut berupa follow up dari acara yang diadakan sangatlah juga penting dilakukan.

Dari sekian banyak peserta yang terekrut, berapa kader yang siap untuk menjadi pembina bagi mereka? Hal inilah yang harus menjadi perhatian serius buat mereka yang terjun kedalam dunia dakwah sekolah.

Lalu solusi apa yang harus diambil guna melahirkan generasi penerus.  Pertama, struktur dakwah di wilayah sekolah bersangkutan harus menjadikan media dakwah sekolah ini sebagai prioritas utama yang harus dijalankan.

Struktur dakwah dimana sekolah itu berada memiliki peranan penting sebagai pihak yang men-support, menyatukan simpul-simpul koordinasi semua elemen kader, memantau, dan mengevaluasi berjalannya program dakwah sekolah. Sementara, juru dakwah lebih berperan sebagai eksekutor yang sederhananya tinggal menjalankan program yang digulirkan.

Kedua, mentalitas para kader dakwah dengan menggenjotnya agar siap membina, dalam hal ini membina pelajar. Hal itu bisa dilakukan dengan menyosialisasikan program dakwah sekolah ke seluruh unit pembinaan kader hingga seluruh kader dakwah di bawahnya. Tentunya keberlangsungan program dakwah sekolah menjadi tanggung jawab seluruh kader.

Namun, semua itu kembali kepada kita semua, para juru kader. Untuk hasil besar, kerahkan seluruh usaha kita untuk menyukseskan program dakwah sekolah di wilayah kerja masing-masing. Hasil yang didapat bukanlah ibarat sekarang menanam, besok langsung panen. Hasil konkretnya baru dapat dirasakan sekitar 4-5 tahun ke depan dan seterusnya.

Dakwah tidaklah berpegang pada prinsip kapitalisme yakni dengan modal sekecil mungkin, berusaha mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Namun, dakwah bicara seberapa kerja keras dan ikhlas berjuang. Hasilnya, langsung dari Allah SWT yang tidak pernah kita duga-duga.

Mungkin saja, dakwah sekolah hanya merupakan sebagian elemen dari dakwah secara keseluruhan, namun hal ini harus menjadi fokus para juru dakwah, tanpa mengabaikan fokus kita pada dakwah secara keseluruhan. Wallahua'lam


Selasa, 15 Januari 2013

Renungan untuk sebuah kehidupan

Saudaraku...
Mari kita bersyukur atas petunjuk Allah SWT, Tuhan manusia dan alam semesta. Yang telah menuntun kaki-kaki lemah kita menapaki jalan indahnya dakwah Islam.

Walaupun kita tahu jalan itu penuh dengan rintangan onak dan duri. Jalan yang senantiasa panjang tiada ujung. Hingga terkadang kaki-kaki lemah ini tidak dapat berlari bahkan hanya sekedar untuk digerakan saja.

Saudaraku...
Mari kita bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT, Rabb yang hanya kepadanyalah manusia dan alam semesta ini menyembah. Atas nikmat yang diberikan, kita bisa merasakan kesenangan, pendidikan, hidup yang layak, rezeki, keindahan fisik, keluarga yang baik dan yang lebih penting lagi adalah nikmat ibadah, cinta, serta kasih sayang terhadap saudara seiman.

Saudaraku...
Terkadang, tanpa disadari kita merasa ujub dan istigna dengan apa yang telah kita lakukan kini. Merasa diri telah terdidik dan terbina dengan baik, berkerudung, hafalan sekian juz, khatam alquran tiap bulan, aktif berpolitik, sedekah, aktivis dan aktivitas ibadah lain telah tunai kita lakukan.

Adakah kita sadari, saat ini yang terpenting bukan kuantitas semata, tetapi juga kualitas. Alhamdulillah jika semua muhasabah harian telah terisi, namun bagaimana dengan kualitasnya?

Mungkin kita pernah bertemu dengan seorang ahli ibadah tetapi kata-katanya kasar, tiada berbekas bagi yang mendengar, hatinya penuh dengki. Bisa jadi ibadah yang ia lakukan belum bernilai ibadah disisi Allah karena tidak berkualitas.

Kita sendiri tidak tahu apakah ibadah-ibadah yang dilakukan diterima atau tidak oleh Allah SWT. Alangkah malangnya nasib kita ini jika apa yang kita lakukan dan kita banggakan tidak bernilai disisi Allah. Semuanya sia-sia belaka. Astaghfirullah

Saudaraku...
Sekiranya, seruan motivasi ini dapat menjelma menjadi angin, biarlah ia berhembus ke setiap hati-hati para pejuang dan aktivis da'wah Islam. Menelusup ke dalam bagian yang paling dalam, putih, dan menjaganya supaya tetap bersih dan suci.

Agar senantiasa hadir keperkasaan yang senantiasa mampu menentang kelemahan, supaya senantiasa tertorehkan catatan emas hingga senantiasa jaya Islam dan kaum muslimin. Wallahua'lam