Selasa, 17 Mei 2011

Tawaf Wada, Tawaf Perpisahan (catatan-17)

Sejak bakda salat isya, dan jam telah menunjukkan pukul 9 malam WAS (waktu Arab Saudi), Rabu, 27 April 2011. Saya bersama jamaah Gema Shafa Marwa (GSM), berkumpul di ruangan makan untuk mendengarkan siraman ruhani dari ustadz Zubair Suryadi, Lc.

Intinya beliau memberikan nasihat dan motivasi atas jiwa-jiwa yang saat itu sedang dalam performa terbaiknya. Malam itu kami mendengarkan motivasi yang kuat dari beliau untuk dapat melaksanakan ibadah wajib dan sunnah lainnya, selagi masih berada di tanah suci.

"Karena jika kita sudah tiba di Indonesia, hal itu tidak bisa kita dapatkan kenikmatan sebesar-besarnya yang Allah SWT berikan kepada kita di Baitullah ini. Begitu motivasi dan wejangan yang diberikan kepada kami semuanya. Selagi kita masih di tanah suci ini, manfaatkan sebaik-baiknya untuk beribadah, berdoa dan melakukan perbuatan yang mendatangkan pahala di sisi Allah SWT. Besok Kamis, setelah salat subuh berjamaah, kalau bisa jangan langsung pulang ke hotel, tetapi laksanakan dulu tawaf wada (tawaf perpisahan). Karena tawaf wada ini adalah sebuah momen yang paling berat dirasakan oleh setiap jamaah". Demikian wejangan yang disampaikan ustadz Zubair kepada kami, rombongan jamaah umrah Gema Shafa Marwa (GSM).

Saya jadi teringat dengan momen tawaf wada ini, karena ini adalah momen perpisahan dengan Baitullah. Momen ini membuat saya bersama rombongan jamaah umrah lainnya larut dalam suasana sedih bercampur haru dengan penuh harap dan doa semoga Allah SWT memberi kesempatan bagi mereka untuk dapat datang lagi suatu saat ke Baitullah, baik untuk berhaji maupun ibadah umrah.

Seperti tawaf yang lain, tawaf wada terdiri dari 7 putaran yang dilakukan dengan mengelilingi Ka'bah ke arah kiri. Diawali dan disudahi di rukun Hajar Aswad. Namun perbedaannya adalah bahwa dalam tawaf wada tidak disunnahkan melakukan shalat sunnah tawaf.

Menurut informasi yang disampaikan bahwa tawaf wada ini hanya diwajibkan bagi jemaah haji yang tinggal di luar kota Mekkah. Adapun jemaah haji yang tinggal di kota Mekkah maka mereka tidak berkewajiban melakukan Tawaf Wada, dan tiada kewajiban bagi mereka untuk membayar dam bila mereka tidak mengerjakannya. Pagi itu, selepas salat subuh, jamaah yang melaksanakan tawaf terlihat sendikit. Kami bersama rombongan benar-benar bisa total saat beribadah terakhir di Masjidil Haram ini.

Saya bersama rombongan langsung niatkan untuk tawaf wada dengan pelaksanaan pelaksanaan tawaf wada sebanyak 7 kali putaran mengelilingi Ka'bah.

Putaran pertama dimulai dari hajar Aswad sampai rukun yamani dengan membaca doa, ”Bismillaahi Allaahu Akbar subhaanallaahi walhamdulillaahi walaa ilaaha illaallahu wallaahu Akbar walaa hawla walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim Washsholaatu wassalaamu 'ala rosuulillaahi shollallaahu 'alaihi wasallam (Bismillah, Allaahu Akbar. Maha Suci Allah dan segala puji hanya kepada Allah, tiada Tuhan yang disembah selain Allah dan Allah Maha Agung, tiada daya dan upaya dan tiada kekuatan jika tidak dengan Allah yang Maha Tinggi lagi Besar dan Mulia. Selawat dan Salam bagi junjungan rasul Allah SAW).

Selanjutnya putaran dari Rukun yamani sampai hajar Aswad membaca doa, “Rabbanaa aatinaa fiiddunyaa hasanatan wafiilakhiroti hasanatan waqinaa azaabannaar. Wadkhilnaal jannata ma'al rbroor yaa 'aziizul yaa ghoffaaru yaa robbal 'aalamiina”. (Wahai Tuhan Kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Dan masukanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan yang maha Mulia, Maha pengampun dan Tuhan yang menguasai seluruh alam).

Doa putaran kedua sampai dengan putaran ketujuh, gerakan serta doanya seperti putaran pertama, dan bisa kita tambahkan dengana doa-doa lainnya yang kita hafal (yang kita inginkan).

Selesai melakukan tawaf wada, saya bersama 4 orang kawan berdiri di multazam yaitu antara hajar Aswad dan pintu Ka'bah (atau yang serah), lalu kami pun bersama-sama membaca doa yang ada di dalam buku dengan dipimpin oleh ustadz Abdul Rozak.

Allaahumma innalbaita baituka wal'abda 'abduka wabnu 'abdika wabnu amantika hamaltanii 'alaa maa sakhkhortanii lii min kholqika hatta sayyartanii fii bilaadika wabalaghtanii bini'matika hatta a'antanii 'alaa qodhooi manaa sakika. Baain kunta rodhoita 'annii faazadud'anii rodhon waillaafamunnalaana qobla tabaa'adii 'anbaitika haazaa aawaanunshiroobii inazinta lii ghoiro mustabdilii bika walaa bibaitika walaarooghibin 'anka walaa 'an baitika. Allaahumma ash hibniil'aafiyata fii badanii wal'ishmata fii diinii wahusna munqolabii warzuqnii dhoo'atika abadan maa abqoitinii wajma'lii khoiroyiddunyaa wal aakhiroolahdi bibaitikalharooni wa inja'altahu aakhorol 'ahdi fa'awwidhnii 'anhuljannata birohmatika yaa arhamarroohimiin yaa robbal 'aalamiin”.

(Ya Allah, rumah ini rumah-Mu, aku ini hamba-Mu anak hamba-Mu, yang lelaki dan hamba-Mu yang perempuan, Engkau telah membawa aku didalam hal yang Engkau sendiri mudahkan untukku sehingga engkau jalankan aku di negeri-Mu ini dan engkau telah menyampaikan aku dengan nikmat-Mu juga, sehingga Engkau menolong aku untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Kalau Engkau rela padaku maka tambahkanlah keridhaan itu padaku. Jika tidak rela maka berikan aku anugerah sebelum aku jauh dari rumah-Mu ini. Sekarang sudah waktunya aku pulang jika Engkau izinkan aku dengan tidak menukar sesuatu dengan Engkau (Zat-Mu) ataupun rumah-Mu, bukan benci pada-Mu dan tidak juga benci pada rumah-Mu. Ya Allah bekalilah aku ini dengan afiat pada tubuhku tetap menjaga agamaku, baik kepulanganku dan berilah aku taat setia pada-Mu selama-lamanya selama Engkau membiarkan aku hidup dan kumpulkanlah bagiku kebaikan dunia dan akhirat. Sesungguhnya engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah janganlah Engkau jadikan waktuku ini masa terakhir bagiku dengan rumah-Mu. Sekiranya Engkau jadikan masa terakhir maka gantilah surga untukku dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha kasih Sayang lebih dari segenap yang kasih. Wahai Tuhan Pemelihara sekalian alam)

0 komentar:

Posting Komentar