Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label Catatan Umroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Umroh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Maret 2013

Derasnya Air Mata Melihat Ka’bah

Bagi mereka yang sudah pernah pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji maupun umrah, pasti akan merasa ‘kangen’ dengan Masjidil Haram.

Mereka akan merasakan getar-getar rindu yang teramat besar. Karena Masjidil Haram memiliki ‘aura’ yang sangat luar biasa.

Bisa melihat Ka’bah yang selama ini menjadi kiblat bagi umat muslim sedunia, apalagi melihat dengan mata telanjang. Ditambah bisa memegang, menyentuh, meraba kiswah Ka’bah. Hati ini merasakan ketenangan dan kedamaian.

Bagi saya yang baru pertama kali ke sana, hal yang sangat diingat dan ingin dilihat pertama kali oleh mata saya adalah saat melihat menara Masjidil Haram dari kejauhan, saat memasuki kota Makkah. Juga saat mendekati Masjidil Haram ketika melaksanakan ibadah umrah.

Kebetulan saya tiba di kota Mekkah saat malam hari pukul 22.30 waktu setempat. Setengah jam kemudian, bersama kawan-kawan dari travel yang sama bergerak menuju Masjidil Haram. Semakin dekat, hati ini semakin bermunajat. Subhanallah. Itulah ucapan kami rombongan jamaah umrah yang berjumlah delapan puluhan orang.

Terlihat Masjidil Haram bermandikan cahaya putih! Dan kebanyakan, rata-rata jamaah umrah akan memasuki kota Makkah malam hari, dini hari, ataupun menjelang shubuh. Siapapun yang melihat Masjidil Haram, hatinya akan bergetar, dan mengucapkan, Subhanallah.

Terlihat ustad Zubair Suryadi dan ustadz Asep, muthowwif atau pembimbing dari Gema Shafa Marwa (GSM) terlihat sudah menunggu bersama jamaah umrah lainnya beberapa meter dekat pintu masuk King Abdul Aziz. “Bapak, Ibu, para tamu Allah, alhamdulillah, Masjidil Haram sudah terlihat bersinar terang, putih bersih…”, begitu kata ustad Zubair Suryadi.

Seluruh jamaah yang berjumlah 84 orang, langsung bertasbih, mengucap kalimat talbiyah, bershalawat, dan sebagian besarnya akan menangis, tanpa diminta. Karena bagi saya, tidak menyangka, sudah sampai di depan Masjidil Haram, dan sebentar lagi akan melihat Ka’bah dari dekat.

Rombongan jamaah umrah, dalam keadaan berpakaian ihram, pintu Masjidil Haram sudah di depan mata. Warna keramik, lalu lalangnya jamaah umrah, baik pria maupun wanita, karpet masjidil haram, juga ornamen-ornamen di dalamnya, masih bisa diingat dengan jelas sampai sekarang.

Setelah memasuki pintu Masjidil Haram dari pintu King Abdul Aziz, kita akan melewati deretan galon air zamzam. Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaha Illallah, Allahu Akbar. Di tengah Masjidil Haram, berdiri Ka’bah dengan sejuta pesonanya. Terlihat juga kiswah hitam menyelubungi Ka’bah. Berdegup jantung kami semua memandangnya.

Hanya beberapa meter terlihat bangunan Ka’bah, terdengar kemudian ustad Zubair Suryadi mengucapkan doa ketika melihat Ka’bah. Bagi saya dan sebagian jamaah umrah lainnya, doa yang dipanjatkan itu semakin membuat mata kami semua tambah berlinang.

Doa yang cukup syahdu terdengar di telinga, air mata saya pun langsung meleleh. Sebelumnya, saya hanya melihat di teve saat ada siaran salat Tarawih, namun kali ini benar-benar nyata, dan ada di hadapan saya, jaraknya hanya beberapa meter saja.

Mungkin saja buat jamaah yang belum pernah melihat Ka’bah, masuk kota Suci Makkah, masya Allah. Air mata ini pasti akan menetes. Selanjutnya, ucapan kalimat “Labbaik Allahumma labbaik, Labbaika la syarika laka Labbaik. Innal hamda, wanni’mata laka wal mulk. La syarika lak” terdengar bersahutan. Lautan manusia mengucapkan kalimat talbiyah ini. Allahu Akbar...Walillahilhamdu.

Air mata saya bersama jamaah lainnya, makin deras mengalir saat melantunkan ayat suci di depan Kabah beberapa jam sebelum adzan salat subuh berkumandang. Kesempatan berumrah saat itu saya manfaatkan betul bersama kawan-kawan yang ikut bareng umrah.

Saya lebih sering berada di masjid untuk beribadah ketimbang di hotel tempat menginap yang letaknya sekitar 400 meter jauhnya. Kesempatan berdoa pun tak saya sia-siakan, berdoa di tempat-tempat tertentu di sana sangat besar kemungkinannya dikabulkan Allah SWT. Meskipun, sebetulnya memanjatkan doa bisa dilakukan di mana saja.

Hal yang pertama saya panjatkan doa adalah agar keluarga diberikan keberkahan dan anak-anaknya jadi anak saleh salehah dan berguna bagi agama dan dakwah.

Selanjutnya doa-doa titipan dari kawan-kawan yang menitipkan doa juga berdoa agar lembaga tempat saya berkarya diberikan kemudahan dalam membantu sesama yang membutuhkan.

Waktu berniat sama seorang kawan untuk dapat mencium Hajar Aswad, misalnya, sulitnya bukan main karena banyak orang yang juga mau menciumnya. Belum lagi saat keluar dari situ karena melawan arus orang-orang yang datang. Apalagi jika niat kita kurang ikhlas dan kuat kepada Allah SWT, pastinya kita tidak akan pernah bisa mencium Hajar Aswad.

Saat sedang berdesak-desakan bersama kawan yang memang berlainan arah jalannya, seorang pria bertubuh tinggi besar, memakai pakaian ihram, mengucapkan doa talbiyah serta berjanggut lebat dengan senyuman tulusnya mendorong saya dan otomatis saya mendorong teman di depan sampai di depan Hajar Aswad, sehingga kawan dan saya pun bisa menciumnya tanpa kesulitan.

Namun sewaktu saya selesai mencium Hajar Aswad dan membalikkan badan, orang tinggi besar yang mendorong pundak saya itu sudah tidak ada, padahal saya belum sempat mengucapkan terima kasih.

Sepertinya, ia orang dari Afrika, walaupun ia mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia, "Ayo maju-maju, cium Hajar Aswad yang lama". Dalam hati sayapun mengucapkan terima kasih. Akhirnya setelah mencium Hajar Aswad saya salat sunah dan memanjatkan doa untuk orang itu.

Saya berharap dan berdoa semoga bisa pergi ke tanah suci kembali, ikut tawaf. Merasakan berdoa di Multazam. Bisa menyentuh dan mencium Hajar Aswad. Bisa berdoa di dekat Maqam Ibrahim, dan di tempat-tempat mustajabah.

Tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah SWT berkehendak. Perbanyak berdoa, rajin bersedekah, dan berdoa kepada Allah SWT agar dimudahkan bisa pergi umrah, apalagi bisa pergi haji, menyempurnakan Rukun Islam kelima. Lebih khususnya lagi di waktu-waktu Ramadhan. Bisa tarawih, tahajud, dan witir di Masjidil Haram. Subhanallah. Allahu Akbar. Hasbunallah Wani’mal Wakil.

Selasa, 19 Maret 2013

6 Kawanku Selesai Thawaf dan Sa’i

Perjalanan jamaah umroh rombongan kawan saya, Nana Sudiana (ketua Rombongan), Romdlon Hidayat, Suripta, Deddy Fenalosa, Haryono dan Mohammad Yusuf dari Madinah ke Makkah memang cukup melelahkan.

Namun rasa lelah tersebut hilang karena niat dan semangat yang mereka jalankan, mampu menghilangkan semua itu. Rombongan kawan saya ini sudah rindu untuk beribadah di depan Ka'bah atau Masjidil Haram.

Setelah rombongan tiba, istirahat sebentar di hotel tempat menginap, sekaligus memasukan koper kedalam kamar, sekitar pukul 23.00 waktu Mekkah, (19/3/2013) rombongan bergerak ke Masjidil Haram untuk melaksanakan umroh.

Setibanya di dalam Masjid Haram, rombongan langsung melaksanakan ibadah Thawaf, Sa'I dan Tahallul. Alhamdulilah rombongan PKPU baru saja selesai melakukan thawaf, sa’i di Masjidil Haram, kata Nana Sudiana sambil mengirimkan foto setelah melaksanakan ibadah umroh bersama rombongan, dinihari waktu Mekkah. (foto dari kiri-kanan: M Yusuf, Deddy Fenalosa, Haryono, Suripta, Nana Sudiana dan Romdlon Hidayat)

Ibadah umroh maupun ibadah haji, keduanya ini disebutnya ibadah fisik. Karena totalitas semua rangkaian ibadah ini dibutuhkan fisik yang sehat dan kuat. Fisik juga harus dijaga dengan beristirahat, jangan merasa fisik kuat terus istirahat tidak diperhatikan.

Nana Sudiana bersama yang lainnya merasa bahagia bisa melaksanakan ibadah umroh, apalagi dapat menyaksikan Ka’bah secara langsung. Jaraknya hanya beberapa meter saja di depan mata. Alhamdulillah, Allahu Akbar, kata Nana Sudiana.

Subhanallah. Mungkin itu yang akan terucap dan keluar dari bibir kita saat menyaksikan langsung Ka’bah. Apalagi begitu melihat Ka’bah yang terletak di tengah-tengah mesjid. Mata langsung berkaca-kaca. Semakin dekat semakin takjub melihat keajaiban Masjidil Haram ini, selain nilai sejarah dan ibadahnya, juga nilai seni bangunannya.

Subhanallah, Masya Allah, Allahu Akbar…pastinya rombongan jamaah ibadah umroh akan terkagum beberapa saat melihat Ka’bah persis di depan mata. Berdiri kokoh bersama Hajar Aswad sejak ribuan tahun lalu. Selalu dirindukan, didatangi, dan dikelilingi oleh orang-orang dari seluruh penjuru dunia mengharap ampunan dan keridhoan-Nya.

Labaik allahumma labaik, labaik laa syarikalak, innal hamda, wani’mata laka wal mulk, la syarikalak”. Semoga Allah SWT memperkenankan aku kembali melihat dan beribadah di depan Ka’bah.

6 Kawanku Bersiap Menuju Mekkah

Setelah tiga hari berada di Madinah, enam orang kawanku yang berangkat umroh, masing-masing Nana Sudiana (ketua Rombongan), Romdlon Hidayat (Yayak), Suripta, Deddy Fenalosa, Haryono dan Mohammad Yusuf telah berangkat menuju Makkah.

Siang jelang sore ini kawan-kawan rombongan PKPU akan berangkat menuju Makkah. Mohon doanya, kata Nana Sudiana, sembari meminta doanya agar diberikan kelancaran menuju Mekkah, Selasa malam, 19 Maret 2013 pukul 18.48 WIB atau sekitar pukul 14.30 waktu setempat di depan Hotel Al Rawda Luxurious.

Sebelum menuju Mekkah, keenam kawan saya ini, akan menuju Masjid Bir Ali, yang merupakan tempat miqat. Tempat awal untuk berniat umroh dan mengenakan kain ihram. Walaupun begitu, dan agar tidak merepotkan, para jamaah pasti akan disarankan untuk mandi dan mengenakan pakaian ihram sejak dari pondokan atau hotel.

Masjid Bir Ali ini akan menjadi titik pengecekan dan pemeriksaan akhir di Madinah sebelum menuju Mekkah Al Mukarramah. Masjid Bir Ali atau yang dikenal dengan nama Masjid al Miqat. Ada juga yang menyebutnya Masjid al Ihram. Saat tiba di Masjid Bir Ali yang berjarak sekitar 15 menit dari Madinah, biasanya jamaah umroh langsung berwudhu.

Masjid Bir Ali ini merupakan miqat makani atau tempat untuk memulai ihram. Di sini seluruh jamaah yang hendak umroh, berganti pakaian ihram, dan salat dua rakaat sunah ihram sekaligus berniat umroh, ”Labbaik allahumma umratan”.

Masjid ini juga cukup luas karena ditopang areal parkir dan kamar mandi yang cukup banyak. Jarak Masjid Bir Ali ke Mekah sekitar 450 km yang biasanya ditempuh dalam 6 jam. Nantinya di sana akan ada tenaga pembimbing ibadah di sektor Bir Ali meskipun ada juga pembimbing ibadah di masing-masing rombongan ataupun travel tempat dia berangkat ibadah umroh.

Biasanya kepad para jamaah, disarankan untuk menjaga kesehatan dan juga membaca kalimat-kalimat yang telah diajarkan seperti berzikir atau melafazkan istighfar sebanyak-banyaknya, serta mematuhi berbagai larangan saat berihram.

Selain itu, biasanya jamaah akan terus diingatkan untuk memenuhi syarat pelaksanaan umrah seperti harus menanggalkan seluruh pakaian kecuali dua kain ihram untuk jamaah pria.

Untuk keamanan, biasanya ketua regu atau rombongan juga diingatkan agar jamaah selalu bersama-sama selama berada di Masjidil Haram. Jangan sendiri-sendiri baik saat beribadah atau beraktivitas di sekitar Masjidil Haram karena arealnya yang sangat luas.

Dan pastinya, sepanjang perjalanan menuju Mekkah, kalimat Talbiah pun terus dikumandangkan. “Labaik allahumma labaik, labaik laa syarikalak, innal hamda, wani’mata laka wal mulk, la syarikalak”.

Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, keselamatan dan keberkahan dalam menjalankan ibadah umroh. Doakan kami juga ya, pak Nana Sudiana, Romdlon Hidayat, Suripta, Deddy Fenalosa, Haryono dan Mohammad Yusuf. Semoga menjadi umroh yang mabrur. amin

Kamis, 14 Maret 2013

6 Orang Sahabatku Berangkat Umroh

Labbaik Allahumma Labbaik”, artinya kami memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah.

Labbaika laa syarika laka labbaik”, artinya tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu.

Innal hamda wani’mata laka wal mulk. la syarikalak”, artinya sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.

Allah SWT selalu memanggil hambanya ke tanah suci untuk menunaikan ibadah umroh maupun haji dengan cara-Nya sendiri. Logika matematika tidak akan berlaku disini.

Saat Allah SWT mengundang hambanya untuk menunaikan untuk ibadah umroh atau haji, maka sang hamba tadi tidak akan bisa menolaknya. Begitu pula bagaimanapun besar keinginan kita untuk menunaikan ibadah ini, jika Allah SWT belum panggil kita, maka kita pun pasti tertunda keberangkatannya.

Bagaimanapun kondisi saat itu yang terjadi. Hal ini jugalah yang saya pahami, ketika berangkat menunaikan ibadah umroh tahun 2011. Tidak ada yang menyangka, Allah SWT telah memanggil dan memberangkatkan saya bersama 24 orang kawan lainnya.

Begitu pula kawan dan sahabat saya di kantor. Sebanyak 12 orang, Allah SWT undang mereka untuk menunaikan ibadah umroh. Setelah sebelumnya, sebanyak 4 orang kawan kantor, masing-masing Aan Suherlan, Andjar Radite, Heru Kusnanto dan Cecep M Ismail yang berangkat sejak Rabu, 6 Maret 2013.

Hari ini, Jumat 15 Maret 2013, Allah SWT mengundang sebanyak 6 orang kawan kantor untuk menunaikan ibadah umroh, masing-masing: Nana Sudiana, Romdlon Hidayat (Yayak), Suripta, Deddy Fenalosa, Haryono dan Mohammad Yusuf hingga 9 hari kedepan. Sedangkan ibu Lindayani dan Surisman akan berangkat kemudian.

Jadi total yang diberangkatkan dari kantor sebanyak 12 orang. Mereka berenam akan berangkat pagi ini dari Bandara Soekarno Hatta dan transit di Malaysia, dan berlanjut menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah di Mekkah.

Tak lupa untuk memotivasi diri, menyemangati diri. Agar bisa juga merasakan getaran-getaran hebat mereka yang akan melaksanakan ibadah umroh. Saya pun meminta pak Nana Sudiana untuk berfoto sebelum keberangkatan, dan mengirimkannya ke saya. Beliau pun mengirimkan foto berenam, sesaat sebelum masuk ke dalam pesawat. Terima kasih pak.

Subhanallah. Allahu Akbar. Tak terbayangkan dibenak saya. Hingga detik ini, ribuan orang silih berganti dating berbondong-bondong memasuki kota suci umat Islam yaitu Mekkah dan Madinah.

Bahkan pesawat yang membawa para jamaah umroh dari Indonesia hampir tiap hari silih berganti melakukan penerbangan dari Jakarta ke Jeddah, bahkan ada yang sampai 2 kali sehari. Itu juga dalam kondisi full seat.

Subhanallah. Allahu Akbar. Begitu senang rasanya hati ini jika mendengar ada yang pergi menunaikan ibadah umroh. Mereka diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk berkunjung ke Baitullah, mengunjungi makam Rasulullah dan para sahabat.

Tak lupa sebelum masuk menuju pesawat saya menitipkan doa kepada pak Nana Sudiana yang telah saya siapkan. Selamat jalan menunaikan ibadah umroh kawan-kawan semuanya. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan dalam perjalanan ibadah umroh ini, dan mendapatkan umroh yang mabrur. Amin, Ya Allah.


Doakan Saya Kembali ke Baitullah

Judul diatas bukanlah mengada-ada. Itu murni datang dari hati yang paling dalam. Mungkin juga Anda yang sudah pernah ke tanah suci untuk ibadah umroh atau haji sama dengan saya, rindu untuk ke tanah suci.

Sudah belasan kawan yang berangkat ibadah Umroh, aku selalu minta titipkan doa. Bukan hanya doa untuk diriku, tetapi juga keluarga besar, dan lainnya.

Bersyukur, kawan saya yang juga Kepala Regional 1 Jawa, Cecep M Ismail (nama depan sama denganku) di tempat saya bekerja, mendapat panggilan dari Allah SWT untuk melaksanakan ibadah umroh, bersama kawan-kawan yang lainnya, sejak Rabu, 6 Maret 2013 hingga Sabtu, 16 Maret 2013. Selain Cecep M Ismail, ada juga Andjar Radite, Aan Suherlan dan Heru Kusnanto yang ikut menunaikan ibadah umroh

Selain saya minta titip doa untuk saya dan keluarga, sejak keberangkatannya saya juga selalu menanyakan kabar, aktifitas ibadah umroh, baik saat di Madinah maupun saat sekarang di Mekkah melalui BlackBerry Messenger (BBM) sesama pengguna Telkomsel (hahaha promosi).

Kebetulan diantara kawan kantor yang membawa BB dan berhasil melakukan komunikasi, hanya dengan pak Cecep M Ismail saja yang bisa sambung menyambung via BBM. Saya pun tak segan meminta beliau untuk menceritakan kegiatan ibadah di Madinah dan Mekkah.

Tujuannya satu, agar saya juga tetap merasakan apa yang dirasakan oleh pak Cecep M Ismail dan kawan-kawan, yaitu merasakan getaran-getaran nada dan panggilan: “Labaik allahumma labaik, labaik laa syarikalak, innal hamda, wani’mata laka wal mulk, la syarikalak”. Semoga getaran-getaran nada dan panggilan ini juga terpatri dalam hatiku.

Rabu malam, 13 Maret 2013, waktu di Jakarta menunjukkan pukul 21.05 WIB, atau pukul 17.00 lewat waktu Arab Saudi (WAS), lewat BBM saya sapa pak Cecep M Ismail. “Pak Cecep, boleh minta tolong dikirimin foto antum di depan Ka’bah donk,” pinta saya kepada beliau.

Tidak berapa lama, foto yang saya minta pun dikirimkan pak Cecep M Ismail. Lalu saya lihat, "Subhanallah......". Spontan saja mengucapkan kata Mulia itu. Semoga saya bisa kembali kesana, Ya Allah.

Ya, foto pak Cecep M Ismail (memakai peci putih) yang sudah selesai melaksanakan Thawaf, dan berfoto di depan Ka’bah. Terlihat di foto, dengan latar belakang bangunan Ka’bah.

Selain itu terlihat alat-alat berat berupa derek-derek yang dipergunakan dalam proyek perluasan Masjidil Haram terlihat melatarbelakangi jamaah umroh yang sedang beraktivitas di sekitar Ka’bah, sehingga pelaksanaan thawaf hanya bisa dilakukan di sekeliling Ka'bah saja.

Mungkin saja perluasan dilakukan untuk meningkatkan daya tampung terhadap jamaah yang selalu bertambah dari tahun ke tahun. Semoga sebelum musim haji tahun ini sudah selesai dan bangunan baru dapat dimanfaatkan.

Diantara nikmat yang wajib disyukuri adalah nikmat ibadah yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena diantara begitu banyak manusia yang diberikan petunjuk untuk menganut agama Islam yang diyakini kebenarannya tidak semua orang mendapat anugerah kemampuan untuk melaksanakan beribadah kepada-Nya.

Salah satu wujud mensyukuri nikmat ibadah adalah menceritakan dan mengajak orang lain dengan tujuan untuk memberikan sugesti (anjuran, saran, dorongan atau pengaruh yang dapat menggerakkan hati orang) untuk melakukannya, bukan bertujuan untuk pamer (riya) atau popularitas dan sebagainya.

Dengan begitu, ia bisa menceritakan kenikmatan yang dirasakan akan membuat orang termotivasi untuk melakukannya, dan pada gilirannya, jika ajakannya dikerjakan, tanpa mengurangi pahala pelaku ibadah tersebut, kedua-duanya mendapat pahala yang sama.

Antusias umat Islam untuk merespon sugesti tersebut tidak tanggung-tanggung, dimana dua tanah haram Mekkah dan Madinah dipenuhi manusia untuk melakukan ibadah umrah plus ziarah ke makam Rasul SAW.

Selalu saja ada cerita, pengalaman dan kisah menarik yang dialami mereka yang berangkat ke tanah suci untuk melakukan haji dan umrah. Perintah ibadah haji dan umrah ini dipertegas Allah SWT dalam Alquran berbunyi, “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah”. (QS Al Baqarah: 196)

Tidak seorang manusia di dunia ini yang telah wafat ribuan tahun lalu, yang paling lengkap sejarahnya selain dari Nabi Muhammad SAW, dan lebih mengagumkan lagi semua tingkah laku gerak gerik bahkan anjurannya tetap diikuti sampai dunia ini mengakhiri tugasnya (kiamat).

Bulan Maret 2013, suhu dingin dimalam hari berkisar 18 derajat, sedangkan cuaca panas di siang hari mencapai 36 derajat lebih, namun ternyata tidak menghalangi mereka dalam melaksanakan ibadah umroh meskipun sedang melakukan ibadah puasa, dan dalam keadaan stamina yang menurun. Jika tidak karena berharap pahala dari Allah SWT, tentu tidak akan dilakukan dengan mati-matian.

Walaupun ibadah umrah, dikatakan ibadah haji kecil, namun sungguh umroh merupakan ibadah yang berat dikerjakan, apalagi bagi jamaah umroh yang datang dari negeri yang terbiasa dengan iklim sedang, seperti Indonesia, tiba-tiba dihadapkan pada kondisi panas yang cukup menyengat, tentu saja hal itu memerlukan kesiapan fisik untuk beradabtasi.

Pengalaman tersebut hanya satu dari beragam pengalaman yang saya alami selama menunaikan ibadah umroh. Ada banyak kisah ruhani, emosional namun penuh pelajaran dan motivasi, yang dapat melengkapi bekal dalam melaksanakan ibadah umrah.

Menjadi tamu Allah di Tanah Suci memang diperlukan persiapan yang cukup matang, lahir dan batin. Tak hanya itu, harus pula membekali diri dengan pengalaman orang lain yang pernah menunaikan ibadah umroh atau haji ini, akan semakin memantapkan diri dan menguatkan kita dalam melaksanakan ibadah umroh ataupun haji. Amin

Senin, 07 Januari 2013

Umrah 2013 Sudah Dibuka, Kaum Muda dan Profesional Menanti

Hari ini, Senin 7 Januari 2013, email, fb, sms dan blackberry saya banyak menginformasikan tentang program umrah murah dari beberapa travel umrah dan haji di awal tahun 2013 ini.

Saya jadi teringat saat melaksanakan ibadah umrah di pertengahan April tahun 2011 lalu. “Ibadah umrah tahun 2013 telah dibuka”. Demikian informasi yang saya dapatkan kawan-kawan via email, fb, sms dan blackberry saya tadi.

Ya, umrah merupakan ibadah yang penting selain haji. Meskipun umrah bukan merupakan rukun Islam, namun ibadah ini dapat memberikan pengalaman spiritual bagi yang melakukannya.

Ibadah umrah memiliki rukun yang berbeda dengan ibadah haji dan biasanya waktu yang dibutuhkan juga tidak selama ibadah haji berkisar 5, 9 atau 12 hari.

Bahkan kini sudah ada semacam program umrah akhir pekan. Artinya pergi hari Jumat dan pulang kembali hari Minggu.Subhanallah, ibadah umrah jadi semacam rekreasi ruhani

Tentu saja banyak pendaftar mulai memenuhi institusi-institusi terkait guna melakukan pendaftaran umrah tahun 2013. Sebagian dari mereka bahkan telah mempersiapkan diri sejak awal guna terpenuhinya keinginan menapaki tanah suci Mekah dan Madinah.

Hal ini murni merupakan keinginan dari tiap-tiap orang guna memantapkan hati menuju indahnya ibadah dimana jarak antara manusia dan Tuhannya terasa bagai di batas ubun-ubun.

Dan kini, ibadah umrah mulai diminati kaum muda, professional dan mereka-mereka yang punya dana lebih.

Bahkan, minat masyarakat pada usia muda yang ingin menunaikan ibadah umrah ini juga terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Hal itu tentu saja disebabkan oleh bertambahnya kesadaran masyarakat usia muda mengenai pemahaman ibadah.

Dari sisi itu kita berpikir secara positif bahwa semakin banyak orang muda yang tertarik mengenai agama. Setelah selesainya perhelatan haji beberapa bulan lalu, pemerintah Arab Saudi akan mulai mengeluarkan visa kunjungan umrah, yang diperkirakan akan dibuka pada bulan Januari 2013 ini.

Tiap tahunnya, animo masyarakat, kaum muda, dan professional, untuk melaksanakan ibadah umrah sekaligus berziarah ke Tanah Suci masih terus tinggi, bahkan terus meningkat. Sebagian di antara mereka adalah kaum muda dan remaja.

Kebanyakan kaum muda ini memilih ibadah umrah di awal dan pertengahan tahun, mengingat liburan sekolah. Umrah awal tahun juga dari segi harga bisa lebih terjangkau, disamping udara di Madina dan Mekkah juga belum terlalu panas.

Berbeda dengan ibadah haji yang hukumnya wajib bagi umat Islam yang mampu. Maka, hukum dari ibadah umrah adalah sunnah. Akan tetapi, umrah akan menjadi wajib manakala telah diniatkan atau menjadi nazar.

Setiap muslim yang ingin menunaikan ibadah umrah ataupun haji, pasti tersimpan dalam hatinya harapan ketika kembali ke Tanah Air akan mendapatkan ridha dari Allah SWT dan diterima segala ibadahnya.

Mereka yang melaksanakan ibadah umrah pastinya berharap mendapatkan predikat maqbulah atau umrah yang diterima.

Hanya saja, perlu juga diketahui bahwa ibadah umrah itu tidaklah mudah, karena terkait dengan amalan sebelum berangkat, termasuk persiapan lahir batin di tanah air.

Karena ibadah umrah juga tidak hanya berpatokan pada kemampuan materi saja, walaupun bersifat sunah, namun ibadah umrah tetap harus dilakukan dengan sungguh-sungguh sesuai rukun umrah yang sudah ditentukan.

Ada beberapa persiapan yang diperlukan secara zahir, seperti yang tercantum pada buku beberapa petunjuk umrah, yaitu bertaubat dari segala dosa dan maksiat, meminta izin atau restu orang tua atau yang dituakan, membayar segala hutang, mengembalikan harta yang diperoleh dengan cara zhalim (korupsi) dan aniaya (merampas hak orang lain). Selain itu, dana yang digunakan benar-benar halal dan bersih.

Menyiapkan nafkah yang cukup bagi keluarga yang di tinggalkan, banyak bersedekah kepada dhuafa, fakir dan miskin. Sebelum berangkat, ada baiknya juga berpamitan kepada teman, tetangga dan saudara lainnya yang berdekatan.

Meminta restu mereka, dan mendoakan untuk mereka. Dan yang terpenting adalah niat dan tujuan semata-mata karena Allah SWT, dan bukan untuk gaya-gayaan, mencari kemasyhuran, ketenaran, ataupun gelar.

Bagi Anda yang sudah pernah menunaikan ibadah umrah ataupun ibadah haji, jika tidak keberatan bisa di share pengalaman ruhani. Hal itu dimaksudkan, agar sahabat dan kawan-kawan lainnya, yang belum melaksanakan bisa memahami dan berniat untuk melaksanakan.

Dan tidak ada yang sulit, jika Allah SWT ingin memudahkannya, selama kita senantiasa memohon ridha dan kemudahan-Nya. Semoga saudara, sahabat dan kawan-kawan semuanya yang pada bulan Januari, Februari, Maret, April dan Mei, dengan kerendahan hati, saya sekeluarga juga didoakan untuk dapat juga diberangkatkan ke tanah suci. Amin. Wallahua’lam


Suasana thawaf untuk melaksanakan ibadah umrah


Sabtu, 21 Mei 2011

Bandara King Abdul Aziz, Terbang Menuju Indonesia (selesai)

Setelah puas menikmati angin laut di masjid terapung, sekaligus berfoto-foto, bus rombongan 1 dan 2 travel Gema Shafa marwa (GSM) kembali melanjutkan perjalanan menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

Setelah tiba di Bandara, ternyata pemeriksaan penumpang dan bagasi cukup lama, sehingga kami harus menunggu lebih lama. Berikutnya, kami berbaris ke imigrasi. Di sini jamaah perempuan harus disertai mahramnya. Setelah lolos dari imigrasi, penumpang diperiksa sangat ketat. Tak ada satu logam pun boleh lolos.

Saya yang menyimpan kunci kecil di dompet, dan lainnya harus berkali-kali mengulangi proses scanning. Setelah empat kali bolak-balok proses scanning, akhirnya saya pun bisa lolos. Cukup aneh juga yah, mengapa di Saudi bisa terdeteksi, padahal waktu di Jakarta tidak.

Waktu menunjukkan telah masuk waktu, namun musholla di dalam Bandara tidak dilengkapi dengan tempat wudhu sebagaimana mushola di bandara Indonesia. Penumpang harus mengambil wudhu di toilet umum yang lumayan jauh. Toilet umum ini juga tidak menyediakan tempat khusus wudhu. Tak jarang jamaah umrah menaikkan kakinya ke wastafel.

Pukul 20.00 malam waktu setempat, akhirnya pengumuman boarding bergema. Seluruh rombongan travel Gema Shafa Marwa (GSM) sebanyak 78 jamaah ditambah ratusan penumpang dari jamaah lainnya menaiki pesawat wide body Boeing 747-400 Lion Air secara acak, tidak diurutkan berdasar nomor sebagaimana terjadi di Cengkareng. Akibatnya, terjadi antrian cukup panjang di tangga bagian belakang.

Bersyukur, dalam perjalanan pulang, saya bersama rombongan GSM lainnya yang saat perjalanan dari Indonesia menuju Jeddah terpisah-pisah tempat duduknya, justru kepulangan dari Jeddah ke Indonesia rombongan berkumpul tidak jauh dan tidak terpisah-pisah.

Sudah terbayang perjalanan melelahkan selama 10 jam akan dihadapi. Namun, semangat ibadah umrah selama Sembilan hari di tanah suci menambah motivasi kami untuk selalu merasakan kesyukuran atas nikmat yang Allah SWT berikan kepada kami semuanya.

Pukul 09.50 WIB pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta Barat. Sebagaimana biasa, kami harus melewati petugas imigrasi. Paspor distempel, kemudian kami menuju tempat pengambilan bagasi. Air zamzam sebanyak 10 liter per orang dibawa bersama dalam pesawat, bukan dikirim via cargo.

Jika rombongan umrah yang lain ada yang di jemput oleh sanak saudara, atau menggunakan Bus Bandara ke lokasi tujuan, juga mencarter mobil sampai tujuan. Beberapa saat kemudian, saya pun ikut mencarter mobil yang disewakan cukup murah menuju rumah di Jatiasih, Kota Bekasi.

Demikian perjalanan ruhani kami ke tanah suci yang terekam oleh penulis. Semoga bisa memberi gambaran dan inspirasi bagi kawan-kawan yang berniat untuk melakukan ibadah umrah dalam waktu dekat. Semoga tulisan ini juga bisa memberikan wawasan mengenai apa saja yang terjadi saat umrah, dan hikmah apa yang bisa kita ambil dari rangkaian umrah serta ziarah ke tempat-tempat bersejarah.

Saya pun berdoa kepada Allah SWT, semoga bersama istri dapat pergi ke tanah suci untuk dapat menunaikan ibadah haji. Hasbunallah Wani’mal Wakil, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung” (QS Ali Imran: 173). Wallahua’lam



:: Terima kasih saya haturkan kepada semua kawan-kawan peserta ibadah umrah Travel Gema Shafa Marwa (GSM) dan juga rekan-rekan di Pesanggrahan atas kebersamaan menunaikan ibadah umrah ini. Besar harapan bisa menunaikan ibadah Haji bersama isri tercinta...

Jumat, 20 Mei 2011

Masjid Terapung, Masjid Penuh Pesona Keindahan (catatan-18)

Setelah semua rombongan umrah dari Gema Shafa Marwa (GSM) selesai melaksanakan tawaf wada, berdoa penuh kekhusyuan serta zikir, semuanya langsung menuju hotel untuk bersiap sekaligus berkemas untuk segera menaiki Bus.

Sepanjang perjalanan kami menyimak penjelasan dari ustad Asep, pemandu dari GSM perwakilan Arab Saudi. Hamparan padang pasir terlihat di kanan kiri. Memasuki kota Jeddah, mulai terlihat tumbuh-tumbuhan. Jalannya lebar-lebar dan lurus.

Sebelum menuju ke Bandara King Abdul Aziz, dua bus rombongan umrah GSM melakukan salat zuhur di Masjid Ar Rahman atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Terapung. Masjid ini berada ditepian laut merah. Berdiri di atas tiang pancang yang ditancapkan di laut merah, sehingga kelihatan seperti terapung. Makanya diberi nama Masjid Terapung.

Ustad Asep menjelaskan kenapa disebut terapung, karena dibangun di atas pesisiran pantai Laut Merah, menyebabkan kedudukannya kelihatan seperti terapung pada permukaan laut ketika air pasang disertai ombak.

Menurut cerita yang dikisahkan ustad Asep, katanya masjid terapung ini merupakan tanah wakaf seorang janda kaya raya yang mewakafkan kekayaannya untuk membangun masjid ini. Keindahan masjid yang berukuran sekitar 20 x 30 meter ini terlihat dan dapat dirasakan dengan duduk di sekitar taman yang menjorok ke laut.

Masjid Terapung di tepi Laut Merah di Jeddah Arab Saudi ini adalah salah satu tempat paling disukai dan paling banyak dikunjungi di kota tersebut. Jika dilihat secara seksama, pembangunan masjid terapung ini memberikan kesan bahwa bangunan itu mengapung di air, sementara warna putih yang lembut, membuat masjid tersebut dikenal pula sebagai Masjid Putih.

Jika kita masuk ke dalam masjid seluas 1.000 meter persegi ini, maka akan kita lihat tergantung lampu yang cukup indah dan besar tepat berada di tengah-tengah. Yang menarik adalah adanya ukiran huruf-huruf Alquran yang menempel di dinding dan berwarna keemasanan.

Masjid Terapung ini menggabungkan arsitektur modern dengan seni bangunan Islam kuno. Masjid Terapung Jeddah ini juga memiliki ruang salat yang luas dengan dekorasi sangat indah, dilengkapi peralatan berteknologi canggih.

Dekorasi interior yang fantastik, gaya arsitektur dan pencahayaan atap yang sempurna, ditambah kubah berwarna hijau memberikan kenyamanan tersendiri bagi pengunjung Masjid Terapung Jeddah.

Pengunjung yang datang ke Masjid Terapung ini bisa melepas lelah dengan berjalan-jalan di kawasan laut ini sekaligus menikmati embusan angin serta keindahan alam. Jangan kawatir, bila ingin sekedar beli minuman atau jajanan atau bahkan oleh-oleh.

Banyak penjual di luar Masjid, kebanyakan berasal dari Madura, Indonesia. Ada yang jual sate, lontong sayur, dan yang lainnya. Rombongan kami pun berpisah dengan ustad Asep, karena beliau harus meneruskan perjalanannya ke Madinah

Selasa, 17 Mei 2011

Tawaf Wada, Tawaf Perpisahan (catatan-17)

Sejak bakda salat isya, dan jam telah menunjukkan pukul 9 malam WAS (waktu Arab Saudi), Rabu, 27 April 2011. Saya bersama jamaah Gema Shafa Marwa (GSM), berkumpul di ruangan makan untuk mendengarkan siraman ruhani dari ustadz Zubair Suryadi, Lc.

Intinya beliau memberikan nasihat dan motivasi atas jiwa-jiwa yang saat itu sedang dalam performa terbaiknya. Malam itu kami mendengarkan motivasi yang kuat dari beliau untuk dapat melaksanakan ibadah wajib dan sunnah lainnya, selagi masih berada di tanah suci.

"Karena jika kita sudah tiba di Indonesia, hal itu tidak bisa kita dapatkan kenikmatan sebesar-besarnya yang Allah SWT berikan kepada kita di Baitullah ini. Begitu motivasi dan wejangan yang diberikan kepada kami semuanya. Selagi kita masih di tanah suci ini, manfaatkan sebaik-baiknya untuk beribadah, berdoa dan melakukan perbuatan yang mendatangkan pahala di sisi Allah SWT. Besok Kamis, setelah salat subuh berjamaah, kalau bisa jangan langsung pulang ke hotel, tetapi laksanakan dulu tawaf wada (tawaf perpisahan). Karena tawaf wada ini adalah sebuah momen yang paling berat dirasakan oleh setiap jamaah". Demikian wejangan yang disampaikan ustadz Zubair kepada kami, rombongan jamaah umrah Gema Shafa Marwa (GSM).

Saya jadi teringat dengan momen tawaf wada ini, karena ini adalah momen perpisahan dengan Baitullah. Momen ini membuat saya bersama rombongan jamaah umrah lainnya larut dalam suasana sedih bercampur haru dengan penuh harap dan doa semoga Allah SWT memberi kesempatan bagi mereka untuk dapat datang lagi suatu saat ke Baitullah, baik untuk berhaji maupun ibadah umrah.

Seperti tawaf yang lain, tawaf wada terdiri dari 7 putaran yang dilakukan dengan mengelilingi Ka'bah ke arah kiri. Diawali dan disudahi di rukun Hajar Aswad. Namun perbedaannya adalah bahwa dalam tawaf wada tidak disunnahkan melakukan shalat sunnah tawaf.

Menurut informasi yang disampaikan bahwa tawaf wada ini hanya diwajibkan bagi jemaah haji yang tinggal di luar kota Mekkah. Adapun jemaah haji yang tinggal di kota Mekkah maka mereka tidak berkewajiban melakukan Tawaf Wada, dan tiada kewajiban bagi mereka untuk membayar dam bila mereka tidak mengerjakannya. Pagi itu, selepas salat subuh, jamaah yang melaksanakan tawaf terlihat sendikit. Kami bersama rombongan benar-benar bisa total saat beribadah terakhir di Masjidil Haram ini.

Saya bersama rombongan langsung niatkan untuk tawaf wada dengan pelaksanaan pelaksanaan tawaf wada sebanyak 7 kali putaran mengelilingi Ka'bah.

Putaran pertama dimulai dari hajar Aswad sampai rukun yamani dengan membaca doa, ”Bismillaahi Allaahu Akbar subhaanallaahi walhamdulillaahi walaa ilaaha illaallahu wallaahu Akbar walaa hawla walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim Washsholaatu wassalaamu 'ala rosuulillaahi shollallaahu 'alaihi wasallam (Bismillah, Allaahu Akbar. Maha Suci Allah dan segala puji hanya kepada Allah, tiada Tuhan yang disembah selain Allah dan Allah Maha Agung, tiada daya dan upaya dan tiada kekuatan jika tidak dengan Allah yang Maha Tinggi lagi Besar dan Mulia. Selawat dan Salam bagi junjungan rasul Allah SAW).

Selanjutnya putaran dari Rukun yamani sampai hajar Aswad membaca doa, “Rabbanaa aatinaa fiiddunyaa hasanatan wafiilakhiroti hasanatan waqinaa azaabannaar. Wadkhilnaal jannata ma'al rbroor yaa 'aziizul yaa ghoffaaru yaa robbal 'aalamiina”. (Wahai Tuhan Kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Dan masukanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan yang maha Mulia, Maha pengampun dan Tuhan yang menguasai seluruh alam).

Doa putaran kedua sampai dengan putaran ketujuh, gerakan serta doanya seperti putaran pertama, dan bisa kita tambahkan dengana doa-doa lainnya yang kita hafal (yang kita inginkan).

Selesai melakukan tawaf wada, saya bersama 4 orang kawan berdiri di multazam yaitu antara hajar Aswad dan pintu Ka'bah (atau yang serah), lalu kami pun bersama-sama membaca doa yang ada di dalam buku dengan dipimpin oleh ustadz Abdul Rozak.

Allaahumma innalbaita baituka wal'abda 'abduka wabnu 'abdika wabnu amantika hamaltanii 'alaa maa sakhkhortanii lii min kholqika hatta sayyartanii fii bilaadika wabalaghtanii bini'matika hatta a'antanii 'alaa qodhooi manaa sakika. Baain kunta rodhoita 'annii faazadud'anii rodhon waillaafamunnalaana qobla tabaa'adii 'anbaitika haazaa aawaanunshiroobii inazinta lii ghoiro mustabdilii bika walaa bibaitika walaarooghibin 'anka walaa 'an baitika. Allaahumma ash hibniil'aafiyata fii badanii wal'ishmata fii diinii wahusna munqolabii warzuqnii dhoo'atika abadan maa abqoitinii wajma'lii khoiroyiddunyaa wal aakhiroolahdi bibaitikalharooni wa inja'altahu aakhorol 'ahdi fa'awwidhnii 'anhuljannata birohmatika yaa arhamarroohimiin yaa robbal 'aalamiin”.

(Ya Allah, rumah ini rumah-Mu, aku ini hamba-Mu anak hamba-Mu, yang lelaki dan hamba-Mu yang perempuan, Engkau telah membawa aku didalam hal yang Engkau sendiri mudahkan untukku sehingga engkau jalankan aku di negeri-Mu ini dan engkau telah menyampaikan aku dengan nikmat-Mu juga, sehingga Engkau menolong aku untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Kalau Engkau rela padaku maka tambahkanlah keridhaan itu padaku. Jika tidak rela maka berikan aku anugerah sebelum aku jauh dari rumah-Mu ini. Sekarang sudah waktunya aku pulang jika Engkau izinkan aku dengan tidak menukar sesuatu dengan Engkau (Zat-Mu) ataupun rumah-Mu, bukan benci pada-Mu dan tidak juga benci pada rumah-Mu. Ya Allah bekalilah aku ini dengan afiat pada tubuhku tetap menjaga agamaku, baik kepulanganku dan berilah aku taat setia pada-Mu selama-lamanya selama Engkau membiarkan aku hidup dan kumpulkanlah bagiku kebaikan dunia dan akhirat. Sesungguhnya engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah janganlah Engkau jadikan waktuku ini masa terakhir bagiku dengan rumah-Mu. Sekiranya Engkau jadikan masa terakhir maka gantilah surga untukku dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha kasih Sayang lebih dari segenap yang kasih. Wahai Tuhan Pemelihara sekalian alam)

Sabtu, 14 Mei 2011

Khusyu Berdoa di depan Ka'bah (catatan-16)

Seolah sudah turun temurun atau dengan kata lain sudah menjadi tradisi, mereka yang akan pergi Haji atau Umrah selalu dititipi sejumlah permintaan doa dari keluarga besar, kawan kantor, kawan main, tetangga, saudara, atau siapa saja untuk didoakan di tanah suci.

Mereka semua menginginkan didoakan di Raudhah atau di depan Ka’bah (multazam), karena doa lebih mudah makbulnya dan didengar oleh yang Maha Kuasa. Saya termasuk yang mencatat seluruh pesan yang diminta oleh kawan, keluarga, tetangga, saudara dan siapa saja agar disampaikan doa dan permintaannya di tanah air.

Bahkan beberapa menit sebelum keberangkatan ke Mekkah, di Bandara Soekarno Hatta, ada pesan singkat yang masuk melalui Hapeku, “Semoga Allah SWT memudahkan urusan dan mengabulkan doa-doa antum dalam umrah kali ini. Jangan lupa tempat-tempat yang mustajab dalam berdoa. Ikutkan ane dalam doa-doa antum yah. Syukron”.

Ada sekitar dua ratusan yang minta di doakan di 2 tempat mustajab, yaitu Raudhah (Masjid nabawi) dan di depan Ka’bah (Multazam, Mekkah). Kebanyak doa yang diminta adalah mengenai jodoh, sukses bisnis, mendapatkan anak, anak yang pintar dan berbakti kepada orangtua, dan masih banyak yang lainnya.

Banyak jamaah, yang sudah di depan Ka’bah, bersimpuh dengan khusyu, termasuk saya dan kawan satu rombongan. Kedua tangan diangkat ke atas, menengadahkan telapak tangan terbuka mengungkapkan isi hati dan keinginan kepada Maha Pencipta. Setelah sebelumnya kami dan para jamaah lainnya membaca Alquran untuk menenangkan jiwa.

Mata menatap tajam daftar lampiran permintaan doa yang saya bawa, siapa-siapa yang meminta dipanjatkan doanya dan apa isi permintaannya. Ada rasa kenikmatan manakala doa-doa titipan itu dapat kita laksanakan.

Doa para jamaah yang menunaikan Umrah begitu khusyu termasuk saya dan kawan satu rombongan. Segala puja dan puji telah dilantunkan, sambil berusaha mengingat-ingat siapa saja yang telah memesan padanya untuk di doakan.

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Termasuk siapa-siapa yang meminta di doakan. “Ya Allah perkenankanlah doaku ini serta mereka yang telah meminta dan memesankan doanya padaku. Ya Allah kabulkanlah doa kami ini”.


Haji Nurrokhim khusyu membaca Alquran, dilanjut dengan doa


Haji Abdul Rozak khusyu membaca Alquran, dilanjut dengan doa

Mampir di Peternakan Unta Hudaibiyah (catatan-15)

Selepas dari mendaki Jabal Nur (Gua Hira), Rabu, 27 April 2011, saya bersama rombongan meneruskan perjalanan menuju peternakan Unta di Hudaibiyah, yang jaraknya cukup jauh.

Hudaibiyah yang letaknya berada sedikit di luar Kota Mekkah, menuju Jeddah, menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi jamaah umrah maupun haji dari berbagai negara untuk melihat unta dari dekat sekaligus minum susunya.

Jangan berpikiran peternakan unta yang ada di tepi jalan raya Mekkah-Jeddah itu dikelola dengan baik. Peternakan disini merupakan hamparan luas padang pasir tandus dan dibiarkan terbuka alami dengan dikelilingi bukit batu cadas tanpa ada tempat tertutup untuk mengurangi sengatan matahari.

Jika ada tempat yang tertutup hanya tempat istirahat untuk penjaga unta dengan kondisi yang sangat tidak layak bangunannya karena tendanya sudah robek-robek dan penuh tambalan di sana-sini. Sementara unta yang dipelihara dikumpulkan dalam suatu kandang terbuka yang hanya dibatasi oleh kawat yang sangat sederhana, agar unta tidak lari kemana-mana.

Setiba di peternakan, kami semua turun dari mobil untuk melihat dari dekat unta-unta yang sedang diambil susunya. Meski terik panas, tak menghalangi kami untuk ke lokasi peternakan ini. Saya melihat Unta yang besar-besar dan sehat ditemani oleh seorang gembala sekaligus memesan susu unta untuk 14 orang.

Peternak unta ini mengatakan dalam bahasa Indonesia yang cukup jelas berapa harga dari susu untanya. “1 botol 5 riyal,” katanya. Ukuran botol untuk menampung susu unta ini kurang lebih 150 ml. Kami pun membeli 14 botol dan dibagikan satu-satu ke yang lainnya.

Susu unta memiliki rasa manis dan tajam, juga terkadang terasa asin. Susu unta adalah sumber protein yang berlimpah dengan kegiatan perlindungan dan potensi anti-mikroba. Susu unta tidak perlu dimasak hingga mendidih layaknya susu kambing atau sapi sebelum dionsumsi. Susu unta yang kaya akan rasa ini, sebaiknya diminum secara perlahan, untuk memungkinkan perut mencernanya.

Hudaibiyah adalah salah satu tempat bersejarah. Hudaibiyah sendiri berada sekitar 26 kilometer dari Masjidil Haram dan daerah ini adalah daerah perbatasan di luar Tanah Haram. Berkunjung ke Hudaibiyah dapat ditempuh melalui jalur jalan lama Makkah-Jeddah.

Di sepanjang jalan menuju Hudaibiyah tampak ranch-ranch peternakan onta dan domba, di sela-sela pegunungan dan bukit pasir. Perjalanan hari itu terasa menyenangkan, karena selain citytour, kami juga melaksanakan miqat di Hudaibiyah (sekaligus niat umrah)


Bu Pipit penasaran ingin memegang unta


Seorang kawan penasaran ingin memegang unta


Bapak Dwi Heryanto penasaran ingin memegang unta


Bapak Achmad Syamsudin Ali penasaran ingin memegang unta


Seorang peternak sedang memeras susu unta

Kamis, 12 Mei 2011

Jabal Nur, Gua Hira dan Semangat Nenek Tua (catatan-14)

Hari masih pagi, Rabu, 27 April 2011, jam ditangan menunjukkan pukul 07.00 waktu setempat. Hari itu, sebanyak 14 orang termasuk saya didalamnya, berencana untuk melakukan citytour ke Jabal Nur (Gua Hira) serta mengunjungi peternakan unta di Hudaibiyah, sekaligus melaksanakan miqat di Hudaibiyah (dengan niat umrah).

Dipimpin ustadz Abdul Aziz Matnur (almarhum, semoga Allah SWT memberikan kebaikan di sisi-Nya), kami semua menaiki minibus yang cukup keren dan muat 14 orang, setelah sebelumnya terjadi tawar menawar harga. Setelah harga cocok, kami pun langsung meluncur ke lokasi pertama,yaitu menuju Jabal Nur, yang terletak di Timur Laut kota Makkah dengan jarak sekitar 6 kilometer dari Ka'bah, dan dengan ketinggian kira-kira 200 meter.

Jabal Nur atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Bukit/Gunung Cahaya, adalah bukit tandus dan gersang dimana Rasulullah SAW menyepi dan bermunajat kepada Allah SWT.

Setiba di titik lokasi pemberhentian mobil, di ujung kaki Jabal Nur, pendakian pun langsung dimulai. Beruntung sekali rasanya dapat ziarah ke gua Hira.

Untuk menuju puncak gunung, rata-rata memerlukan waktu selama 45 menit bahkan lebih. Medannya cukup sulit dengan jalan berkelok-kelok.

Kami pun harus mendaki melewati batu-batu terjal. Baru beberapa menit berjalan ke arah kaki bukit, nafas kami sudah mulai terasa sesak. Hal itu membuat kami harus mengatur nafas dengan cukup. Bahkan hingga kami harus istirahat beberapa kali.

Sungguh, perjalanan yang cukup melelahkan, nyali pun semakin menurun. Jalan bertangga, baru ditemukan setelah tiga perempat perjalanan. Beberapa meter sebelum puncak gunung, medannya sedikit ringan, dan kamipun bisa mengatur nafas dengan baik.

Beberapa kawan yang tak kuat mendaki jadi malu sendiri, ketika melihat seorang nenek, tiba-tiba turun dari balik bukit dan melewati rombongan kami. Jalan pun cukup susah payah dengan tongkatnya.

“Wah, ibu itu yang tua saja sanggup mendaki bukit ini, masa kita yang masih muda malah keteteran, maunya ngaso melulu,” sahut salah seorang kawan dengan canda.

Ketangguhan sang nenek, langsung memotivasi kawan-kawan yang sejak tadi istirahat memulihkan tenaga. “Wah, nenek-nenek itu aja kuat. Masa kita nggak bisa sih, ayo jalan lagi,” canda kawan lainnya memberi semangat. Mendadak, hilang sudah rasa penat, berubah jadi semangat! Tetap semangat.

Mendekati puncak, jalanan sudah sulit dilalui. Terlihat antrian panjang dan mulai berjejal. Sulit untuk melalui jalur lain karena di samping jalur itu terdapat tebing yang curam dengan pemandangan langsung ke Kota Makkah. Akhirnya semua rombongan tiba diatas bukit.

Di puncak bukit, banyak orang sudah berdesakan. Mereka berusaha untuk masuk ke arah mulut gua yang terletak di salah satu tebing Jabal Nur. Terlihat, hanya ada beberapa yang berhasil masuk ke dalam gua yang berukuran tinggi sekitar dua meter.

Gua itu terletak di belakang dua batu raksasa yang sangat dalam dan sempit. Di dalamnya, hanya cukup untuk tidur tiga orang dewasa. Para penziarah berebutan untuk shalat dan sekedar melihat ke dalamnya.

Pikiranpun saya langsung melayang, teringat bagaimana Nabi Muhammad SAW ketika mendaki bukit terjal itu setiap saat selama bertahun-tahun untuk menyepi atau berkhalwat di tempat tersebut sekaligus menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Juga bagaimana beliau berjalan kaki dari rumahnya menuju Gua Hira. Sungguh, perjuangan yang sangat berat dengan langkah dan tutunan dari Allah SWT.

Di gua Hira pula, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril. Wahyu itu terkandung dalam surat Al Alaq sebanyak lima ayat. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS Al Alaq: 1-5)


Kaki bukit dilihat dari atas Jabal Nur, jalan yang berkelok


Jam raksasa di gedung King Abdul Aziz Endowment terlihat dari puncak Jabal Nur


Rehat sejenak melepas lelah di puncak Jabal Nur


Foto bersama berlatar Jabal Nur


Rabu, 11 Mei 2011

Napak Tilas ke Arafah, Muzdalifah, Mina dan Jamarat (catatan-13)

Setelah dirasa cukup menikmati keindahan Jabal Rahmah, selanjutnya rombongan diinformasikan oleh tour guide GSM perwakilan Arab Saudi, ustad Asep tentang rute ibadah Mekkah-Arafah dengan disediakannya kereta commuter oleh pemerintah Arab Saudi yang beroperasi hanya di musim haji.

Diinformasikan juga bahwa di Arafah ada mesjid yang cukup besar bernama masjid Namiroh. Mesjid ini hanya ramai setahun sekali saja, yaitu di musin haji. Sedangkan di hari biasa jarang sekali peziarah yang sengaja berkunjung ke masjid ini.

Selanjutnya bus berkeliling melewati Muzdalifah, dari kejauhan terlihat tenda-tenda kecil berwarna putih. “Di sinilah jamaah haji bermalam dan mengambil batu kecil untuk melontar jumroh keesokan harinya di Mina,” cerita ustad Asep kepada rombongan GSM bus 2.

Bus pun terus melaju melewati terowongan dari Muzdalifah ke Mina bernama Muhaisyim yang sudah dibuat menjadi dua. Hebatnya, terowongan ini menembus gunung batu.

Dulu saat ada tragedi Mina yang menewaskan banyak jamaah, termasuk jamaah dari Indonesia, terowongan ini cuma satu. Karena itu pemerintah Arab Saudi menambahnya sehingga tidak ada persilangan. Setelah terowongan ditambah, tidak ada lagi kecelakaan yang terjadi menimpa jamaah.

Kami juga melihat dari kejauhan, tempat melempar jumroh atau Jamarat. “Ada 3 jumroh yang harus dilempar oleh jamaah haji, yaitu jumroh ula (jumroh pertama), jumroh wustho (jumroh tengah), dan jumroh aqabah. Saat ini, tempat melempar jumroh sudah terdiri dari tiga lantai sehingga jamaah bisa memilih mana yang paling nyaman,” jelas ustad Asep panjang lebar kepada rombongan umrah.

Namun sayang, kami semua tidak sempat mendekati lokasi, dan hanya melihat dari jalan raya. Terlihat juga lokasi jumroh sudah seperti jalan layang. Setelah selesai menapaki rute haji, bus 1 dan 2 yang membawa kami langsung kembali ke Mekkah.

Dalam perjalanan mendekati kota Mekkah, ustadz Asep juga menjelaskan kalau di kanan bus ada gua Hira, tempat Nabi SAW menerima wahyu pertama kali. Gua Hira ini diperkirakan tingginya lebih dari 200 meter


Senin, 09 Mei 2011

Jabal Rahmah, Saksi Abadi Cinta Adam dan Hawa (catatan-12)

Bukit berbatu di bagian timur Padang Arafah kota Mekkah Arab Saudi ini, konon menjadi saksi abadi sejarah pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa, setelah ratusan tahun berpisah karena diturunkan dari surga.

Begitu informasi yang kami dapatkan dari pembimbing ibadah Umrah, ustadz Asep dan Ustadz Zubair Suryadi dari Travel Gema Shafa Marwa (GSM) perwakilan Arab Saudi, hari Rabu, 27 April 2011.

Jabal berarti sebuah bukit atau gunung, sementara Rahmah adalah kasih sayang. Sesuai dengan namanya, bukit ini diyakini sebagai pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari syurga oleh Allah selama bertahun-tahun setelah melakukan kesalahan dengan memakan buah khuldi yang terlarang.

Untuk menuju puncak tempat ini, bisa ditempuh sekitar 15 menit dari dasar bukit. Bukit batu ini berada pada ketinggian kurang lebih enam puluh lima meter yang puncaknya menjulang. Di bukit ini terdapat sebuah monumen yang terbuat dari beton persegi empat dengan lebar kurang lebih 1,8 meter dan tingginya 8 meter.

Di puncak bukit batu ini dibangun tugu guna mengenang peristiwa penting yakni pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah turun dari surga dan dipisahkan Allah SWT sekitar 100 tahun (ada yang mengatakan 200 tahun). Peristiwa pertemuan kedua nenek moyang manusia itu diabadikan setiap tahun, ketika jamaah Haji atau Umrah melakukan ziarah.

Jabal Rahmah juga diyakini sebagai tempat mustajab dan makbul bagi orang yang memanjatkan doa karena merupakan bagian dari Padang Arafah. Banyak jamaah Haji dan Umrah yang mendoakan anaknya atau para lajang yang meminta agar cepat mendapatkan jodoh.

Bagi orang yang sudah memiliki pasangan hidup berharap dapat mengarungi rumah tangga hingga ajal memisahkan mereka seperti kisah Nabi Adam dan Hawa.

Saya bersama rombongan juga mencoba mendaki Jabal Rahmah yang ternyata juga sudah banyak yang tiba diatas. Untuk bisa mencapai tugu di Jabal Rahmah, harus naik ke puncak dengan cara menaiki tangga sedikit melingkar yang cukup panjang.

Tangga tersebut sengaja dibuat untuk memudahkan jamaah naik menuju tugu yang berbentuk kerucut dengan cat warna hitam di bagian bawah dan warna putih di bagian atas


Foto berlatar belakang Jabal Rahmah


Jabal Rahmah terlihat dari jauh dengan hamparan bebatuan


Ya Allah, Panggil Aku Kembali ke Baitullah (catatan-11)

Baitullah atau Ka’bah yang terletak di tengah-tengah Masjidil Haram menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Islam seluruh penjuru negeri tak terkecuali negeri tercinta, Indonesia.

Tak jarang gumpalan panas yang mencair dan mengucur deras dari mata ini pun menetes saat melihat bangunan kubus hitam yang menjadi pusat arah salat jutaan muslim di dunia.

Daya magis Kota Makkah dengan segala nilai sejarahnya tidak bisa dilupakan umat Islam di seluruh dunia. Adanya Ka’bah, Gua Hira, Gua Tsur, rumah Nabi serta lokasi puncak ritual ibadah haji di Arafah, Mina dan Muzdalifah serta lokasi-lokasi lainnya menjadi daya tarik tersendiri untuk dapat dikunjungi.

Saya pun tidak akan melupakan Ka’bah yang begitu suci dan sakral. Satu persatu air mata ini pun menetes ketika pertama kali datang ke Masjidil Haram, pada hari Sabtu malam, 23 April 2011. Salat di Masjidil Haram, pahalanya akan dilipatgandakan sebanyak 100 ribu kali.

Saya datang bersama rombongan dari Travel Gema Shafa Marwa (GSM) Jakarta sebanyak 75-77 jamaah, merasa kangen dengan ka’bah. Perasaan ini selalu ingin kembali ke Ka’bah karena selalu ingat kenangan berhadapan langsung dengan Ka’bah. Rasa kangen ini masih terus ada hingga kini dan akan terus ada di dalam hati.

Perjalanan ibadah Umrah itu merupakan pengalaman spiritual saya yang tidak akan pernah terlupakan selama hidup. Walaupun saya baru pergi menunaikan umrah sekali. Tetapi, hati ini tak akan pernah terlupakan dengan Baitullah ini.

Mungkin ini doa dari almarhum Bapak saya, yang telah pergi haji pada tahun 1985 yang kata beliau saat itu juga mendoakan anak keturunannya untuk bisa pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Umrah ataupun Haji.

Labaik allahumma labaik, labaik laa syarikalak, innal hamda, wani’mata laka wal mulk, la syarikalak”. Semoga Allah SWT memperkenankan aku kembali melihat dan beribadah di depan Ka’bah, baik dalam ibadah Umrah ataupun ibadah Haji. Amin Ya Rabbal Alamin


Ya Allah, panggil kami kembali ke rumahMu, Baitullah


Sabtu, 07 Mei 2011

Melihat Ka’bah di Depan Mata, Thawaf, Sa’i dan Tahalul (catatan 10)

Sabtu malam, 23 April 2011 pukul 23.25 Waktu Arab Saudi, Bus 2 yang saya tumpangi bersama rombongan menginjakkan kaki di Kota Mekkah setelah sebelumnya melakukan perjalanan panjang selama 6 jam dari Madinah untuk melaksanakan ibadah Umrah.

Jantungku semakin berdetak kencang. Hati pun semakin tak karuan untuk segera mungkin dapat melihat Baitullah yang didamba setiap mukmin di seluruh penjuru dunia.

Karena itu, setelah check in di Hotel Rehab Al Rawdah, tempat kami menginap dan menyimpan barang di kamar, saya bersama rombongan segera menuju Masjidil Haram yang berjarak sekitar 500 meteran dari hotel. Waktu telah menunjukkan pukul 00.45 dinihari, namun sudah terlihat begitu banyak orang menuju masjid yang agung dan megah itu. Ada yang sendiri, sekeluarga, serombongan kecil, bahkan ada yang dalam jumlah yang sangat banyak.

Sambil terus mengucapkan talbiyah, saya bersama rombongan Umrah terus bergerak menuju Masjidil Haram. Saya melihat mereka yang datang ke Masjidil Haram terlihat sangat antusias. Begitu juga dengan rombongan. Sering kali mereka menanyakan tentang apa dan mengapa mengenai umrah, Masjidil Haram dan juga tentu bersama ka’bahnya kepada saya. Walaupun ini merupakan Umroh pertama saya, namun saya mencoba menjawab apa yang saya ketahui.

Semakin dekat semakin takjub melihat keajaiban Masjidil Haram ini, selain nilai sejarah dan ibadahnya, juga nilai seni bangunannya. Saya bersama rombongan memasuki masjid melalui pintu King Fahd. Tak lupa saya bersama rombongan membaca doa masuk masjid. Setelah melihat-lihat sambil mengingat pintu masuk, kami langsung menuju Ka’bah.

Subhanallah, Masya Allah, Allahu Akbar…diriku bersama rombongan tercengang dan terkagum beberapa saat melihat Ka’bah persis di depan mata. Berdiri kokoh bersama Hajar Aswad sejak ribuan tahun lalu. Selalu dirindukan, didatangi, dan dikelilingi oleh orang-orang dari seluruh penjuru dunia mengharap ampunan dan keridhoanNya.

Tujuan dan impian kaum muslimin karena banyak kebaikan dan pahala yang bisa diraih disini sebagaimana yang datang dari lisan nabi yang mulia, Muhammad SAW. Serasa tidak percaya, apakah saya benar-benar berada dan melihat secara langsung Ka’bah, arah kiblat seluruh kaum muslimin.

Karena, selama ini saya hanya bisa melihat dari TV, poster, lukisan, gambar atau hanya tahu dari cerita orang-orang yang pernah datang ke Mekkah untuk menunaikan Haji dan Umroh. Dan ternyata memang nyatanya saya berada tanah suci ini, di depan Ka’bah. Selagi melihat keagungan Ka’bah dengan membaca doa, tak terasa airmata menetes menyukuri nikmat yang diberikan kepadaku dan rombongan.

“Labaik allahumma labaik, labaik laa syarikalak, innal hamda, wani’mata laka wal mulk, la syarikalak”. Semoga Allah SWT memperkenankan aku kembali melihat dan beribadah di depan Ka’bah.

Selanjutnya kami berbegas menuju ka’bah, dipandu oleh ustadz Zubair Suryadi dan ustadz Asep dari travel GSM. Kami berdoa saat melihat keagungan ka'bah secara bersama. Ada getaran berbeda yang saya dan rombongan alami saat melakukan tawaf (berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran).

Setiap putaran yang kami jalani memberikan rasa yang berbeda, mengisyaratkan betapa besarnya kekuassaan Allah SWT. Saat kami merasa sangat kecil dan tak memiliki daya apapun. Yang saya ingat hanya keagungan Sang Pencipta sembari mengucapka kalimat talbia dan doa-doa lainnya.

Tujuh putaran telah kami lalui, banyak diantara jamaah yang mencoba mendekati Hajar Aswad guna menciumnya. Hajar Aswad adalah batu hitam ka’bah yang merupakan batu dari surga. Beruntung, keesokan harinya saya bersama seorang kawan dapat mencium Hajar Aswad walaupun dengan penuh perjuangan untuk mencapainya.

Bahkan kami berdua sempat terpental kembali keluar putaran. Dengan niat yang kuat, bismillah kami berdua pun memulai lagi untuk dapat mencium Hajar Aswad. Akhirnya setelah beberapa saat, kami kami berdua dapat mencium hajar aswad dilanjutkan dengan berdoa di multazam hingga beberapa menit kemudian.

Satu alasan mengapa para jamaah yang umrah maupun naik haji ingin menciumnya adalah karena Nabi Muhammad pernah menciumnya. Batu tersebut tidak memiliki kekutan apapun, bukanlah sebuah symbol, dan juga tidak disembah oleh umat Islam.

Selanjutnya saya bersama rombongan melakukan ibadah selanjutnya yakni sa’i, salah satu rukun haji dan juga umrah, yakni berjalan kaki dan berlari-lari kecil secara bolak balik sebanyak 7 kali dari bukit shafa ke bukit marwah. Kedua puncak bukit tersebut berjarak sekitar 700 meter. Saat melintasi bathnul waadi, kawasan yang di tandai dengan lampu neon berwarna hijau, para jamaah pria di sunnahkan berlari-lari kecil sedangkan jamaah wanita berjalan cepat.

Setelah saya bersama rombongan selesai melakukan sa’i, kami melakukan ibadah penutup yakni tahalul, yang memiliki makna ‘menjadi boleh’ atau ‘diperbolehkan’. Jadi, tahalul adalah di perrbolehkan atau dibebaskannya seseorang dari larangan ihram. Pembebasan tersebut di tandai dengan mencukur habis rambut atau memotong sedikitnya 3 helai rambut. Kami pun mencukur rambut hingga habis tak bersisa alias gundul


Thawaf, berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran


Sa'i dari bukit shafa ke bukit marwah sebanyak 7 kali


Foto dulu saat sa'i


Foto bersama setelah selesai melakukan ibadah umrah


Selesai umrah dengan mencukur habis rambut


Mengabadikan Ka'bah dari lantai paling atas, jelang datang waktu Subuh. Subhanallah