Rabu, 17 Juli 2013

Alam Akhirat, Tempat Perhitungan Amal

Hendaknya setiap Muslim senantiasa selalu bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah dilimpahkan. Baik nikmat iman, islam, sehat dan luangnnya waktu sehingga kita bisa melaksanakan dan menunaikan kewajiban yang di fardhukan Allah SWT kepada kita semua. Dan jangan sebaliknya, menjadi orang yang tidak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Tahap demi tahap semua manusia akan menjalani roda kehidupannya. Mulai dari alam kandungan, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat. Tahapan-tahapan tersebut harus dijalani manusia sampai akhirnya nanti kita semua menemui alam akhirat. Tempat perhitungan semua amal yang telah kita lakukan di dunia.

Dan hendaknya kita semua bersegera mencari bekalan amal kebaikan guna menuju pertemuan kita dengan Allah SWT. Kita semua tidak mengetahui kapan ajal ini dating menghampiri. “Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku Wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat! (QS Al Baraqah: 197).

Tatkala kita mendengar ayat-ayat Alquran dan hadits-hadits Nabi yang memberitakan tentang keadaan hari Akhir, maka hendaklah hati kita menjadi takut, menangis, dan menjadi dekat hati kita kepada Allah SWT.

Namun bagi orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah SWT saat disebut kata Neraka, adzab dan lainnya akan biasa-biasa saja. Seakan terasa ringan diucapkan oleh lisan-lisan tanpa makna sama sekali.

Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku. Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku. Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu, hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku. (Allah berfirman),“Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.”Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dialah orang yang tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin". (QS Al Haqqah: 25-34)

Di dalam tafsir Ibnu Katsir diterangkan bahwa ayat tersebut menggambarkan keadaan orang-orang yang sengsara. Mereka adalah yang diberi catatan amalnya di padang pengadilan Allah dari arah tangan kirinya. Ketika itulah mereka benar-benar menyesal, dan berkata: ‘Andaikan saya tidak usah diberi catatan amal ini dan tidak usah tahu apakah hisab (perhitungan) terhadap dirinya dan andaikata saya mati terus dan tidak usah hidup kembali.

Dan bagi orang yang beriman yang mengetahui makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Bergetarlah hatinya, ia akan menetes air mata mereka, terisaklah tangis mereka dan keluarlah keringat dingin di tubuh mereka, seakan mereka saat itu sedang merasakan peristiwa yang sangat dahsyat. Maka tumbuhlah rasa takut kepada Allah kemudian berlindung kepada Allah SWT agar tidak menjadi orang-orang yang celaka seperti ayat di atas.

Pada hari Akhir nanti, matahari akan didekatkan di atas kepala-kepala sehingga keringat akan bercucuran sehingga sebagian manusia akan tenggelam oleh keringat-keringat mereka sendiri. Namun, hal itu tergantung dari apa yang telah diperbuat oleh kita semuanya semasa di dunia.

Perkara ghaib (Iman kepada Hari Akhirat/Kiamat) wajib bagi kita untuk mengimani dan membenarkannya tanpa menanyakan bagaimana. Perkara tersebut berada diluar jangkauan akal sehat manusia. Kita tidak mampu mengetahui dan menggambarkannya. Wallahua’lam

>> follow twitter @CepPangeran


0 komentar:

Posting Komentar