Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Jumat, 04 Oktober 2013

10 Hal Yang Menyebabkan Doa Tak Terjawab-Ibrahim bin Adham


Ibrahim bin Adham

Suatu ketika Ibrahim bin Adham, seorang alim yang terkenal zuhud dan wara’nya, melewati pasar yang ramai. Selang beberapa saat beliau pun dikerumuni banyak orang yang ingin minta nasehat. Salah seorang di antara mereka bertanya, “Wahai Guru! Allah telah berjanji dalam kitab-Nya bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba-Nya. Kami telah berdoa setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa sampai saat ini doa kami tidak dikabulkan?”

Ibrahim bin Adham diam sejenak lalu berkata, “Saudara sekalian. Ada 10 hal yang menyebabkan doa kalian tidak dijawab oleh Allah.

  1. Pertama, kalian mengenal Allah, namun tidak menunaikan hak-hak-Nya.
  2. Kedua, kalian membaca Al-Quran, tapi kalian tidak mau mengamalkan isinya.
  3. Ketiga, kalian mengakui bahwa iblis adalah musuh yang sangat nyata, namun dengan suka hati kalian mengikuti jejak dan perintahnya.
  4. Keempat, kalian mengaku mencintai Rasulullah, tetapi kalian suka meninggalkan ajaran dan sunnahnya.
  5. Kelima, kalian sangat menginginkan surga, tapi kalian tak pernah melakukan amalan ahli surga.
  6. Keenam, kalian takut dimasukkan ke dalam neraka, namun kalian dengan senangnya sibuk dengan perbuatan ahli neraka.
  7. Ketujuh, kalian mengaku bahwa kematian pasti datang, namun tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
  8. Kedelapan, kalian sibuk mencari aib orang lain dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri.
  9. Kesembilan, kalian setiap hari memakan rezeki Allah, tapi kalian lupa mensyukuri nikmat-Nya.
  10. Kesepuluh, kalian sering mengantar jenazah ke kubur, tapi tidak pernah menyadari bahwa kalian akan mengalami hal yang serupa."

Setelah mendengar nasehat itu, orang-orang itu menangis.

Dalam kesempatan lain Ibrahim kelihatan murung lalu menangis, padahal tidak terjadi apa-apa. Seseorang bertanya kepadanya. Ibrahim menjawab, “Saya melihat kubur yang akan saya tempati kelak sangat mengerikan, sedangkan saya belum mendapatkan penangkalnya. Saya melihat perjalanan di akhirat yang begitu jauh, sementara saya belum punya bekal apa-apa. Serta saya melihat Allah mengadili semua makhluk di Padang Mahsyar, sementara saya belum mempunyai alasan yang kuat untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan saya selama hidup di dunia.”

Kamis, 03 Oktober 2013

Keluargaku adalah Beranda Surga Bagiku

Rasa kasih dan sayang sangat lekat dalam diri kita. Rasa inilah yang mewarnai kehidupan berumahtangga bersama istri, suami, anak, dan orang-orang yang kita cintai dalam keluarga.

Rasa yang menjelma dalam warna-warna indah itu terhimpun menjadi keinginan yang membuncah. Keinginan untuk membangun surga dalam keluarga sehingga kebahagiaan mengisi setiap jenak perjalanan hidup kita.

Setiap keluarga mendambakan sebuah ketenangan. Di dalamnya, penuh jalinan cinta dan kasih sayang dalam membangun mahligai kebahagiaan. Dan kebahagiaan yang hakiki adalah ketika kita dapat meraih surga di akhirat nanti. Hal itu menuntut kita untuk mampu menjadikan seluruh lingkungan, termasuk rumah keluarga menjadi taman-taman atau beranda surga duniawi yang mampu menghantarkan semua keluarga kita menuju taman-taman surga ukhrawi.

Baiti Jannati, rumahku laksana surga bagiku. Begitulah ungkapan yang terlontar dari lisan Rasulullah SAW. Keberhasilan Rasulullah SAW patut menjadi tauladan bagi setiap umatnya dalam membina hubungan berumah tangga. Ungkapan inipun menjadi semboyan oleh setiap rumah tangga muslim yang mendambakan rumah tangga bahagia.

Keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah (Samara) merupakan dambaan setiap insan yang menjalani bahtera rumah tangga. Ia bagaikan beranda surga di dalam keluarga. Keindahan surga rumah tangga tersebut dapat diwujudkan dengan upaya bersama buah dari peduli dan berbagi suami dan istri. Yang satu tidak menjadi beban bagi yang lainnya, tapi sebaliknya memperkuat satu sama lain.

Kebahagiaan itu sangat dekat dengan diri manusia. Sebab kebahagiaan itu ada di dalam hati. Ekpresi jiwa akan menggambar suasana hati manusia. Sedih, tertawa, gembira, gelisah, marah atau perasaan takut bermula dari hati. Karena itu adalah wilayah yang mendominasi hati. Materi kehidupan hanyalah alat yang menopang kebutuhan manusia. Ia bukan sumber kebahagiaan. Di dalamnya ada kecemasan, kegelisahan dan ketidakharmonisan.

Tentunya kita berharap rumahtangga yang kita jalani menjadi damai bagaikan surga, yang di dalamnya ada pasangan yang penuh perhatian, cinta, selalu akur, dan nyaman sehingga terkadang mereka lebih betah di rumah ketimbang mengisi hari-hari luang di luar rumah. Rumah tangga seperti ini tidaklah didapatkan, tetapi ia dibangun dan dibina sedemikian rupa.

Pertama, adanya saling kepercayaan. Kedua, adanya saling keterbukaan. Suami adalah pelindung bagi istri, dan istri adalah selimut sekaligus bendahara bagi suami. Suami yang baik selalu terbuka dalam hal apa pun, begitu pula sebaliknya. Keduanya juga harus mampu menjaga kehormatan dan dapat menyenangkan hati pasangan.

Ketiga, perlu pembiasaan seorang istri dengan menyambut suami dan suami seringlah bercanda-tawa dengan istri. Hal ini dapat meningkatkan keharmonisan dalam rumah tangga. Keempat, jangan menyebarkan aib. Apa yang terjadi dalam rumah tangga, cukuplah pasangan tersebut yang merasakan kekurangan dan kelebihannya.

Orang lain tidak perlu tahu masalah yang dihadapinya. Orang tua sekali pun. Aib pasangan kita, jika keluar dari rumah, hanya akan menambah kehinaan dan kerendahan rumah tangga itu sendiri, tidak lebih. Jadi, jika bisa utamakan komunikasi, musyawarah, sharing, diskusi dan pencarian solusi.

Kelima, jadikan rumah tangga taman-taman surga, yaitu dengan zikir, fikir, dan amal soleh. Hal ini penting untuk mempertahankan suasana religius. Selain itu, kegiatan tersebut dapat mendamaikan hati dan menghiasi rumah tangga tanpa adanya gangguan setan yang sewaktu-waktu menyelinap dalam hati.


Rabu, 02 Oktober 2013

Cukup Sering

Ketekunan adalah benar-benar cukup sederhana dan sangat kuat. Jika kita tidak bisa melakukannya dengan benar untuk pertama kali, maka lihatlah hal itu bukan sebagai sebuah kegagalan, tetapi sebagai kesempatan tertunda bagi upaya yang lebih tepat dan berpengalaman lainnya.

Respon terbaik untuk hasil yang mengecewakan adalah dengan upaya lebih besar dan kuat lagi. Rasakan kekecewaan, dan biarkan membuat kita lebih ditentukan, dan kemudian bergerak cepat kepada keadaan yang sangat efektif untuk mengambil tindakan terbaik.

Lakukan apa pun yang harus dilakukan, kemudian lakukan lagi dan lagi, dan lagi. Bahkan tindakan terkecil sekalipun dapat memiliki dampak yang sangat besar ketika cukup sering diulang-ulang dan dilakukan.

Tetapi bagaimana kita bisa mendapatkan kembali sebuah motivasi, ketika kita baru saja terjatuh? Kita cukup melakukannya dengan mengingatkan diri sendiri itu jelas pilihan terbaik, dan kemudian membuat pilihan untuk bertindak dalam kepentingan terbaik kita sendiri.

Ketekunan tidak selalu mudah, namun itu tidak terlalu rumit. Karena kita telah membuat usaha sebelumnya, sehingga benar-benar bukan masalah besar untuk terus maju dan membuatnya lagi.

Lakukan hal itu cukup sering, dan tindakan kita mengambil kekuatan besar dan efektivitas. Lakukan hal itu cukup sering, dan prestasi adalah milik kita.


Perempuan Berperan Membangun Kemandirian Keluarga

Orang tua bagi anak, tentunya harus banyak melindungi sekaligus mengayomi, membimbing sekaligus mendidik bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, tidak salah disebutkan bila orang tua, terutama ibu, merupakan pendidik pertama dan utama anak-anak dalam keluarga. Wajar jika seorang perempuan (ibu) dalam setiap keluarga memiliki peran strategis.

Pasalnya, selain harus mampu menjaga keseimbangan dalam berbagai interaksi hubungan komunikasi dalam keluarga, seorang perempuan juga harus dapat mengatur kehidupan keluarga agar mendapatkan kesejahteraan lahir dan batin bagi keluarganya.

Perempuan adalah rumah dari segala harapan. Kedudukan, peranan, nilai, serta citra seorang perempuan dapat memberikan sesuatu yang utama dalam kemandirian keluarga. Seorang perempuan juga sebagai pendidik pemula, dan pandu kehidupan dunia dalam sejarah hidup dan kehidupan manusia. Perjuangan, pengorbanan dan pengabdian seorang perempuan sangat tulus dan tanpa pamrih.

Terkadang kemandirian seorang perempuan, sangat identik dengan sekedar isu kemandirian secara ekonomi. Padahal, jika dapat melihat persoalan perempuan yang sesungguhnya, maka ia adalah persoalan menyeluruh meski permasalahan yang ada di negara maju dan negara berkembang memiliki titik kulminasi berbeda.

Namun pada kebanyakan negara berkembang, termasuk Indonesia, persoalan perempuan banyak berkutat pada permasalahan himpitan ekonomi, rendahnya kualitas hidup, ketimpangan sosial serta budaya masyarakat. Selain itu masih minimnya akses layanan kesehatan, diskriminasi kerja, kesenjangan layanan pendidikan, kecilnya kesempatan dalam kegiatan publik, dan masih tingginya tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Ada beberapa jenis kemandirian perempuan yang perlu diberdayakan agar dapat menjaga keseimbangan dalam keluarga. Pertama, mandiri dalam ekonomi. Mandiri dalam ekonomi ini berarti memiliki kemampuan ekonomi yang produktif untuk mencari pemasukan tambahan maupun memberdayakan dirinya sendiri, juga keluarga. Oleh karena itu, perempuan perlu memiliki berbagai ketrampilan agar dapat menolong dirinya sendiri, memandirikan diri agar tidak bergantung sepenuhnya pada suami.

Kedua, mandiri dalam pengetahuan. Mandiri dalam pengetahuan berarti perempuan beraktualisasi diri dengan memanfaatkan pengetahuannya agar memiliki eksistensi. Meskipun perempuan secara ekonomi bergantung pada suami, namun perempuan secara mandiri harus dapat eksis untuk memberi kontribusi nyata bagi masyarakat, lingkungan dan bangsa.

Ketiga, mandiri dalam sikap. Artinya perempuan harus memiliki kemampuan untuk bersikap dalam berbagai persoalan kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Perempuan harus menjadi mitra kerja yang setara dengan suami untuk menyampaikan saran, pendapat, masukan, maupun solusi nyata. Hal ini sangat penting agar perempuan menjadi penyeimbang sekaligus mitra kerja dalam rumah tangga, sejajar suami dalam mengarungi dan menjalankan biduk rumah tangga.

AlQuran telah menggambarkan bahwa perempuan memiliki hak untuk dapat berpacu menggapai beragam kemandirian. Baik kemandirian dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial, masyarakat, politik, serta menentukan pilihan-pilihan pribadi, maupun dalam berdakwah amar ma’ruf nahi munkar, serta beragam bentuk kemandirian lainnya.

Sejarah mencatat banyak perempuan-perempuan mandiri pada masa Rasulullah SAW. Contohnya Khadijah, seorang pebisnis perempuan yang tangguh, ulet, dan disegani oleh masyarakatnya; Aisyah, seorang perempuan yang memiliki kecerdasan sekaligus mumpuni dibidang keilmuan, perawi ribuan hadis, juga tempat belajar para sahabat setelah nabi SAW wafat. Ummu Sulaim, seorang da’i perempuan yang dakwahnya sangat menggelora, maupun Asma binti Yazid yang merupakan ahli ceramah dan diplomat ulung.

Konsep hidup kemandirian juga sejalan dengan prinsip hadis yang dikemukakan dalam riwayat Thabrani. “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesamanya”. (HR Thabrani dan Daruquthni). Konsep kemandirian disini bukan berarti hidup sendiri tanpa membutuhkan campur tangan orang lain dalam proses hidupnya, namun tetap dibutuhkan peran orang lain dalam porsi sewajarnya. Mengingat manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, tidak egois dengan menikmati hidupnya sendiri.

Oleh karena itu, peran seorang perempuan tidak boleh terkalahkan oleh apapun. Peran seorang perempuan dalam kemandirian keluarga harus terus berjalan dan dijaga dengan baik. Selain dapat memberikan kontribusi yang optimal dalam kemandirian, peran seorang perempuan juga dapat menjadi perekat rasa cinta, keluarga, keharmonisan, kesejukan, persatuan dan kesatuan, perdamaian, serta masyarakat dan bangsa.



Kisah Sebutir Kurma

kurma


Salam alaikum Sobat Ruang, Akhir-akhir ini maulai agak sibuk dengna urusan klasik anak manusia, yaitu Dunya,,,jadi jarang update blog sekarang. Terima kasih pada +Rizky hasti yang telah bantu-bantu nulis buat meramaikan blog Ruang ini. Pada kesempatan yang baik ini saya ingin berbagi sebuah kisah hikmah, semoga kita bisa mengambil pelajaran tentang bahanyanya barang Haram, sebuah kisah sebutir Kurma.


Selesai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.
Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. 4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

"Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT," kata malaikat yang satu. "Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram," jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.
"Astaghfirullahal adzhim" Ibrahim beristighfar. Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda.

"4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?" tanya Ibrahim.
"Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma" jawab anak muda itu.
"Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?". Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. "Nah, begitulah" kata ibrahim setelah bercerita,
"Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?".
"Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya."
"Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu." Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga.

Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim. 4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap.

"Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain." "O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu.. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas."

Sekian Kisah Ibrahim bin Adham tentang permasalah yang ditumbulkan dari sebutir kurma. Ada pelajarang berharga yang kita bisa mabil dari kisah ini, RACUN TETAPLAH RACUN, sadar tak sadar, tahu maupun tidak tahu, kalau keminum pasti ada efeknya, racun disini tidak ubahnya dengan barang haram. Semoga Allah meilindungi kita dari barang haram, aamiin...terimakasih, wassalamulaikum

Jadikan Aku Seorang Pecinta


Apakah ibadah kita selama ini hanya sebuah bentuk pelarian dari masalah-masalah
Ibadah kita jadiakan seperti hunian kecil terpencil yang hanya kita singgahi ketika kita membutuhkan ketenangan,
yang kita datangi ketika dunia mulai terasa keras tak bersahabat.
Dan ketika masalah masalah itu mulai ringan dan terlupakan, kita kembali hanyut dan tenggelam

Apakah Kehidupan yang kita perjuangkan ternyata tak pernah membuat kita benar-benar hidup.
Kita terus diperbudak keinginan, terjebak dalam manisnya harapan.
Terus berlari, acuh tak perduli, Kita kehilangan arah dan tujuan sebenarnya,
Disetiap mimpi-mimpi hanya berkisah tentang indahnya dunia, disetiap doa-doa hanya berharap pada kebahagiaan fana.

Ya,,, tangis dalam doa doa malam hanya untuk meratapi kekurangan, dan doa doa pagi sebatas menggenapkan hari,
Kebaikan, kearifan, luhurnya budi pekerti hanya buah dari pengajaran pengajaran, semuanya tidak pernah benar benar keluar dari hati.

Tuhan tolong maafkan, karna ternyata cinta kami tidak pernah benar-benar nyata.
Tangis kami, ketakutan kami hanya sebatas pada azap yang kau akan timpakan
Cita-cita dan keinginan kami hanya berupa kebahagian, kami tidak pernah benar-benar rindu akan sebuah pertemuan.
Tuhan ajari kami, tuntun kami, tumbuhkan sebuah cinta suci, tanpa apa, tanpa kenapa, sebuah cinta yang ada karena Engaku semata.









Perempuan Madrasah Pertama Bagi Anak-Anak

Perempuan (ibu) adalah madrasah pertama bagi pendidikan seorang anak. Apa yang didapatkan oleh seorang anaknya pada masa-masa awalnya akan sangat berpengaruh ketika ia tumbuh besar kelak. Anak yang cenderung meniru apa yang dilihatnya. Hal tersebut bergantung sekali kepada orang-orang yang ada di sekelingnya.

Di sinilah letak peran penting seorang perempuan dalam pembentukan watak seorang anak, dimana perempuanlah orang yang pertama kali berhubungan komunikasi dengan sang anak, yaitu dimulai sejak sang anak berada dalam kandungan atau bahkan jauh sebelum itu, saat ruh ditiupkan ke dalam rahimnya.

Ketika anak dalam kandungan, perempuan sebagai ibu, punya peran penting untuk pertumbuhkembangan sang anak, selain peran penting sang ayah. Ketika ibu tidak menjaga pola komunikasi fisik dan mentalnya, maka akan berakibat buruk. Tidak hanya dirasakan oleh ibu itu sendiri, dan anak yang berada di dalam kandungan turut merasakannya.

Hal itu akan berlanjut hingga sang anak lahir. Komunikasi dan kontak fisik serta batin secara langsung begitu erat terjalin antara ibu dan anak. Maka ketika seorang ibu memperlakukan anak dengan baik ketika merawat anaknya, pada saat itu pula ia telah memberikan contoh perilaku baik pada sang anak. Pada masa-masa berikutnya, anak akan melewati sebuah masa emas bagi perkembangan hidupnya. Anak akan dengan mudah menyerap segala informasi yang sampai padanya.

Maka sangat ditekankan, seorang perempuan (ibu) haruslah mengerti dan memahami posisi penting ini dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk sebuah “misi suci”, membangun generasi-generasi tangguh yang akan menjadi pelaku-pelaku sejarah di masa mendatang. Akan berbeda tentunya bila kita membandingkan seorang perempuan yang mempunyai ilmu dan tidak.

Ketika perempuan itu mempunyai ilmu dan memahami hakikat dirinya maka ia akan selalu berbuat apa yang telah disebutkan AlQur’an sebagai pedoman bagi kaum Muslim, umat yang terbaik yang selalu bermanfaat bagi manusia.

Namun sayangnya, masih sedikit sekali orang tua yang menyadari peranan penting mereka, terlebih ibu yang mempunyai kedekatan komunikasi dan emosional lebih dalam pendidikan anak ini. Mereka beranggapan ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, maka tanggung jawab pendidikan sudah lepas dari tangan mereka dan beralih pada guru-guru yang ada di sekolah.

Padahal tidaklah demikian, karena perempuan (ibu) lebih banyak waktu kebersamaan keluarga bagi anak daripada kebersamaan anak dengan guru-guru mereka. Terlebih lagi pada ibu, yang mempunyai peran penting dalam sosialnya, seperti melahirkan, menyusui dan mendidik, di samping ayah, setidaknya ia menyadari betul akan peran pentingnya tersebut.

Ia seharusnya memanfaatkan momen-momen penting yang dilalui oleh anak dan mengisinya dengan hal-hal yang berharga, melalui pendidikan yang ia berikan selama kebersamaannya dengan sang anak. Ia juga berpeluang untuk menanamkan nilai-nilai yang bersumber pada agama yang juga sesuai dengan fitrah sang anak. Maka ketika semua ini disadari, akan lahir generasi-generasi tangguh dari keluarga tersebut.

Dengan demikian, peran perempuan ternyata begitu besar dalam hal melahirkan sebuah peradaban. Tanpa kehadiran perempuan niscaya kehidupan ini tidak akan berputar seperti yang kita lihat sekarang. Tugas-tugas seperti itulah yang akhirnya memuliakan seorang perempuan.