Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label resume buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resume buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 September 2013

Noda Dosa Dalam Hati

Muqodimah
Pada bagian ini Imam Al Ghazali memperingatkan para penuntut ilmu untuk meluruskan niatnya, yakni bahwa menuntut ilmu itu hanyalah demi mendapat keridhoan Allah SWT. Semata dan bukannya untuk kepentingan syahwat dunia.

Al Ghazali mengingatkan bahwa ketakwaan kepada Allah SWT yang diwujudkan pada ketaatan lahir dan ketaatan batin kepada Allah SWT sebagai kunci awal kepada petunjuk (ilmu). Ketaatan ini pulalah yang kemudian dibahas lebih dalam dibagian isi buku ini, dibawah judul: taat

Taat
Pada bagian ini Al Ghazali membahas bentuk-bentuk pelaksanaan ketaatan kepada Allah SWT yang tercermin dalam aktifitas amal ibadah sehari-hari seorang muslim.

Pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut juga merupakan upaya menjaga segenap hati dan anggota badan seorang muslim dari pagi hingga petang/malam agar ia sampai kepada penunaian perintah-perintah Allah SWT yang sesuai dengan adab-adab yang telah digariskan oleh Islam. Adab-adab tersebut diantaranya adalah:

A. Adab Bangun Tidur
1. bangun pagi sebelum fajar
2. membaca doa dan pujian bangun tidur

B. Adab Masuk Jamban/Kamar Kecil
1. membaca dzikir doa masuk jamban/kamar kecil
2. mendahulukan kai kiri ketika masuk dan mendahulukan kaki kanan ketika akan keluar
3. tidak menghadap dan atau membelakangi kiblat
4. beristinja dengan air atau benda keras dan kering paling sedikit tiga kali
5. membaca dzikir doa keluar jamban/kamar kecil
6. tetap berusaha menyembunyikan diri bila buang air kecil/besar di ruang terbuka

C. Adab Berpakaian
1. niat ikhlas semata-mata untuk memenuhi perintah Allah swt (untuk menutup aurat dan bukan untuk bermegahmegahan/menyombongkan diri)
2. membaca dzikir doa memakai dan ketika membuka pakaian

D. Adab Berwudhu
1. bersiwak
2. membaca dzikir doa menjelang wudhu
3. membersihkan telapak dan punggung tangan
4. berkumur-kumur
5. membersihkan hidung dengan mengirup air ke separuh hidung/istinsyar
6. berkumur
7. membasuh seluruh wajah
8. membasuh tangan hingga kepangkal siku dengan mendahulukan tangan kanan dari tangan kiri
9. membasuh kepala dan membersihkan lubang telinga sekaligus
10.membasuh kaki dengan mendahulukan kaki kanan dari kaki kiri
11.membaca dzikir doa setelah wudhu

E. Adab Mandi
F. Adab Tayamum
G. Adab Pergi Ke Masjid
H. Adab Yang Harus Dikerjakan Sejak Pagi Hingga Petang/Malam Hari
I. Adab Berimam dan Bermakmum dalam Shalat
J. Adab Jumat
K. Adab Puasa/Shaum

Setelah membahas ketaatan yang diwujudkan dalam pelaksanaan ibadah sehari-hari seorang muslim sesuai dengan adab-adabnya dalam bentuk ibadah fisik, Imam Al Ghazali selanjutnya membahas 7 pintu maksiat yang harus diwaspadai oleh seorang muslim. Ketujuh pintu maksiat itu adalah:

1. Mata
Imam Al Ghazali menasehati agar mata kita tidak digunakan untuk:
• Melihat wanita lain yang bukan mahramnya
• Melihat sesuatu yang akan membangkitkan nafsu birahi
• Melihat kepada sesame saudara muslim dengan penuh kebencian dan kesombongan
• Melihat kepada sesama muslim dengan penuh kedengkian

2. Telinga
Imam Al Ghazali mengingatkan agar telinga kita sebaiknya hanya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah serta untuk mendengarkan hadits-hadits rasulullah serta untuk mendengarkan hikmah-hikmah dari para aulia Allah.

3. Lidah/Lisan
Imam menasehati kita agar selalu menjaga lidah agar tidak menjerumuskan kita kedasar api neraka. Imam Al Ghazali juga mengingatkan bahaya yang ditimbulkan oleh lidah, yakni:
• Dusta, yang merupakan sumber dosa yang paling besar
• Ingkar janji
• Memfitnah
• Jidal/berbantah-bantahan tanpa hujjah yang jelas dalam hal agama
• Memuji-muji diri sendiri
• Mengutuk dan mencela
• Bersenda gurau dan berolok-olok

4. Perut
Imam Al Ghozali menasihati agar perut kita tidak diisi oleh barang/makanan yang haram serta berlebih-lebihan (kekenyangan).

5. Aurat/Syahwat sex
Imam Al Ghozali menasihati bahwa bagaimanapun juga kita tidak akan berhasil menjaga aurat/syahwat seks kecuali dengan jalan menjaga dan memelihara mata dari berbagai penglihatan yang tidak semestinya, hati, dari berbagai niat yang bukan-bukan dan perut dari berbagai makanan yang tidak menentu dan kekenyangan.

6. Tangan
Hendaknya tangan dijaga dan dipelihara dari segala perbuatan yang tercela seperti memukul sesama kaum muslimin, menyakiti makhluk, menerima harta yang tidak halal dsb.

7. Kaki
Kaki hendaknya dijaga dan dipelihara dari segala macam langkah yang tidak diridhoi oleh Allah SWT.

Selanjutnya setelah membahas ketujuh pintu maksiat yang harus diwaspadai yang juga masih berupa kegiatan ibadah fisik, berikutnya pada bagian penutup, Imam Al Ghazali membahas noda dosa pada hati manusia yang merupakan kegiatan ibadah non fisik.

Dosa-dosa tersebut menyangkut masalah:

1. dengki/hasad
Sifat ini bentuk dan sumbernya hampir sama dengan sifat bakhil atau kikir dimana dia tidak suka atau merasa iri atas pemberian Allah kepada orang lain terhadap sesamanya. Orang dengan sifat ini akan menderita hukuman lahir dan batin serta selalu merasa tidak puas dan berterimakasih.

2. kemunafikan/nifaq
Dosa munafik adalah dosa besar yang hampir mendekati dosa kemusyrikan dimana sifat ini sama sekali tidak membawa manfaat apapun bagi pelakunya.

3. kesombongan/takabur
Sifat ini merupakan penyakit menahun berkepanjangan yang timbul dari kesalahan pertimbangan akal yang memandang seolah-olah hanya dirinya saja yang paling penting dan terhormat. Orang lain dipandang dengan pandangan mengejek, menghina dan merendahkan.

Akibatnya ia akan selalu berkata aku, aku seperti ucapan iblis ketika menyombongkan diri terhadap Adam as. Orang sombong adalah yang manakala berkata atau menyatakan pendapatnya bisa menimbulkan sakit hati orang lain. Sementara itu apabila mendengar pendapat orang lain yang bertentangan dengan pendapatnya ia akan menyatakan kegusarannya.


---
Ringkasan buku tema “Tazkiyatun Nafs

Diringkas oleh: Cecep Y Pramana
Judul: Noda Dosa Dalam Hati (Dipetik dari Kitab Bidayatul Hidayah oleh: Imam al Ghazali)
Alih Bahasa: H. Rus’an
Penerbit: Bulan Bintang, Jakarta, Cet. Ke-4 tahun 1989
Halaman: 120 halaman


Minggu, 20 Januari 2013

Creative Game for Kids

Satu cara paling efektif dalam mengembangkan kecerdasan otak dan emosi seorang anak adalah bermain”. Setiap orangtua pasti menginginkan anak-anaknya memiliki Intelligence Question (IQ) dan Emotional Question (EQ) yang baik.

Kecerdasan pikiran, menjadi hal yang penting harus dipelajari untuk memberi fondasi anak agar mampu berargumen, mengambil keputusan, serta mencari solusi terbaik atas permasalahan yang dihadapi. Sedangkan, kecerdasan emosi sangat dibutuhkan agar anak dapat membentuk karakter baik dalam dirinya.

Salah satu cara yang cukup efektif dalam mengembangkan kecerdasan otak dan emosi anak adalah dengan bermain. Mengapa permainan dapat melatih jiwa kepemimpinan seorang anak?

Hal itu dapat terjadi apabila unsur-unsur dalam permainan tersebut mengajarkan tentang keberanian, tanggung jawab, logika, cara mengatur strategi, memecahkan masalah, bekerjasama, melatih ketangkasan, konsentrasi, membangun kreativitas, melatih kepercayaan diri, dan nilai positif lainnya.

Mengenali kecerdasan otak dan mental menjadi bagian terpenting dalam pembentukan pendidikan karakter seorang anak. Cara meningkatkan hal itu dapat dilakukan sambil bermain. Banyak bentuk permainan yang ditawarkan untuk menggali kecerdasan tersebut antara lain permainan sarang laba-laba, ladang jebakan, kanal api, hingga adu suit.

Bermain, akan membutuhkan orang lain sebagai teman atau lawan. Bermain peran seperti ini sangat dibutuhkan seorang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Anak-anak mungkin akan bertengkar selama menjadi teman atau lawan. Kemudian dalam sekejap, mereka pasti akan akrab kembali sebagai teman. Inilah salah satu proses pembentukan emosi seorang anak.

Pembentukan emosi anak juga dapat dilakukan ketika ia dapat melakukan kerjasama dengan teman-temannya. Sebab, kerjasama merupakan cara ia melatih kemampuan beradaptasi sekaligus berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Dan semua hal ini dapat dipelajari melalui Buku karya Yudha Kurniawan, SP terbitan Wahyu Media berjudul, “Creative Game for Kids”.

Di dalam buku ini mengulas bentuk permainan yang dilakukan secara berkelompok dengan berkonsentrasi pada kemampuan berpikir, ketangkasan tubuh, kerjasama, pengembangan diri, serta komunikasi antar anggotanya. Peserta yang bermain disesuaikan dengan usia, tinggi, dan bobot tubuhnya.

Seluruh permainan ini dirancang menggunakan alat dan bahan sesuai jenis permainannya. Lokasi kegiatan ada yang di dalam ruangan, namun adapula di luar ruangan, sesuai ruang yang dibutuhkan dalam permainan.

Selain itu, buku “Creative Game for Kids” ini berisi 35 permainan seru untuk meningkatkan IQ dan EQ anak. Dapat digunakan sebagai panduan bermain yang mudah, bermanfaat, sekaligus menyenangkan bagi anak maupun siswa di sekolah.

Semoga, buku terbitan Wahyu Media ini dapat memberikan kontribusi nyata dan lebih bagi perkembangan anak dalam proses belajar. Sebab, dengan belajar sambil bermain, biasanya anak akan lebih cepat menyerap atau memahami materi pembelajaran.


Diringkas oleh: Cecep Y Pramana
Dari buku: “Creative Game for Kids
Karya: Yudha Kurniawan
Penerbit: Wahyu Media
Halaman: 182 halaman
Ukuran: 14 x 20 cm


Minggu, 06 Januari 2013

Mencari Mutiara di Dasar Hati

Buku ‘Mencari Mutiara di Dasar Hati’ merupakan kumpulan artikel dari rubrik 'Ruhaniyat' majalah Tarbawi yang sangat istimewa.

Ketika artikel dari rubrik tersebut dihimpun menjadi 'sebuah buku' hasilnya, sungguh luar biasa! Betapa kita dapat berkaca dengan isi demi isi dari buku ini.

Sungguh menyentuh bagi kita yang memang benar-benar masih peduli dengan kemurnian hati.

Dipadu dengan sumber dari Alquran serta hadits dari Rasulullah SAW, sirah Nabi-Nabi ataupun para sahabat Radiyallahu Anhu. Selamat Membaca.

“Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya” (Ar Rafi’I, Wahyul Qalam, 1/50)

Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Adakah diantara kita yang tersayat atau terluka? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tidak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.

Kita tak pernah berhenti karena menderita oleh keadaan seperti itu. Di jalan ini, “Rasa sakit telah menjadi kenikmatan, pengorbanan menjadi indah dan jiwa menjadi tidak berharga”. Kata itu yang pernah diucapkan seorang pejuang Palestina terkenal yang telah gugur, Mahmud Abu Hanud. Tujuan yang kita tetapkan dalam kebersamaan terbukti telah menjadikan kita lebih kuat, tabah, kokoh menghadapi rintangan apapun juga.

Dalam perjalanan dakwah yang panjang, kita memerlukan satu bekal yaitu sikap lapang dada, nafas panjang dan mudah memaafkan. Seperti orang-orang shalih terdahulu yang tak peduli dengan suasana getir yang mereka terima dalam menjalankan ketaatan. Seperti para pejuang yang tak pernah tersengal-sengal oleh kejaran musuh-musuhnya di Jalan Allah. Seperti Rasulullah SAW yang tak pernah merasa tertekan dengan penghinaan atau cacian orang-orang sekirarnya, dalam menjalani misi kenabiannya.

Sungguh luar biasa sikap orang-orang shalih dalam memandang dan mengukur penghinaan orang lain terhadap dirinya. Ibrahim An Nakh’I, suatu hari berjalan bersama sahabatnya, seorang buta. Setelah beberapa lama menyusuri jalan, orang buta itu mengatakan, “Ya Ibrahim, orang-orang yang melihat kita mengatakan, “itu orang buta dan pincang”. Ibrahim dengan tenang lalu mengatakan, “Kenapa engkau begitu terbebani memikirkannya? Jika mereka berdosa karena menghina kita sedangkan kita mendapat pahala, lalu kenapa?

Fudhail bin Iyadh, tokoh ulama yang terkenal ketaqwaannya di zaman generasi Tabi’in bercerita bahwa suatu ketika saat berada di Masjidil Haram, ia didatangi seseorang yang menangis. Fudhail bertanya, “kenapa engkau menangis?” Orang itu menjawab, “Aku kehilangan beberapa dinar dan aku tahu ternyata uangku dicuri”.

Fudhail mengatakan “Apakah engkau menangis hanya karena dinar? Sungguh mengejutkan jawaban orang itu. Ia menjawab, ”Tidak, aku menangis karena aku tahu bahwa kelak aku akan berada di hadapan Allah, dengan pencuri itu. Aku kasihan dengan pencuri itu, itulah yang menyebabkan aku menangis…”

Mereka yang dirahmati Allah, menyikapi berbagai persoalan dengan lapang dada. Mungkin saja mereka berduka, bersedih, kecewa atau barangkali tersulut sedikit kemarahannya. Tetapi mereka berhasil menguasai hatinya kembali. Hati mereka tetap ridha, mata mereka tetap teduh, ketenangan mereka sama sekali tidak terusik. Betapa indahnya.

Kisah-kisah itu harusnya membuat kita mengerti bahwa jika kita tidak lapang dada dan tidak mudah bersabar, kita pasti akan menjadi orang yang paling menderita didunia ini sebab penderitaan terbesar adalah jiwa yang cepat goyah dan bimbang saat menghadapi sesuatu yang sebenarnya remeh.

Penderitaan paling berbahaya adalah ketika tujuan hidup kita yang demikian agung, terbentur oleh keadaan hidup yang sesungguhnya sepele. Persoalan remeh, yang kita lihat secara keliru, kemudian mengakibatkan sempitnya dada, nafas tersengal, kesal hati, murung wajah, hati yang bergemuruh duka cita hingga istirahat terganggu, pikiran tidak tentu arah.

JIka itu yang terjadi, takkan ada amal-amal besar yang bisa dilakukan. Lantaran amal-amal besar hanya lahir dari jiwa yang tenang, hati yang lapang, penuh ridha, pikiran yang jernih. Itu sebabnya Syaikh Musthafa Masyhur mensyaratkan sifat ‘nafasun thawiil’ atau nafas panjang yang harus ada dalam diri pejuang Islam. Baginya, jalan perjuangan yang terjal dan panjang tak mungkin bisa dilewati oleh orang-orang yang ber’nafas pendek’ alias mudah goyah dan tidak sabar.

Apa rahasia lapang dada yang dimiliki para salafushalih itu? Kenapa mereka tetap memiliki bashirah yang terang dalam menghadapi persoalan hidup? Salahsatunya karena wawasan hidup mereka yang luas. Orang yang sempit wawasan adalah orang yang takut dengan perkara-perkara kecil, sangat takut dengan peristiwa remeh dan mudah marah dengan kata-kata yang tidak berkenan di hatinya.

Seseorang bahkan bisa sampai terbakar puncak kemarahannya disebabkan peristiwa yang sebenarnya bisa dilewati dengan memejamkan mata. Bahkan bisa dilewati dengan senyum bila dibarengi dengan sedikit berpikir lapang dada.

Kita bisa seperti mereka. Jika kita tahu dan sadar ada sasaran besar dan tujuan maha agung yang akan kita capai bersama di ujung jalan ini. Ada yang maha penting dari peristiwa-peristiwa apapun dijalan ini. Ada yang maha mulia dari berbagai kejadian-kejadian apapun di jalan ini.


Diringkas oleh: Cecep Y Pramana 
Dari buku: “MENCARI MUTIARA DI DASAR HATI” Catatan Perenungan Ruhani Seri I, karya: Muhammad Nursani (Tarbawi Press)


Jumat, 04 Januari 2013

7 Tahapan Dakwah Fardiyah

Tidak mudah untuk memasuki hati manusia. Karena ia adalah ruang yang sangat luas. Ruang itu punya pintu dan pintu tersebut ada kuncinya.

Kunci itu juga punya mata kunci. Untuk menebarkan hidayah dan cahaya Ilahi ke dalam hati manusia bukanlah pekerjaan mudah.

Itulah rahasianya mengapa Rasulullah SAW mengatakan, “Bila ada orang yang melalui perantara dirimu Allah SWT memberinya hidayah, maka itu jauh lebih baik daripada dunia dan seisinya”.

Buku “7 Tahapan Dakwah Fardiyah” ini menceritakan kepada kita bagaimana kiat dan langkah-langkah memasuki hati, dalam sebuah amal yang unik. Terkadang mudah, namun di lain kesempatan begitu sulit. Terkadang berat, namun sesaat bisa menjadi ringan. Karena ia memang unik, itulah dakwah fardiyah.

Buku itu ditulis oleh orang yang tidak saja matang secara konsepsi, tapi lebih jauh ia menghabiskan hari-harinya hingga kini dalam belantara dakwah yang pekat dengan suka dan duka. Itulah yang membuat buku ini begitu bertenaga, mengalir, namun pada saat yang sama sangat aplikatif.

Dakwah Fardiyah adalah dakwah dengan pendekatan personal atau pribadi kepada objek dakwah. Dakwah fardiyah hanyalah salah satu aspek dari sekian banyak aspek dalam berdakwah, seperti dakwah melalui tulisan, dakwah dengan ceramah, tabligh dan lain sebagainya.

Keungulan dakwah fardiyah dibandingkan dengan metode dakwah lainnya adalah dakwah dengan metode ini bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Hasilnya pun bisa lebih dipantau dan bisanya output yang dihasilkan jauh lebih berkualitas dibandingkan dakwah dengan metode lainnya.

Bagaimana selanjutnya tahap-tahap dakwah fardiyah itu?
Dan apa-apa saja yang diperlukan di dalamnya?

Pertama, membina hubungan yang baik dengan objek dakwah. Membina hubungan yang baik dengan objek dakwah, merupaka tahapan yang paling menentukan. Karena disinilah akan tercipta keterikatan hati (taliful qulb) antara sang da’i dengan objek dakwahnya.

Karena itulah tahap ini diletakkan pertama kali dalam tahapan dakwah fardiyah ini. Bila sudah tercipta keterikatan hati maka akan sangat mudah bagi kita “memasukkan” materi-materi atau nilai-nilai yang ingin kita dakwahi.

Kedua, membangkitkan keimanan yang mengendap dalam jiwa. Hal pertama kali yang terus ditanam oleh Nabi SAW kepada para sahabat adalah tauhidullah, keimanan yang kokoh kepada Allah. Tidak bergantung kepada selain Allah SWT. Hal ini bisa dilakukan dengan mengingatkan objek dakwah akan kebesaran dan nikmat-nikmat Allah yang bertebaran disekitarnya. Atau cara-cara lain yag sesuai dengan kondisi objek dakwah yang bersangkutan.

Ketiga, membantu memperbaiki keadaan dirinya dengan ibadah-ibadah yang diwajibkan. Selanjutnya, saat keimanan telah tumbuh, maka da’i harus mulai memperhatikan baik kuantitas maupun kualitas ibadah objek dakwahnya. Karena dengan ibadah-ibadah yang disyariatkan Islam inilah seseorang bisa semakin dekat kepada Rabbnya dan semakin memperkokoh keimanan yang telah mulai tumbuh. Perhatikan, masalah ibadah disini hanya menyangkut ibadah mahdah atau ibadah ritual bukan ibdah secara umum.

Keempat, menjelaskan tentang kesyumulan ibadah, bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada ritual-ritual shalat, puasa, zakat, dan haji saja. Akan tetapi aktivitas apapun yang dilakukan selama itu diniatkan karena Allah SWT, maka aktivitas tersebut adalah ibadah. Dengan demikian objek dakwah semakin merasa bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah SWT dan mulai merasakan lezatnya iman dan ibadah kepada Allah. Iman dan jiwanya menjadi hidup.

Kelima, menjelaskan kewajiban berdakwah kepada sesama muslim. Bahwa keberagamaan kita tidak cukup hanya dengan keislaman kita sendiri. Pada tahap inilah objek dakwah mulai berganti “status” menjadi subjek dakwah. Objek dakwah mulai dikenalkan bahwa berislam dan menjadi shaleh tidak cukup dinikmati sendiri. Tetapi Allah SWT telah memerintahkan kepada kita untuk berbuat amar makruf nahi munkar. Disini juga mulai dikenalkan mengenai urgensi berdakwah kepada objek dakwah.

Keenam, menjelaskan bahwa kewajiban diatas tidak mungkin dilaksanakan secara individu (Infiradhi) tetapi harus dilaksanakan secara kolektifitas berjamaah (Amal Jama’i). Setelah itu objek dakwah juga mulai diperkenalkan dengan amal jama’i. Bahwa beban dakwah ini tidak mungkin dapat dipikul seorang diri. Tidak mungkin seorang menjadi “superman” dakwah tetapi yang ada adalah “supertim” dakwah yang bekerja dalam keteraturan dan harmonisasi kerja.

Ketujuh, mengenalkan dengan jamaah mana ia harus bergabung dan memberikan kontribusinya untuk keberlangsungan dakwah Islam. Ada beberapa karakteriskitik jamaah yang pantas dan benar untuk kita memberikan afiliasi kita kepadanya diantaranya adalah jamaah yang megikuti manhaj (metode) Rasullullah dalam dakwahnya, yaitu mempersiapkan seorang muslim untuk memiliki akidah yang kokoh, ibadah yang benar dan akhlak yang mempesona.

Disamping itu jamaah tersebut haruslah mengambil islam secara utuh dan integral, tidak parsial atau setengah-setengah. Begitu pula dalam melaksanakan islam. Selain itu jamaah yang patut diikuti adalah jamaah yang terorganisir dengan baik. Program-programnya teratur dan terencana sehingga mungkin untuk dilaksanakan.

Dalam melakukan dakwah fardiyah, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan para pelaksana dakwah fardiyah. Pertama, harus dilakukan secara tertib dan berurutan. Menyalahi urutan tahapan dakwah, dapat menyebabkan penolakan objek dakwah terhadap pesan-pesan dakwah. Kedua, janganlah terburu-buru dan tergesa-gesa dengan ingin melihat hasil bukan proses yang di jalankan.

Hanya karena ingin objek dakwah sampai kepada tahapan yang lebih tinggi, seorang da’i lalu bertindak gegabah dalam meningkatkan tahapannya. Padahal ia belum mempunyai keyakinan dan penerimaan yang sempurna terhadap setiap tahapan yang dilalui.

Ketiga, jalan dakwah Islam harus benar-benar bersih. Bersih seluruh prasyaratnya dari prasangka negatif, bersih seluruh amal Islamnya dari nilai-nilai syubhat, dan tentunya bersih pengembannya dari maksiat. Wallahua'lam


Diringkas oleh: Cecep Y Pramana
Dari buku: “7 Tahapan Dakwah Fardiyah” karya: Syaikh Mushthafa Masyhur (Al I’tishom Cahaya Umat, 2001)


Rabu, 02 Januari 2013

Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah

Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (QS Ali Imran: 146)

Siapa sajakah mereka yang berjatuhan (berguguran) di jalan dakwah. Sebagaimana karakteristiknya, dakwah merupakan amalan panjang yang penuh hambatan dan rintangan.

Perjalanan dakwah bukanlah perjalanan yang bertabur bunga dan penuh penghargaan. Justru sebaliknya, dakwah adalah jihad dan pengorbanan seseorang. Segala bentuk pengorbanan dituntut dari seorang yang ingin berdakwah, mulai dari waktu, harta dan jiwa.

Semuanya menjadi konsekwensi yang harus diberikan saat seseorang telah menyatakan dirinya siap untuk berdakwah di jalan Allah SWT. Dakwah jauh lebih penting ketimbang diri si pendakwah itu sendiri. Tegak serta berdirinya hukum-hukum Allah dan izzatul muslim atau harga diri ummat Islam merupakan orientasi mutlak yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Ada banyak faktor yang menyebabkan mereka yang berjatuhan di jalan dakwah. Kepahaman terhadap karakteristik dakwah terkadang menjadi ujian awal seseorang mengeluh berada di barisan panjang dakwah.

Bagaimanapun juga dakwah adalah sunnatullah dengan jumlah orang-orang yang sedikit. Sedikit sekali orang-orang yang mau ikut bergabung di barisan orang-orang mulia, mengingat besar dan sulitnya hambatan rintangan di jalan dakwah.

Bukan dakwah yang membutuhkan para aktivis, akan tetapi aktivis dakwahlah yang membutuhkan dakwah tersebut. Allah SWT telah menjanjikan bahwasannya akan mengganti generasi yang berjatuhan di jalan dakwah, dengan orang-orang (kaum/umat) yang lebih baik lagi.

Ada atau tidak adanya aktivis dakwah dalam barisan dakwah, dakwah tersebut akan terus berjalan dan bertukar generasi. Kebutuhan aktivis dakwah terhadap dakwah adalah untuk kebaikan yang bersangkutan baik di dunia maupun di akhirat. Sementara roda aktifitas dakwah akan terus berputar bersama orang-orang yang konsisten berjuang di dalamnya.

Salah satu yang bisa dilakukan agar tidak termasuk kepada orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah adalah dengan mengetahui apa saja hambatan dan rintangan di jalan dakwah tersebut. Bermacam hambatan dan ujian yang akan ditemukan saat berada di jalan dakwah; diantaranya:

Pertama, jabatan dan alat mencari rezeki. Kedudukan merupakan ujian nyata bagi para aktivis dakwah. Kedudukan bisa mengantarkan seseorang pada surga maupun neraka. Para aktivis dakwah yang telah memperoleh kedudukan di tengah masyarakat hakikatnya sedang diuji. Baik untuk pribadi orang yang menjalani maupun untuk jamaah secara umum.

Rasulullah SAW dan para sahabat telah mengajarkan bagaimana cara mengelola kedudukan agar berbuah pahala dan syurga. Para aktivis dakwah hendaknya senantiasa berkiblat pada siroh dan landasan Alquran dan hadist dalam mengelola kedudukan yang dipegangnya.

Kedua, keluarga (istri dan anak). Keluarga merupakan bentuk ujian nyata seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah. Allah SWT bahkan mengancam kepada orang-orang beriman, jika mereka lebih mencintai anak-anak, istri dan tempat tinggal mereka, maka kemurkaan akan diturunkan kepada mereka. Bagaimanapun kecantikan dan kesempurnaan seorang anak, bagi aktivis dakwah tetaplah merupakan bentuk ujian yang harus disikapi secara hati-hati.

Ketiga, kecintaan pada dunia dan harta. Harta kerap melalaikan manusia. Begitupun para aktivis dakwah yang juga merupakan jamaah manusia. Secara manusiawi seorang manusia tentu akan tergiur hatinya dengan gemerlapnya harta dunia. Namun di sanalah peran hidup berjamaah bermain.

Satu orang menjadi penasehat rekan yang lain, begitupun sebaliknya. Saling mengingatkan atas kelalaian masing-masing. Kecintaan terhadap harta dunia dapat melalaikan seseorang dan melupakan orientasi utama dakwahnya hanyalah untuk Allah SWT.

Keempat, godaan sebagai penghalang yang cukup melemahkan. Lingkungan dan orang-orang yang memusuhi dakwah di sekitar kita terkadang membisik-bisikkan godaan agar kita melalaikan dan meninggalkan dakwah. Ini merupakan bentuk dari ujian dan rintangan yang akan dihadapi seorang aktivis dakwah. Jika ia lemah, maka ia akan menjadi orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah. Wallahua'lam


Diringkas oleh: Cecep Y Pramana
Dari buku: “Yang Berguguran di Jalan Dakwah” karya: Fathi Yakan (Al Itishom)
Twitter: @CepPangeran


Rabu, 26 Desember 2012

Kekuatan Sang Murabbi

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizingNya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” QS Al-Maidah: 16)

Saat ini, kaum muslimin mulai bangkit dari tidur panjang yang membuat mereka lupa pada agamanya. Mereka memiliki keinginan untuk kembali bersandar pada agama ini.

Semangat keislaman mereka pun tumbuh dan mulai bergelora seiring dengan perjuangan dakwah. Oleh sebab itu para dai, murabbi, maupun pemimpin cerdas yang memiliki cita-cita untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan umat ini, harus segera meraih tangan-tangan mereka dan membimbingnya ke jalan Islam.

Untuk itu, para dai dan murabbi harus memiliki pemahaman yang benar, perencanaan yang matang, pengetahuan yang memadai, dan aturan yang bijak untuk membentuk generasi yang militan.

Lalu, bagaimanakan caranya untuk memenuhi atau menyiapkan semua itu? Inilah yang dijawab oleh penulis, Prof Dr Taufik Yusuf Al-Wa’iy. Seluruhnya disampaikan dengan jelas dan praktis. Sehingga para dai, murabbi, maupun pemimpin cerdas yang memiliki cita-cita untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan umat, dapat mempraktikannya dalam amal-amal dakwah, terutama amal-amal pembinaan.

Sosok murabbi, tentu tidak hanya terbatas sebagai ‘tenaga pengajar’ saja, namun murabbi merupakan sosok orang tua, syaikh, kakak, teman, guru, pemimpin, teladan. Dari berbagai macam gelar yang disandang, tentu hal tersebut bukanlah satu hal yang mudah digapai, perlu perjuangan, penuh rintangan, dan senantiasa harus diiringi dengan kesabaran dan keihlasan.

Dua titik tekan pada pembahasan buku ‘Kekuatan Sang Murabbi’ karya Prof Dr Taufik Yusuf Al-Wa’iy ini, yaitu bagaimana murabbi dapat menumbuhkan kemampuan pribadinya pada sisi tarbawi dan dakwah. Selanjutnya bagaimana menumbuhkan kemampuan manajerial dan leadership murabbi tersebut. Semua ini tidak lepas dari latar belakang tarbiyah murabbi, pemahaman terhadap materi tarbiyah yang selama ini didapat, sosok murabbi yang dikenalnya, dan keterlibatannya dalam agenda-agenda dakwah.

Pembelajaran sebagai murabbi bukanlah pembelajaran sesaat, karena murabbi adalah sosok pembina yang dilihat keteladanannya. Butuh waktu untuk dapat mengasah diri menjadi seorang murabbi yang memiliki ‘kekuatan’ itu. Kekuatan menggagas dan mengadakan perubahan, bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Posisi murabbi sebagai qudwah hasanah, memiliki 3 dasar keteladanan, berupa kebaikan yang bersumber dari keimanan ibadah dan keikhlasan, akhlak yang baik, serta kesesuaian antara kata dan perbuatan. Keteladanan menjadi salah satu faktor terpenting dan berperan besar dalam mempengaruhi proses penyampaian dakwah. Murabbi merupakan dai, penyeru kebaikan, wajah Islam yang tampak di hadapan manusia dan makhluk.

Murabbi juga bertanggung jawab dalam mensukseskan tujuan pembinaan, serta realisasi rukun-rukunnya, dengan mengetahui terlebih dahulu definisi dan karakteristik halaqah (usrah) itu sendiri. Murabbi punya kewajibaan untuk memahami fungsi serta manfaat usrah dari berbagai macam sisi. Halaqah (usrah) bukan terbatas pada pertemuan rutin mingguan saja, oleh karenanya murabbi harus dapat menjadikan suasana usrah nyaman bagi seluruh anggotanya, dengan tetap memperhatikan risalah usrah serta berbagai fungsi yang berlaku.

Menumbuhkan intelektualitas iman, pergerakan, dan sosial mutarabbi (binaan) juga merupakan salah satu hal yang diamanahkan bagi murabbi. Tentunya dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki, ini bukanlah hal yang mudah untuk diaplikasikan.

Karena memang menjadi murabbi adalah kesempatan untuk belajar dan mengetahui lebih banyak ilmu. Setiap manusia pasti memiliki potensi intelektualitas yang berbeda, untuk itu menjadi tanggung jawab murabbilah mereka dapat mengetahui kadar potensi intelektualitasnya dan begitupula dalam memotivasi pengembangannya.

Murabbi juga memiliki kewajiban untuk mendidik mutarabbinya agar komitmen terhadap rukun-rukun jamaah. Murabbi memahami terlebih dulu rukun-rukun jamaah agar dapat mengaplikasikannya dan mendidik saudara-saudaranya sesuai dengan manhaj tarbiyah Islamiyah. Murabbi dapat memanfaatkan sarana-sarana tarbiyah yang ada dan mengoptimalkannya untuk aplikasi rukun-rukun jamaah.

Dua pembahasan selanjutnya merupakan penekanan terhadap komitmen murabbi, terhadap aturan-aturan gerakan dan komitmen pribadi serta pengontrolan aktivitas agar sesuai dengan syariat. Dan terakhir adalah bagaimana murabbi mampu menjadi sosok yang dapat mengkonsolidasikan dimensi sosial masyarakat dan menyiapkan lingkungan yang baik sebagai ruang pendidikan anak.

Semua pembahasan diatas merupakan dasar kemampuan murabbi pada sisi tarbawi dan dakwah, untuk pembahasan mengenai pengembangan kemampuan manajerial dan leadership murabbi ada enam hal yang dibahas di dalam buku ini.

Pembahasan pertama, bagaimana murabbi mampu melaksanakan instruksi dan kebijakan-kebijakan dakwah. Kerja yang sukses membutuhkan perencanaan, menyusun tujuan besar dan cara mencapainya.  

Kedua, bagaimana murabbi menghindari sifat otoriter, individualis serta bekerja berdasarkan syura (walaupun terkadang tidak sesuai dengan jalan fikiran pribadi masing-masing, dan tetap memperhatikan batasan-batasannya). Dan syura adalah menarik pendapat yang beragam dan berbeda-beda, lalu mengujinya untuk mendapatkan pemikiran yang lebih baik dan utama untuk dilaksanakan.

Ketiga, bagaimana murabbi mampu memahami setiap pribadi dan mengontrol aktivitas yang dilakukan. Kesuksesan seorang murobbi tidak ditentukan pada kemampuannya menguasai ruang halaqah atau usrahnya dan terpenuhinya segala kewajiban yang ia bebankan kepada mutarabbinya, tapi ia yang mampu berinteraksi dengan anggotanya sebagaimana mereka berinteraksi secara efektif serta membangun kerjasama positif bersama mereka.

Keempat, bagaimana murabbi percaya diri ketika menyampaikan materi. Kejujuran dalam perkataan dan sikap serta amanah dalam menyampaikan pesan akan membawa seorang dai percaya diri dalam meyampaikan materi. Kelima, bagaimana murabbi hadir secara teratur dengan sifat bijaksana dan menjauhkan diri dari senda gurau yang berlebihan.

Karena kesungguhan adalah bekal dasar dan akhlak yang harus dimiliki oleh setiap dai yang telah berjanji kepada Allah SWT bahwa mereka hidup untuk berakwah dijalanNya atau mati karenanya. Dan keenam, adalah bagaimana murabbi mampu menggali potensi, bakat, mengetahui, juga dapat memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi.

Kita tak dapat menyangkal bahwa keberhasilan mencapai posisi murabbi adalah sesuatu yang sangat istimewa dan prestisius. Tapi sebuah pertanyaan harus dijawab, ”Mampukah kita menunaikan peran tersebut dengan sukses dan mendapat hasil maksimal? Jika kita ingin mencapai itu maka harus mencari metode terbaik dalam melakukan proses tarbiyah, dan merelakan diri untuk mengerjakan tugas-tugas besar, karena pastinya kita senantiasa butuh menyelami sesuatu yang baru untuk merasakan sesuatu yang bernilai besar.

Proses tarbiyah akan terasa lebih mudah apabila kedua belah pihak, baik murabbi maupun mutarabbi memahami fungsi dan posisi masing-masing. Sungguh pekerjaan murabbi bukanlah pekerjaan yang ringan dan sesaat, butuh kemauan keras, pengorbanan, dan kesabaran.

Karena dakwah memiliki karakteristik penuh dengan kendala dan kesulitan, buahnya tak akan mudah dipanen. Dengan ikhtiar dan tawakkal, semoga Allah SWT memberikan kekuatan serta kesabaran pada para penegak kebenaran. Wallahua'lam

Diringkas oleh: Cececp Y Pramana
Dari buku: “KEKUATAN SANG MURABBI” karya: Prof Dr Taufik Yusuf Al-Wa’iy (Al I’tishom Cahaya Umat)


Rabu, 28 November 2012

Pengertian Tawakal

Para sahabat dan tabiin memberikan beberapa pengertian tentang tawakal, diantaranya: Pertama, tawakal adalah amal hati (Imam Ahmad) kedua, tawakal artinya melepaskan diri bersama kehendak Allah (Sahl) ketiga, ridha terhadap Allah SWT sebagai pelindungnya (Yahya bin Mu’adz)  

Selain itu, keempat, melepaskan berbagai sesembahan dan memotong segala sebab, tidak bergantung kepada sebab (Dzun-Nun) dan terakhir, menghempaskan badan dalam ubuidyah dan mengaitkan hati dengan rububiyah dan ketenangan hati terhadap kecukupan yang diberikan kepadanya. Jika diberi ia bersyukur dan jika ditahan ia bersabar (Abu Turab An-Nakhsyaby)

Secara umum mereka semua sepakat bahwa tawakal tidak berarti harus menafikan pelaksanaan sebab. Tawakal tidak benar kecuali disertai pelaksanaan sebab, jika tidak maka itu batil dan merupakan tawakal yang rusak.

Sedangkan menurut Al Ghazali, tawakal itu termasuk masalah iman. Tawakal juga tersusun dariilmu yang merupakan dasar, dan amal yang merupakan buah dan keadaan yang merupakan kehendak atas nama tawakal Tawakal bentukan dari kata al-wakalah.

Jika dikatakan “wakala amrahu ila Fulanin”, artinya menyerahkan urusan kepada Fulan dan bersandar kepadanya. Orang yang diserahi disebut al-wakil, sedangkan yang menyerahkan urusan disebut muttakil alaihi atau mutawakil alaihi.

Sedangkan Ibnul Qoyyim menyebutkan bahwa tawakal tersusun atas beberapa tingkatan:
- Mengetahui Rabb dengan segenap sifat-sifat-Nya
- Kemantapan hati dalam masalah tauhid
- Menyandarkan hati dan bergantung kepada Allah
- Berbaik sangka kepada Allah
- Menyerahkan hati kepada Allah, menghimpun penopang-penopangnya dan menghilangkan penghambat-penghambatnya.
- Pasrah, yang merupakan ruh tawakal, inti dan hakikatnya.
- Ridha merupakan buah tawakal

Tawakal dan Sebab
Al qur’an dalam surat AnNisa:71 dan Al-Anfal:60 memerintahkan orang-orang mukmin untuk mempertimbangkan sebab. Saat ini manusia dikelompokkan kedalam empat golongan berkaitan dengan sebab, yaitu:

1. Golongan yang menyia-nyiakan sebab
Dengan hati dan badannya, golongan ini menyia-nyiakan sebab, karena berasalasan tawakal kepada Allah SWT. Golongan ini tidak banyak menimbulkan problem pada masa sekarang.

2. Golongan yang bersandar kepada sebab dan melupakan pembuat sebab
Segala pandangan mereka tertuju kepada sebab dan penyandaran mereka murni kepada sebab, sehingga seakan-akan sebab itu adalah sesembahan yang harus dipuja selain pemujaan terhadap Allah atau sama sekali melalaikan Allah SWT. Golongan ini merupakan golongan mayoritas saat ini. Mereka menganggap bahwa rezeki yg mereka terima bukanlah dari Allah SWT, namun karena usaha mereka sendiri.

3. Golongan yang mengandalkan sebab untuk melakukan kedurhakaan
Golongan ini lebih buruk dari golongan kedua. Golongan kedua bersandar kepada sebab dalam hal-hal yang mubah. Namun golongan ini mempergunakan sebab untuk melakukan hal-hal yang diharamkan dan mengandalkan sebab yang dihamparkan Allah untuk mendurhakai Allah. Mereka mempergunakan segala nikmat yang Allah berikan kepada mereka seperti harta, ilmu, kekuasaan sebagai sarana untuk menganiaya dan menindas orang lain yang lemah dan tidak tahu.

4. Golongan yang memadukan sebab dan tawakal
Golongan ini tidak mengambil sebab dan tidak melalaikan pencipta sebab. Dengan anggota badannya, ia bersama sebab, dengan hatin dan akal dia bersama Rabb-nya. Inilah orang yang sesungguhnya tawakal. Mereka beraktifitas pada kehidupan dunianya, mencari ilmu, mencari rezeki, namun mereka tetap mengembalikan hasilnya kepada Allah SWT sebagai pemilik segala yg ada di dunia ini.

Buah Tawakal kepada Allah SWT
1. Ketenangan dan ketentraman
2. Kekuatan
3. Keperkasaan
4. Ridha
5. Harapan

Disamping itu untuk dapat melaksanakan tawakal dengan sebenarnya, terdapat beberapa pendorong tawakal, yaitu:
- Mengetahui Allah dengan Asmaul Husnanya
- Percaya kepada Allah SWT
- Mengetahui diri sendiri dan kelemahannya
- Mengetahui keutamaan tawakal dan keadaan orang-orang yang bertawakal serta bergaul dengan mereka


Diringkas oleh: Cecep Y Pramana
Dari buku: “TAWAKAL” karya: Dr Yusuf Al-Qaradhawy
Penerbit: Pustaka Al-Kautsar (1998)



Minggu, 18 November 2012

Tarbiyah Dzatiyah

Tarbiyah dzatiyah adalah sarana tarbiyah (pembinaan), yang diberikan orang muslim atau muslimah kepada dirinya sendiri untuk membentuk kepribadian Islam yang sempurna di seluruh sisinya, baik iman, akhlak, ilmiah, sosial, dan sebagainya.

Dengan kata lain tarbiyah dzatiyah adalah tarbiyah seseorang terhadap dirinya dengan dirinya sendiri. Dalam pengertian ini tarbiyah dzatiyah setara dengan tarbiyah jama’iyah. Dengan mengikuti forum-forum tarbiyah, secara otomatis diri seseorang akan tertarbiyah.

Adapun urgensi tarbiyah dzatiyah:

1. Menjaga diri sendiri didahulukan daripada menjaga orang lain. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (QS At Tahrim: 6)
2. Siapa lagi yang mentarbiyah diri selain diri kita sendiri.
3. Yaumal hisab yang pasti terjadi kelak bersifat individual. “Dan setiap mereka datang kepada Allah pada hari kiamat sendiri-sendiri” (QS Maryam: 95)
4. Lebih mampu menciptakan perubahan
5. Tarbiyah dzatiyah sarana yang dapat membuat istiqomah
6. Merupakan dakwah yang efektif
7. Keistimewaan tarbiyah dzatiyah, membentuk pribadi yang berkarakter

Ada pula beberapa faktor penyebab seseorang meninggalkan tarbiyah dzatiyah:

a) Minimnya ilmu
b) Tidak memiliki tujuan hidup yang jelas
c) Lengket dengan dunia
d) Memiliki pemahaman yang salah tentang tarbiyah. Merasa tidak membutuhkan tarbiyah dzatiyah karena telah melakukan ibadah-ibadah yang wajib, sehingga memahami bahwa tidak perlu ibadah-ibadah tambahan lainnya.
e) Minimnya basis tarbiyah
f) Langkanya seorang murobbi (pembina)
g) Perasaan akan panjangnya angan-angan. Merasa hidupnya masih panjang, dan masih banyak waktu untuk tarbiyah dzatiyah.
Lalu, apa saja sarana tarbiyah dzatiyah?

Berikut beberapa sarana tarbiyah yang dapat dijalani oleh seorang muslim.

1. Muhasabah. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”. (QS Al Hasyr: 18)”

Urgensi muhasabah: Ibnu Al Qayyim berkata mengenai muhasabah, “Hal yang paling bermanfaat bagi seseorang ialah ia duduk sesaat ketika hendak tidur. Ia lakukan muhasabah terhadap dirinya pada saat tersebut atas kerugian dan keuntungannya pada hari itu. Lalu, ia memperbaiki taubatnya dengan nasuhah kepada Allah SWT, lantas tidur dalam keadaan bertaubat dan bertekad tidak melakukan dosa yang sama jika ia telah bangun. Itu ia kerjakan setiap malam. Jika ia meninggal pada malam tersebut, ia meninggal dalam keadaan bertaubat. Jika ia bangun, ia bangun dalam keadaan siap beramal, senang amalnya ditunda, dan siap mengerjakan perbuatan-perbuatan yang belum ia kerjakan”.
2. Taubat
3. Mencari ilmu dan memperluas wawasan. Banyak hal yang dapat dilakukan, seperti menghadiri peertemuan-pertemuan tarbiyah, membaca buku, dan sebagainya. Yang perlu diperhatikan, ikhlas dalam mencari ilmu, rajin, menerapkan ilmu yang telah didapatkan, dan menunaikan hak ilmu dengan mendakwahkannya.
4. Mengerjakan amalan-amalan iman. Ibadah wajib, peduli terhadap ibadah sunnah dan dzikir (membaca Alquran, dan sebagainya.
5. Memperindah akhlak. Sabar, membersihkan hati dari akhlak tercela, meningkatkan kualitas akhlak, bergaul dengan orang-orang yang berakhlak mulia, memperhatikan etika-etika umum.
6. Melibatkan diri dalam kegiatan dakwah. Merasakan kewajiban dakwah, menggunakan setiap kesempatan untuk berdakwah, terus-menerus, gunakan segala cara yang baik, beramal jama’i.
7. Mujahadah (bersungguh-sungguh)
8. Berdoa dengan tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Iman pasti lusuh dihati salah seorang dari kalian, sebagaimana pakaian itu lusuh. Maka itu mintalah Allah memperbaharui iman di hati kalian”. (HR At Thabrani, sanadnya hasan).

Buah dari tarbiyah dzatiyah:
1. Mendapat Ridha Allah SWT
2. Kebahagiaan dan ketentraman
3. Dicintai dan diterima Allah
4. Sukses
5. Terjaga dari keburukan
6. Keberkahan waktu
7. Sabar dalam segala kondisi
8. Jiwa merasa aman


Diringkas oleh: Cecep Y Pramana
Dari buku: “Tarbiyah Dzatiyah” karya: Abdullah bin Abdul Aziz Al Aidan
 

Sabtu, 17 November 2012

Senyum dan Tangis Rasulullah

Rasulullah SAW adalah manusia biasa yang bisa tertawa, bisa takjub bahkan bisa menangis karena sesuatu yang membuat orang lain tertawa dan menangis. Allah SWT berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu...” (QS Al Kahfi: 110)

Tetapi beliau adalah manusia ideal yang sempurna sifat-sifatnya sehingga dijadikan panutan bagi kita semuanya, sebagaimana firmanNYA: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al Ahzab: 21)

Tawa dan tangis adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, “Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS An Najm: 43)

Senyum Rasulullah
Sifat tawa Rasulullah digambarkan berupa senyuman. Kalaupun lebih, maka gusi beliau tampak saat tertawa dan tawanya memiliki kharisma, tidak mengeluarkan suara, tidak terbahak-bahak, hanya menampakkan deretan gigi beliau yang rapi.

Dari Jabir bin Samurah ra dia berkata, “Rasulullah saw tidak pernah tertawa selain dari senyuman.” (diriwayatkan Ahmad dan Al Hakim). Yang dimakruhkan dalam hal ini adalah tertawa secara berkepanjangan dan berlebih-lebihan, “Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.”

Rasulullah SAW banyak tersenyum dan bentuk mulut beliau adalah yang paling bagus diantara manusia serta baunya paling harum. Selagi di dalam rumah, beliau adalah orang yang paling banyak tersenyum. Beliau tersenyum ketika para shahabat melantunkan syair, sementara mereka tertawa.

Dari Aisyah ra pernah ditanya seseorang, “Bagaimana keadaan Rasulullah saat berada dirumahnya?” Aisyah menjawab, “Beliau adalah orang yang paling lemah lembut, paling murah hati dan beliau tak berbeda dengan salah seorang laki-laki diantara kalian. Hanya saja beliau banyak tertawa yang berupa senyuman.” (Diriwayatkan Ibnu Sa’d dan Ibnu Asakir).

Wajah beliau senantiasa ceria dan berseri sekalipun berhadapan dengan orang yang tidak disukai. Senyum-senyum Rasulullah SAW diantaranya: karena hal-hal yang kontradiktif, karena perbuatan para sahabat, karena gembira, karena kejadian ghaib termasuk kejadian di akhirat.

Canda Rasulullah
Rasulullah SAW juga melakukan canda. Candanya adalah canda yang tetap menjaga wibawa. Tatkala bercanda beliau tidak mengatakan kecuali yang benar. Canda beliau terlepas dari hal-hal yang kurang baik dan dilakukan sesekali waktu.

Tangis Rasulullah
Adapun tangis Rasulullah SAW tidak disertai sedu-sedan dan suara yang meraung-raung. Tangisnya hanya berupa air mata yang menetes dari kedua mata beliau dan di dada beliau terdengar gemuruh seperti ada yang mendidih.

Tangisnya bukan karena urusan dunia. Kadang-kadang tangis beliau berupa kasih sayang terhadap orang yang meninggal, terkadang berupa luapan kasih dan rasa takut terhadap keadaan umat.

Beliau juga menangis sebagai rasa takut kepada Allah, menangis saat mendengar alquran. Ini merupakan tangis kerinduan, cinta, dan pengagungan sehingga menimbulkan rasa takut dan khawatir.


Diringkas oleh: Cecep Y Pramana
Dari buku: “Senyum dan Tangis Rasulullah” karya: Ahmad Musthafa Qasim Ath-Thanthawy (Darul Fadhilah-Cairo)
Penerbit: Pustaka Al-Kautsar Jakarta



Rabu, 14 November 2012

Tarbiyah Ruhiyah

Sebagaimana kita ketahui bahwa iman, ikhlas dan optimisme adalah sifat-sifat fundamental yang mencetak seorang dai dalam persiapannya dalam mengemban dakwah dengan membekali diri dengan bekal dakwah.

Sifat tersebut akan dimiliki oleh seorang mukmin yang senantiasa menyatukan dirinya dengan Islam, Allah sebagai tujuanNya, dan terus melangkah menuju tujuannya, meraih kemenangan dengan izin Allah atau menemuiNya sebagai syahid tatkala menghadapi ujian dan cobaan.

Setelah itu seorang dai akan menuju ke sebuah terminal. Terminal itu bernama Tarbiyah. Disana ia bisa menghirup nafas keimanan dan menambah bekal ketaqwaan, ia akan dibimbing dan dibina menjadi pribadi-pribadi yang sholeh, berahlak mulia, kuat jasmaninya dan rohaninya.

Ia akan menjadi seorang insan yang penuh keikhlasan, tingkah lakunya akan menjadi tauladan, penampilannnya selalu menjadi penuh daya tarik serta sorotan matanya akan memancarkan semangat dan optimisme.

Sebab tanpa Tarbiyah maka seorang dai hidupnya akan hampa dari nilai, wibawa, dan pengaruh. Ia akan terperangkap dalam sifat ujub, nifaq dan riya. Terjerumus dalam lumpur kebanggaan, kesombongan dan egoisme, ia akan berda’wah untuk dirinya bukan untuk Allah SWT, akan membangun kejayaan untuk dirinya bukan untuk Islam dan dia akan mengejar kebahagiaan dunia bukan untuk akhirat.

Jalan memperoleh ketinggian ruhiyah adalah dengan takwa, karena dengan takwa kepada Allah akan bisa membedakan mana yang kosong dan mana yang isi. Mana yang hak dan mana yang batil, Allah SWT akan memberikan karunia yang tinggi kepada orang-orang yang bertakwa berupa cahaya yang menerangi dalam kehidupannya.

Firman Allah dalam Al Quran: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu “Furqon” dan menghapuskan segala kesalahan kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (QS Al Anfal: 29)


Diringkas oleh: Cecep Y Pramana
Dari buku: “TARBIYAH RUHIYAH” karya: DR. Abdullah Nashih Ulwan