Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Rabu, 20 Juni 2012

Miliuner yang menyamar sebagai pengemis

Dunia ini memang adalah gelanggang pertunjukkan, apa saja boleh kita mainkan di sini. Jalanan juga adalah panggung sandiwara, sekaligus panggung pertunjukkan. Setidak-tidaknya itulah yang ada dalam pikiran dan tingkah seorang kakek tua di Manhattan New York.

Kakek renta ini sudah berusia 97 tahun, dan tiap ia hari berjalan pincang membawa keranjang dorong, dan menghampiri setiap ada mobil yang sekiranya berhenti di traffic light persimpangan jalan. Kepada pengemudi mobil ia meminta recehan dan memberi koran sebagai gantinya. Mungkin tidak pernah ada yang mengira kalau lelaki tua renta ini bukan sekedar pengemis biasa. Padahal pada kenyataannya kakek tua ini termasuk orang terkenal. Ia adalah seorang miliuner terkemuka.

Dialah Irwin Corey. Seorang comedian, aktor, dan juga aktivis politik. Setiap hari dalam seminggu penuh ia menyusuri 35th East Street di Manhattan. Ia menyusuri sepanjang jalan 35th itu untuk meminta recehan demi recehan dari orang-orang sekitar situ. Padahal, Corey yang sudah sekian lama berkecimpung di dunia teater, televisi, dan beberapa klub komedi serta berkarir sangat bagus di Broadway tentu tidak membutuhkan recehan-recehan itu. Bahkan ia sama sekali bukan tunawisma. Ia memiliki apartemen mewah dan punya banyak uang.



‘Professor’ Irwin Corey terlahir sebagai seorang anak yang harus mengecapi kemiskinan dari keluarga miskin di lingkungan yang miskin di Brooklyn New York. Ia lahir tepat tanggal 29 July, 1914. Nah, karena kemiskinan yang membungkus keluarga ini begitu kuta, akhirnya membuat orang tua Corey menempatkan ia beserta kelima kakak beradiknya ke sebuah panti asuhan di New York. Di sanalah Corey tinggal menetap hingga usianya mencapai 13 tahun. Setelah itu, langkah menapaki sukses demi sukses sudah menunggu Corey, ketika ia memulaikan petualangannya jauh di California. Singkat cerita, ia akhirnya berhasil menapaki karirnya di dunia hiburan. Menjadikan ia sebagai seseorang yang “one of the most brilliant comedians of all time”. Komedian paling brilian sepanjang masa. Ingin melihat ‘Profesor’ Irwin Corey secara dekat? Ini official websitenya: Irwin Corey.

Ciri khas-nya begitu dikenang dan begitu melekat di hati para penggemarnya. Dengan gaya berbicara bernada tinggi, double talk dan sangat panjang, orang seakan langusng mengenalinya sekali dengar saja. Bahkan para fans sudah begitu hafal gaya bicaranya yang selalu dimulai dengan kata “However…”

Anaknya mengatakan bahwa gaya orang tua mereka adalah unik dan memiliki kedalaman yang luar biasa ketika mengungkapan kalimat-kalimat yang sarat makna filosofis: “No one in fact is any more important than another.” Memang betul, bahwa sesungguhnya tidak boleh ada seorang pun yang merasa dirinya lebih penting daripada orang lain. He (Corey) is constantly digressing from his own tangent, so he’s digressing from a digression.”

Pada tahun 1974 Professor Irwin Corey pun pernah menerima penghargaan the National Book Award for Gravity’s Rainbow.Dalam pidato sambutannya yang laksana peragaan stand up comedy luar biasa menawan, unik, dan lucu, ia pun bersabda antara lain seperti ini, mari kita simak:

However… accept this financial stipulation – ah – stipend in behalf of, uh, Richard Python for the great contribution and to quote from some of the missiles which he has contributed…Today we must all be aware that protocol takes precedence over procedure. Howewer you say – WHAT THE – what does this mean… in relation to the tabulation whereby we must once again realize that the great fiction story is now being rehearsed before our very eyes, in the Nixon administration… indicating that only an American writer can receive…the award for fction, unlike Solzinitski whose fiction doesn’t hold water. Comrades – friends, we are gathered here not only to accept in behalf of one recluse – one who has found that the world in itself which seems to be a time not of the toad – to quote even Studs TurKAL. And many people ask “Who are Studs TurKAL?” It’s not “Who are Studs TurKAL?” it’s “Who am Studs TurKAL?……”



Itulah Irwin Corey….

Penampilannya ketika lagi di jalanan memang berantakan dan kumuh. Tapi apartemen yang dimilikinya berada di salah satu kawasan elit di New York, dan nilai apartemen miliknya diperkirakan adalah seharga 3,5 juta USD, atau sekitar 31 Miliar rupiah. Lalu muncul pertanyaan, apa alasan kakek kaya ini menyamar sebagai orang miskin dan menjadi gembel jalanan serta peminta-minta yang tak punya apa-apa?

Atas pertanyaan itu, Irwin Corey menjawab: Untuk membunuh rasa kesepian akibat ditinggalkan istri yang mendampinginya selama 70 tahun. Di samping itu juga, dengan melakukan hal itu ia berkesempatan menolong sesamanya yang lain. Para gelandangan dan pengemis jalanan.

Kakek berusia 97 tahun ini juga ternyata tidak pernah mengantongi uang yang berhasil ia kumpulkan Dalam sehari biasanya ia mendapatkan 250 USD (sekitar 2 jutaan rupiah), semuanya ia sumbangkan untuk bantuan medis bagi anak-anak di Kuba. Ia bahkan sudah pernah mengunjungi Kuba untuk membawa bantuan. Ia sempat berfoto dengan sang penguasa Kuba Fidel Castro, yang fotonya lalu dipajang kakek ini di dinding apartemennya yang mewah itu.

Corey juga sebenarnya belum sepenuhnya berhenti dari dunia hiburan yang sudah digelutinya selama delapan dekade. Ia masih tampil secara regular, belum berapa lama ini ia juga tampil di sebuah klub lokal di Chicago. Di dunia hiburan inilah sang kakek pertama kalinya mendapat julusan ‘professor’. Julukan itu sudah disandangnya sejak tahun 1940-an. Ini tentu dikarenakan penampilannya yang sangat khas dengan jas berekor, dasi tali, sepatu kets tinggi, dan rambut berdiri tak beraturan mirip orang-orangan sawah.

Pada saat mengemis, ia selalu bersikap sopan kepada setiap orang yang ditemuinya di jalanan. Bahkan ia memiliki sapaan yang lucu kepada setiap mereka yang memberinya recehan, “See you later alligator.” Ketika diwawancarai koran New York Times, kakek tua yang kaya raya ini tidak memberikan jawaban rinci dan pasti mengenai jumlah kekayaannya. Tapi menurut agen yang menanganinya selama kurun waktu 50 tahun yaitu seorang bernama Irvin Arthur (yang sudah berusia 85 tahun saat ini) mengatakan bahwa uang Corey sangat banyak. Bahwa Corey sesungguhnya tak butuh uang apapun dari hasilnya mengemis di jalanan. “Ini bukan soal uang, tapi jalanan adalah panggung pertunjukannya.

A TASTE OF CHERRY

Kisahnya tentang seorang Iran paruh baya yang berkeliling mencari orang yang bisa membantunya untuk bunuh diri. Yang ia minta sederhana saja. Ia akan menggali tanah kubur di tempat yang telah ia pilih, lalu malam hari ia akan berbaring di dalam kubur itu, setelah ia minum obat tidur dalam dosis mematikan. Ia hanya minta orang yang membantunya untuk datang di pagi hari dan menutup kuburan itu kalau ia memang telah mati.

Nyaris semua orang menolak. Ada satu guru agama dari Afganistan yang ia mintai bantuan malah memberinya ceramah tentang betapa bunuh diri adalah dosa tak terampunikan dalam Islam.

Sang tokoh bilang, saya tak butuh ceramah, saya butuh bantuan. Sang tokoh merasa bahwa ia tak menemukan makna hidup, bahwa hidup ini sia-sia belaka. Betapa hidupnya sunyi, tak ada lagi yang memberinya alasan untuk tetap hidup. Tak ada agama atau omongan orang yang bisa memuaskannya.
Bukankah adalah haknya sepenuhnya untuk memilih berhenti hidup?

Akhirnya ada seorang tua yang bersedia menolong sang tokoh bunuh diri.
Orang tua itu sama sekali tak keberatan dengan pilihan sang tokoh.
Tapi orang tua itu bercerita tentang pengalaman hidupnya, suatu
ketika, saat ia merasa ia lebih baik mati saja. Orang tua itu mencoba bunuh diri, tapi gagal.

Di pagi setelah kegagalannya bunuh diri, si orang tua merasakan dunia seakan baru pertama kali. Hangatnya mentari, indahnya semburit cahaya fajar, kicau bung, segalanya dalam dunia ini begitu indah.

"Apakah engkau lupa betapa enaknya rasa buah cherry?" Tanya si orang tua itu kepada sang tokoh. Seakan si tua ingin berkata bahwa, mengapakah engkau ingin meninggalkan rasa buah cherry, ingin meninggalkan semua keindahan ini?

Ya, mensyukuri buah cherry (mensyukuri segala aspek terkecil alam hidup ini) mestinya bisa jadi salah satu cara untuk mengobati luka hati. Alangkah ajaibnya hidup ini, alangkan indahnya!

Tapi manakah yang lebih patut disyukuri, rasa buah cherry itu,
ataukah lidah yang membuat kita bisa mengecap rasa buah cherry itu?

Selasa, 19 Juni 2012

Kekuatan tanpa Kekerasan

Berikut ini adalah cerita masa muda Dr. Arun Gandhi (cucu dari
Mahatma Gandhi)

Waktu itu Arun masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya yaitu Mahatma Gandhi, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki
tetangga. Tidak heran bila Arun dan dua saudara perempuannya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari ayah Arun meminta Arun untuk mengantarkan ayahnya ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan Arun sangat gembira dengan kesempatan ini. Tahu bahwa Arun akan pergi ke kota, ibunya memberikan daftar belanjaan untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, ayahnya juga minta untuk mengerjakan pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, "Ayah tunggu kau disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.". Segera Arun menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ayahnya.

Kemudian, Arun pergi ke bioskop, dan dia benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, langsung Arun berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.

Dengan gelisah ayahnya menanyakan Arun "Kenapa kau terlambat?".

Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film John Wayne sehingga dia menjawab "Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu". Padahal ternyata tanpa sepengetahuan Arun, ayahnya telah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun berbohong.

Lalu Ayahnya berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-
baik.".

Lalu, Ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya,maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena kebodohan bodoh yang Arun lakukan.

Sejak itu Arun tidak pernah akan berbohong lagi.

Pernyataan Arun:
"Sering kali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran.
Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan."

Pejuang di Negeri Seberang

Perempuan itu bernama Karmiah. Setiap adzan subuh berkumandang di masjid, ia harus cepat-cepat bangun. Ia memang harus bangun lebih awal ketimbang majikannya dan seisi rumah yang lain. Ia juga harus tidur lebih ahir ketimbang lainnya. Dan ia tidak akan masuk ke kamar peraduan sebelum majikannya tidur terlebih dahulu. Itulah nasib dia, sebagai seorang perempuan yang menjadi pembantu rumah tangga di luar negri.

Ia sudah lama mengunci mulutnya. Alias tidak banyak berbicara kecuali yang penting-penting saja. Ia juga dilarang untuk bicara dengan sesama PRT tetangga sebelah. Perempuan itu menurut saja. Sebab ia tidak punya hak untuk melawan walau hanya sepatah katapun. Apa yang dikatakan majikan, harus ia turuti.

Pagi hari ia jarang makan nasi, seperti kebiasaannya di kampung. Ia hanya minum dan makan roti. Hari-hari ia lalui dengan banyak kerja. Sedikit sekali waktu istirahat yang diberikan majikan padanya.

Sesak. Sesak sekali rasanya. Tapi apa boleh buat. Ibarat akan mengarungi lautan,
layar kapal sudah terkembang. Ia harus berani dan pantang menyerah. Dan akan terus melaju. Melaju menuju pelabuhan yang dituju. Keberhasilan!

Perempuan 40-an itu banyak bercerita pada saya. Ia mencurahkan segala isi hatinya pada saya tentang apa yang sedang ia alami. Ia yang begitu susah hidup di kampung, di negeri seberangpun ia harus bertemu dengan sosok majikan yang sangat tidak manusiawi.

Ia belum satu tahun bekerja di Brunei. Padahal masa kontraknya dua tahun. Masih butuh waktu cukup lama untuk menapaki hari-hari suramnya. Wajahnya makin sayu. Tubuhnya menampakkan ke-tidak segar-an. Hatinya luka. Kedua matanya, makin rabun. Sehingga kalau melihat tulisan seolah huruf-hurufnya berlainan. Mungkin terlalu banyak mengeluarkan air mata. Sehingga, suatu saat dia minta tolong pada saya untuk menuliskan sebuah surat untuk keluarganya di tanah air.

Tak hanya itu. Rupanya perempuan ini masih menjalani ujian berat dari Sang Maha Kasih. Kedua kakinya bengkak sudah beberapa bulan. Sudah ke rumah sakit tiga kali -dengan biaya sendiri-, tapi belum juga sembuh. Sungguh malang ibu dari empat orang anak ini. Melihat keadaan seperti itu, saya menyarankan agar pulang saja. Jangan memaksakan diri di tengah derita yang begitu mencekam. Namun perempuan ini menjawab tegas.

"Saya harus bertahan dulu di sini sebelum anak saya lepas dari sekolah, Mas. Saya tidak ingin anak saya keluar sebelum tamat hanya kekurangan biaya, kasihan. Saya sakit sekali jadi orang bodoh, jadi orang yang tidak sekolah. Saya ingin anak-anak saya tidak seperti bapak dan ibunya yang punya nasib sengsara."

Saya kaget. Luar biasa semangat perempuan ini. Saya malah justru menyesal mengeluarkan kata-kata seperti itu. Saya tidak menyangka sama sekali di balik seorang yang tampak sangat lemah tapi ada kekuatan juang yang luar biasa. Ia punya tujuan sangat mulia. Ingin mengasah empat 'mutiara' nya di kampung menjadi orang-orang yang berilmu. Walaupun ia sendiri harus tertatih-tatih, merangkak mempertahankan hidup di bawah aturan ketat sang majikan.

Rupanya ia sosok yang sangat tabah. Dalam hidupnya, ia tak pernah menyalahkan siapa-siapa. Ia tak pernah menyalahkan suaminya yang hanya seorang buruh tani. Dan ia juga tak pernah peduli dengan negrinya yang sampai saat ini belum bisa memberikan apa arti sebuah kemakmuran dan kesejahteraan. Tapi ia hanya ingin menempa diri agar anak keturunannya punya nasib lebih baik dari dirinya. Itu saja.

Namun, lagi-lagi ia harus terhempas. Mau tidak mau ia harus menuruti kehendak Yang Maha Kuasa. Kedua kakinya makin parah. Ahirnya ia memutuskan untuk pulang, sebelum masa kontraknya habis.

Di bandara Sukarno Hatta Jakarta, ia sudah tidak kuat lagi menahan derita sakitnya. Petugas bandara segera melarikan ke rumah sakit. Namun malaikat maut keburu menyambutnya, untuk menghadap Penguasa Alam ini. Semangat juang perempuan itu, hanya sampai di Jakarta, sebelum ia memasuki kampung halamannya di sebuah desa kecil, di bagian barat Jawa Tengah.

Mendengar berita yaang dituturkan majikan perempuan itu, saya terkejut luar biasa. Tubuh ini laksana mau terkulai. Ia bukan saudara saya. Ia bukan kerabat dekat saya. Tapi nasib di perantauan menjadikan saya, seolah ia adalah bagian dari keluarga saya. Saya hanya bisa berucap: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Sekali lagi saya membayangkan sosok dia. Seorang yang tampak lahir berfisik lemah, tapi punya daya juang, daya 'jihad' yang luar biasa. Saya jadi ingat kata-kata sahabat saya, seorang penulis, "Sosok seperti itulah yang paling layak mewarisi kehidupan ini."

Terbayang pula bagaimana sedihnya keempat anaknya ketika melihat ibunya sudah terbujur kaku. Bagaimana getirnya sang suami melihat sang istri yang sudah tak bernyawa lagi. Atau bagaimana merananya kerabat keluarganya ketika melihat perempuan itu sudah pulang ke pangkuan-Nya.

Allah, maha segalanya. Tentu Dia tidak akan membiarkan sekecil apapun usaha positif mahluknya. "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun,
niscaya dia akan melihat balasannya." (Az Zalzalah: 7)

Harapannya ingin punya mutiara yang cemerlang, yang 'alat gosok' nya ia cari sampai ke luar negeri, tentunya tidak akan diabaikan begitu saja oleh Yang Maha Perkasa. Tentu perjuangan perempuan itu akan jadi cermin besar bagi ke empat anaknya untuk berjuang lebih keras dan keras lagi. Walaupun saat ini mereka masih tertatih, dalam menyelesaikan pelajarannya di sekolah.

Selamat jalan Karmiah, selamat jalan pejuang di negeri seberang. Semoga Allah menempatkanmu dalam tempat yang mulia. Amin.**

6 Wasiat Sayyidina Umar bin Khattab


Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh

Berikut adalah 6 Wasiah Sayyidina Umar Bin Khattab kepada para shabatnya, semoga wasiat tersebut bisa menjadi bahan renungan kita juga untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.
  1. Wasiat Umar bin Khattab yang pertama, bila kalian menemukan aib yang ada dalam diri seseorang, maka galilah aib yang ada dalam diri kalian sendiri, karena aib kalian belum tentu sedikit. 
  2. Wasiat Umar bin Khattab yang ke-dua, bila kalian ingin memusuhi seseorang atau sesuatu, maka musuhilah perut kalian, karena tidak ada musuh  yang lebih berbahaya bagi kalian selain perut kalian sendiri. 
  3. Wasiat Umar bin Khattab yang ke-tiga, bila kalian ingin memuji, pujilah Allah SWT, karena tidak ada sesuatu yang lebih banyak memberi kepada kalian dan lebih santun serta lembut kepada kalian selain Dia. 
  4. Wasiat Umar bin Khattab yang ke-empat, bila ada yang ingin kalian tinggalkan, maka tinggalkanlah kesenangan dunia, sebab justru bila kalian tinggalkan kalian akan menjadi terpuji. 
  5. Wasiat Umar bin Khattab yang ke lima, bila kalian ingin bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati, sebab bila kalian tidak menyiapkan bekal untuk mati kalian akan menderita, rugi dan penuh penyesalan. 
  6. Wasiat Umar bin Khattab yang ke enam, bila kalian ingin menuntut sesuatu maka tuntutlah akhirat karena kalian tidak akan mendapatkannya kecuali dengan mencarinya." Itulah enam wasiat dari Sayyidina Umar bin Khattab yang patut kita renungkan dan ikuti

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh

    Gandum dan Ilalang

    Gandum dan Ilalang adalah dua tanaman yang sangat mirip, tetapi sebenar-nya sangat berbeda. Gandum adalah makanan pokok yang sangat berguna bagi manusia, sedangkan lalang sama sekali tidak berguna. Bahkan lalang lebih banyak menyerap sari makanan dari tanah, sehingga mengganggu pertumbuhan gandum. Sayangnya lalang dan gandum baru dapat dibedakan ketika bulir-bulir-nya ke-luar. Dan, lalang yang dicabut sebelum waktunya bisa membuat gandum turut tercabut.
    Satu-satunya cara memisahkan Ilalang dan Gandum adalah dengan menunggunya sampai saat menuai tiba. Seumpama lalang dan gandum, begitulah orang jahat tetap dibiarkan hidup di dunia ini bersama orang baik, meski mereka membawa penderitaan bagi orang-orang baik. Alam ini akan memperlakukan sama pada seluruh ciptaan-Nya, baik yang berbuat jahat atau yang berbuat baik. Dia masih memberi kesempatan kepada yang jahat supaya bertobat dan bisa memperoleh Kesadaran, juga memberi kesempatan kepada yang baik untuk terus bertumbuh dan Berguna .

    Justru dengan adanya “Ilalang”, maka “Gandum” ditantang untuk bisa tumbuh makin kuat, makin tahan uji, dan makin berkualitas.

    Kita telah diajar untuk panjang sabar mengikuti filosofi Gandum dan Ilalang ini karena segala sesuatu ada waktunya;

    Kita harus memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berubah dan bertumbuh lebih baik, bukannya cepat2 menghakimi dan menghukum nya .

    Kita harus memiliki kasih yang besar bagaikan kita merawat “gandum” di ladang , hendaknya kita juga terus bertumbuh seiring waktu dalam kasih dan kebenaran yang sejati.

    MESKI ILALANG HARUS TUMBUH DI ANTARA GANDUM TAPI GANDUM HARUS TERUS TUMBUH KUAT DAN MERANUM.

    Senin, 18 Juni 2012

    2 Hal Yang Seharusnya Kita Ingat dan 2 Hal Yang Semestinya Kita Lupakan


    Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh

    Sesuai dengan judul yang tertera, berikut ini adalah 2 hal yang harus kita ingat dan 2 hal yang seharusnya kita lupakan.


    2 Hal Yang Harus Kita Ingat
    1. Kebaikan Orang Terhadap Kita
    2. Keburukan Kita Terhadap Orang Lain
    Dengan mengingat kebaikan orang lain terhadap kita tentu akan menumbuhkan perasaan ingin membalas kebaikan orang tersebut yang nantinya akan mempererat tali persaudaraan diantara kita.
    Dengan mengingat keburukan yang kita perbuat terhadap orang lain, tentu akan menuntun kita menjadi orang yang rendah hati dengan meminta maaf atas keburukan tersebut terhadap Allah s.w.t dan Orang yang kita berbuat buruk terhadapnya.


    2 Hal Yang Harus Kita Lupakan
    1. Kebaikan Kita Terhadap Orang Lain
    2. Keburukan Orang Lain Terhadap Kita
    Dengan melupakan kebaikan kita terhadap orang lain, semoga menjauhkan kita dari sifat sombong yang menghancurkan.
    Melupakan Keburukan orang lain yang diperbuat terhadap kita, tentu akan menciptakan jiwa pemaaf dan ikhlas dalam diri kita.

    Sekian semoga ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama, dan jika berkenan silahkan follow blog ini,

    2 Hal yang saya tulis ini saya dengar ketika saya menonton sebuah film berjudul Murobbi di ucapkan oleh ust Rahmat Abdullah

    Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh