Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Senin, 03 Desember 2012

Kisah Seorang Pemuda mencari kebahagiaan dan membahagiakan orang lain


Alkisah, seorang pemuda mendatangi orang tua bijak yang tinggal di sebuah desa yang begitu damai. Setelah menyapa dengan santun, si pemuda menyampaikan maksud dan tuju
annya. "Saya menempuh perjalanan jauh ini untuk menemukan cara membuat diri sendiri selalu bahagia, sekaligus membuat orang lain selalu gembira."

Sambil tersenyum bijak, orang tua itu berkata, "Anak muda, orang seusiamu punya keinginan begitu, sungguh tidak biasa. Baiklah, untuk memenuhi keinginanmu, paman akan memberimu empat kalimat. Perhatikan baik-baik ya..."

"Pertama, anggap dirimu sendiri seperti orang lain!" Kemudian, orang tua itu bertanya, "Anak muda, apakah kamu mengerti kalimat pertama ini? Coba pikir baik-baik dan beri tahu paman apa pengertianmu tentang hal ini."

Si pemuda menjawab, "Jika bisa menganggap diri saya seperti orang lain, maka saat saya menderita, sakit dan sebagainya, dengan sendirinya perasaan sakit itu akan jauh berkurang. Begitu juga sebaliknya, jika saya mengalami kegembiraan yang luar biasa, dengan menganggap diri sendiri seperti orang lain, maka kegembiraan tidak akan membuatku lupa diri. Apakah betul, Paman?"

Dengan wajah senang, orang tua itu mengangguk-anggukkan kepala dan melanjutkan kata-katanya. "Kalimat kedua, anggap orang lain seperti dirimu sendiri!"

Pemuda itu berkata, " Dengan menganggap orang lain seperti diri kita, maka saat orang lain sedang tidak beruntung, kita bisa berempati, bahkan mengulurkan tangan untuk membantu. Kita juga bisa menyadari akan kebutuhan dan keinginan orang lain. Berjiwa besar serta penuh toleransi. Betul, Paman?"

Dengan raut wajah makin cerah, orang tua itu kembali mengangguk-anggukkan kepala. Ia berkata, "Lanjut ke kalimat ketiga. Perhatikan kalimat ini baik-baik, anggap orang lain seperti mereka sendiri!"

Si anak muda kembali mengutarakan pendapatnya, "Kalimat ketiga ini menunjukkan bahwa kita harus menghargai privasi orang lain, menjaga hak asasi setiap manusia dengan sama dan sejajar. Sehingga, kita tidak perlu saling menyerang wilayah dan menyakiti orang lain. Tidak saling mengganggu. Setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri. Bila terjadi ketidakcocokan atau perbedaan pendapat, masing-masing bisa saling menghargai."

Kata orang tua itu, "Bagus, bagus sekali! Nah, kalimat keempat: anggap dirimu sebagai dirimu sendiri! Paman telah menyelesaikan semua jawaban atas pertanyaanmu. Kalimat yang terakhir memang sesuatu yang sepertinya tidak biasa. Karena itu, renungkan baik-baik."

Pemuda itu tampak kebingungan. Katanya, "Paman, setelah memikirkan keempat kalimat tadi, saya merasa ada ketidakcocokan, bahkan ada yang kontradiktif. Bagaimana caranya saya bisa merangkum keempat kalimat tersebut menjadi satu? Dan, perlu waktu berapa lama untuk mengerti semua kalimat Paman sehingga aku bisa selalu gembira dan sekaligus bisa membuat orang lain juga gembira?"

Spontan, orang tua itu menjawab, "Gampang. Renungkan dan gunakan waktumu seumur hidup untuk belajar dan mengalaminya sendiri."

Begitulah, si pemuda melanjutkan kehidupannya dan akhirnya meninggal. Sepeninggalnya, orang-orang sering menyebut namanya dan membicarakannya. Dia mendapat julukan sebagai: "Orang bijak yang selalu gembira dan senantiasa menularkan kegembiraannya kepada setiap orang yang dikenal."


RENUNGAN:

Sebagai makhluk sosial, kita dituntut untuk belajar mencintai kehidupan dan berinteraksi dengan manusia lain di muka bumi ini. Selama kita mampu menempatkan diri, tahu dan mampu menghargai hak-hak orang lain, serta mengerti keberadaan jati diri sendiri di setiap jenjang proses kehidupan, maka kita akan menjadi manusia yang lentur. Dengan begitu, di mana pun kita bergaul dengan manusia lain, akan selalu timbul kehangatan, kedamaian, dan kegembiraan. Sehingga, kebahagiaan hidup akan muncul secara alami.

Kisah Yang Pu Memukul Anjing


Dahulu kala, disebuah desa, tinggal sebuah keluarga yang bermarga Yang. Mata pencaharian mereka adalah bertani.

Keluarga Yang ini mempunyai 2 orang anak lelaki, yang tertua bernama Yang Zhu dan yang bungsu ber
nama Yang Pu. Kedua kakak beradik ini selain membantu orang tua mereka bertani dan mengangkat air, mereka juga rajin pergi ke sekolah.

Kedua saudara ini sangat pintar menulis sajak, mereka mempunyai kumpulan teman-teman yang pintar bersajak. Pada suatu hari, si bungsu memakai baju putih yang rapi keluar mencari teman-teman sajak mereka.

Ketika berangkat ke rumah temannya, tiba-tiba turun hujan, makin lama makin deras.

Yang Pu kehujanan di jalan pengunungan yang tidak ada rumah di sekelilingnya.

Karena tidak ada tempat berteduh, akhirnya badan Yang Pu menjadi basah kuyup, dia hanya dapat berlari ke rumah teman karibnya ini.

Biasanya mereka suka berkumpul berdiskusi tentang sajak dan lukisan.

Setelah sampai dirumah sahabat karibnya, dia membuka baju atasan putihnya yang telah basah kuyup dan mengganti dengan kemeja hitam yang dipinjamkan teman karibnya ini.

Setelah makan malam di rumah sahabat karibnya ini mereka melanjutkan diskusi tentang sajak dan lukisan dengan asyik, tanpa sadar hari telah menjadi gelap.

Yang Pu menjemur kemeja putihnya dirumah temannya, dia tetap memakai kemeja hitam temannya lalu pamit pulang ke rumahnya.

Karena hujan deras jalan-jalan di sepanjang desa, walaupun basah, tetapi tidak terlalu becek karena banyak ditimbuni kerikil-kerikil kecil.

Hari telah gelap, tetapi karena ada cahaya bulan, jalan di desa masih terlihat dengan jelas.

Angin berhembus dengan sepoi-sepoi, dari hutan wangian bunga liar yang terhembus angin tercium sangat menyegarkan, jika bukan karena hari semakin lama menjadi semakin gelap, Yangpu sangat ingin bersantai-santai menjelajahi jalan-jalan gunung ini! Dia berjalan sambil memikirkan diskusi tadi dengan teman karibnya tanpa sadar dia sudah sampai di depan pintu rumahnya.

Pada saat ini, anjing peliharaan Yang Pu tidak tahu majikannya sudah pulang, mengiranya orang asing mau masuk menyelinap ke dalam rumah, maka dari tempat gelap dia berlari keluar sambil mengonggong.

Pada saat itu juga anjing ini mengangkat kaki depannya gerakannya bagaikan ingin menerkam Yang Pu.

Yang Pu yang sedang asyik melamun tiba-tiba hendak diterkam oleh anjingnya sendiri menjadi sangat terkejut dan marah, dia lalu menghentikan langkahnya dan menghindar dari anjingnya.

Dengan marah dia membentak anjingnya “Sudah butakah engkau? Tidak bisa mengenal saya!”

Akhirnya tangannya meraih sebatang kayu yang berada di dekat pintu rumahnya ingin memukul anjingnya.

Pada saat ini Yang Zhu yang mendengar suara ribut-ribut keluar dari rumah. Dia melihat dan melarang Yang Pu memukul anjingnya.

Sambil menenangkan anjingnya yang sedang menyalak hebat, Yang ZHu lalu berkata pada adiknya,

”Engkau jangan memukulnya! Coba kau pikirkan, ketika siang hari engkau memakai baju putih keluar rumah, sudah begini malam engkau pulang memakai baju hitam, jika engkau sendiri! Dapatkah engkau membedakannya? Apalagi dia hanya seekor anjing, mana boleh menyalahkannya?”

Yang Pu tidak bisa berkata apapun lagi, dengan tenang dia berpikir sejenak, apa yang dikatakan kakaknya, Yang Zhu benar juga, anjingnya juga sudah tidak menyalak lagi. Mereka kembali masuk ke dalam rumah dengan tenang.

RENUNGAN:
Cerita ini mengajarkan kepada kita, setiap hal atau kejadian yang menimpa diri kita sendiri kita harus cari sebab akibatnya, dengan demikian banyak masalah yang dapat kita pecahkan, maka segala kesalahpahaman dan kesusahan dapat diselesaikan dengan baik.

Silsilah Marga dan Nama Orang Tionghoa


Marga orang Tionghoa muncul pada masa masyarakat matriarkal. Pada masa itu, orang membentuk klan-klan dengan ibu sebagai intinya. Untuk saling membedakan, dipakailah marga untuk sebutan masing-masing klan.

Asal-usul marga, kira-kira ada beberapa macam:

1. Masyarakat matriarkal menggunakan nama ibu sebagai marga. Maka banyak marga kuno memakai nǚ (女, perempuan) sebagai elemen hurufnya. Misalkan: 姜(jiang), 姚(yao), 姬(ji). Bahkan kata “marga”(姓) itu sendiri terdiri dari 女 dan 生.

2. Marga berasal dari binatang yang disembah orang zaman dulu. Misal: 马(ma, kuda), 牛(niu, sapi), 羊(yang, kambing), 龙(long, naga).

3. Marga dari negara leluhur. Misal: 赵(Zhao), 宋(Song), 秦(Qin), 吴(Wu).

4. Marga berasal dari nama gelar leluhur. Misal: 司马(Sima), 司徒(Situ), yang merupakan nama gelar zaman dulu.

5. Marga berasal dari kedudukan leluhur. Misal: 王(pangeran), 侯(marquis).

6. Posisi dan keadaan tempat tinggal sebagai marga. Misal: 东郭(tembok timur), 西门(gerbang barat), 池(kolam), 柳(willow).

7. Pekerjaan sebagai marga. Misal: pembuat tembikar bermarga 陶(tao, tembikar).

8. Menggunakan nama leluhur sebagai marga. Misal: leluhur bangsa Tiongkok, Huangdi, bernama Xuanyuan, maka akhirnya Xuanyuan menjadi sebuah marga.

Marga orang Tionghoa ada yang terdiri dari satu huruf, juga ada yang dua huruf dan lebih dari dua huruf. Ada berapa jumlah marga di Tiongkok, sampai sekarang belum bisa dipastikan. Pada dinasti Song, ada seorang terpelajar menulis sebuah buku “Bai jia xing”, di dalamnya terdaftar 500 lebih marga, 60 di antaranya adalah marga dengan gabungan huruf. Lembaga Riset Genetika dan Perkembangan Biologis di Akademi Sains Tiongkok setelah bertahun-tahun mengumpulkan data dan melakukan riset, akhirnya menemukan bahwa Tiongkok dari zaman kuno hingga zaman sekarang, telah ada lebih dari 22000 marga. Ini adalah catatan penghitungan marga orang Tionghoa dengan jumlah paling banyak. Saat ini, marga yang digunakan oleh orang Tionghoa kira-kira ada 3500. Di antaranya, ada 100 yang sering ditemui, dan tiga marga paling banyak adalah 李(li), 王(wang), 张(zhang). Marga dengan huruf gabungan paling banyak adalah 诸葛(zhuge), 欧阳(ouyang), 司徒(situ), 司马(sima).

Nama orang Tionghoa memiliki tradisi dan karakteristiknya sendiri. Nama lengkap orang Tionghoa selalu terdiri dari marga di depan, nama di belakang. Nama ada yang satu huruf, juga ada yang dua huruf. Orang di dalam suatu keluarga, namanya harus mengikuti urutan senioritas. Orang dengan derajat senioritas sama, sering kali harus menggunakan satu huruf yang sama. Nama orang kuno lebih rumit dari orang modern. Orang yang terpelajar dan berkedudukan, kecuali marga dan nama, ia juga memiliki zi(style name) dan hao(nama alternatif). Misalkan: Sastrawan dinasti Song, Sushi, bermarga Su, bernama Shi. Ia memiliki style name Zizhan, nama alternatif Dongpo. Penyair dinasti Tang, Libai, pada masa kecilnya tinggal di desa Qinglian di Sichuan. Dia memberi nama alternatif pada diri sendiri “Qinglian jushi”.

Nama orang Tionghoa sering memiliki arti tertentu, menunjukkan harapan tertentu. Ada yang namanya mengandung tempat, waktu maupun gejala alam saat orang itu lahir, misal: “Jing”(Beijing), “Chen”(pagi), “Dong”(musim dingin), “Xue”(salju). Ada yang namanya berartikan harapan dan moral tertentu, misal: “Zhong”(kesetiaan), “Yi”(keadilan), “Li”(tata krama), “Xin”(kepercayaan). Ada yang namanya mengandung harapan kesehatan, panjang umur, bahagia, misal: “Jian”(sehat), “Shou”(panjang umur), “Song”(pinus, mewakili panjang umur), “Fu”(bahagia). Nama laki-laki dan perempuan juga tidak sama. Nama laki-laki kebanyakan memiliki arti kekuatan, keberanian dan wibawa, misal: “Hu”(harimau), “Long”(naga), “Xiong”(keagungan), “Wei”(kecemerlangan), “Gang”(keras), “Qiang”(kuat). Nama perempuan kebanyakan memiliki arti kelembutan dan kecantikan, misal: “Feng”(phoenix), “Hua”(bunga), “Yu”(giok), “Cai”(warna), “Juan”(anggun), “Jing”(ketenangan).

Sekarang, orang Tionghoa tidak lagi begitu memperhatikan nama seperti orang kuno. Biasanya hanya ada nama kecil, nama resmi. Nama juga tidak harus mengikuti urutan senioritas lagi.

(Diterjemahkan dari Overseas Chinese Language and Culture Education Online)

Lakukan dengan kebaikan hati

Apa pun yang kita lakukan, lakukanlah dengan kebaikan hati. Keberhasilan bukan semata-mata karena kekuatan otot dan ketajaman pikiran kita. Kita perlu bertindak dengan kelembutan hati.

Sukses tidak selalu dibangun di atas upaya sendiri, namun ada jangkauan tangan-tangan di belakang kita.

Di balik semua pencapaian, terselip pengorbanan orang lain. Hanya bila kita melakukannya dengan kebaikan hati, siapa pun rela berkorban untuk keberhasilan kita.

Seorang bijak berkata: “Bila busur kita patah dan anak panah penghabisan telah dilontarkan, tetaplah membidik. Bidiklah dengan seluruh hatimu.” Semua tindakan kita bagaikan bumerang yang akan kembali pada kita.

Bila kita melempar dengan baik, ia akan kembali dalam tangkapan kita. Namun, bila kita ceroboh melemparkannya, ia akan datang untuk melukai kita. Renungkan bagaimana tindakan kita sekarang ini.

Lakukan segala semuanya dengan tulus dan penuh kasih. Tiada yang lebih manis daripada memetik buah atas kebaikan yang kita lakukan.

“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al Baqarah: 195)

Minggu, 02 Desember 2012

Hijau Ladangku yang Mulai Terpinggirkan

Perhatikan sejenak tetesan Embun di ujung Kelopak deDaunan, begitu bening, indah memantulkan cahaya mentari pagi yang beranjak menyapa bumi.

pohon-alpukat

wallpaper-natural

Dan Bunga-bunga yang mlai bermekaran, selalu saja bisa menarik perhatian, menambah indahnya pagi ini, di Ladang hijau milikku

bunga-panca-warna

wallpaper islami

bunga-api


Serangga-serangga kecil di atas dedaunan masih terlihat bermalas-malasan seolah tak peduli akan keberadaanku.

serangga-belang


Daun-daun tua yang mulai terlihat kering menguning mulai banyak berguguran, memberikan kesempatan pada daun-daun muda untuk bisa bernafas lebih lama, memberikan semangat kepada tunas tunas baru untuk terus tumbuh meninggi, melupakan kerasnya tiupan angin siang ini.

daun


Semua itu ada diladangku, Ladang yang tidak akan pernah kau temukan di gersangnya debu perkotaan, Ladang yang mungkin saat ini menjadi tanah langka dinegeri ini, ya Ladang Hijau yang perlahan mulai terpinggirkan zaman...........


Demikian kata pengantar yang sengaja dibikin agak Puitis dikit untuk memaknai gambar-gambar diatas, biar lebih Dalem...he he
Gambar-gambar ini yang saya ambil sendiri menggunakan kamera pocket sederhana di lingkungan sekitar rumah...berhubung Kamera DSLR-nya belum bisa dipake :D masih di Toko maksudnya
Sebenarnya ini bagian dari hobi kecil saya, mengumpulkan gambar-gambar yang saya anggap menarik, dan hobi ini kerap kali bisa mengusir paksa rasa bosan.

Adapun pesan yang ingin disampaikan pada postingan kali ini adalah bahwa (untuk saya pribadi) jika kita perhatikan lingkungan disekitar kita, alam, dan berbagai kehidupan didalamnya, jauh lebih dekat, mungkin dengan cara memphotonya seperti yang saya lakukan :D ternyata banyak hal mengagumkan dan luar biasa yang bisa kita temukan, yang terkadang baru kita sadari setelah melihatnya beberapa kali.
Dan semua itu bisa menjadi pelajaran berharga untuk kita, dan sebagai bahan renungan, betapa maha Indahnya DIA, betapa DIA mengatur kehidupan ini dengan begitu sempurna, tanpa cacat, tanpa cela


Sekian untuk postingan ini, semoga ada hal positif yang bia diambil, sekaligus ini sebagai pesan untuk kita mari bersama-sama melestarikan lingkungan sekitar kita demi anak cucu kita, demi orang-orang sesudah kita.
wassalamualaikum

Qral Moerad

Kembalikan Segala Urusan Kepada Allah

UJIAN, cobaan, dan musibah adalah hiasan kehidupan manusia di dunia. Allah SWT ingin menguji seberapa sabar kita menghadapinya, sebegitulah besar keimanan kita. Sudahkah kita bersabar hari ini?

Dalam hidup ini, setiap muslim kadang menghadapi ujian, cobaan dan bencana. Karena itu, ketika diuji, hendaknya ia bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah atas musibahnya.

Jika demikian , tentu Allah tidak akan menyia-nyiakan sesuatu pun untuknya, bahkan Allah tidak akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang hilang darinya.

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". (QS Al Baqarah:155-156)

Sabtu, 01 Desember 2012

Jangan Menyimpang Dari Jalan Yang Sudah Ditentukan

Sekali tujuan dan arah sudah ditetapkan, maka janganlah menyimpang dari jalan yang sudah ditentukan, kecuali jika benar-benar perlu. Konsistensi sering kali lebih baik daripada perubahan yang terus-menerus dilakukan dalam mencari rute sempurna.

Ada kebenaran dalam pepatah lama ini: “Karunia Tuhan turun jika manusia mempunyai tekad”. Ada kepuasan yang sangat khusus dalam menetapkan batas pandang kita pada suatu tujuan, lalu pusatkan semua daya kita sampai kita berhasil mencapainya.

Mengetahui cara mengubah sesuatu memang baik, tetapi orang-orang dan organisasi-organisasi juga membutuhkan stabilitas, dan ini harus datang dari pemimpinnya.

Para pemimpin organisasi harus memutuskan pada suatu ketika, jalan mana yang harus diambil untuk melaksanakan tugas, proyek, atau keseluruhan operasi yang ingin dijalankan.

Sekali arah sudah diputuskan dan ditetapkan, maka tugas kitalah mengemudikan kereta dengan mengikuti jalan itu dan memusatkan perhatian pada sumber-sumber kita untuk mempertahankannya.

Memang, jika kita menyadari bahwa kita menyimpang dari arah, kita perlu memperbaiki arah tersebut. Tapi jangan mengubah arah bersamaan dengan datangnya setiap kemungkinan atau kesempatan.

Karena godaannya mungkin sangat besar, tetapi kita tidak mempunyai waktu atau sumber-sumber untuk mengikuti setiap arah jalan.