Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Jumat, 10 Agustus 2012

Kebaikan Kecil Berdampak Besar Bagi Orang Lain…

Alkisah; Suatu hari Hamdan dan anaknya berdiri mengantre unutk membeli karcis pertunjukan sirkus. Ketika mereka menunggu, mereka memperhatikan keluarga yang tepat berada di depan antrian mereka. Orang tuanya berpegangan tangan dan mereka memiliki delapan anak berderet, semuanya bertingkah laku baik dan kemungkinan semuanya berumur di bawah 12 tahun.

Berdasarkan pakaian mereka yg sederhana namun bersih, Hamdan dan anaknya menduga bahwa mungkin mereka tidak kaya. Anak-anaknya asik berceloteh tentang hal-hal yang menarik yang ingin mereka lihat dan Hamdan bisa melihat bahwa sirkus merupakan pengalaman baru bagi anak-anak ini.
Ketika pasangan ini mendekati loket, seorang penjaga bertanya berapa tiket yang mereka mau beli. Si pria menjawab dengan bangga: “saya mau beli delapan tiket anak-anak dan dua tiket orang dewasa supaya saya bisa membawa seluruh keluarga saya melihat pertunjukan sirkus” Ucap Si pria ini dengan bangga.

Ketika pengjaga menyebutkan harganya, istri pria itu melepaskan tangganya dan kepalanya terkulai. Pria itu mendekati loket dan bertanya,”Berapa kamu tadi bilang?” Si penjaga menyebutkan lagi jumlahnya. Jelaslah pria itu tidak punya cukup uang. Ia kelihatan terpukul.

Hamdan melihat semua kejadian ini, memasukan tangang ke kantongnya, mengambil selembar uang 100 ribuan dan menjatuhkannya di tanah, lalu Hamdan menunduk ke bawah, mengambil uang itu, lalu menepuk bahu pria itu dan berkata, “Maafkan saya, uang ini terjatuh dari dompet Anda”

Pria itu tahu apa yang sedang terjadi. Ia melihat langsung ke mata Hamdan, memegang tanganya, dan menyalaminya, dan dengan air mata mengalir di pipinya, ia berkata “Terimakasih, terimakasih. Ini sungguh berarti bagi saya dan keluarga saya, sekali terimakasih…”

Hamdan dan anaknya kembali ke mobil mereka dan pulang. Lalu anaknya Hamdan berkata “Saya bangga punya Ayah seperti Ayah, perbuatan ayah akan selalu menjadi contoh dalam perjalan hidup ku…”

Kamis, 09 Agustus 2012

3 Macam Orang Yang Tidak diTolak Doanya

anak-kecil-shalat

Assalamu'alaikum Warohmatullah Wa Barokatuhu

Tirmidzi dan Ibnu Majjah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda :
" Tiga macam orang yang tidak di tolak doanya : pertama adalah Orang yang berpuasa hingga ia berbuka, Kedua adalah Imam Yang adil dan Ketiga adalah doa orang yang teraniyaya. "

Tirmidzi menggolongkan hadis di atas sebagai hadis Hasan.

Terkabulnya dia juga mememiliki beberapa sarat dan ketentuan sesuai dengan yang diajarkan oleh baginda Nabi saw.
Berikut adalah Beberapa Syarat Terkabulnya Doa seorang Muslim.

Pertama, ikhlas. Ibnu Katsir mengatakan bahwa setiap orang yang beribadah dan berdo’a hendaknya dengan ikhlas serta menyelisihi orang-orang musyrik dalam cara dan madzhab mereka2.

Kedua, ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, termasuk dalam segala bentuk ibadah.  Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (QS. Al Ahzaab 21)

Ketiga, yakin bahwa do’anya akan dikabulkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berdo’alah kalian kepada Allah dalam keadaan yakin akan terkabulnya do’a itu” (HR. Tirmidzi). Jika seorang hamba berdo’a kepada Allah sementara ia tidak yakin Allah akan mengabulkan do’anya, maka itu adalah sebuah kesia-siaan. Umar Ibnul Khattab pernah mengatakan, “Aku tidak membebani diriku dengan keinginan untuk terkabulnya do’a. Aku hanya ingin berharap agar tetap bisa berdo’a”3. Allah berfirman (yang artinya), “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS. Ghafir  60).

Keempat, kekhusyukan di hadapan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan do’a dari seseorang yang lalai dan tidak serius” (HR. Tirmidzi). Seringkali seseorang berdo’a setelah sholat namun tidak merasakan apa yang diucapkannya.
Seorang tabi’in pernah mengatakan, “Sungguh, aku tahu kapan do’aku akan dikabulkan”. Mereka bertanya, “Bagaimana itu bisa?” Ia menjawab, ”Jika hatiku telah khusyuk, kemudian badanku juga ikut khusyuk, dan akupun mengalirkan air mata. Ketika itulah aku mengatakan do’aku ini akan dikabulkan4.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Tahukah kalian bagaimana seharusnya seorang muslim berdo’a?” Mereka bertanya, “Bagaimanakah itu wahai Imam?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian bagaimana seseorang yang berada di tengah gelombang lautan, sementara ia hanya memiliki sebatang kayu, dan iapun akan tenggelam? Kemudian orang ini berdo’a dengan mengatakan, ‘Ya Rabbi, selamatkanlah aku! Ya Rabbi, selamatkanlah aku!’ Maka demikianlah seharusnya seorang muslim berdo’a (kepada Allah)5. Hal ini memperlihatkan bahwa sudah selayaknya seorang hamba yakin bahwa tidak ada lagi yang mampu menyelamatkannya selain Rabbnya sehingga ia akan kembali kepada-Nya dalam keadaan apapun dan berdo’a kepada-Nya karena rasa membutuhkan yang lahir dari kelemahan diri. Allah berfirman (yang artinya), “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan jika ia berdo’a kepada-Nya…” (QS. An Naml 62).

Kelima, tidak isti’jal (tergesa-gesa minta cepat terkabulnya do’a). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan dikabulkan do’a seseorang di antara kalian sepanjang ia tidak tergesa-gesa. Ia berkata, ‘Aku telah berdo’a dan berdo’a, namun aku tidak melihat terkabulnya do’aku’, sehingga iapun tidak lagi berdo’a” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah). Orang yang tergesa-gesa dalam berdo’a kemudian meninggalkannya karena merasa tak juga dikabulkan do’anya bagaikan orang yang menanami ladangnya dengan menabur benih. Namun ketika benih itu mulai tumbuh, ia mengatakan, “Agaknya benih-benih ini tidak akan tumbuh”, dan kemudian ia meninggalkannya begitu saja.
Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Allah bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, apakah hamba-Ku berdo’a kepada-Ku?” Jibril menjawab, “Ya”. Allah bertanya lagi, “Apakah ia menghiba kepada-Ku dalam meminta?” Jibril menjawab, “Ya”. Maka Allah berfirman, “Wahai Jibril, tangguhkanlah (pengabulan) permintaan hamba-Ku, sebab Aku suka mendengar suaranya6.

Keenam, hanya makan yang halal, termasuk di dalamnya adalah menghasilkan harta dari sesuatu yang halal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak akan menerima selain yang baik. Allah memerintah orang-orang mukmin seperti apa yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul” (HR. Muslim, Tirmidzi). Dalam firman-Nya, Allah memerintahkan (yang artinya), “Hai Rasul-rasul, makanlah dari makanan yng baik-baik, dan kerjakanlah amal sholih…” (QS. Al Mu’minuun 51).

Ketujuh, tidak berdo’a untuk sesuatu yang berdosa. Dari Abu Said, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seorang muslim berdo’a dan tidak memohon sesuatu yang berdosa atau pemutusan kerabat kecuali akan dikabulkan oleh Allah salah satu dari tiga: Akan dikabulkan do’anya, atau ditunda untuk simpanan di akhirat, atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya” (HR. Ahmad 3/18. Imam Al-Mundziri mengatakannya Jayyid (bagus) Targhib 2/478)7.

Kedelapan, husnudzon (berbaik sangka) kepada Allah bahwa Dia akan mengabulkan do’a kita. Kalaupun  tak dikabulkan, itu karena hikmah yang Allah lebih mengetahuinya. Dalam hadis Qudsi, Allah berfirman (yang artinya), "Aku bergantung prasangka hamba-Ku kepada-Ku" (HR Bukhari).

Sekian, semoga bisa menjadi pelajaran kita bersama, untuk bisa menjadi lebih baik kedepannya.

Waasalamu'alaikum Warohmatullah Wa Barokatuhu

Rabu, 08 Agustus 2012

Hukum Makan Makanan karna Lupa Saat Berpuasa

puasa

Assalamu'alaikum Warohmatukkah Wa Barokatuhu.
Berikut adalah hukum makan pada saat berpuasa karna lupa, yang saya kutip dari kitab kuning Kifayatul Akhyar, semoga bermanfaat bagi kita untuk bisa menjadi lebih baik lagi menjalankah ibadah puasa.
Berikut adalah petikannya .
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Andai kata ada seseorang makan makanan dalam keadaan lupa, sementara ia dalam keadaan lupa, maka puasanya tidak batal. Di dalam sebuah hadis yang terdapat di dalam kita Shahih bBukhari dan Shahih Muslim desebutkan demikian .
" Barang siapa lupa dalam keadaan berpuasa, kemudian dia makan atau minum, hendaknya dia tetap melanjutkan puasanya. Sebenarnya orang itu telah diberi makan oleh Allah Ta'ala"

Cabang permasalahan
Andaikata makananya atau minumnya banyak, terdapat dua pendapat. Menurut qaul yang dianggap ashah oleh Imam Rafi'i, batal puasanya. Karna makan banyak dalam keadaan berpuasa jarang sekali terjadi. Dari itu pula kita menghukumkan batalnya shalat karena berbicara banyak, meskipun dalam  keadaan lupa.

Menurut qaul yang dianggap ashah oleh Imam An-Nawawi, tidak batal puasanya. Berdasarkan keumuman hadis. Dan puasa tidak boleh disamakan dengan shalat. Letak perbedaannya, kalau shalat mempunyai banyak perbuatan dan ucapan (gerakan shalat dan bacaanya shalat) yang dapat mengingatkan orang kepada shalat itu sendiri. Jadi jarang sekali terjadi orang yang makan dalam keadaan shalat. Sedangkan puasa pula lain halnya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk lebih detailnya silahkan buka kitab Kifayatul Akhyar, karangan Imam Taqiyuddin Abubakar Bin Muhammad Alhusaini, atau silahkan follow blog ini insyaAllah kedepannya banyak posting yang akan saya kutip dari kitab ini.

Wassalamu'alaikum Warohmatullah Wa Barokaatuhu

Raksasa dan Sufi

Seorang Guru Sufi sedang berkelana seorang diri melewati daerah pegunungan yang tandus, tiba-tiba ada raksasa perampok menghadangnya, “Akan kuhabisi kau,” ancam makhluk itu.

“Begitukah? Coba kalau bisa,” jawab Sang Guru, “Aku lebih kuat dari dugaanmu, dan akan mengalahkanmu.”

“Banyak cakap,” kata raksasa itu. “Kau seorang Guru Sufi, hanya mengerti hal-hal spiritual. Mana mungkin kau bisa menghentikanku, sebab tenagaku dahsyat dan aku tiga puluh kali lebih besar darimu,”

“Kalau kau sungguh ingin adu kuat,” tantang Sufi itu, “Mari kita lihat siapa yang sanggup memeras air dari batu.”
Diambilnya batu kecil dan diberikannya kepada setan itu. Betapa kerasnya mencoba, raksasa itu gagal. “Hal itu mustahil, tak ada air dalam batu ini. Tunjukkan padaku jika ada.”

Dalam keadaan remang-remang, guru itu menggenggam batu itu, mengambil sebutir telur dari sakunya, lalu membenturkan keduanya; ia bersikap seolah-olah sedang memeras batu. Raksasa itu ternganga: sebab orang sering kali takjub pada hal-hal yang tak mereka pahami, dan benar-benar menilainya tinggi, lebih tinggi dari semestinya.

“Aku harus memikirkan kembali peristiwa ini,” kata raksasa itu, “Singgahlah sebentar saja di guaku, malam ini kujamu kau!”

Sang Sufi mengikutinya ke sebuah gua yang luas sekali, penuh dengan barang-barang berharga milik ribuan musafir yang terbunuh oleh raksasa itu, laksana keadaan dalam gua Aladin.

“Berbaring dan tidurlah di sampingku,” kata raksasa itu, “Besok pagi baru kita berbincang-bincang.” Makhluk itu juga berbaring dari sekejap tertidur pulas.

Guru itu—menyadari adanya muslihat—bergegas bangkit dan bersembunyi di tempat yang aman dari raksasa itu. Sebelumnya, ia mengatur tempat tidurnya agar tampak seakan ia masih rebah.

Tidak lama kemudian, raksasa itu bangun. Dengan sebelah tangan, dipungutnya batang pohon yang ada di dekat tempat itu, lalu tiba-tiba dihantamkannya batang pohon itu sebanyak tujuh kali dengan keras pada sosok di tempat tidur sang Sufi. Kemudian, ia tidur lagi.

Guru itu kembali ke tempatnya, berbaring, dan berseru pada raksasa itu, “Hoi raksasa! Memang gua ini nyaman, tetapi seekor nyamuk telah menggigitku tujuh kali. Lakukanlah sesuatu untuk menangkap nyamuk itu.”

Keluhan ringan tersebut menggentarkan si raksasa dan muncul keraguan untuk menyerang Sufi itu lagi. Bagaimanapun, bila seorang dipukul tujuh kali sekuat tenaga dengan batang pohon oleh raksasa, orang itu seharusnya sudah…

Pagi harinya, raksasa itu melemparkan sebuah kantong air dari kulit lernbu pada Sang Sufi lalu berkata, “Pergilah mengambil air untuk sarapan, supaya kita bisa minum teh.”

Alih-alih menggunakan kantong air itu (yang tentu sangat berat untuk diangkat), guru itu berjalan ke sungai yang terdekat dan mulai menggali saluran kecil menuju gua.

Raksasa sudah kehausan, dan bertanya “Mengapa kau tidak bawa airnya?”

“Bersabarlah, temanku. Aku sedang membuatkanmu saluran air. Dengan begitu, air segar akan langsung menuju mulut gua, dan kau tidak usah lagi minum air dari kulit lembu.”

Tetapi raksasa itu pun sudah terlampau haus untuk menunggu. Ia pergi ke sungai dan mengisi sendiri kantong airnya. Ketika teh selesai dibuat, ia minum beberapa galon, dan kemampuan berpikirnya jadi lebih baik. “Jikalau kau memang demikian perkasa—dan sudah kusaksikan itu—tak sanggupkah kau menggali saluran itu secepat mungkin, bukannya jengkal demi jengkal?”

“Sebab,” kilah guru itu, “Sesuatu yang berharga barulah sungguh-sungguh berharga bila dilakukan dengan upaya sekecil mungkin. Semua hal punya ukuran upaya masing-masing. Dan aku melakukan upaya seminim mungkin untuk menggali saluran ini. Lagipula, aku tahu bahwa kau adalah mahluk yang terpenjara dalam kebiasaan sehingga kau akan selalu menggunakan kantor air dari kulit lembu.”

Gadis Cerdas, Gadis Impian

Ada seorang pemuda Arab yang tampan, shalih, dan sangat cerdas. Dia ingin menikah dengan seorang gadis shalihah dan cerdas seperti dirinya. Maka, mulailah dia mengembara dari satu kabilah ke kabilah lain, untuk mencari gadis impiannya.

Suatu ketika, dia berjalan menuju kabilah di Yaman. Di tengah perjalanan, di berjumpa dengan seorang lelaki. Akhirnya, dia berjalan bersama lelaki itu.

Pemuda itu menyapa,“Hai Tuan, apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?”

Spontan lelaki itu menjawab,“Hai bodoh, kau ini bagaiman? Aku menunggang kuda dan kau menunggang kuda. Bagaimana kita bisa saling membawa?”

Pemuda itu diam saja mendengar jawaban lelaki itu.

Kemudian, keduanya melanjutkan perjalanan. Lalu, mereka melewati sebuah kampung. Kampung itu yang dikelilingi oleh kebun yang sudah tiba masa panennya.

Pemuda itu bertanya,“Menurutmu, buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya, atau belum, ya?”

Seketika, lelaki itu menjawab,“Pertanyaan itu aneh sekali! Kamu sendiri melihat dengan mata kepalamu, buah-buahan itu masih ada di pohonnya dan belum dipanen, kok kamu bertanya, apakah buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum?”

Pemuda itu hanya diam dan tidak menjawab perkataan lelaki itu.

Kemudian, keduanya melanjutkan perjalanan. Baru sebentar berjalan, mereka bertemu dengan orang-orang yang sedang mengiring jenazah.

Pemuda itu berkata,“Menurutmu, yang diiring dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati, ya?”

Lelaki itu menjawab,“Aku semakin tidak paham denganmu. Aku tidak pernah menemukan pemuda yang lebih bodoh darimu. Ya, jelas! Jenazah itu akan dibawa untuk dikuburkan. Tentu dia sudah mati.”

Pemuda itu kembali diam dan tidak menjawab sepatah kata pun atas komentar lelaki itu. Akhirnya, keduanya sampai di rumah lelaki itu. Dia mengajak pemuda itu menginap di rumahnya. Dia merasa kasihan, sebab pemuda itu terlihat sudah sangat letih.

Lelaki itu memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik.

Begitu tahu ada seorang tamu menginap, anak gadisnya itu bertanya,”Ayah, siapa dia?”

“Dia itu pemuda paling bodoh yang pernah aku temukan,” jawab ayahnya.

Anak gadis itu malah penasaran. Dia mengejar dengan pertanyaan berikutnya,”Bodoh bagaimana?”

Ayahnya langsung menceritkan awal pertemuannya dengan pemuda itu dan segala perkataan serta pertanyaannya.

Mendengar cerita ayahnya, anak gadis itu berkata,”Ayah ini bagaimana? Dia itu tidak bodoh. Justru dia sangat cerdas dan pandai. Kata-katanya mengandung makna yang tersirat. Ketika dia mengatakan ‘Apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?’, sebenarnya maksudnya adalah,‘Apakah kita bisa saling berbincang-bincang sehingga bisa membawa suasana yang lebih akrab?’ Ketika dia mengatakan,“Buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum?’ Ia memaksudkan,‘Apakah pemiliknya sudah menjualnya, pemiliknya tentu menerima uangnya dan membelanjakannya untuk makan dia dan keluarganya. Kemudian, ketika dia bertanya,‘Apakah jenazah di dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati?‘ Maksudnya,‘Apakah jenazah itu memiliki anak yang bisa melanjutkan perjuangannya atau tidak?’

Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya, lelaki itu keluar dan menemui pemuda itu. Dia meminta maaf atas perkataannya yang membodoh-bodohkan pemuda itu. keduanya lalu berbincang-bincang.

Lelaki itu berkata,”Sekarang aku baru tahu apa maksud pertanyaan-pertanyaanmu dalan perjalan tadi.”

Lalu, dia menjelaskan seperti yang di katakan putrinya.

Mendengar itu sang pemuda bertanya,“Saya yakin itu bukan lahir dari pikiranmu sendiri dan bukan perkataanmu, demi Allah, katakanlah padaku siapa yang mengatakannya?”

“Yang mengatakan hal itu adalah putriku,” jawab lelaki itu.

Spontan pemuda itu berkata,“Apakah kau mau menikahkan aku dengan putrimu?”

“Ya”

Begitulah, setelah melalui pengembaraan panjang, akhirnya pemuda itu menemukan pendamping hidup yang dia impikan.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Aku Yang Salah

Aku yang salah sebuah kalimat yang pendek namun penuh kekuatan. Bila semua orang mau berkata aku yang salah maka dunia akan damai!

Sayang sekali yang kerap terjadi adalah " Engkau yang salah!" Sebab semua orang merasa dirin
ya benar, bahkan salah pun masih merasa benar.

Semua orang cenderung saling menuduh dan menyalahkan. Tak ada yang merasa diri bersalah. Inilah facktor terjadinya konflik, perseteruan sampai pada peperangan. Banyak masalah kecil menjadi serius, yang sederhana jadi rumit, yang gampang jadi jalan buntu!
Kalau kita mau mengaku salah, banyak persoalan dapat terselesaikan dengan baik. Banyak kesulitan dan musibah dapat dihindari. Banyak kemelut dapat dipadamkan.

Berkata aku yang salah bukanlah orang lemah, bodoh atau frustrasi sebaliknya adalah orang yang bijak dan berani.

Orang yang tidak salah, namun berkata aku yang salah adalah orang yang luar biasa! Orang yang berani berkorban dan bertanggung jawab. Orang yang cinta damai, yang mau menyelesaikan masalah dan berpikir demi kepentingan orang banyak.

"Aku yang salah" sebuah kata-kata yang menyejukkan hati, menggugah nurani, membangkitkan rasa hormat. Tutur kata orang yang berjiwa besar…

Patung Yang Paling Berharga

Orang yang paling berharga bisa jadi sangat tidak pandai berbicara. Langit memberikan kita dua telinga dan satu mulut karena satu alasan, banyaklah mendengar dan sedikit berbicara. Mendengar secara intensif adal
ah kualitas paling mendasar bagi kedewasaan seseorang.

“Tiga Patung Kecil” merupakan sebuah teka-teki. Patung pertama, masuk telinga satu keluar ke telinga lainnya. Patung kedua, seorang yang suka bergosip. Patung ketiga, dia mendengar namun tidak berbicara, berarti dia mendengarkan dengan baik, namun tidak bergosip.

Dahulu kala, seorang raja dari negara kecil ingin memberikan persembahan kepada kaisar Tiongkok, kemudian dia mengirimkan utusan dengan membawa tiga patung emas. Ketiga patung ini begitu indah, sehingga kaisar sangat gembira menerimanya. Namun demikian raja negara kecil itu meminta kaisar untuk memastikan patung mana yang paling berharga.

Kaisar berpikir keras berbagai cara mencari jawabannya, bahkan bertanya pada seorang ahli perhiasan untuk meneliti ketiga patung yang begitu identik baik penampilan, berat, disain dan hasil pengerjaannya. Kaisar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Diluar istana, sang utusan menunggu jawaban dari kaisar.

Kekaisaran besar seperti Tiongkok ini jika tidak punya cara untuk memastikannya, maka sungguh memalukan!

Akhirnya, ada seorang menteri tua yang mengaku tahu cara memastikan patung mana yang paling berharga. Kaisar mempersilakan menteri tua dan sang utusan ke balairung istana. Menteri tua itu dengan percaya diri mengeluarkan tiga batang jerami. Kemudian dia memasukkan sebatang jerami ke telinga patung pertama, ternyata batang jerami itu menembus keluar lubang telinga satunya.

Kemudian dia mengambil batang jerami kedua dan memasukkannya ke telinga patung kedua, batang jerami itu menembus keluar mulut patung tersebut. Dan terakhir, dia memasukkan batang jerami ketiga pada lubang telinga patung terakhir, dan ternyata menembus keluar perut patung tersebut. Kemudian menteri tua itu berkata bahwa patung ketigalah yang paling berharga. Sang utusan terdiam, karena jawabannya adalah benar.