Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Kamis, 02 Februari 2012

Kisah Tukang Cukur

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang TUHAN.

Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya kalau TUHAN itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ?” tanya si konsumen.


“Begini, coba kamu perhatikan di depan sana, di jalanan…. untuk menyadari bahwa TUHAN itu tidak ada”.
“Katakan kepadaku, jika TUHAN itu ada. Adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah yang hidupnya susah?” .

“Jika TUHAN ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan”.

“Saya tidak dapat membayangkan TUHAN Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi”.

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon apa yang dikatakan si tukang cukur tadi, karena dia tidak ingin terlibat adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (Jawa : mlungker-mlungker – Red), kotor dan brewok, tidak pernah dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur tadi dan berkata :
“Kamu tahu, sebenarnya di dunia ini TIDAK ADA TUKANG CUKUR..!”

Si tukang cukur tidak terima, dia bertanya : “Kamu kok bisa bilang begitu?”.
“Saya tukang cukur dan saya ada di sini. Dan barusan saya mencukurmu!”

“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu TIDAK ADA! Sebab jika tukang cukur itu ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”, si konsumen menambahkan.

“Ah tidak, tapi tukang cukur itu tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.
“Apa yang kamu lihat itu adalah SALAH MEREKA SENDIRI, mengapa mereka tidak datang kepada saya untuk mencukur dan merapikan rambutnya?”, jawab si tukang cukur membela diri.

“COCOK, SAYA SETUJU..!” kata si konsumen.
“Itulah point utamanya!.. Sama dengan TUHAN.

“Maksud kamu bagaimana?”, tanya si tukang cukur tidak mengerti.

Sebenarnya TUHAN ITU ADA ! Tapi apa yang terjadi sekarang ini.?
Mengapa orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU mencari-NYA..?
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”

Si tukang cukur terbengong!!!! Dalam hati dia berkata : “Benar juga apa kata dia..mengapa aku tidak mau datang kepada TUHANKU, untuk beribadah dan berdoa, memohon agar dihindarkan dari segala kesusahan dalam hidup ini..?”

10 PERBEDAAN BOS DAN PEMIMPIN

Seorang BOS menciptakan rasa takut dalam diri anak buahnya
Seorang PEMIMPIN membangun kepercayaan

Seorang BOS mengatakan "saya".
Seorang PEMIMPIN mengatakan "kita"

Seorang BOS tahu bagaimana pekerjaan harus dilakukan.
Seorang PEMIMPIN tahu bagaimana suatu karier harus ditempa

Seorang BOS mengandalkan kekuasaan.
Seorang PEMIMPIN mengandalkan kerjasama.


Seorang BOS menyetir
Seorang PEMIMPIN memimpin

Seorang BOS menyalahkan
Seorang PEMIMPIN menyelesaikan masalah dan memperbaiki kesalahan

Seorang BOS menguasai 10% tenaga kerja bermasalah.
Seorang PEMIMPIN menguasai 90% tenaga kerja yang kooperatif.

Seorang BOS menyebabkan dendam bertumbuh.
Seorang PEMIMPIN memupuk antusiasme yang bertumbuh

Seorang BOS menyebabkan pekerjaan menjemukan
Seorang PEMIMPIN menyebabkan pekerjaan menyenangkan/menarik

Seorang BOS melihat masalah sebagai musibah yang akan menghancurkan perusahaan
Seorang PEMIMPIN melihat masalah sebagai kesempatan yang dapat diatasi staff yang bersatu padu, dan berubah menjadi pertumbuhan.

Rabu, 01 Februari 2012

KELEDAI DAN PETANI TUA

Suatu pagi yang cerah, ada seorang petani tua sedang berjalan bersama keledai tuanya menuju ke kota. Sang petani hendak menjual hasil panennya di kota. Mereka berjalan dengan penuh semangat sambil membayangkan pundi-pundi emas yang akan didapat setibanya di sana.

Tiba-tiba di tengah perjalanan, keledai tua sang petani terperosok ke sebuah sumur tua yang sangat dalam. Sumur itu memang tidak terlihat karena tertutupi oleh papan dan daun-daun kering di atasnya. Keledai tua itu lantas menjerit-jerit, “Tolong, tolong keluarkan aku dari sini, petani!”. Sang petani tua pun merasa sangat khawatir karena sebagian dari masa depannya, hasil panen yang melimpah ruah, turut jatuh bersama dengan keledai tua ke dalam sumur. “Bagaimana aku dapat menyambung hidup jika aku tidak berhasil menjual hasil panenku? Aku harus segera mengangkat keledaiku! Karena hasil panenku terikat di punggungnya”, gumam petani.


Petani pun lantas memutar otak untuk mengangkat keledai tuanya dari dasar sumur. Ia berkeliling di sekitar sumur dan menemukan seutas tali. Lantas, ia pun mengambilnya dan menjulurkan tali tersebut ke dalam sumur. “Keledai, raih dan genggam tali itu! Saya akan menarikmu ke atas!”, teriak petani. Keledai berusaha untuk meraih dan menggenggam tali tersebut dan tentu saja sia-sia! Keledai tidak mempunyai jari-jemari layaknya manusia untuk dapat mengenggam tali tersebut.

Petani kemudian memutar otaknya kembali. “Ah, ya saya tau!”, cetus petani. Ia lantas membuat simpul dari tali tersebut sehingga menyerupai tali laso yang biasa digunakan oleh koboi-koboi di barat. Ia lalu menjulurkan tali tersebut ke dalam sumur, “Keledai! Masukkan lehermu ke dalam simpul tersebut! Aku akan menarikmu!”. Keledai lantas menuruti perintah petani. Namun, belum sampai beberapa detik sang keledai tertarik ke atas, ia serta merta melepaskan kepalanya dari simpul yang dibuat majikannya. Keledai berteriak, “Petani! Kau ingin membunuhku dengan tali itu, ya?”.

Sang petani terperangah. Betapa bodohnya ia! Lantas, ia berusaha berpikir keras lagi. “Bagaimana ini? Aku harus mencari jalan lain menarik keledaiku.”, gumam petani dalam hati. Ia berkeliling lagi di sekitar sumur, berusaha untuk mencari sesuatu yang dapat dipergunakan mengangkat keledainya ke atas. Tiba-tiba, ia terantuk sebilah bambu. “Ah, ya mungkin dengan ini aku bisa mengangkat keledaiku”.

Petani lantas menjulurkan bambu panjang tersebut ke dalam sumur. “Keledaiku! Coba kau jepitkan kedua kaki depanmu ke bambu itu! Nanti aku akan menarikmu ke atas!”, teriak petani. “Baik, petani!”, jawab keledai. Memang karena permukaan bambu itu licin maka keledai selalu terjatuh setiap kali akan ditarik ke atas oleh petani.

Petani belum menyerah, ia kembali mencari-cari akal untuk mengeluarkan keledainya dari sumur tua tersebut. Ia lantas melihat sebuah kayu besar dengan ranting-ranting yang dianggapnya cukup kokoh. Bersusah payah, ia menggeret kayu tersebut dan memasukkanya ke dalam sumur. “Keledaiku! Aku menemukan sebuah kayu. Lompatlah ke ranting-rantingnya untuk menuju ke atas!”, terika petani. Begitu sang keledai melompat ke ranting pertama, terdengar bunyi KRAK. Ya, ranting tersebut patah tentu saja.

Petani menjadi sangat lemas dan putus asa melihat segala usahanya tidak membuahkan hasil. Ia menyerah dan berpikir, “Ah, sudahlah. Memang bukan rezekiku untuk mendapatkan pundi-pundi emas di kota. Sudah tidak ada jalan lain lagi. Daripada aku sakit hati lebih baik aku kuburkan saja sekalian keledaiku itu di sumur tersebut.”

Petani kemudian mulai menggali tanah dan melemparkan gundukan-gundukan tersebut ke dalam sumur. “Selamat tinggal, keledaiku dan hasil panenku!”, begitu pikirnya sambil terus melemparkan gundukan-gundukan tanah ke sumur. Setelah cukup lama, tiba-tiba ada suara seekor keledai menjerit-jerit keluar dari sumur. “Petani! Petani! Aku di sini! Aku berhasil keluar”, teriak keledai itu.

Petani menolehkan kepalanya dan memandang dengan takjub. “Bagaimana bisa?”, tanya petani. “Ketika engkau sedikit demi sedikit memasukkan gundukan tanah ke dalam sumur, aku meloncat ke atasnya. Begitu seterusnya sehingga akhirnya aku berhasil keluar dari sumur ini!”. Petani merasa sangat berbahagia karena ternyata ia masih dapat menyambung hidupnya dengan mendapatkan pundi-pundi emas di kota. Begitu pula dengan keledai, karena ia berhasil terselematkan dari ancaman kematian.

***

Begitulah kisah seorang petani tua yang mempunyai impian tinggi dengan keledai tuanya yang terperosok ke dalam sumur tua dan berusaha keluar dari dalamnya. Jika dianalogikan hal ini mirip dengan keadaan ketika kita berusaha meraih impian-impian kita. Sering kita terjembab ke dalam permasalahan-permasalahan. Sering pula kita berpikir bahwa cara A, B, C, dan D kita anggap sebagai cara terbaik dalam menyelesaikan masalah kita. Tapi, ternyata justru cara A, B, C, dan D tersebut tidak memberikan penyelesaian sama sekali. Sering pula kita berpikir bahwa cara E itu tidak baik, cara E adalah hal yang buruk untuk dilakukan dan tidak mungkin menyelesaikan suatu masalah. Tapi, ternyata cara E justru merupakan solusi dari sebuah permasalahan. tidak semua solusi terasa manis dan mudah untuk dilakukan. Terkadang, solusi dari permasalahan adalah hal yang pahit untuk dikerjakan namun berbuah manis. Seorang yang ingin berprestasi tidaklah melulu mengerjakan hal-hal yang mudah dan manis. Pengorbanan dan kepahitan adalah hal yang niscaya dalam mengejar prestasi. Yakinlah, buahnya pun pasti akan manis.

MAKNA SUAMI DAN ISTRI

Pernikahan sebenarnya merupakan suatu perjanjian yang sakral, pernikahan yang indah merupakan karunia Tuhan. Sekalipun moral di dunia runtuh, yang membuat terlalu banyak orang melupakan maksud semula dari suatu pernikahan, mereka bahkan dapat merusak pernikahan orang lain sesuka hati untuk kepentingan sesaat diri sendiri, namun kita tidak boleh karenanya terombang-ambing mengikuti arus.

Suami
Aksara Tionghoa untuk 夫 ( fū ), yang berarti suami, menggambarkan seorang pria yang memakai jepit rambut besar, yang dalam budaya Tiongkok kuno adalah sebuah tanda kedewasaan perempuan dan usia matang untuk menikah. Karakter huruf ini hampir identik dengan 人 (rén, “manusia” atau “laki-laki”), tapi dengan tambahan dua garis mendatar, satu merepresentasikan jepit rambut, dan yang satu lagi sebagai dua lengan.

Fu homofon dengan salah satu aksara Tiongkok 婦 ( fù ) yang berarti “istri” dan yang ternyata juga berarti “patuh ( 服, fú )”. Huruf Fu juga bisa berarti “gandum” atau “bekatul”. Butiran gandum adalah salah satu dari banyaknya tanaman simbolis yang berperan penting dalam pernikahan adat tradisional Tiongkok. Ada saat di masa lalu ketika semua pernikahan diatur oleh orang tua melalui mak comblang, dan kedua calon pasangan suami dan istri tidak memiliki pendapatnya sendiri.

Bahkan, jika seorang pria dan perempuan jatuh cinta justru sering dianggap sebagai hambatan, karena kemudian mereka akan memilih pasangan pernikahan mereka berdasarkan keinginan mereka sendiri dan bukan tuntutan bakti kepada orang tua mereka. Calon suami bahkan sangat jarang bisa bertemu dengan calon istrinya dan segera setelah nama mereka diketahui masing-masing calon mempelai, etika menuntut mereka untuk menghindari kontak sampai hari pernikahan tiba.

Seorang suami bertanggung jawab atas semua hal yang berkenaan dengan hubungan keluarganya sendiri terhadap keluarga lainnya dan dunia luar. Selain hal ini, tugas utamanya adalah pengabdian, yang berarti menunjukkan pilihannya kepada orangtua dan leluhurnya dengan mendukung keluarganya dan melestarikannya di atas perasaan istrinya, dan jika istrinya gagal melahirkan banyak anak laki-laki, hal ini sudah cukup sebagai dasar untuk perceraian.

Pilihan lainnya adalah suami mengambil selir untuk menjamin kelahiran laki-laki sebagai generasi selanjutnya dalam keluarga. Meskipun monogami telah secara luas menjadi norma di dalam masyarakat Tiongkok saat ini, tapi seorang suami masih tetap bisa mengangkat selir sebanyak yang mampu dia tanggung, suatu kebiasaan yang membutuhkan waktu sangat lama untuk hilang. Seorang suami juga diperkenankan untuk melepaskan selir yang tidak memberinya anak laki-laki tanpa ganti rugi apapun.

Istri
Menurut salah satu penjelasan tradisional, karakter huruf ini ( 婦 ) diberikan suara Fu dengan tujuan untuk mengingatkan seorang istri untuk menjadi patuh ( 服 fú ) kepada suaminya ( 夫 fū ). Dalam prakteknya, kata untuk suami dan istri diucapkan dengan nada yang berbeda. Meskipun demikian sangatlah jarang membuat kebingungan. Bentuk paling tua penulisan kata “istri” menggabungkan komponen radikal untuk “perempuan” dengan sebuah sapu atau kain pembersih debu yang mengindikasikan pekerjaan rumah tangga seorang istri.

Di Tiongkok, seorang calon pengantin perempuan dipanggul dari rumahnya dengan “kursi pengantin” menuju rumah pengantin pria, di mana kedua mempelai akan bertemu untuk pertama kalinya, dan kemudian dianggap sebagai suami dan istri. Di malam pengantin, jika seorang istri sepertinya tidak perawan, dia akan segera dikirim kembali ke rumahnya dengan rasa malu.

Pembungkusan kaki dengan kencang dan menekan perasaan untuk para gadis dari sejak awal usia empat tahun menghasilkan ukuran kaki mungil yang disebut “bunga lili tiga inchi”. Para gadis dengan kaki-kaki yang sangat kecil ini sangat diminati oleh para makelar pernikahan, yang pada zaman dulu melambangkan ‘ikatan’ para istri Tiongkok dengan rumah. Kebiasaan ini kemudian secara resmi dilarang setelah 1911 tapi hingga kini para gadis korban pelatihan yang sangat menyakitkan ini masih hidup di Tiongkok.

Untuk seorang perempuan, kepatuhan kepada orangtua mereka sebelum menikah diikuti dengan kepatuhan kepada orangtua suami setelah pernikahan. Sang istri selalu berada di bawah kendali ibu mertua, yang mungkin membuat hidupnya sengsara atau bisa juga menjadi teman seumur hidup.

Ada beberapa kompensasi untuk keterbatasan hidup para istri tradisional Tiongkok, khususnya jika istri tersebut mampu memenuhi kewajiban utamanya dengan melahirkan anak laki-laki yang berarti bahwa sang istri di kemudian hari akan menjadi ibu mertua. Para istri juga secara tradisional mengatur urusan rumah tangga, seperti demikian pula hingga saat ini<

HARI KE 11 TAHUN BARU CINA - HARI MENYAMBUT ZI GU (LADY UNGU)

Hari ke 11 Tahun Baru Cina, seorang ayah mertua akan menghibur anak-anak. Ada banyak makanan yang tersisa pada hari kesembilan Tahun Baru Cina ketika merayakan ulang tahun Kaisar Langit, sehingga makanan yang tersisa hari itu dapat digunakan untuk menghibur anak-anak.

Di daerah Binyang, Provinsi Guangxi, hari kesebelas Tahun Baru Cina adalah "Pao Panjang Jie" ( Dragon Dance Festival ). Naga yang menari di daerah Bingyang adalah lebih besar dari naga yang menari di tempat lain. Naga ini ada sekitar 40 meter panjangnya. Para naga yang lebih pendek memiliki 7 bagian sedangkan yang lain memiliki 11 bagian. Pada satu fitur unik dari tarian naga di Binyang adalah bahwa naga menari disertai dengan petasan di sepanjang jalan.


Hari ke 11 Tahun Baru Cina juga hari untuk menyambut Zi Gu ( Lady Ungu ). Menurut legenda, Zi Gu adalah seorang selir orang kaya di Cina kuno. Istri dari orang kaya membunuhnya di toilet karena kecemburuannya. Tuhan Surgawi memiliki belas kasih untuknya, sehingga mengangkatnya sebagai dewi toilet nya. Kemudian Zi Gu mewakili semua wanita yang mengerang di bawah penindasan dalam masyarakat feodal. Jadi wanita memujanya dan menganggap dirinya sebagai malaikat penjaga perempuan lemah.

ORANG KAYA SULIT UNTUK BELAJAR KEBENARAN

Kesulitan bagi orang miskin untuk berdana, dan sulitnya bagi orang kaya untuk belajar jalan kebenaran. Orang yang miskin sulit untuk berdana mengingat dirinya sendiri masih sangat kekurangan, sementara bagi orang yang kaya raya, kehidupan yang dijalaninya membuatnya sulit untuk melangkah di jalan kebenaran. Intinya, setiap orang memiliki tantangan tersendiri untuk dijalani di dalam kehidupannya.

Seperti sabda Sang Guru : “Orang kaya sulit untuk belajar jalan kebenaran”, maksudnya adalah orang yang kaya materi atau berkedudukan tinggi sungguh sulit untuk belajar jalan kebenaran.


Sebab manusia awam pada umumnya memiliki penyakit batin berupa keserakahan, kebencian dan kebodohan, ini adalah penyakit umum pada kebanyakan orang; selain itu masih ada kesombongan dan kecurigaan. Orang kaya sulit terhindarkan akan bersikap sombong, tidak dapat bersikap “sopan walau pun kaya”, maka disebutkan “Orang kaya sulit untuk belajar jalan kebenaran”.

Banyak orang kaya yang sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk merenung tentang agama yang sesungguhnya. Orang kaya lebih sering terbuai dengan kesombongan, sehingga sulit bagi orang kaya untuk “menjadi kaya dan berbudi di saat yang bersamaan”.

Pernah sekali ada seorang tokoh masyarakat ternama datang berkunjung, dia membawa dupa, uang kertas sembahyang dan medali emas. Dia bertanya kepada saya : “Di mana letak ‘tempat bakar kertas sembahyang’ kalian?”

Saya menjawab : “Di tempat kami ini tidak perlu bakar kertas sembahyang.”

Dia berkata dengan heran : “Mana ada biara yang tidak bakar kertas sembahyang?”

Saya berkata : “Di tempat kami ini tidak perlu bakar kertas sembahyang.”

Setelah beberapa saat, dia mengeluarkan sebuah kertas bungkusan berwarna merah, di dalamnya ada sebuah medali emas. Dia bertanya: “Medali emas saya ini mau digantungkan di patung dewa yang mana?”

Saya menjawab: “Agama Buddha tidak membutuhkan barang seperti ini, Sang Guru tidak suka memakainya, tidak usah.”

Dia berkata : “Mengapa begitu aneh? Dulu setiap kali ke biara, saya tetap menyumbangkan medali emas.”

Saya berkata : “Kalau begitu saya akan menerimanya dan akan menggunakannya untuk kegiatan amal.”

Dia berkata : “Kalau begitu terserah anda saja.”

Setelah dia melakukan ibadah, saya mengundangnya duduk di ruang tamu, sebab saya mengira dia datang untuk urusan dinas dan semestinya ingin mendengarkan laporan saya tentang masalah yayasan; namun ternyata semua pembicaraannya tentang berapa banyak sumbangan dananya ke kelenteng ini atau berapa batang tiang disumbangkan ke biara itu, di mana dia menanyakan fengshui untuk leluhurnya, barulah menemukan “tempat yang baik”.

Sehabis mendengar perkataannya ini, saya mengeluh dalam hati : “Memang benar apa yang dikatakan Sang Guru kalau orang kaya sulit untuk belajar jalan kebenaran.”

Orang kaya seharusnya mengembalikan sebagian dari harta yang diperolehnya dari masyarakat demi kemaslahatan masyarakat, jika bisa berbuat demikian barulah akan disayangi dan dihormati oleh masyarakat, dengan sendirinya akan menjadi “dewa penolong” bagi orang lain. Orang-orang sering mengatakan : “Untung saya bertemu dengen dewa penolong ...”, sedangkan “dewa penolong” adalah orang yang dapat mengembangkan kemampuan hidupnya untuk menolong orang lain.

Di dunia ini tidak ada takdir yang sudah ditetapkan, Sang Guru mengatakan : “Segalanya diciptakan oleh batin manusia.” Apakah nasib seseorang mulia atau hina bukanlah ditakdirkan, jika dalam kehidupan ini penuh dengan kesulitan, namun apabila kita dapat mengatasi segala kesulitan dengan ulet dan tegar, sama saja dapat merubah nasib dan kekuatan karma diri sendiri.

Di dunia tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi, asalkan merupakan seorang praktisi ajaran Buddha yang taat, maka di dunia ini tiada masalah sulit yang tidak dapat diatasi. Selain memupuk keberkahan, kita juga harus memupuk kebijaksanaan, sehingga berkah dan kebijaksanaan seiring. Berdana memang penting, namun tidak boleh melalaikan pembelajaran jalan kebenaran. Kehidupan yang memiliki berkah dan kebijaksanaan, baru merupakan kehidupan yang berharga dan bahagia. ( Yuni Tan )

HARI KE 10 TAHUN BARU CINA - HARI ULANG TAHUN DEWA BATU

Hari ke 10 Tahun Baru Cina merupakan hari ulang tahun dewa batu. Pada hari ini, dilarang untuk memindahkan setiap batu, termasuk rol batu, pabrik batu dan mortar batu, sehingga hari ini juga dikenal sebagai "Shi Bu Dong" ( artinya tidak ada batu yang bergerak ). Selain itu, juga dilarang untuk mengambil batu gunung dan membangun rumah dengan batu, atau hal-hal buruk akan terjadi pada tanaman.

Pada hari ini, setiap keluarga akan membakar dupa dan lilin untuk batu, dan memberikan kue kepada dewa batu. Di zaman kuno, hari kesepuluh Tahun Baru Cina adalah hari untuk merayakan pernikahan tikus.

Menurut legenda di daerah selatan sungai Yangtze, tikus adalah hewan yang berbahaya dan tidak beruntung, sehingga orang harus mendapatkan tikus menikah untuk memastikan tahun baru yang damai dan beruntung. Pada hari ini, keluarga tidak harus membuka setiap kotak atau lemari, dan akan pergi tidur lebih awal, supaya mereka tidak mengganggu tikus. Anak-anak akan menaruh beberapa permen dan kacang tanah di sudut-sudut rumah sebagai mas kawin untuk tikus. Gambar Tahun Baru dan kertas-potong tentang pernikahan tikus yang populer di kalangan rakyat kebanyakan di Cina.