Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Minggu, 12 Oktober 2008

The Something in Nothing


Here is a story from the Chhandogya Upanishad:

After years away at school, Shvetaketu returned home to his father, Uddalaka. Uddalaka could tell from Shvetaketu's boasting about how much he'd learned that he hadn't learned anything at all. Or at least nothing really worth knowing.
"Did your teacher teach you how to hear that which cant be heard or know what cant be known?" Uddalaka asked.
"Oh-oh. That wasn't in the curriculum."

"Go outside and get me a fruit from the banyan tree." Shvetaketu ran outside for the fruit.
"Now cut it in half," his father instructed. "What do you see?"
"I see the seeds, dad."
"Cut one of those in half." This wasn't very easy, banyan seeds are extremely small. Finally Shvetaketu managed to slice one evenly. "What do you see?" Uddalaka asked.
The boy was baffled. "What do you mean dad? There is nothing there."
Uddalaka looked his son in the eye, "From that 'nothing' an enormous tree arises. When you understand that 'nothing' is, you will understand yourself. The nothing you cant see is the very essence of the reality of the tree. The unperceivable essence of being is also what you are. You are that, Shvetaketu."
"Pour some salt into this bucket of water," Uddalaka continued. Shvetaketu obeyed. "Now give me the salt back."
"I cant do that!" Shvetaketu objected. "It is gone!"
"Take a sip of the water. You taste the salt, don't you? You couldn't see it, yet it was there all along. Just as the salt pervades the water, so the subtle essence of reality pervades your body. That subtle essence is true being. You are that, Shvetaketu."

source : http://www.storiesofwisdom.com/the-something-in-nothing/

Keterbatasan Kita adalah Tanggung Jawab Kita

Satu-satunya yang membatasi diri kita di jalan keberhasilan adalah pikiran kita sendiri; yaitu pikiran yang mengatakan bahwa kita tak bisa mencapai tujuan kita. Tidak cukup hanya sekedar memiliki tujuan, kita harus berani menyingkirkan pikiran yang menghambat kita.

Tanamkan pikiran dan sikap positif. Katakan pada diri kita sendiri bahwa kita akan berhasil, kita mampu meraihnya; kita sanggup mencapainya. Maka sesuatu yang luar biasa terjadi, kita memang benar-benar berhasil meraih tujuan kita.

Tak perlu menjadi seorang yang gagah berani untuk mengarungi angkasa luar. Dengan pikiran yang bebas dan tak terbelenggu, Stephen Hawking, jenius cacat yang kesulitan untuk ke kamar kecil itu, mampu bercerita tentang keajaiban alam raya.

Kini kita bisa perhatikan, keajaiban itu sebenarnya terletak dipikiran beliau. Kita telah memilikinya, bebaskan dari belenggu keterbatasan,maka kita dapat mewujudkan tujuan kita.

-- Buanglah keterbatasan pikiran kita, maka kita akan menemukan kebebasan serta kekuatan untuk meraih apa saja yang kita inginkan.

Ketekunan Merupakan Kemampuan Kita

Apa yang dapat kita raih sekarang ini merupakan hasil dari usaha-usaha kecil yang telah kita lakukan secara terus-menerus. Keberhasilan bukanlah sesuatu yang turun begitu saja.

Bila kita meyakini tujuan dan jalan kita, maka kita harus memiliki ketekunan untuk terus dan tetap berusaha. Ketekunan merupakan kemampuan kita untuk bertahan di tengah tekanan dan kesulitan yang kita hadapi.

Dan kita harus tetap mengambil langkah-langkah selanjutnya, walaupun hal itu kecil menurut kita. Tapi perlu diingat juga, janganlah hanya berhenti di langkah pertama. Teruskan pada langkah-langkah selanjutnya yang lebih besar

Semakin jauh kita berjalan, maka semakin banyak rintangan yang akan menghadang cita-cita dan langkah kita. Bayangkan, jika saja kemarin kita berhenti, maka kita tidak berada di sini sekarang.

Sebuah pepatah mengatakan bahwa ribuan kilometer langkah, di mulai dengan satu langkah. Sebuah langkah yang besar sebenarnya terdiri dari banyak langkah-langkah kecil yang kita lakukan. Dan langkah pertama keberhasilan harus kita mulai dari rumah kita.

Dan rumah kita yang paling baik adalah “hati” kita. Itulah sebaik-baiknya tempat untuk memulai dan untuk kembali. Karena itu mulailah kemajuan kita dengan memajukan hati kita, kemudian pikiran kita dan usaha-usaha kita.

-- Ketekunan akan hadir, bila apa yang telah kita lakukan dan kerjakan benar-benar berasal dari hati kita. Dan dari langkah besar hati kita inilah, sebuah tantang besar sekalipun akan terjawab.

Semoga…

Kisah Orang Tua Bijak

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil.
Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya
karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja
menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum
pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.

Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda
jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak :
"Kuda ini bukan kuda bagi saya", katanya : "Ia adalah
seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual
seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana
kita dapat menjual seorang sahabat ?" Orang itu miskin
dan godaan besar. Tetapi ia tidak menjual kuda itu.

Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di
kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. "Orang tua
bodoh", mereka mengejek dia : "Sudah kami katakan
bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami peringatkan
bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin... Mana
mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu
berharga ? Sebaiknya anda menjualnya. Anda boleh
minta harga apa saja. Harga setinggi apapun akan
dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda
dikutuk oleh kemalangan".

Orang tua itu menjawab : "Jangan bicara terlalu cepat.
Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di
kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah
penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana
Anda dapat ketahui itu ? Bagaimana Anda dapat
menghakimi ?". Orang-orang desa itu protes : "Jangan
menggambarkan kami sebagai orang bodoh! Mungkin kami
bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di
perlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah
kutukan".

Orang tua itu berbicara lagi : "Yang saya tahu
hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi.
Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau
berkat, saya tidak dapat katakan.Yang dapat kita lihat
hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan
terjadi nanti ?"
Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu
gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol;
kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari
uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang
potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar
dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang
ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak
lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah
membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.
Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di
curi, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali,
ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya.
Sekali lagi penduduk desa berkumpul sekeliling tukang
potong kayu itu dan mengatakan : "Orang tua, kamu
benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan
sebenarnya berkat. Maafkan kami".

Jawab orang itu : "Sekali lagi kalian bertindak
gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik.
Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia,
tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini
adalah berkat ? Anda hanya melihat sepotong saja.
Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita,
bagaimana anda dapat menilai ? Kalian hanya membaca
satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai
seluruh buku ? Kalian hanya membaca satu kata dari
sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh
ungkapan ? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai
seluruh hidup berdasar! kan satu halaman atau satu
kata.Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan
itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah
puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu
karena apa yang saya tidak tahu".

"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu
kepada yang lain. Jadi mereka tidak banyak
berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia
salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda
liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit,
binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian
dijual untuk banyak uang.

Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak
muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah
beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan
kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul
sekitar orang tua itu dan menilai. "Kamu benar", kata
mereka : "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar.
Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan.
Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang
dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk
membantumu... Sekarang kamu lebih miskin lagi. Orang
tua itu berbicara lagi : "Ya, kalian kesetanan dengan
pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan.
Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu
itu berkat atau kutukan ? Tidak ada yang tahu. Kita
hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang
sepotong-sepotong".Maka terjadilah dua minggu kemudian
negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua
anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya
anak si orang tua tidak diminta karena ia
terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua
itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak
mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali
kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan
perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan
melihat anak-anak mereka kembali. "Kamu benar, orang
tua", mereka menangis : "Tuhan tahu, kamu benar. Ini
buktinya. Kecelakaan anakmu
merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak
ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk
selama-lamanya".

Orang tua itu berbicara lagi : "Tidak mungkin untuk
berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik
kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini :
anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya
tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau
kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk
mengetahui. Hanya Allah yang tahu".

Moral cerita :
Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari
seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian
hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku
besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan.
Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai
kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

Sabtu, 11 Oktober 2008

Kesulitan dapat membawa keberhasilan

Kita semuanya tahu bahwa perjalanan ini tak mudah. Cepat atau lambat kita akan melintasi daerah yang berbatu, licin dan terjal. Kita menyebutnya sebagai masa sulit.

Bagaimana cara kita mengatasinya, menentukan apakah kita bisa terus melangkah di jalan keberhasilan atau tidak.

Rintangan tampak bagai wajah yang menakutkan, hanya bila kita memalingkan pandangan dari tujuan. Tapi, bagaimana kita bisa sampai di ujung cakrawala bila terhenti di situ.

Bukankah seorang murid saja harus menempuh ujian agar bisa naik kelas. Bahkan, agar bisa tetap berada dalam kelas pun ia harus menunaikan pekerjaan rumahnya setiap malam.

Kita mendapatkan intan yang terbaik dengan menggosoknya. Pedang yang tajam tercipta karena tempaan dan panas yang melelehkan. Begitu pula, kesejatian kita takkan terujud bila tak diuji dengan kesulitan.

-- Kesulitanlah yang membawa kita naik ke tangga keberhasilan yang lebih tinggi. Sedangkan, kemudahan melenakan kita untuk tetap berputar-putar di lantai bawah.

Jumat, 10 Oktober 2008

Kalahkan Diri Kita, Bukan Orang Lain

Kemenangan kita bukanlah kemenangan atas orang lain. Namun, kemenangan kita atas diri kita sendiri.

Berpacu di jalur keberhasilan kita adalah pertandingan untuk mengalahkan ketakutan, keengganan, keangkuhan dan semua beban-beban yang menambat diri kita di tempat start kita. Jerih payah kita untuk mengalahkan orang lain sama sekali tak berguna.

Motivasi bukan lahir karena rasa iri, dengki atau dendam pada orang lain. Kita tahu, keberhasilan sejati akan memberikan kebahagiaan sejati. Sedangkan kebahagiaan sejati tak mungkin diraih oleh motivasi yang ternoda.

Pelari yang berlari untuk mengalahkan pelari lain, akan tertinggal karena sibuk mengintip laju orang lain.

Pelari yang berlari untuk memecahkan recordnya sendiri tak peduli apakah orang lain akan menyusulnya. Inilah pelari sejati yang mengejar perbaikan diri. Ia tidak peduli dimana dan siapa lawan-lawannya.

Ia mencurahkan diri untuk memecahkan rekornya sendiri. Ia ingin lebih baik. Ia berkompetisi dengan dirinya sendiri bukan dengan orang lain. Dengan demikian ia merasa tak perlu melakukan kecurangan-kecurangan atau trik-trik agar orang lain terkalahkan.

-- Mengalahkan orang lain bisa jadi kekalahan kita sendiri

Jangan Pandang Hutan dari Semaknya

Tak ada sesuatu dalam hidup ini yang perlu ditakutkan. Kita hanya perlu untuk mengerti. Ketakutan berasal dari keterbatasan pikiran. Bukalah pikiran untuk memahami ketakutan kita. Maka kita akan menemukan keberanian untuk menghadapinya.

Jangan sembunyikan, tunda atau berhenti untuk memecahkan masalah kita. Karena bahayanya bukan karena masalah itu semakin membesar, namun pikiran kita yang semakin kerdil; pandangan kita yanng semakin sempit.

Berjalan menuju keberhasilan kita adalah berjalan di hutan lebat. Jangan berhenti hanya semak belukar. Dan jangan pandang hutan dari semaknya belaka. Kita harus mampu melewatinya.

-- Sekali kita mampu mengatasi ketakutan, kita memiliki ketahanan untuk menghadapi kesulitan serupa. Pahami bahwa semua itu sangat baik bagi kekuatan kita untuk menghadapi kesulitan yang lebih besar.