Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label Interview with MT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Interview with MT. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Februari 2013

REZEKI ITU BUKAN HANYA UANG

REZEKI ITU BUKAN HANYA UANG, DAN SAMA SEKALI BUKAN HANYA GAJI.
Om Mario, apakah jumlah rezeki ditentukan oleh Tuhan?
Jika maksudmu hanya jumlahnya TANPA kepantasan, tidak.Tuhan menetapkan hukum kepantasan bagi rezeki.
Jadi yang pantas dapat rezeki baik, dapat ya Om?
Betul sekali, dan demikian juga sebaliknya.
Tapi, kok ada orang jujur dan rajin – kok gajinya kecil?
Gajinya kecil tapi kehidupannya sehat, damai, penuh kegembiraan – itu lebih kaya daripada seorang Direktur bergaji tinggi tapi tidak berbahagia di dalam keluarganya, istrinya genit sama laki-laki lain, anaknya lumpuh otak karena narkoba.
Tapi kan gaji kecil itu rezeki kecil?
Sama sekali tidak. Rezeki itu bukan hanya uang, dan sama sekali bukan hanya gaji. Rezeki itu memang sepertinya dihitung hanya dengan uang, tapi tidak mungkin dibatasi hanya oleh perhitungan.
Contohnya?
Apakah tidak jadi kecelakaan, itu rezeki?Apakah tidak jadi kehilangan handphone, itu rezeki?Apakah rumahmu tidak jadi kebakaran, itu rezeki?Apakah matamu yang tidak jadi tertusuk kaca helm motormu yang pecah karena benturan, itu rezeki?
Ya Om, itu semua rezeki.
Nah, itu semua berapa jumlahnya dalam uang?
Tidak terhitung.
Itu sebabnya, orang yang bersyukur – matanya, hatinya, dan pikirannya akan terbuka terhadap kekayaan yang sebetulnya sudah lama dimilikinya.
Puji Tuhan Yang Maha Rahman dan Rahim. Terima kasih Ya Rozaq, wahai Sang Pemberi Rezeki.
Oh, seruanmu itu indah sekali.
Terima kasih Om. Jadi sebetulnya aku selama ini kaya raya, tapi tidak menyadarinya ya Om?
Ya, seperti para koruptor – yang mencuri dan mendustai rakyat itu, mereka adalah orang-orang miskin yang tidak menyadari kemiskinannya.
Bukan main!
Ya. Itu sebabnya, agama itu untuk orang yang berpikir.
Kalo orang tidak berpikir, akan sering berprasangka buruk terhadap Tuhan, ya Om?
Persis sekali! Karena Tuhan dituduhnya tidak adil, dia hidup dengan cara seperti orang yang harus merebut haknya yang dicuri oleh orang lain, yaitu dengan menghalalkan pencurian dan penistaan hak orang lain.
Ooh … jadi itu yang menjelaskan mengapa ada orang-orang yang mengakunya orang baik, tapi perilakunya jahiliah, ya Om?
Mungkin itu sebagian alasannya itu, tapi kita tidak ingin membahas itu lebih jauh sekarang. Kita fokus kepada memperbaiki rezeki kita masing-masing agar kita bisa hidup damai dan sejahtera bersama mereka yang kita cintai dan mencintai mereka.
Indah sekali ya Om?
Ya, tapi untuk mencapainya tidak mudah.
Mengapa?
Karena bagi banyak orang, menjadi orang tidak jujur, malas, berprasangka buruk, berharap rezeki dari jimat dan sembahan buatan manusia – lebih mudah daripada patuh kepada Tuhan.
Jadi, orang yang mengatakan menjalani nasihat itu sulit, adalah orang yang sulit meninggalkan keburukan?
Betul, tepat, dan mak jlebb!
Mengapa begitu ya Om?
Mereka menikmati kebiasaan buruk. Sehingga mereka marah jika dinasihati untuk memilih kebiasaan baru yang baik.
Kapan mereka sadar?
Jika Tuhan menerima kesungguhan mereka untuk kembali menjadi jiwa-jiwa baik yang patuh kepada kebaikan.
Jika tidak?
Yah tinggal kuat-kuatan saja, antara dia mempertahankan kebiasaan buruk, dengan kesabaran Tuhan yang tidak berbatas itu.
Jadi, orang bisa dari muda – lalu menua dalam kemiskinan dan penyakit, sampai tua dan mati?
Jangan sampai, tapi memang ada orang yang seperti berniat hidup seperti itu.
Ngeri amat ya Om?
Ya, itu sebabnya kita harus sabar – untuk tetap ada di sekitarnya, meneladankan kehidupan yang baik, mengundang mereka untuk ikut merayakan kehidupan yang baik, meskipun kita akan dimaki dan dicemooh.
Super sekali!
Terima kasih. Itu dengar dari mana dapat istilah ‘Super sekali!’
Loh, masa’ Om gak pernah nonton di Metro TV, setiap Minggu, jam 19:05 – 20:30 WIB. Itu ada acara keren banget Om. Yang bawain acaranya cakep. Masa’ gak pernah lihat? Itu udah mainstream banget sekarang Om?
Oh ya? Wah, saya ini kurang bergaul. Besok saya nonton deh?!
OK Om, nanti setelah nonton kita banding-bandingin catetan ya?
OK, sampai nanti ya? Love you!

Selasa, 14 Agustus 2012

Awal Cerita Menjadi Motivator

PART FOUR

MENGATASI RASA MINDER SAAT MUDA DAN MISKIN

Pak Mario khan berasal dari keluarga yang bersahaja, apakah ada perasaan minder?
Ya, dan bahkan pada beberapa kesempatan menjadi sangat menyiksa dan membatasi kebebasan mental saya?
Maksudnya?
Saya bahkan malu melihat bayangan diri saya di kaca toko, saat saya berjalan di Pecinan di kota Malang. Meskipun sekarang terasa agak aneh, tapi saya malu melihat diri saya yang miskin itu.
Kapan itu Pak?
Oh, saat saya kelas 6 SD.
Apakah ada keinginan untuk menjadi orang kaya, waktu itu?
Tidak ada. Tidak terpikir bagi saya bahwa saya berhak dan bisa menjadi orang yang mampu membiayai kehidupan yang baik.
Apakah itu lazim dirasakan oleh orang yang lemah ekonominya?
Ya. Banyak orang miskin, termasuk saya sendiri saat itu, telah demikian lama di-minder-kan oleh kekurangan, sampai tidak merasa berhak untuk mencapai kesejahteraan.
Sampai segitunya ya Pak?
Ya. Suatu sore, saya berjalan di depan warung bakso, di Pecinan juga, saya melihat bayangan diri saya yang lusuh, dan ada pertanyaan di hati saya yang muda dan galau itu: "Apakah aku akan pernah duduk di dalam dan makan bakso yang kelihatannya mahal dan enak itu?"
Terus, bagaimana Anda naik kelas dalam rasa percaya diri, dari ke-minder-an seperti itu, menjadi pembicara publik seperti sekarang ini?
Hmm … itu sebuah perjalanan yang panjang sekali.
Berapa panjang?
Dari kelas 6 SD, … 42 tahun.
42 tahun?
Ya. Saat itu saya 13 tahun, sekarang 55 tahun.
Jadi untuk sukses itu lama ya Pak?
Bukan lama, tapi sepanjang hidup.
Khoq bisa begitu?
Keberhasilan itu bukan kualitas satu malam, satu minggu, atau satu tahun. Keberhasilan adalah kualitas kehidupan, bukan keadaan di satu saat saja.
Apakah itu seperti ungkapan, bahwa "Mempertahankan rekor, lebih sulit daripada memecahkan rekor?"
Ya. Karena untuk berhasil satu hari - itu sangat mudah, jika dibandingkan dengan keharusan memelihara keberhasilan sepanjang hidup.
Apakah kita harus berhasil sepanjang hidup?
Tidak harus, pada awalnya. Tapi jika bisa, berhasillah semuda mungkin. Lalu tetaplah berhasil sampai akhir hayat.
Hmm … saya tidak pernah terpikirkan sampai sejauh itu.
Yah … bagi saya itu dulu juga tidak terpikirkan. Itu baru saya mengerti setelah hidup beberapa puluh tahun.
Jadi saya untung dong, Pak? Sudah tahu sejak muda, karena diberitahu Pak Mario.
Ya. Berterima kasihlah kepada Tuhan. Saat saya muda dulu, tidak ada motivator yang menyelenggarakan pelayanan publik yang luas, dan cuma-cuma - lagi.
Kembali ke soal minder. Bagaimana awalnya Pak Mario menemukan anak tangga naik yang pertama.

Saat saya memenangkan beasiswa untuk pertukaran siswa SMA ke Chicago, Amerika, pada tahun ketiga SMA saya di Malang, sebetulnya sudah mulai ada suara-suara kecil di dasar hati saya yang meloncat-loncat girang memberitahu saya, bahwa saya bukan pribadi kelas gang kecil di Jalan Mergosono di Malang. Tapi kesahajaan hidup menyebabkan saya lamban bergembira merayakan kenaikan kelas.
Pak Mario sekarang melayani jutaan publik di seluruh dunia, motivator dengan Facebook fans terbesar di dunia, dengan lebih dari 12.5 juta instances atas nama Mario Teguh di Google, penyelenggara program TV nasional yang disiarkan via internet ke seluruh dunia, dan wirausahawan yang mandiri; apakah Anda sudah naik kelas?
Alhamdulliah, saya sudah diijinkan untuk lebih berwenang melayani sesama.
Apakah Pak Mario sudah meninggalkan kelas gang kecil di kampung?
Tidak. Saya masih anak Ibu Sitti Marwiyah dan Pak Gozali Teguh, yang insya Allah masih memelihara kepolosan hati Mario Muda itu. Saya masih seperti yang dulu, … che ileee …, lebay.com
He he he …
Sikap apa yang Pak Mario gunakan untuk membuat kami yang muda ini merasa dekat dengan Anda?
Kalau saya ini kacang, saya tidak akan melupakan kulit saya.
Yang a-r-t-i-n-y-a …
Hidup ini tidak boleh sederhana.
Hidup ini harus hebat, kuat, luas, besar, dan bermanfaat.
Yang sederhana itu sikapnya.
Wah itu super sekali Pak? Apakah bisa diuraikan lebih rinci?
Yah, itu nanti ya?
Sekarang sana gih, jadikan dirimu berguna. Belajar dan bekerjalah untuk membahagiakan sesamamu.
Love you!

Mario Teguh - Loving you all as always

Minggu, 19 Februari 2012

Awal Cerita Menjadi Motivator

Part THREE

MEMPEKERJAKAN DIRI SENDIRI

Pak Mario berasal dari keluarga yang bersahaja, bagaimana cara membiayai pendidikan yang beragam dan tinggi itu? Apakah Pak Mario berbisnis untuk membiayai pendidikan di perguruan tinggi.

Dalam pengertian umum, mungkin tidak bisa disebut berbisnis. Tapi bagi seorang mahasiswa yang harus mencari uang untuk membiayai kuliah dan kegiatannya, saya MEMPEKERJAKAN DIRI SENDIRI.

Maksudnya?

Bukankah sekarang banyak sekali orang yang menganggur, karena MENUNGGU DIPEKERJAKAN oleh orang lain?

Jadi Pak Mario mempekerjakan diri Anda sendiri?

Betul. Saya mendatangi orang, menceritakan yang bisa saya lakukan untuk membantu mereka berbicara dalam bahasa Inggris dengan lebih baik. Saya menjual jasa sebagai guru les bahasa Inggris.

Apakah Anda sudah menguasai bahasa Inggris saat itu?

Yah, lumayan. Saya mahasiswa IKIP Malang, jurusan Bahasa Inggris, dan lulusan SMA di Chicago, dari beasiswa pertukaran siswa internasional. Sehingga, tata bahasa dan kefasihan bicara sudah lumayan memadai untuk menjadi guru les bahasa Inggris.

Apakah Pak Mario memiliki sekolah atau kelas untuk mengajar?

Tidak. Saya yang harus beredar menemui para murid di rumah-rumah mereka.

Bagaimana caranya?

Saya naik motor saya yang tua itu, dengan jaket untuk menahan udara dingin kota Malang, atau jas hujan di musim hujan.

Suka dukanya apa Pak?

Sukanya, kalau dibayar, walau kecil, karena berarti saya bisa membeli buku yang bagus atau membeli alat-alat untuk hobi seni dan teknik saya.

Dukanya?

Kalau muridnya malas berlatih, tapi memaksa saya membuatnya langsung bisa bicara dengan lancar. Tapi juga ada bahayanya.

Apa bahayanya?

Kalau saya pakai jas hujan, saya pakai terbalik - dengan kancing di punggung saya, karena bagian belakang jas bisa menutupi dada dengan lebih baik. Tapi, kalau saya jatuh dari motor, orang yang menolong saya bisa mengira kepala saya terputar, lalu memutar kepala saya mengikuti kancing jas hujan di punggung saya.

He he he … memang bisa bahaya ya Pak?
Jadi itu ya konsep MEMPEKERJAKAN DIRI SENDIRI.
Apakah Pak Mario masih mempekerjakan diri sendiri sampai sekarang?

Ya, hanya saya tidak lagi mempekerjakan diri sendiri untuk kepentingan sendiri, tapi juga untuk kebahagiaan sesama.

Saya yakin pasti Pak Mario tidak dibayar semurah dulu. Bagaimana cara meningkatkan harga?

Kita akan bahas cara untuk menaikkan harga pribadi kita dalam interview yang lain ya?
Tapi ini konsepnya:
Jika kita memulai dengan harga yang rendah, dan pelanggan merasa puas dengan layanan kita, kita akan menerima permintaan yang lebih banyak daripada kemampuan kita untuk memenuhinya.

Terus bagaimana?

Kita terpaksa menaikkan harga. Tapi jika kita juga menaikkan kelas kemampuan pelayanan kita, dan pelanggan kita puas, kita akan tetap kebanjiran pesanan.

Terus?

Yah, naikkan harga lagi.

Apa itu tidak sadis?

Bisa dilihat begitu, tapi kita jadinya menyediakan kesempatan kepada trainer atau konsultan muda untuk 'menjual dan melayani' pembeli yang hanya bisa membayar di bawah harga kita.

Pak Mario sudah sering menaikkan harga?

Saya tidak pernah. Tapi Ibu Linna dan Team Management yang menetapkan harga dan jadwal saya berbicara. Jadi mereka yang menetapkan strategi harga pelayanan saya.

Berapa kali Pak Mario berbicara dalam sebulan?

Hanya sekitar 10 hari, karena saya harus menyediakan diri untuk melayani saudara dan sahabat kita yang belum mudah membayar.

Mengapa Pak Mario tidak mencari uang 100%?
Khan sayang ada 20 hari lagi tidak digunakan untuk cari uang.

Cari uang dan cari kebaikan itu beda.
Uang itu jumlahnya bisa sama, tapi rasanya beda.
Kebaikan selalu bernilai lebih besar daripada uang.

Kami menikmati MTGW, MTFB dan pelayan MTSC yang lain dengan cuma-cuma, kami mengambil keuntungan dengan gratis, apakah Pak Mario tidak rugi?

Jika orang lain untung karena yang saya lakukan, bagaimana mungkin saya rugi?

Bagaimana … bagaimana?

Jika Anda saya untungkan, saya tidak mungkin rugi.
Karena keuntungan Anda adalah juga keuntungan saya.

Khoq bisa gitu?

Hadiah pertama bagi yang melakukan kebaikan, adalah kebaikan.
Kebaikan yang Anda lakukan adalah untuk Anda.
Dan keburukan yang dilakukan oleh orang lain, adalah untuknya.

Bagaimana caranya bisa ikhlas?

Ikhlas.

Semudah itu?

Tidak. Ikhlas itu tidak mudah.

Hmm … hidup ini tidak seindah kata-kata.

Salah, maaf ya?
Hidup ini lebih indah daripada yang bisa kita katakan.

Hmm … Pak Mario ini makannya apa sih?

Macam-macam, yang pasti bukan kroto.
Tapi, terima kasih atas perhatian baik Anda atas gizi saya.

Terima kasih Pak Mario, apakah Pak Mario bisa ceritakan awal percintaan Pak Mario dengan Ibu Linna?

He he … pasti bisa, tapi kita simpan untuk interview berikutnya ya?

---------------

Awal Cerita Menjadi Motivator

Part TWO
APAKAH ANDA BERBISNIS SEJAK MUDA?

Apakah Pak Mario sudah berbisnis sejak muda?

Sebagai penerima beasiswa untuk satu tahun di sebuah SMA di Chicago, saya tidak mungkin menerima uang saku bulanan dari keluarga saya yang bersahaja di Jalan Mergosono Gang 5 di Malang.
Jadi saya harus mencari uang untuk membeli buku dan turut serta dalam kegiatan sosial dari anak-anak remaja di Amerika.

Bagaimana memulainya?

Sore hari, sepulang sekolah saya berjalan ke bagian belakang dari rumah-rumah di sekitar tempat di mana saya dititipkan, karena ibu-ibu sedang menyiapkan makan malam di dapur - yang biasanya berada di bagian belakang rumah.

Apa yang Anda lakukan?

Saya berdiri menengadah, tersenyum selebar mungkin, lalu dengan bahasa Inggris yang masih patah-patah dan suara yang happy tapi melas, saya katakan:
"Hi, my name is Mario. I stay at 21xx Willow Road, my number is 446-66xx. If you need your toilet, floors, or carpets to be cleaned, please call me."

Langsung diberi pekerjaan?

Tidak. Tapi saya meneruskan perjalanan ke rumah-rumah sekitar kompleks itu. Beberapa hari pertama, tidak ada respon. Tapi saya tetap meneruskan, karena saya tahu keberhasilan membutuhkan kesabaran, karena hadiah dari upaya tidak langsung tersedia di awal upaya.

Terus?

Akhirnya, telepon berbunyi: "Hi, Mario? This is Mrs. Sabo. Would you be so kind to come over and help me with my carpets?"

Anda gembira?

Ooh … Anda tidak tahu rasa gembiranya orang yang upayanya mulai diperhatikan orang lain. Hari itu saya mendapat uang, memang sedikit, tapi maniiiiiis sekali rasanya.

Terus apa yang Anda lakukan?

Saya lupa berapa rumah yang mempekerjakan saya, untuk vacuum karpet, ngepel lantai, membersihkan dan memperbaiki toilet, memotong rumput, merapihkan taman, mengecat kusen dan jendela, membersihkan kandang anjing, memperbaiki pipa bocor, menambal atap yang bocor, atau duduk-duduk manis menemani kakek dan nenek untuk mendengarkan cerita mereka yang sama dan berulang.

Apakah Anda memang bisa melakukan itu semua?

Mana ada orang yang bisa melakukan yang belum pernah dilakukannya? Jadi saya belajar sambil melakukan. Kalau kita menunggu sudah bisa, baru mau melakukan, kapan mulainya?

Anda sangat mandiri sejak muda?

Tidak. Sebetulnya saya sangat manja, penakut, minder, penggembira yang mudah bersedih, pemimpi yang minder, yang rencananya banyak tapi malas. Tapi kemiskinan mengharuskan kita mandiri, yang sesungguhnya satu-satunya kualitas yang menjadikan kita dihormati di masa dewasa. Kemandirian.

Lalu, bagaimana Anda bangkit dari sifat-sifat yang seperti itu? Apakah sifat-sifat itu sudah sama sekali hilang dari pribadi Mario Teguh?
----------- Part THREE

Awal Cerita Menjadi Motivator

Part ONE

Pak Mario, apakah Pak Mario melihat diri Anda sendiri pandai?

Tidak. Saya tidak pernah merasa pandai.

Apakah Pak Mario pernah juara kelas?

Tidak. Tapi pernah juara 3 waktu masih SD, tidak jelas pada kelas berapa.

Nilai Anda selalu tinggi?

Tidak. Di kelas 2 SMP III Malang, saya pernah dapat nilai merah, untuk 5 mata pelajaran. Di SMA, saya lulus dengan IPK kalau tidak salah rata-rata 3.56. Tapi itu bukan karena saya pandai, mungkin karena saya disayangi para guru. Habis waktu itu saya agak unyu-unyu. (ge-er.com)

Di perguruan tinggi bagaimana?

Saya lulus karena doa orang tua, dan mungkin karena wajah saya yang memelas. Saya lulus SMA di Chicago, dapat S1 dari IKIP Malang, kemudian dapat sertifikat untuk satu semester di Sophia University di Tokyo, dan MBA dari Indiana University. Semua sekolah di luar negeri itu saya dapatkan dari mengikuti dan menang kontes untuk beasiswa bagi siswa asing.

Berarti orang tua Anda kaya?

Lho? Itu semua dari beasiswa yang saya menangkan dari mengikuti kontes internasional. Keluarga kami sangat bersahaja. Saya anak pertama dari seorang pensiunan Kapten dari Angkatan Darat, yang membiayai ke 5 anak-anaknya.

Banyak dari kami mengira Pak Mario anak orang kaya yang tidak pernah merasakan kemiskinan.

Hmm … apakah Anda tidak melihat sisa-sisa kemiskinan di wajah saya?

He he .. iya, masih kelihatan.
Tapi, apakah kemiskinan menyiksa Anda?

Pada saat saya masih kecil, saya tidak mengerti apa itu kemiskinan. Tapi menjelang remaja, saya sudah mulai merasakan batasan-batasan yang menghadang keinginan seorang remaja untuk sarana dan pembiayaan pendidikan atau gaya hidup yang sesuai dengan impian dan harapannya.

Apakah ada penyesalan?

Saya tidak menyesali, karena itu sama dengan menyalahkan orang tua saya atas kelemahan kami. Saya hanya marah, entah kepada siapa. Tapi tenaga kemarahan itu saya gunakan untuk belajar, aktif dalam organisasi sekolah dan kampus, mengembangkan hobi teknik dan ketertarikan saya dalam seni lukis.

Anda pelukis?

Mungkin tidak sepenuhnya, tapi saya membiayai sekolah saya di SMA di Chicaga dan MBA di Indiana University dengan melukis, menjadi pelayan di restauran, memotong rumput dan mengecat rumah di sekitar kampus.

Apakah Anda berbisnis sejak muda?

----------- Part TWO