Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Jumat, 28 September 2012

Kisah Nilai Seikat Kembang


Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum.

Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata,"Pak, maukah Anda
menemui wanita yang ada di mobil itu? Tolonglah Pak,karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal!"

Penjaga kuburan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu.

Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan
itu sambil berkata, " Saya Ny . Steven. Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan
menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk
berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda.
Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya."

"O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang
yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda." jawab pria itu.

"Apa, maaf?" tanya wanita itu dengan gusar.

"Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan seikat kembang.

Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih.
Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka
dapat menikmati keindahan dan keharuman kembang-kembang itu, Nyonya," jawab pria itu.

Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan.

"Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny.Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu.
Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan
mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal.

Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia.

Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!"

Renungan :
Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena
mengasihani diri sendiri akan membuat kita
terperangkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang
mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu
dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong
diri sendiri.

Nasihat Bijak untuk Anak


Pada suatu hari, di sebuah sekolah menengah. Saat jam istirahat, ada perkelahian antara dua murid laki-laki di kelas. Kerumunan murid pun berakhir saat seorang guru datang menengahi dan melerai mereka. Tidak lama k
emudian, saat pelajaran berikutnya akan dimulai, Kepala Sekolah sekolah masuk ke kelas tersebut dan langsung menyampaikan maksud kedatangannya.

"Andika, kamu nanti datang kantor Bapak, jam 3 sore."Seisi kelas terdiam sedangkan murid yang dimaksud seketika berwajah pucat pasi.

"Baik Pak," ia menjawab lemah. Habis aku! Pasti akan dimarahi dan dikenai sanksi gara-gara perkelahian tadi, begitu pikir Andika.

Tepat pukul 3 sore, Andika telah ada di depan kantor dan mengetuk pintu ruangan kepala sekolah. Jantungnya berdegup keras dan tubuhnya serasa lunglai.

"Masuk!" terdengar suara dari dalam. Andika pun masuk. Dengan takut-takut, ia berdiri dekat meja kepala sekolah, sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Duduklah Andika. Kamu tentu sudah bisa menebak, kenapa Bapak memanggilmu kan? Tentu berkaitan dengan perkelahianmu tadi," kata kepala sekolah yang diikuti anggukan kepala Andika.

Lanjutnya, "Andika telah melanggar peraturan tentang tidak boleh berkelahi di dalam lingkungan sekolah, apalagi di kelas. Tetapi ada beberapa hal yang ingin bapak sampaikan berkaitan dengan kasusmu ini. Pertama, bapak senang kamu datang tepat waktu, itu menunjukkan kamu adalah anak yang disiplin." Beliau membuka laci mejanya, mengambil sebuah permen, dan meletakkannya di meja.

"Kedua, bapak menghargai kedatanganmu saat ini. Artinya kamu menghargai bapak sebagai guru dan kepala sekolahmu. Kamu adalah anak yang berjiwa besar dan siap bertanggung jawab. Betul begitu Andika?' Kembali Andika mengiyakan dalam diam. Beliau mengambil permen dan meletakkannya lagi di meja.

"Bapak sudah berbicara dengan guru yang melerai perkelahian dan mendengar dari beberapa temanmu. Kamu berkelahi dengan Rudi karena membela teman perempuan yang dilecehkan olehnya. Benar begitu? Bapak salut. Ini pertanda kamu adalah seorang gentleman, laki-laki sejati. Tapi ingat: berkelahi bukanlah pilihan untuk menyelesaikan masalah. Andika harus lebih bijak dan jelas, bukan dengan berkelahi seperti tadi." Kepala sekolah meletakkan sebuah permen lagi di atas meja.

"Nah yang terakhir, karakter positif yang telah Andika tunjukkan hari ini harus dipertahankan dan dikembangkan di masa depan. Bapak yakin kamu akan berubah dan akan maju di kemudian hari. Belajar lebih baik Andika, oke?" Sambil tersenyum, beliau menambahkan satu buah permen lagi di meja dan menyodorkan permen-permen tersebut ke arah Andika. "Ambillah hadiah dan kenang-kenangan dari Bapak ini!"

Andika yang awalnya ketakutan akan mendapat hukuman, dan tidak menyangka justru mendapat "penghargaan" dari kepala sekolahnya, mengangguk mantap. "Terima kasih Pak. Saya sangat terkejut. Bapak tidak menghukum saya bahkanmemuji dan menghargai saya. Saya berjanji, pasti berubah dan akan lebih rajin belajar untuk masa depan saya sendiri."

Renungan.

Betapa pentingnya nilai budi pekerti ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Kita tahu, mereka kadang melakukan kesalahan tetapi kalau cara kita sekadar keras dengan hanya menghukum tanpa diberi pengertian yang baik, tentu akan melahirkan ketidaksehatan perkembangan mental. Antara lain, bisa menimbulkan sakit hati, dendam, kebencian,depresi, putus asa, dan sifat-sifar negatif lainnya.

Akan tetapi bila kita mampu memberikan pengertian sekaligus menanamkan budi pekerti yang baik, sekalipun ada hukuman, tetap nilainya akan berbeda. Harga diri dan kepercayaan diri anak-anak tetap terjaga dan sangat positif dalam pertumbuhan di kehidupan mereka selanjutnya.

Kata2 Perenungan Master Cheng Yen







Sifat Welas Asih dan Kejujuran

Dengan sifat welas asih dan kejujuran, maka akan membangkitkan sifat watak dasar manusia yang baik. Seorang yang welas asih, keinginan hatinya adalah untuk membebaskan semua umat dari penderitaan tanpa memikirkan dirinya sendiri.

Seekor induk rusa ketika kedua anaknya sudah mulai belajar berjalan, pagi buta ketika kedua anaknya masih tidur sudah keluar mencari makanan.

Dia bermaksud setelah pulang dari mencari makanan akan mengajar anak-anaknya mencari makan serta menjaga diri menghindari dari bahaya.
Setelah mendapat makanan rumput hijau yang segar, saat perjalanan pulang dia terjebak dalam perangkap yang dibuat oleh pemburu. Induk rusa itu sambil menangis memikirkan kedua anaknya.

Pemburu akhirnya tiba, induk rusa berlutut memohon kepada pemburu untuk membiarkannya pulang ke rumah memberi makan serta mengajari anaknya mencari makan, dia berjanji keesokkan harinya akan kembali  ke sini menyerahkan diri.

Pemburu melihat rusa ini dapat berbicara, di dalam hatinya sangat terkejut dan gembira. Dia memutuskan akan mempersembahkan rusa ajaib ini kepada raja, supaya dia menjadi terkenal dan mendapat hadiah dari raja. Tetapi setelah berpikir sejenak, dia berubah pikiran dan melepaskan induk rusa pulang.

Induk rusa bergegas berlari pulang, suasana hatinya sangat sedih memikirkan kedua anaknya. Setelah sampai dirumah dia berkata kepada kedua anaknya, “Anak ku, mama akan menceritakan sebuah kebenaran dan ketidakkekalan di dunia ini kepada kalian. Jika kalian sudah memahami kebenaran ini, maka kelak jika kalian menghadapi masalah apa pun kalian nantinya tidak akan terlalu sedih lagi. Kalian harus ingat hidup ini sangat singkat, segalanya akan berubah tidak pernah abadi, nilai dari keluarga, kasih sayang semuanya tidak abadi….,” ujar induk rusa itu.

Anak-anaknya sambil menangis bertanya, “Lalu kenapa mama masih harus menepati janji kepada orang jahat tersebut?." Induk rusa berkata, “Tanpa Iman, dunia akan hancur, tidak ada kejujuran dunia akan runtuh, demi kelangsungan dan harapan dunia, saya rela berkorban, daripada menipu orang lain. Mama rela mati demi integritas dari pada menipu untuk hidup.”

Setelah selesai berkata, sambil menahan tangisannya induk rusa berlari keluar. Anak-anak rusa pun mengejarnya dengan sekuat tenaga. Ketika sang Pemburu melihat induk rusa memenuhi janjinya datang kembali, dia menjadi sangat terharu. Dengan tangan merangkap di depan dada dan berlutut dia berkata kepada induk rusa, “Engkau bukan seekor rusa biasa, engkau pasti jelmaan dari Budha.”

“Welas asihmu membuat orang sangat terharu, kejujuran dan imanmu membuat saya sangat malu. Silahkan engkau kembali, saya tidak akan menyakiti Anda lagi dan bahkan mulai saat ini saya tidak akan menyakiti seekor binatang pun,” kata si pemburu itu.

Dari cerita di atas diketahui bahwa sifat welas asih dan kejujuran dari induk rusa ini akhirnya membangkitkan niat baik serta membangkitkan watak dasar dan sisi baik dari pemburu tersebut.

REGRET-Inspiring Stories

Regret-Inspiring-Stories

Once, a group of people were traveling on rocks at night. A voice came from the sky that whosoever picks up the rocks will regret and whosoever doesn't pick up the rocks will regret. Now, the people were confused. How can this be? Whether you pick up the rocks or not, you will regret!

Anyway, some people picked up the rocks and some didn't. In the morning when they reached their homes, they saw that the rocks turned into diamonds. Now, those people who didn't pick up the rocks started regretting saying, "If only we had picked up some rocks." Those people who did pick some rocks also started regretting saying, "Why didn't we pick up more rocks?" Both sides ended up regretting.

Dear Muslims, this same incident will take place with us on the Day of Judgment. Those people who spent their time in useless things will start regretting by looking at those who achieved a great position in Paradise by spending their time in the way of Allah (SWT). Now, those who did achieve a position in Paradise will start regretting by looking at those who did more than them and are higher in status. "Alas! If we had only done more to please Allah (SWT)."

Allah (SWT), the Majestic said: "And could you but see when the guilty shall hang down their heads before their Lord: Our Lord! We have seen and we have heard, therefore send us back, we will do good; surely (now) we are certain." Noble Qur'an (32:12)

Keturunan Ikut Menanggung Akibatnya

Pada zaman dinasti Qing,  pada saat pemerintahan raja Qianlong di kota Jiangyin ada seorang pelajar yang pergi mengikuti ujian tingkat daerah.

Ketika babak pertama belum selesai, pagi-pagi buta dia sudah mengemasi barang-barangnya bermaksud untuk meninggalkan kota tersebut.

Pengikut ujian yang duduk di sebelahnya merasa heran karena mengetahui bahwa dia belum menyelesaikan jawaban ujian sudah akan pergi. Lalu dia bertanya kepadanya, " kenapa ujianmu belum selesai sudah mau pergi ?" Pelajar ini dengan wajah sedih di depan para peserta ujian menceritakan alasannya meninggalkan ujian.

Rupanya ayahnya seumur hidupnya adalah seorang pejabat. Setelah ayahnya pensiun, beliau pulang ke kampungnya. Setelah sampai di kampung, ayahnya memanggil mereka 4 bersaudara ke hadapannya, dengan menangis sedih dia berkata kepada anak-anaknya, “Seumur hidup saya telah banyak melakukan kesalahan,  ketika menjadi hakim saya menerima suap sehingga menyebabkan 2 orang yang tidak bersalah di hukum mati.”

“Semalam saya bermimpi dibawa kehadapan raja neraka, seharusnya saya segera menerima hukuman, tetapi karena orang tua saya dahulu telah berbuat banyak amal, sehingga saya hanya boleh mempunyai seorang anak, dan bahkan lima kali reinkarnasi menjadi orang  miskin seumur hidup.”

“Hukuman di neraka sedang menunggu saya dan tidak dapat dihapuskan, jika anak cucu saya menjadi pejabat lagi maka hanya akan menambah dosa saya. Saya harap kalian tidak menjadi pejabat, kalian semua harus banyak berbuat amal untuk menebus dosa-dosa saya,” kisahnya.

Setelah selesai berkata ayahnya meninggal, akhirnya 3 saudaranya yang lain berturut-turut juga meninggal, hanya tinggal dia sendiri yang hidup. Dia telah mengikuti ujian menjadi pejabat selama 2 kali,  tetapi tidak lulus. 

Sehingga ketika mengikuti ujian sekali ini dan sebelum menyerahkan jawaban ujian semalam dia bermimpi, ayahnya dengan marah datang kepadanya dan berkata, “Engkau tidak boleh menentang kehendak Tuhan, kenapa engkau tidak ingat pesan saya sehingga menyebabkan dosa saya semakin besar.” Setelah berkata demikian dengan marah, dia mematikan lilin dan membalikkan meja serta semua kertas ujian, lalu menghilang.

Pelajar ini lalu melanjutkan bercerita, “Saya telah tiga kali gagal, saya sekarang menyadarinya saya tidak boleh membantah pesan ayah saya dan menyebabkan dia tambah susah, saya harus pergi ke kuil menjadi bhiksu dan berkultivasi untuk menyelamatkan arwah ayah saya.”

Semua orang setelah mendengar ceritanya menjadi tertegun, dan mengerti mengenai hubungan sebab akibat yakni berbuat baik mendapat pahala berbuat jahat akan mendapat karma.

Kebajikan Yang Dapat Merubah Nasib

Nasib seseorang dalam kehidupannya seakan dari awal sudah dipastikan dan pada umumnya sulit keluar dari jalur nasib yang telah ditentukan ? Ingin memperbaiki nasib, mudah dibicarakan namun sulit untuk dikerjakan. Walaupun dalam hati mengerti akan sebab-sebabnya, tetapi untuk mengerjakan secara konkrit akan terasa sangat sulit.

Sebab harus memberikan pengorbanan tertentu, korban waktu, pikiran, tenaga, uang, dll, pula harus dilaksanakan terus-menerus, barulah berhasil. Tidak sedikit orang yang pada permulaannya penuh dengan kepercayaan, tetapi setelah melalui satu jangka waktu tertentu, tetap tidak nampak hasilnya, maka ía putus asa. Timbullah keragu-raguan, bahkan melepaskan atau membatalkannya, ia lebih sudi menjadi hamba nasib, lalu dikatakannya “Terserah pada Thian (Tuhan)”. 

lnilah kesulitan manusia hendak mengungguli nasib, justru ada kesulitan ini, kian jelaslah keunggulannya dan nilainya. Pada hal, dengan mempunyai kepercayaan yang kuat, tekad yang teguh, sema­ngat yang kokoh, apapun kesulitannya, bagi orang ini tidak sulitlah memperbaiki nasibnya. 

Orang sering mengatakan, merokok dan mengonsumsi minuman keras serta cara hidup yang tidak baik akan mengurangi usia seseorang, namun studi terbaru menemukan, pengaruh dari perbuatan manusia sesudah lahir tersebut tidaklah begitu besar seperti yang dibayangkan, sebaliknya, seseorang begitu lahir, usianya telah ditentukan. 

Yuan Liaofan adalah seorang pria pada zaman Dinasti Ming masa pemerintahan Wanli dan ia tinggal di Wu Jiang wilayah selatan Sungai Yangtse. Kehidupan semasa remaja ia lalui dengan kondisi miskin, dan ia mempelajari ilmu kedokteran untuk menyambung hidup.

Suatu hari ia berkenalan dengan seorang master ilmu Konfusius berjenggot panjang yang mahir dalam ilmu meramal. 

Si master Konfusianisme meramal nasibnya yakni pada tahun depan (kedua) ia akan lulus ujian kelompok taruna di kabupaten dan menduduki peringkat-14. Pada ujian pemerintah ia peringkat-71 dan peringkat ke-9 untuk ujian lanjutan, juga ditentukan ia tidak berhasil pada ujian akhir dan hanya menjabat sebagai pejabat kecil selama 3 tahun. Umurnya hanya mencapai 53 tahun dan pada tanggal 14 bulan ke delapan akhirnya wafat serta tidak memiliki keturunan. 

Ketika memasuki tahun kedua, tiga ujian yang diramal oleh master Konfusianisme semuanya terbukti. Kemudian waktu berlalu 20 tahun, berbagai macam nasib baik maupun buruk yang dihitung oleh si peramal semuanya terbukti, maka Yuan Liaofan sangat memercayai bahwa kemajuan-kemunduran-musibah-berkah dari kehidupan manusia merupakan sesuatu yang sudah pasti, sepertinya tak bisa dipaksakan untuk diubah.  

Suatu ketika Yuan Liaofan bertemu seorang biksu Zen bernama Yun Gu (Lembah Awan) di Gunung Qixia, Nanjing. Sang biksu bertanya “Manusia biasa tak mampu menjadi orang arif bijaksana, terutama karena terjerat terus-menerus oleh gangguan pikiran satu dan lainnya. Anda bahkan telah duduk selama tiga hari di sini, tapi tidak terlihat gangguan sedikit pun?” 

Maka Yuan mengisahkan tentang pengalaman hidupnya, sang biksu Zen setelah mendengar ia tertawa lepas. “Saya menganggap Anda seorang jagoan, ternyata hanyalah seorang biasa-biasa saja. Karena perhitungan nasib hanya berlaku bagi manusia biasa pada umumnya, namun tidak berlaku bagi manusia yang ekstrem jahat atau manusia yang penuh kebajikan.” 

Kemudian biksu Zen menjelaskan tentang prinsip imbalan “siklus perbuatan sebab-akibat dan baik-buruk”, juga penjelasan rinci tentang prinsip mengubah kehidupan: “nasib - dibuat sendiri oleh saya, berkah - diri sendiri yang memperolehnya”.

Maka Yuan Liaofan bertekad mengubah diri secara total dan melakukan banyak kebajikan. Ia bersujud di hadapan sang Buddha, dengan tulus bertaubat tentang kesalahan diri sendiri, dan bersumpah akan melakukan 3.000 kebajikan, serta mendaftar ulang ujian pemerintah. 

Setiap hari ia mencatat hal baik-buruk yang ia ucapkan dan lakukan, dengan tujuan untuk diubah bila ada yang salah. Tidak sampai 2 tahun, meskipun 3.000 kebajikan belum genap, namun ia sudah berhasil dalam ujian awal, sehingga perhitungan nasib master Konfusianisme itupun telah berubah. Namun karena ia belum konsisten benar, kebajikan yang ia lakukan terkadang bukanlah suatu hal bajik, maka berkahnya jadi impas, setelah ia menggunakan waktu 10 tahun lamanya baru berhasil melaksanakan 3.000 kebajikan, dan saat itu Yuan Liaofan telah sukses dalam ujian akhir pemerintah dan menjadi pejabat setingkat kebupaten. 
 
Kala itu, ia secara mendalam menyadari manfaat dengan rajin mengumpulkan perbuatan baik, maka ia lagi-lagi bersumpah melakukan 3.000 tindakan kebajikan, agar mendapatkan keturunan, ternyata tidak sampai setengah tahun, ia yang sudah nyaris berusia setengah abad berhasil dikaruniai seorang anak. Sejak saat itu, Yuan Liaofan setiap hari membaca kitab suci dan menyebarkan perbuatan kebajian, akhirnya ia berhasil hidup hingga usia 74 tahun, sang putra pun berhasil lulus ujian akhir pemerintah. 

4 Wejangan Liaofan adalah 4 pasal surat yang ditulis untuk putranya ketika ia berusia 69 tahun, dengan keyakinan nasib sudah ditentukan, hanya saja dalam menghadapinya, jangan mengakuinya secara fatalistik, hendaknya secara aktif melakukan perbuatan baik agar dapat ditukar dengan selembar gambar genentik nasib yang sama sekali baru.