Saat Kita SADAR
Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.
Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini
Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."
Inilah Dunia Tanpa Batas
Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.
KISAH SAHABAT TERBAIK
Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.
Untuk Kesekian kalinya
Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata
Jumat, 30 Januari 2009
Selasa, 27 Januari 2009
Menembus Keterbatasan
tubuhnya.
Namun, apa yang terjadi bila ia dimasukan ke dalam sebuah kotak
Korek api kosong lalu dibiarkan disana selama satu hingga dua minggu?
Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak Korek
api saja!
Kemampuannya melompat 300 kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang.
Ini yang terjadi. Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api ia
mencoba melompat tinggi. Tapi ia terbentur dinding kotak korek api.
Ia mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus begitu sehingga ia mulai
ragu akan kemampuannya sendiri.
Ia mulai berpikir, "Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya
segini."
Kemudian loncatannya disesuaikan dengan tinggi kotak korek api. Aman.
Dia tidak membentur.
Saat itulah dia menjadi sangat yakin, "Nah benar kan ? Kemampuan saya
memang cuma segini. Inilah saya!"
Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih
terus merasa bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak
korek api.
Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat. Kemampuan yang
sesungguhnya tidak tampak. Kehidupannya telah dibatasi oleh
lingkungannya.
Sesungguhnya di dalam diri kita juga banyak kotak korek api.
Misalnya anda memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan
memadai. Dia tipe orang yang selalu takut tersaingi bawahannya,
sehingga dia sengaja menghambat perkembangan karir kita. Ketika anda
mencoba melompat tinggi, dia tidak pernah memuji, bahkan justru
tersinggung.
Dia adalah contoh kotak korek api yang bisa mengkerdilkan anda.
Teman kerja juga bisa jadi kotak korek api.
Coba ingat, ketika dia bicara begini, "Ngapain sih kamu kerja keras
seperti itu, kamu nggak bakalan dipromosikan, kok."
Ingat! Mereka adalah kotak korek api.
Mereka bisa menghambat perkembangan potensi diri Anda.
Korek api juga bisa berbentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna,
tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagianya.
Bila semua itu menjadi kotak korek api maka akan menghambat prestasi
dan kemampuan anda yang sesungguhnya tidak tercermin dalam aktivitas
sehari-hari.
Bila potensi anda yang sesungguhnya ingin muncul, anda harus take
action untuk menembus kotak korek api itu.
Lihatlah Ucok Baba, dengan tinggi tubuh yang di bawah rata-rata ia
mampu menjadi presenter di televisi.
Andapun pasti kenal Helen Keller. Dengan mata yang buta, tuli dan
"gagu" dia mampu lulus dari Harvard University.
Bill Gates tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu
menjadi "raja" komputer.
Andre Wongso, tidak menamatkan sekolah dasar namun mampu menjadi
motivator nomor satu di Indonesia .
Contoh lain Meneg BUMN, Bapak Sugiharto, yang pernah menjadi seorang
pengasong, tukang parkir dan kuli di Pelabuhan. Kemiskinan tidak
menghambatnya untuk terus maju. Bahkan sebelum menjadi menteri beliau
pernah menjadi eksekutif di salah satu perusahaan ternama.
Begitu pula dengan Nelson Mandela. Ia menjadi presiden Afrika Selatan
setelah usianya lewat 65 tahun.
Kolonel Sanders sukses membangun jaringan restoran fast food ketika
usianya sudah lebih dari 62 tahun.
Nah, bila anda masih terkungkung dengan kotak korek api, pada
hakekatnya anda masih terjajah. Orang-orang seperti Ucok Baba,
Helen Keller, Andre Wongso, Sugiharto, Bill Gates dan Nelson Mandela
adalah orang yang mampu menembus kungkungan kotak korek api.
Merekalah contoh sosok orang yang merdeka, sehingga mampu menembus
berbagai keterbatasan.
BREAK YOUR BORDER . . . . TOUCH THE SKY . . . . !
Selasa, 20 Januari 2009
KESERAKAHAN: JALAN CEPAT MENUJU NERAKA
“Godaan utama dari kegiatan merapikan taman kehidupan adalah keserakahan untuk mau kuat tetapi tanpa ada cobaan.”
- Gede Prama
“Jangan percayai apa pun. Di mana pun kau membacanya, atau siapa pun yang mengatakannya, bahkan seandainya aku yang mengatakannya, kecuali hal itu sesuai dengan alasanmu sendiri dan akal sehatmu sendiri.”
- Buddha
www.spiritual-motivasi.blogspot.com
Dunia keuangan kembali terguncang, ketika terungkapnya kasus Ponzy scheme atau money game yang dilakukan Bernard Madoff, mantan kepala bursa efek NASDAQ, Amerika Serikat. Madoff berhasil “memperdayai” para kliennya dan mengumpulkan uang sebesar US $50 milyar untuk dirinya sendiri. Jumlah yang fantastis!
Yang menggelitik adalah ternyata praktik money game tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, tetapi juga di negara maju yang memiliki pengawasan yang ketat terhadap pasar keuangan, seperti Amerika Serikat.
Melihat korban-korban Madoff yang terdiri dari berbagai perusahaan investasi, bank-bank, dan para investor kenamaan mengungkapkan sebuah fakta bahwa orang-orang dengan tingkat kecerdasan finansial yang tinggi pun dapat terjebak. Sebagaimana mungkin telah Anda tahu, hal ini membuktikan sifat dasar manusia yang serakah.
Sudah menjadi rahasia umum kalau manusia itu malas, tapi ingin cepat kaya. Hal inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh para penipu. Termasuk penipuan lewat pesan singkat yang sering terjadi belakangan ini. Keserakahan membuat orang gelap mata. Menyingkirkan rasional, membuat manusia terjebak dalam penderitaan.
Keserakahan ini asalnya dari pikiran. Pikiran selalu ingin dipuaskan. Tetapi, pikiran tidak pernah puas. Semakin kita berusaha memuaskan keinginan pikiran, keinginan kita akan merangkak naik meminta pemuasan yang lebih, dan lebih lagi. Tanpa mengenal batas.
Seperti dikatakan Eckhart Tolle dalam The Power of Now, “Pikiran merupakan sarana yang hebat, jika digunakan dengan benar. Namun, jika digunakan dengan salah, pikiran akan sangat merusak”. Akhirnya kita menjadi budak dari pikiran. Kebahagiaan hanya singgah sebentar. Datang cepat, pergi pun dengan sangat cepat.
Hasil akhirnya lebih banyak stres. Hidup yang tanpa arah dan pegangan. Maka larilah manusia pada berbagai tempat hiburan malam, makanan, rokok, perselingkuhan, bahkan obat terlarang.
Menyadari kenyataan itu, segelintir manusia bijak mengambil jalan lain, melampaui pikiran. Mereka menganjurkan untuk menempatkan pikiran hanya sebagai pembantu. Bukan pemimpin diri kita. Kita harus berlatih menjernihkan kesadaran. Berlatih mengamati pikiran kita, keserakahan, kecemburuan, kepahitan, kesinisan, dan kepercayaan kita sepanjang waktu.
Ketika kesadaran semakin meningkat, pikiran akan berkurang daya rusaknya. Pikiran akan dapat dikendalikan dengan mudah. Pikiran tidak lagi membanding-bandingkan dan menghakimi. Hidup berjalan apa adanya dan merangkul berbagai perbedaan. Hidup penuh keikhlasan dan rasa syukur. Seperti kata Gede Prama, “Dalam kepasrahan sekaligus keikhlasan, manusia justru mendapatkan segalanya.”
Pada tahap ini, hidup menjadi bahagia seutuhnya. Kebahagiaan tidak lagi datang dan pergi. Hidup menjadi kebahagiaan itu sendiri. Tidak ada baik-buruk, benar-salah, positif-negatif, semuanya hanyalah apa adanya. Ada keikhlasan dan kepasrahan serta suasana syukur di sana. Hidup menjadi sangat indah untuk dijalani.
www.spiritual-motivasi.blogspot.com *).
JIKA TERUS BERTUMBUH KITA AKAN MENJADI BESAR
- Dr. John F. Demartini
Guru The Secret
www.spiritual-motivasi.blogspot.com
Ada sebuah pohon Beringin yang berdiri kokoh di samping warung langganan saya mengisi perut. Pohon itu telah lama ada di sana. Namun, selama ini saya tidak memperhatikannya. Ketika melihatnya tadi siang, saya tersadarkan akan sebuah kenyataan yang selama ini saya lewatkan.
Ada beberapa warga yang berteduh di bawah pohon itu siang tadi. Sebagian besar dari mereka adalah tukang ojek. Di siang yang panas tadi, pohon Beringin memberikan naungan sebagai tempat berteduh. Di antara rantingnya nampak beberapa ekor burung sedang mencari makan. Daunnya yang hijau sangat meneduhkan setiap pasang mata yang memandangnya.
Saya teringat kenangan masa kecil dulu. Di dekat rumah ada sebatang pohon Beringin juga. Kalau musim berbuah banyak burung yang datang untuk memakannya. Saya sering memperhatikan buah-buah beringin yang jatuh. Buahnya kecil sekitar seukuran ibu jari. Di dalamnya terdapat banyak biji yang kecil-kecil di antara daging buahnya.
Saya ingat waktu itu merasa heran kenapa Beringin yang begitu besar hanya memiliki biji yang kecil-kecil. Kalah sama jagung yang lebih pendek.
Namun, dari biji yang sangat kecil tersebut, benih Beringin mulai tumbuh dan terus bertumbuh menjadi besar. Awalnya hanya memiliki beberapa helai daun. Akarnya juga masih pendek.
Seiring waktu berlalu, daunnya bertambah, ranting bertambah, akarnya juga ikut tumbuh menjadi banyak. Dengan akar yang lebih banyak, Beringin mampu mengisap zat makanan dengan jumlah yang juga lebih banyak sehingga pertumbuhannya semakin cepat.
Kala musim hujan dia bertumbuh. Musim panas datang, dia juga tetap bertahan dan terus bertumbuh. Kadang angin bertiup kencang memiringkan batangnya. Namun, dia tetap bertahan dan berusaha untuk kembali tegak berdiri. Beringin tidak menolak sama sekali segala “masalah” yang datang. Semua itu membuatnya semakin kuat.
Selain tumbuh ke atas, akarnya juga semakin dalam mencengkram tanah. Menyuplai makanan untuk kehidupannya. Sekaligus mempertahankan diri agar tidak tumbang ditiup angin.
Kadang juga ada orang iseng yang melukai batangnya. Tapi dia tetap menerima perlakuan itu. Tidak sedikit pun dia membalas atau menyalahkan. Dia tetap bertahan melewati itu semua. Luka yang tadinya dibuat oleh manusia-manusia iseng, dia sembuhkan lagi.
Akhirnya, dia menjadi semakin besar dan kokoh. Memberikan tempat berteduh di kala panas, bahkan untuk orang dulu melukai batangnya. Dahan dan rantingya menjadi tempat bersarang yang nyaman bagi burung. Di musim berbuah Beringin membuat burung-burung berpesta dengan buahnya yang melimpah.
Bayangkan dari sebutir benih yang sangat kecil awalnya, sekarang telah menjadi pohon yang berdiri kokoh. Yang dia lakukan hanyalah ikhlas menerima segala kejadian dan terus bertumbuh.
Nah, jika sekarang ini kita memiliki impian yang besar, namun merasa tidak mampu meraihnya, pikirkan tentang Beringin di atas. Kita sekarang mungkin seperti biji beringin yang sangat kecil. Namun, di dalam biji yang kecil itu tersimpan potensi untuk menjadi pohon yang besar dan kokoh.
Yang perlu kita lakukan hanyalah bertumbuh. Bertumbuh ke dalam dan ke luar. Dengan belajar dari berbagai guru, pakar, ahli, buku-buku dan berbagai sarana belajar lainnya, kita semakin bertumbuh ke luar. Dengan mempraktekkan apa yang kita pelajari dan ikhlas, tanpa kemelekatan, menerima apa pun hasil yang kita peroleh, kita semakin bertumbuh ke dalam.
Ibarat akar yang semakin kuat mencengkram bumi, pemahaman dan pengenalan diri merupakan hal penting yang menjamin kita tetap berdiri tegak menghadapi, hujan, badai, panas, dan berbagai kejadian hidup lainnya.
Setelah sekian tahun bertumbuh, kita akan menjadi pohon yang besar dan kokoh. Orang-orang akan datang berteduh di bawah rimbunnya daun kita. Burung-burung akan datang membuat sarang di antara ranting kita. Burung-burung juga akan berbondong-bondong datang memakan buah yang kita hasilkan. Kita menjadi daya tarik bagi banyak mahluk hidup lainnya.
Tapi yang harus kita perhatikan, bersediakah kita bertumbuh? www.spiritual-motivasi.blogspot.com *).
Minggu, 18 Januari 2009
Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.
Pak Tua :
"Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."
Tamu :"Kenapa kita merasa bosan?"
Pak Tua :"Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."
Tamu :"Bagaimana menghilangkan kebosanan?"
Pak Tua : "Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."
Tamu :"Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"
Pak Tua:"Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"
Tamu :"Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."
Pak Tua :"Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."
Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"
Pak Tua :
"Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.
Tamu :"Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"
Pak Tua :"Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."
Tamu :"Contohnya? "
Pak Tua :"Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.
Tamu :
"Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain
sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi.
Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"
Sambil tersenyum Pak Tua berkata:
"Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."
Hidup adalah Pilihan
Bibit yang kedua berguman..."Aku takut,jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini,aku tak tahu apa yang akan kutemui dibawah sana.Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas,bukankah nanti keindahan tunas2ku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak.Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka,dan siput2 mencoba untuk memakannya? Dan pasti jika aku tumbuh dan merekah,semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak! Akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman"...Dan bibit itupun menunggu dalam kesendirian.
Beberapa pekan kemudian seekor ayam mengais tanah itu,menemukan bibit yang kedua tadi dan menaploknya segera.
Memang selalu ada saja pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon2 yang harus kita jalani. Namun seringkali kita berada dalam kepesimisan,kengerian,keraguan,kebimbangan2 yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan2 untuk tak mau melangkah,tak mau menatap hidup.
Karena hidup adalah pilihan, maka hadapilah itu dengan gagah..Dan karena hidup adalah pilihan,maka pilihlah dengan bijak...
Rahasia si Untung
Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.
Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.
Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa?
Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.
Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:
1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan?
Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.
Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.
2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.
Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan.
Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara.
Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:
- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.
- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.
3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.
4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus.
Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.
Sekolah Keberuntungan.
Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School.
Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.
Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.
Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.
Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk termans semua.
Siap mulai menjadi si Untung?







