Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Rabu, 02 Oktober 2013

Jadikan Aku Seorang Pecinta


Apakah ibadah kita selama ini hanya sebuah bentuk pelarian dari masalah-masalah
Ibadah kita jadiakan seperti hunian kecil terpencil yang hanya kita singgahi ketika kita membutuhkan ketenangan,
yang kita datangi ketika dunia mulai terasa keras tak bersahabat.
Dan ketika masalah masalah itu mulai ringan dan terlupakan, kita kembali hanyut dan tenggelam

Apakah Kehidupan yang kita perjuangkan ternyata tak pernah membuat kita benar-benar hidup.
Kita terus diperbudak keinginan, terjebak dalam manisnya harapan.
Terus berlari, acuh tak perduli, Kita kehilangan arah dan tujuan sebenarnya,
Disetiap mimpi-mimpi hanya berkisah tentang indahnya dunia, disetiap doa-doa hanya berharap pada kebahagiaan fana.

Ya,,, tangis dalam doa doa malam hanya untuk meratapi kekurangan, dan doa doa pagi sebatas menggenapkan hari,
Kebaikan, kearifan, luhurnya budi pekerti hanya buah dari pengajaran pengajaran, semuanya tidak pernah benar benar keluar dari hati.

Tuhan tolong maafkan, karna ternyata cinta kami tidak pernah benar-benar nyata.
Tangis kami, ketakutan kami hanya sebatas pada azap yang kau akan timpakan
Cita-cita dan keinginan kami hanya berupa kebahagian, kami tidak pernah benar-benar rindu akan sebuah pertemuan.
Tuhan ajari kami, tuntun kami, tumbuhkan sebuah cinta suci, tanpa apa, tanpa kenapa, sebuah cinta yang ada karena Engaku semata.









Perempuan Madrasah Pertama Bagi Anak-Anak

Perempuan (ibu) adalah madrasah pertama bagi pendidikan seorang anak. Apa yang didapatkan oleh seorang anaknya pada masa-masa awalnya akan sangat berpengaruh ketika ia tumbuh besar kelak. Anak yang cenderung meniru apa yang dilihatnya. Hal tersebut bergantung sekali kepada orang-orang yang ada di sekelingnya.

Di sinilah letak peran penting seorang perempuan dalam pembentukan watak seorang anak, dimana perempuanlah orang yang pertama kali berhubungan komunikasi dengan sang anak, yaitu dimulai sejak sang anak berada dalam kandungan atau bahkan jauh sebelum itu, saat ruh ditiupkan ke dalam rahimnya.

Ketika anak dalam kandungan, perempuan sebagai ibu, punya peran penting untuk pertumbuhkembangan sang anak, selain peran penting sang ayah. Ketika ibu tidak menjaga pola komunikasi fisik dan mentalnya, maka akan berakibat buruk. Tidak hanya dirasakan oleh ibu itu sendiri, dan anak yang berada di dalam kandungan turut merasakannya.

Hal itu akan berlanjut hingga sang anak lahir. Komunikasi dan kontak fisik serta batin secara langsung begitu erat terjalin antara ibu dan anak. Maka ketika seorang ibu memperlakukan anak dengan baik ketika merawat anaknya, pada saat itu pula ia telah memberikan contoh perilaku baik pada sang anak. Pada masa-masa berikutnya, anak akan melewati sebuah masa emas bagi perkembangan hidupnya. Anak akan dengan mudah menyerap segala informasi yang sampai padanya.

Maka sangat ditekankan, seorang perempuan (ibu) haruslah mengerti dan memahami posisi penting ini dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk sebuah “misi suci”, membangun generasi-generasi tangguh yang akan menjadi pelaku-pelaku sejarah di masa mendatang. Akan berbeda tentunya bila kita membandingkan seorang perempuan yang mempunyai ilmu dan tidak.

Ketika perempuan itu mempunyai ilmu dan memahami hakikat dirinya maka ia akan selalu berbuat apa yang telah disebutkan AlQur’an sebagai pedoman bagi kaum Muslim, umat yang terbaik yang selalu bermanfaat bagi manusia.

Namun sayangnya, masih sedikit sekali orang tua yang menyadari peranan penting mereka, terlebih ibu yang mempunyai kedekatan komunikasi dan emosional lebih dalam pendidikan anak ini. Mereka beranggapan ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, maka tanggung jawab pendidikan sudah lepas dari tangan mereka dan beralih pada guru-guru yang ada di sekolah.

Padahal tidaklah demikian, karena perempuan (ibu) lebih banyak waktu kebersamaan keluarga bagi anak daripada kebersamaan anak dengan guru-guru mereka. Terlebih lagi pada ibu, yang mempunyai peran penting dalam sosialnya, seperti melahirkan, menyusui dan mendidik, di samping ayah, setidaknya ia menyadari betul akan peran pentingnya tersebut.

Ia seharusnya memanfaatkan momen-momen penting yang dilalui oleh anak dan mengisinya dengan hal-hal yang berharga, melalui pendidikan yang ia berikan selama kebersamaannya dengan sang anak. Ia juga berpeluang untuk menanamkan nilai-nilai yang bersumber pada agama yang juga sesuai dengan fitrah sang anak. Maka ketika semua ini disadari, akan lahir generasi-generasi tangguh dari keluarga tersebut.

Dengan demikian, peran perempuan ternyata begitu besar dalam hal melahirkan sebuah peradaban. Tanpa kehadiran perempuan niscaya kehidupan ini tidak akan berputar seperti yang kita lihat sekarang. Tugas-tugas seperti itulah yang akhirnya memuliakan seorang perempuan.


Senin, 30 September 2013

Motivasi Ibadah Kurban, Keikhlasan dan Ketakwaan

Begitu banyaknya nikmat serta karunia yang diberikan kepada manusia, mulai nikmat yang ada pada jasmani dan rohani kita serta alam semesta ciptaanNya yang ada di sekitar kita.

Maka wajarlah jika tak satupun manusia tidak akan mampu menghitung jumlah nikmat serta karunia yang telah diberikan kepada hambaNya.

Kurban adalah sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan melakukan penyembelihan hewan ternak dan lainnya. Agar kurban dapat diterima sebagai amalan, maka motivasi seseorang dalam berkurban harus dilandasi keikhlasan dan ketakwaan.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa berkurban itu merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menyembelih hewan seperti kambing atau sapi sebagai salah satu bentuk syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat serta karunia yang diterima hamba-hambaNya.

Keikhlasan dan ketakwaan mendorong seseorang untuk memberikan dan mempersembahkan kurban yang terbaik. Dan sebaliknya, jika motivasinya tidak berlandaskan keikhlasan dan ketakwaan maka kurban itu hanya bermanfaat di dunia semata dan akan sia-sia di mata Allah SWT.

Semoga dengan adanya kurban ini tercipta toleransi, rasa saling peduli dan berbagi untuk membantu saudara-saudara muslim kita yang lain. Mari bersiap, sisihkan rizki kita dari Allah SWT, yang terbaik untuk berkurban. Kita bisa ikutan berkurban, dengan mendaftar disini, klik: KutungguQurbanmu



Minggu, 29 September 2013

Membangun Rumah Tangga

Membangun rumah tangga tidaklah seperti membangun rumah mewah atau gedung bertingkat. Menyusun batu bata di atas batu-bata lainnya.

Tidak juga seperti membuat sebuah taman, merangkai bunga di samping bunga. Apalagi seperti menghimpun binatang dalam satu kandang, satu jantan sepuluh betina.

Tidak. Tidak seperti itu maksudnya. Membangun rumah tangga itu harus dimulai dengan pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita dengan beberapa syarat, antara lain yang selalu harus dipahami dan dihayati. Pertama, berkaitan dengan ijab kabul, serah terima pernikahan.

Ijab kabul itu pada hakikatnya adalah sebuah ikrar untuk hidup bersama, se-iya se-kata dalam mewujudkan sakinah atau ketentraman dengan menjalankan segala tuntutan dan kewajiban. Saling wasiat mewasiatilah tentang suami dan istri untuk berbuat baik, juga saling komunikasi diantara keduanya.

Sepasang suami istri harus menerimanya atas dasar amanah Allah SWT, dan menjadi halal hubungan seksual itu atas dasar kalimat Allah SWT. Itulah yang harus selalu diingat dan dihayati, agar menjadikan kehidupan rumah tangga dinaungi oleh makna kalimat itu.

Kebenaran, keadilan, langgeng, luhur penuh kebajikan, tidak berubah dan dikaruniai anak yang shaleh-shalehah. Ia juga sebagai penyejuk mata, penyenang hati, berbakti kepada kalian ayah bundanya dan kakek neneknya serta santun pada ahli keluarga dan tetangga disekitarnya. Inilah yang pertama, ijab Kabul (serah terima pernikahan).

Kedua, adalah mahar. Suami berkewajiban menyerahkan maskawin atau mahar kepada istri. Islam menganjurkan agar mahar itu sesuatu yang bersifat materi. Karena itu bagi yang tidak memilikinya, dianjurkan untuk menangguhkan pernikahan sampai dia memiliki kemampuan.

Namun, jika satu dan lain hal yang menyebabkan dia harus juga melakukan pernikahan, maka cincin besi pun dibolehkan. Begitulah sabda Nabi Muhammad SAW. Dan jika cincin besi inipun tidak dimilikinya, sedang pernikahan tidak dapat ditangguhkan lagi, maka mahar itu boleh berupa jasa mengajarkan Al Quran. Begitulah petunjuk Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Mahar atau maskawin itu adalah lambang kesiapan dan kesediaan suami untuk memberi nafkah kepada istri dan sekaligus kepada putra-putrinya nanti. Selama mahar itu bersifat lambang, maka tidak harus banyak, bahkan sebaik-baik maskawin adalah seringan-ringannya.

Begitu sabda nabi Muhammad SAW, walaupun Al Quran tidak melarang untuk memberi sebanyak mungkin mahar atau maskawin. Mengapa demikian? Karena pernikahan itu bukanlah akad jual beli. Karena mahar itu bukan harga dari seorang perempuan. Wallahua’lam.

Kekuatan Besar

Kita memiliki kekuatan besar, namun banyak daya yang dapat dengan mudah terbuang sepele, hal-hal yang berarti. Bayangkan apa yang akan terjadi jika kita mencurahkan lebih banyak kekuatan kita untuk hal yang benar-benar penting dan bermakna.

Pada saat-saat yang sama mengisi setiap hari, dalam pikiran kita, kata-kata dan tindakan baik, juga kekuatan besar. Bila daya yang terarah dan terfokus dengan baik, maka kita dapat melakukan hal-hal menakjubkan dengan itu.

Setiap tindakan kecil yang kita ambil dapat mengubah dunia dalam beberapa cara. Selama sehari, sebulan atau seumur hidup, maka kita akhirnya mengambil seluruh banyak tindakan.

Prestasi penting datang dari tindakan-tindakan kecil yang tak terhitung jumlahnya, semua diambil dalam pelayanan tujuan tertentu. Itulah kekuatan tujuan, dan kita pasti memilikinya setiap kali kita memilih untuk menggunakannya.

Jangan biarkan kekuatan besar hidup kita akan terkuras oleh apa yang tidak penting. Buatlah pilihan untuk memanfaatkan dengan sengaja dan bermakna kekuasaan itu.

Dalam kehidupan kita, tinggal di sana sesuatu yang besar dan efektif, maka kekuatan dunia dapat berubah. Temukan cara kita sendiri yang unik dan indah untuk memanfaatkannya.



Jumat, 27 September 2013

Berkurban Dengan Penuh Kemampuan


Bulan Dzulhijjah akan menghampiri kita, umat Islam di seluruh dunia akan menyambutnya dengan penuh kegembiraan, mengumandangkan takbir dan tahmid.

Sementara itu kaum muslimin dari segala pelosok dunia berkumpul di tanah suci untuk menunaikan panggilan agama, berhaji mengunjungi rumah Allah.

Seorang muslim yang telah memiliki kemampuan saat datangnya bulan Dzulhijjah atau Idul Adha, hendaknya melakukan kurban, paling tidak seekor kambing sesuai kreteria yang ditentukan. Dengan berkurban, seseorang akan memiliki jiwa sosial yang tinggi sekaligus menjauhkan manusia dari sifat kikir, atas harta yang didapatkan.

Rezeki yang diberikan Allah SWT hendaknya dengan penuh kesadaran diambil sebagian untuk dikurbankan. Umat Islam yang memiliki harta yang lebih, pastinya mereka mau mengorbankan sebagiannya sebagai bukti taat kepada Allah SWT dan mengharap ridho atas rezeki yang diperoleh.

Berkurban memiliki keutamaan yang cukup besar. Pertama, dengan berurban, seorang muslim akan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kedua, syiar Islam dan mengagungkan perintah Allah SWT.

Ketiga, dengan berkurban, seorang muslim akan melimpahkan rasa peduli dan kasih sayang terhadap mereka yang kurang mampu (dhuafa). Jika Anda ingin mendaftar, bisa klik di KutungguQurbanmu



Kamis, 26 September 2013

Berpasang-Pasangan

Sahabat, sejak kecil hingga memasuki gerbang kehidupan berumah tangga, kita menjadi amanah di tangan orangtua kita masing-masing. Kita semua dibesarkan, dididik, disekolahkan dan seterusnya hingga sekarang ini.

Kita semua diantarkannya memasuki pintu gerbang pernikahan. Kasih sayang orangtua kepada kita semua ternyata melebihi kasih sayang mereka kepada diri mereka sendiri. Jika saatnya tiba memasuki gerbang pernikahan, tibalah giliran mereka, para orangtua kita menyerahkan amanah itu kepada kita dan pasangan (yang akhirnya menjadi suami istri).

Mengapa setiap mahluk yang Allah ciptakan melakukan perkawinan (pernikahan)? Para ahli menjelaskan, karena ada sesuatu dalam diri setiap mahluk yang tidak kecil peranannya dalam wujud ini. Sesuatu itu adalah naluri yang melahirkan dorongan seksual.

Sepasang burung berkicau dan bercumbu sambil merangkai sarangnya. Bunga yang bermekaran dengan indahnya merayu burung dan lebah agar mengantarkan benihnya ke bunga yang lain, supaya dibuahi. Begitulah indahnya kehidupan yang dijalani oleh mereka.

Tidak hanya tumbuh-tumbuhan dan binatang saja, bahkan atom yang positip dan negatif, saling tarik menarik demi memelihara eksistensinya. Demikianlah naluri mahluk, masing-masing memiliki pasangan dan berupaya untuk bertemu dengan pasangannya.

Agaknya tidak ada satu naluri yang lebih dalam dan lebih kuat dorongannya melebihi dorongan naluri pertemuan dua lawan jenis. Jantan dan betina, positif dan negatif bahkan pria dan wanita dalam sebuah pernikahan.

Itulah ciptaan Allah SWT dan itulah peraturan-Nya. “Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”. (QS Yasin: 36)