Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Sabtu, 14 September 2013

Beriman Kepada Qadha dan Qadar

Apa pun yang terjadi di dunia dan yang menimpa diri manusia pasti telah digariskan oleh Allah Yang Mahakuasa dan Yang Mahabijaksana. Semua telah tercatat secara rapi dalam sebuah Kitab pada zaman azali.

Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan celaka telah ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan ilahiah yang tidak pernah diketahui oleh manusia.

Dengan tidak adanya pengetahuan manusia tentang ketetapan dan ketentuan Allah ini, maka ia memiliki peluang atau kesempatan untuk berlomba-lomba menjadi hamba yang saleh-muslih, berusaha keras untuk mencapai yang dicita-citakan tanpa berpangku tangan menunggu takdir, dan berupaya memperbaiki citra diri.

Dengan bekal keyakinan terhadap takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT, seorang mukmin tidak pernah mengenal kata frustrasi dalam kehidupannya, dan tidak berbangga diri dengan apa-apa yang telah diberikan Allah SWT.

Ia akan berubah menjadi batu karang yang tegar menghadapi segala gelombang kehidupan dan senantiasa sabar dalam menyongsong badai ujian yang silih berganti. Ia juga selalu bersyukur apabila kenikmatan demi kenikmatan berada dalam genggamannya.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al Hadid: 22-23)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS Al An'am: 59)

Kamis, 12 September 2013

Bahaya Lidah

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ada kisah menarik yang disampaikan Ibnu Katsir dalam menjelaskan asbabun nuzul Surah Al-Hujurat ayat 6. Kisah ini pernah dialami isteri Rasulullah SAW, Aisyah r.a, di bulan Sya'ban tahun kelima hijriyah.

Saat itu, Aisyah r.a, mengalami kegelisahan luar biasa akibat fitnah yang disebarkan oleh kaum munafik di Madinah. Isunya pun tidak main-main. Isteri Rasul SAW yang mulia ini dikabarkan telah berselingkuh dengan seorang sahabat Rasul yang bernama Shafwan.

Fakta-fakta pun terangkai dan tertata apik, seolah isu itu memang benar-benar terjadi. Mulai dari tidak tahunya sang suami, Rasulullah SAW, kalau Aisyah tidak pulang bersamanya dari suatu tempat dalam sebuah peperangan di Bani Musthaliq. Hingga, Aisyah r.a yang tiba-tiba datang berdua dengan seorang pemuda ganteng. Itulah dia Shafwan Ibnu Mu'aththal.

Dengan cara apa lagi Aisyah r.a menjelaskan kalau dirinya tidak seperti yang diisukan, padahal tidak ada seorang saksi pun kecuali mereka berdua. Fitnah pun merebak begitu subur dan meluas di seantero Madinah.

Kalau saja bukan karena firman Allah SWT yang menegaskan kesucian Aisyah, mungkin fitnah tersebut akan menjadi petaka besar bagi dakwah Islam saat itu.

Firman Allah SWT, "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Jangan kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan ia baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barang siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula).” (QS An Nur: 11)

Demikian dahsyatnya bahaya lidah (Afatul Lisan). Ketajaman lidah jauh melebihi pisau dan pedang sekalipun. Karena, sekali ia beraksi dan berjalan, maka korbannya tidak hanya satu atau dua orang saja, melainkan bisa seluruh kampung, daerah, negara, bahkan jamaah sekali pun.

Islam mengajarkan kita untuk selalu berhati-hati dengan ucapan. "Siapa yang banyak bicara maka banyak pula salahnya. Siapa yang banyak salahnya, banyak pula dosanya. Dan, siapa yang banyak dosanya, maka api neraka lebih utama baginya." (HR Athabrani)

"Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan), niscaya aku menjamin baginya surga." (HR Bukhari)


Semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya

cerita inspiratif, inspirasi, Kahlil Gibran

Pada suatu hari Kahlil Gibran berdialog dengan gurunya.

Gibran : "Wahai guru, bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup?"

Sang guru merenung sejenak lalu menjawab : "Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah... dan jangan pernah kembali kebelakang!"

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa. Lalu sang guru bertanya : "Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun?"

Gibran : "Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi tidak ku petik karena aku pikir mungkin yang didepan pasti ada yang lebih indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi"

Sambil tersenyum sang guru berkata : "Ya... itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak akan pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan yang ada ..."

Maka ...
Jangan mencari kesempurnaan, tapi sempurnakanlah apa yang telah ada pada diri kita.
Enhanced by Zemanta

Rabu, 11 September 2013

Bekali Diri Dengan Al Quran

Al Quran adalah Minhajul Hayah bagi manusia yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Allah SWT telah memberikan jaminan terhadap kebenaran, keindahan serta kemudahan dalam menikmati Al Quran yang tidak hanya dapat dirasakan oleh siapa saja dan berlaku sepanjang zaman (QS Al Qomar 17,22, 32 dan 40).

Ungkapan syukur yang tak terkira kepada Allah SWT jika kita telah merasakan kemudahan menikmati Al Quran namun sungguh suatu musibah yang amat besar jika ternyata keakraban kita dengan Al Quran sangat lemah.

Kita harus berlindung kepada Allah SWT agar tidak menjadi orang yang menjadikan Al Quran sebagai mahjura (sesuatu yang ditinggalkan) tetapi sebaliknya kita harus menjadi orang seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang artinya: “Perumpamaan mukmin yang aktif membaca Al Qur'an bagaikan buah Urtujjah, bau harum dan rasanya lezat.” (HR Muttafaqun 'alaih)

Maksudnya, kapanpun dan dimanapun kita berada, maka Al Quran harus memberi shibghah, artinya keberadaan kita ditengah-tengah keluarga dan masyarakat harus dapat menyebarkan semerbak ketakwaan, mujahadah, jihad dan sabar. Diamnya kita dapat membawa ketenangan dan kebahagiaan bagi semua orang yang ada disekitar kita.

Kita sadar betapa pentingnya AlQuran dalam segala aspek kehidupan. Al Quran akan menumbuhkan ‘quwwatudz dzikr, quwwatul munajat, quwwatu hubb’ dalam diri kita sehingga melahirkan hati yang peka dalam menerima taujihat (pengarahan) Allah SWT.

Untuk mencapai hal tersebut kita harus membekali diri dengan Al Quran dengan tahapan-tahapan yang benar agar menghidupkan ruh Al Quran dan berinteraksi dengan Al Quran diantaranya:

Pertama, tumbuhkan sedalam-dalamnya keimanan kepada Allah SWT. Kedua, membiasakan diri tadabur Al Quran melalui terjemahan, kitab tafsir atau mengikuti kajian tafsir di masjid, mushala, kajian mingguan, dan lainnya.

Ketiga, berusaha melaksanakan segala yang diinginkan Allah SWT karena merealisasi satu ayat tidak hanya berdampak bagi peningkatan iman tetapi berdampak pula pada semakin dalamnya pemahaman kita terhadap isyarat Al Quran. Keempat, berusaha merasakan bahwa semua Khitab (intruksi) atau arah pembicaraan Allah adalah Khitab untuk diri sendiri bukan untuk orang lain.

Nilai-nilai Dalam Hati Kita

Ketika dunia kita tampaknya frustasi, maka perlu diingat bahwa bagian yang paling penting dari kita ada di luar orang frustrasi.

Ketika hidup terasa menyakitkan, maka kita tidak pernah lupa rasa sakitnya. Namun mungkin sulit, karena ia terbatas hanya pada sebagian kecil dari siapa kita sesungguhnya.

Semua yang ada di sekitar kita adalah hal yang dapat kita lihat dan sentuh, namun secara fisik memanipulasi. Mereka adalah bagian dari kehidupan, tetapi mereka tidak berarti semua yang ada.

Kita tidak bisa menahan cinta di tangan, namun kita tahu pasti bahwa hal itu ada. Kita tidak dapat menangkap sukacita dalam kotak atau amplop dan kita tidak ragu bahwa hal itu nyata.

Ketika keprihatinan luar kehidupan tampaknya luar biasa, maka ingatkan diri sendiri, masih ada lagi. Ada sangat banyak lagi untuk hidup dan menjadikan kita dapat melihat dan mendengar, rasa dan bau, sentuhan sekaligus memiliki.

Bahkan kerugian dan kekecewaan mereka merasa besar dan memberatkan, kecil dibandingkan dengan semua yang indah, dan kemungkinan positif yang hidup dalam diri kita. Lihatlah di luar, berisik, ada gangguan dangkal yang dapat mengingat keajaiban keberadaan kita.

Jalani kehidupan di sekitar kita dengan nilai-nilai yang ada di dalam hati kita. Dan orang-orang yang sehari-hari sakit dan ada gangguan, maka akan kehilangan kekuatan mereka untuk membawa kita ke bawah.

Senin, 09 September 2013

Keutamaan Besar dalam Berkurban

Berkurban memiliki keutamaan yang cukup besar. Pertama, dengan berkurban, seorang muslim akan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.  

Kedua, membesarkan syiar agama Islam dan mengagungkan perintah Allah. Ketiga, dengan berkurban, seorang muslim akan melimpahkan rasa peduli dan kasih sayang terhadap dhuafa.

Dengan berkurban, seseorang akan memiliki jiwa sosial yang tinggi juga akan menjauhkan manusia dari sifat kikir, atas harta yang didapatkan.

Rezeki yang diberikan oleh Allah ini, hendaknya dengan penuh kesadaran diambil sebagian untuk dikurbankan. Spirit yang dibawa oleh Idul kurban, pada hari itu, merupakan keharusan hadirnya semangat ibadah berkurban, serta keberpihakan yang kaya kepada yang miskin dengan kurban yang terbaik.

Semoga, di Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada pertengahan bulan Oktober 2013 nanti, menjadi momentum penting untuk mengasah jiwa berkorban, membantu, peduli sesama dan memberikan bagian yang kita miliki yang menjadi hak fakir miskin dan orang lain yang berhak menerima.

Kepedulian dan Kepekaan Sosial Dengan Berkurban

Makna yang terkandung dalam penyembelihan hewan kurban sangatlah mendalam.Yakni, melatih seseorang meningkatkan kepedulian dan kepekaan sosial.

Tujuan berkurban adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Makin dekat seseorang kepada Allah SWT, kian tinggi tingkat kepekaan sosialnya.

Karena itu melalui momentum Idul Adha, marilah kita tingkatkan kepekaan sosial dengan membantu saudara kita yang tertimpa berbagai musibah (bencana alam, gempa bumi, banjir maupun wilayah-wilayah miskin) dengan menyembelih hewan kurban untuk di sampaikan kepada masyarakat kurang mampu.

Berkurban, harus dilandasi dengan hati yang ikhlas semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Cara berkurban seperti itulah yang dipraktek kan Nabi Ibrahim as, yang menyembelih anaknya, Nabi Ismail as. Nabi Ibrahim as lolos dalam ujian Allah SWT dan termasuk orang-orang yang sabar.

Dan makna hakiki penyembelihan hewan kurban harus membekas pada orang yang berkurban. Sebab, yang sampai kepada Allah SWT bukan daging dan darah korban, melainkan ketakwaan seseorang.