Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Senin, 22 April 2013

Selamat datang kritik

Tidak ada hukum yang mengatakan kita harus terluka oleh kritik. Bahkan, kita dapat dan bisa memilih untuk berkembang di atasnya. Saat kita dikritik, janganlah merasa hancur, apalagi dendam. Buatlah ia menjadi kumparan-kumparan positif untuk lebih maju lagi.

Tidak, kita tidak ingin sengaja menyinggung perasaan orang atau melakukan hal-hal yang benar-benar bodoh. Tetapi tidak pernah ada alasan mengapa kita harus membiarkan opini orang lain tentang kita membuat kita turun.

Sangat menyenangkan untuk memiliki umpan balik positif. Namun hal itu bisa jauh lebih berguna dan instruktif untuk menerima umpan balik negatif.

Adalah baik untuk mengetahui apa yang kita lakukan itu, benar. Namun potensi terbesar untuk perbaikan datang ketika kita memahami apa yang kita lakukan, salah.

Alih-alih menjadi defensif atau marah tentang kritik yang kita terima, hal itu bisa dihargai. Jika seseorang memiliki masalah dengan kita, maka biarkan menjadi masalah orang itu dan biarkan itu menjadi keuntungan kita.

Kita benar-benar layak, terlepas dari apa yang orang lain mungkin berpikir, dan sepenuhnya mampu ada perbaikan berkelanjutan.

Sambutlah kritik dan peluang itu untuk membawa, membuat dan menggunakannya setiap hari, setiap usaha, setiap pengalaman bahkan lebih baik daripada yang sebelumnya.

>>follow @CepPangeran


Minggu, 21 April 2013

Membangun Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

Setiap pasangan suami istri pasti menginginkan rumah tangganya bahagia, karena membina rumah tangga pada prinsipnya adalah mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti.

Dan keluarga sakinah merupakan idaman bagi setiap keluarga muslim. Keberhasilan atau kegagalan dalam karir seseorang banyak dipengaruhi oleh kehidupan keluarganya.

Di samping itu membangun keluarga yang sakinah merupakan cikal bakal lahirnya anak-anak yang berkualitas, mandiri, memiliki ketahanan mental dan spiritual yang kokoh yang pada gilirannya akan terwujud masyarakat dan bangsa yang maju dan mandiri.

Untuk dapat mewujudkan keluarga sakinah, tidak semudah membalikan telapak tangan. Dalam dinamika kehidupan berkeluarga, perjalanan pasangan suami istri tidak terlepas dari rintangan, bahkan terkadang krikil-krikil kecil sering menyertai kehidupan berkeluarga.

Dan untuk mewujudkan keluarga sakinah perlu adanya upaya dan tekad yang kuat dari masing-masing pasangan, saling menerima kekurangan dan kelemahan pasangan masing-masing. Selain itu, juga diperlukan kesabaran dan keuletan dalam mengarungi bahtera rumah tangga serta pengamalan terhadap ajaran agama, di mana hakikat pernikahan adalah dalam rangka melaksanakan sunatullah.

Setiap pasangan suami istri yang menikah, tentu sangat menginginkan kebahagiaan hadir dalam kehidupan rumah tangga mereka. Ada ketenangan, ketentraman, kenyamanan dan kasih sayang. Rumah tangga yang menjadi surga dunia! tidaklah identik dengan limpahan materi, kebahagiaan bukanlah sebuah kemustahilan untuk dicapai, sebab kebahagiaan merupakan pilihan dan buah dari cara berfikir dan bersikap.

Oleh karena itu, hanya dengan pasangannyalah ia dapat menikmati manisnya cinta dan indahnya kasih sayang dan kerinduan. Islam menjadikan keluarga sebagai tempat untuk menjaga diri, yaitu menciptakan ketentraman dan keselamatan dari segala bentuk kejahatan yang ditimbulkan oleh orang lain, sehingga keluarga harus dijadikan tempat tinggal yang penuh dengan kebahagiaan agar seluruh anggota keluarga betah di rumah dan selalu merindui.

Sebagimana firman Allah SWT, “Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal...” (QS An Nahl: 80). Untuk mewujudkan keluarga seperti yang di atas, haruslah bersama-sama antara suami dan istri untuk mengekalkan cinta yang merupakan anugerah dari Allah SWT.

Karena, tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas hubungan suami dan istri dalam rumah tangga sangat mempengaruhi keluarga tersebut menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah (Samara).

Oleh karena itu, suami istri harus sama-sama menjaga dan menghormati ikatan perkawinan yang telah dibuat sebagai sebuah ikatan yang suci. Agar perkawinan itu menjadi kuat, maka diperlukan pengikat yang kuat pula, yaitu mawaddah dan rahmah.

Mawaddah adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Mawaddah ini adalah “cinta plus”. Orang yang di dalam hatinya ada mawaddah, maka tidak akan memutuskan hubungan, seperti apa yang terjadi pada orang ‘bercinta’. Ini disebabkan hatinya begitu lapang dan kosong dari keburukan, sehingga pintu-pintunya pun tertutup untuk dimasuki keburukan.

Sedangkan rahmah adalah kondisi psikologis ketidakberdayaan. Rahmah akan menghasilkan kesabaran, murah hati, tidak cemburu buta, tidak mencari keuntungan sendiri, tidak menjadi pemarah apalagi sampai pendendam.

Kualitas mawaddah wa rahmah di dalam rumah tangga, yang dipupuk oleh pasangan suami istri sangat menentukan bagaimana kondisi rumah tangga tersebut, apakah bahagia atau tidak. Tidak ada artinya hubungan suami istri yang tidak didasarkan pada cinta dan kasih sayang. Badan berdekatan namun ruh berjauhan.

Jadi, tidak bisa kita dipungkiri bahwa istri tidak hanya membutuhkan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan segala kebutuhan material belaka.

Tetapi istri juga sangat mengharapkan dari suami perhatian yang tulus, perkataan halus, wajah cerah sumringah, senyum ceria, senda gurau yang menyenangkan, sentuhan lembut, ciuman yang mesra serta berbagai perilaku mulia yang menyejukkan hati dan mendinginkan gundahnya, bahkan itu semua melebihi daripada kebutuhan material. Wallahua’lam

>>follow @CepPangeran
 

Peran Suami dalam Membina Keluarga Sakinah

Islam telah menetapkan dan menggariskan bahwa suami merupakan pemimpin dalam rumah tangga dan bertanggung jawab terhadap apa yang ia pimpin.

Namun ternyata, tidak semua suami mengerti dan memahami tentang peranannya dalam rumah tangga yang menjadi tanggung jawabnya.

Terkadang suami cenderung ingin lepas dari peranannya itu, bahkan tidak mau peduli sama sekali. Ia melimpahkan perannya kepada sang istri.

Selain itu dampak dari ketidak mengertian dan pemahaman suami tentang peranannya sebagai kepala rumah tangga, terutama dalam membina keluarga yang sakinah juga akan terlihat pada masyarakat.

Oleh karena itu dirasa sangat perlu adanya pemahaman tentang peranan suami dalam membina keluarga yang sakinah. Peranan suami dalam hal ini memegang kedudukan yang sangat penting dalam menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah, sesuai dengan kedudukan suami dalam rumah tangga.

Peranan suami, yang akhirnya menjadi tanggung jawabnya harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab agar suami tidak merasa sebagai kepala rumah tangga yang berhak melakukan apa saja terhadap keluarganya sesuai dengan yang ia inginkan, apalagi melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang umumnya dilakukan oleh kaum pria, yaitu suami.

Justru sebaliknya suami harus bisa menjaga dan mengayomi seluruh anggota keluarganya, istri dan anak-anaknya serta mendidiknya, sehingga angota keluarga itu merasa tentram berada di dalam keluarganya, bukan sebaliknya.

Islam telah menetapkan peranan-peranan yang dimiliki oleh suami, dimana peranan itu akan menjadi tangung jawab suami kelak dan akan diminta pertanggung jawabannya dihadapan Allah SWT di akhirat kelak.

Menghadapi kenyataan tersebut, suami terlebih dahulu harus mengetahui kedudukan dan fungsinya dalam keluarga, baru kemudian suami itu akan mengetahui peranan yang menjadi tanggung jawabnya. Sehingga suami akan lebih mudah dalam melaksanakan peranannya dalam membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah (Samara).

Sudah seharusnya seorang suami mampu membimbing istri dan anak-anaknya agar berakhlak mulia. Kehormatan seorang suami bukan karena gelar, pangkat, kedudukan, harta, jabatan, maupun popularitas.

Yang paling penting dari itu semua adalah selain suami harus berlemah lembut, hendaknya ia menjadi contoh, dan dalam hal mendidik adalah bagaimana suami mendidik anak dan istrinya agar mampu mengenal Allah SWT dan mengetahui arti hidup ini agar bisa mengarungi hidup ini di jalan yang diridhai-Nya. Untuk para suami, mari kita berbuat lebih baik lagi kepada istri, anak-anak juga keluarga.

>>follow @CepPangeran


Lakukan yang terbaik hari ini dan lakukan sekarang juga

motivasi, Lakukan yang terbaik hari ini dan lakukan sekarang juga

Tiga hari dalam hidup

Hari pertama : hari kemarin.
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat dan beristirahat dengan tenang,
lepaskan saja…

Hari kedua : hari esok.
Hingga mentari esok hari terbit,
Kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba, dan belum tentu esok hari Kita merengkuhnya
biarkan saja…

Yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup.
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri Kita untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila Kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan hari esok.

Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada Kita.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.
Ingatlah bahwa Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri Kita sendiri.

Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu
bingung, lakukan yang terbaik hari ini dan lakukan sekarang juga.

Pasang Iklan Anda Disini !!

Assalamualaikum wr wb dan salam sejahtera bagi kita semua

Disini saya akan menawarkan slot iklan yang tersedia yaitu :

Floating sidebar kiri dan kanan : 120 x 600 : Rp. 125.000 / bulan
Floating bawah 728 x 90 : Rp. 100.000 / bulan
Side bar kanan ( dibawah follower ) 180x150 : Rp. 30.000 / bulan

Adapun data tentang blog ini :

Pagerank : 2 ( bisa dibuktikan )

Pengunjung tiap bulan : plus minus 160.000 pengunjung



Syarat Dan Ketentuan Pasang Iklan :
  • Baner di buat sendiri oleh pemasang iklan
  • tidak boleh mengandung hal-hal yang negatif
  • Tidak bisa membatalkan iklan yang telah disetujui bersama
Untuk harga pemasangan iklan bisa menghubungi :
email : ekotriprastyo@gmail.com
Hp : 08983452206/085729889539
fb : eko tri prastyo

Terima kasih :)

Sabtu, 20 April 2013

Mengusir kerugian

Untuk menjadi pemenang sejati, jadilah pecundang yang baik. Sikap dan tindakan kita ketika terjadi kesalahan akan menentukan seberapa sering sesuatu yang tepat untuk kita.

Hal itu memang akan salah. Dan akan ada resiko dalam setiap usaha. Jalan untuk menuju sukses tidak lurus, seperti jalan bebas hambatan beraspal. Jalan kehidupan ini memiliki banyak liku-liku, kesenjangan, lubang dan trotoar kasar.

Siapapun bisa menjadi positif ketika semuanya berjalan benar. Dan itu bukan prestasi besar. Kunci sebenarnya kesuksesan adalah tetap fokus positif ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang kita rencanakan.

Hari ini kita tidak akan sempurna. Tugas kita juga tidak akan sempurna. Anak dan istri kita juga tidak akan sempurna. Kendaraan kita tidak akan selalu berjalan dengan baik. Komputer, laptop, dan teknologi kita akan crash.

Orang akan menjadi kasar, cuek, benci kepada kita. Hal ini merupakan bagian dari hidup. Dan hidup kita harus dimulai dengan sesuatu yang baik bukan buruk.

Semakin sedikit waktu dan usaha yang kita habiskan untuk merengek, mengeluh dan menjadi kecewa tentang mereka, maka akan semakin banyak waktu yang kita miliki untuk positif, serta kehidupan yang efektif.

Ketika kita bisa menghilangkan kerugian dan terus berjalan maju, maka kita adalah seorang pemenang sejati.

Alasan Seseorang dalam Menikah

Berbagai macam alasan mengapa seseorang itu menikah, dari yang bersifat lahiriah atau fisik hingga yang bersifat alasan agama.

Hal tersebut memang dibolehkan dalam agama seperti dalam hadits Rasulullah SAW, “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang mempunyai agama, niscaya kamu beruntung”. (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah SAW bersabda, “Dunia adalah kesenangan sementara, dan sebaik-baiknya kesenangan dunia adalah wanita (istri) yang sholehah”. (HR Muslim, An Nasa’i).

Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW menyerahkan pilihan kepada setiap orang, tetapi Nabi menggaris bawahi untuk menentukan pilihannya yang taat beragama, baik calon mempelai pria atau wanita. Dari apa yang disampaikan Nabi SAW sangat luas sekali pengertiannya, dan dalam maksudnya.

Disinilah kunci awal kesuksesan seseorang dalam berumah tangga atau berkeluarga. Apa yang mendasari seseorang untuk memutuskan dirinya menikah. Di dalam AlQur’an Allah SWT memberikan gambaran beberapa alasan seseorang itu menikah atau berumahtangga.

Pertama, karena rasa cinta diri atau kecenderungan. Cinta model ini merupakan tingkatan terendah, karena menikah atau berkeluarga hanya mendasarkan hanya kepada lahiriyah atau fisik semata berupa penyaluran seksual yang hanya mengharapkan kenikmatan sesaat dan harta berlimpah (QS Ali Imran: 14).

Kedua, karena semangat saling memberi. Cinta model ini merupakan cinta yang memiliki semangat memiliki. Bila seseorang dalam menikah itu landasannya adalah saling cinta kasih dan kasih sayang, maka akan terbangun antara suami dan istri adanya semangat saling memberi, saling menyayangi, saling melengkapi dan saling menghormati.

Ketiga, karena semangat saling melindungi. Cinta model ini adalah cinta yang terbangun atas dasar ketidakrelaan seorang suami istri. Tidak rela apabila salah seorang anggota keluarga menderita, maka akan terdorong untuk saling melindungi, menghormati dan saling menghargai maka akan tertanam adanya komitmen bersama, tanggungjawab dan pengorbanan.

Keempat, karena semangat saling menerima apa adanya. Cinta model ini adalah cinta yang memerdekakan. Cinta yang tidak memiliki syarat apapun. Dengan cinta model ini, maka seorang suami istri akan saling menerima apa adanya, apapun kondisinya terkait dengan lahiriyah atau fisik, materi dan lainnya.

:: Foto diatas adalah foto pernikahan seorang rekan kerja, namanya Rizki Adawiyah bersama suami, menikah pada hari Minggu, 29 April 2012 atau bertepatan dengan 7 Jumadil Akhir 1433 H