Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Jumat, 01 Maret 2013

Peran dan Tanggung Jawab Seorang Muslim

Sabtu pagi, 2 Maret 2013, selepas pengajian bapak-bapak di Komplek tempat tinggal saya, langsung meluncur ke Pesantren AlQuran Al Amanah yang terletak di Jalan Haji Awi, Kampung Pedurenan RT 011 RW 03 Kelurahan Jatiluhur Jatiasih Kota Bekasi.

Pagi ini, saya selaku orangtua wali murid dari anak saya, Muhammad Ammar Azmi yang menetap di pesantren tersebut mengadakan pengajian umum awal bulanan mulai pukul 08.30-11.00 WIB dengan pembicara Ustad DR Ahzami Samiun Jazuli, MA.

Selain orangtua wali murid, diundang juga para jamaah lainnya untuk ikut mendengarkan pengajian tersebut. Total orangtua wali murid ditambah jamaah, bapak-bapak, ibu-ibu dan pemuda pemudi sebanyak 48 orang.

Dalam ceramahnya, Ustad DR Ahzami Samiun Jazuli mengajak para jamaah agar selalu senantiasa mengajak keluarga, tetangga dan masyarakat untuk mengerjakan kebaikan dimana saja kita tinggal

Seorang muslim tidak hanya melaksanakan salat dan beribadah untuk dirinya sendiri saja, tapi ia juga memiliki kewajiban mengajak saudara-saudaranya untuk melakukan hal yang sama dan kebaikan lainnya.

Ia juga tidak hanya berkewajiban membentengi dari setiap tindakan aniaya, namun ia juga harus menjaga kenyamanan dan keamanan lingkungannya, masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya dan lainnya.

Setiap indivisu pasti memikul tanggung jawabnya masing-masing. Sesuai dengan usia, kekuatan dan kedudukannya. Seorang ayah, ia memiliki tanggung jawab untuk mencari nafkah bagi keluarganya.

Demikian juga dengan ibu/istri. Selain sebagai pendamping suami, ia juga memiliki tanggung jawab menjaga setiap amanah suaminya baik berupa harta maupun anak.

Begitu pula dengan anak, sebagai sebagai bagian dari keluarga pun, tak bisa lepas begitu saja dari tanggung jawab. Seorang anak wajib patuh pada kedua orang tuanya, dan ikut menjaga ketentraman serta kehangatan di tengah keluarga.

Begitulah Islam memberi porsi tanggung jawab untuk setiap muslim sesuai dengan tingkat dan kadarnya masing-masing. Dan lebih jauh lagi, setiap muslim memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, pada setiap amal perbuatannya.

Demikian dikatakan Ustad DR Ahzami Samiun Jazuli, MA dalam pengajian bulanan yang diadakan Pesantren AlQuran Al Amanah tentang Islam dan Tanggung Jawab sebagai seorang pribadi Muslim.

Nikmat yang paling sangat dirasakan oleh kita sebagai umat muslim adalah ber-Islam. Karena dengan ber-Islam kita merasakan kenikmatan yang tak terhingga dibandingkan dengan mereka yang tidak memeluknya dan ini adalah merupakan asset yang sangat penting dalam diri seorang muslim, kata Ustad DR Ahzami kepada para jamaah.

Dari pemahaman ini, marilah kita bertanya pada diri, sudah sejauh mana kita memenuhi tanggung jawab ini. Sudah seberapa tinggi, rasa tanggung jawab yang terpatri dalam hati untuk melaksanakan setiap tanggung jawab itu.

Mahasuci Allah yang selalu terjaga, dan tak pernah mengingkari janjinya. Marilah berjalan bersama untuk terus saling mengingatkan satu sama lain.

Mengingatkan bahwa setiap amal perbuatan, walau sekecil apapun akan terbalaskan. Semoga Allah SWT memberikan kemampuan pada kita untuk melanggengkan syukur, ibadah, dan kebaikan akhlak kita. Amin ya Rabbal ‘Alamin

Ikut Salurkan Frozen Qurbani Meat

Bersyukur dengan semua anugerah yang telah Allah SWT berikan kepada kita semua.

Apakah itu berupa anugerah kesehatan, pekerjaan, sahabat, kepedulian kepada masyarakat, dan juga keluarga.

Jika kita hitung dan daftar satu per satu, maka anugerah tersebut tidak ada habisnya, karena banyak sekali dan selalu kita terima setiap hari.

Bahkan jika ada sebuah buku yang mau mencatat anugerah yang diberikan Allah SWT, maka pastinya tidak akan ada buku yang mampu mencatat seluruhnya. Hidup yang Allah SWT percayakan kepada kita adalah tidak hanya untuk menerima anugerah-Nya.

Namun yang terutama adalah untuk memberi kepada sesama, yaitu mereka yang membutuhkan. Allah SWT juga memberi anugerah kepada kita supaya kita juga membagi anugerah itu kepada sesama. Tidak hanya materi yang bisa kita berikan kepada sesama, seperti pakaian, makanan, uang, biaya sekolah dan lainnya.

Namun, pemberian bisa juga berupa ketulusan dalam bermasyarakat, relasi, dan lainnya. Itulah berbagi.

Berbagi tidak terbatas pada sekat diri, namun berbagi bisa memaknai rasa syukur kita kepada sang pencipta, Allah Rabbul Izzati.

Bersyukur dan berbagi. Ya, itulah saya bersama tetangga di rumah, Kampung Bojongsari Jatisari Jatiasih, Bekasi, hari Sabtu pagi, 2 Maret 2013 menyalurkan kepedulian dari lembaga berskala internasional yang berdomisili di Australia, Human Appeal International atau disingkat HAI Australia berupa Frozen Qurbani Meat untuk mereka yang kurang mampu di wilayah RW 02 Kp Bojongsari.

Ratusan warga Kp Bojongsari RT 005 RW 02 menerima daging kurban beku tersebut, dengan terlebih dahulu menuliskan nama sekaligus membubuhkan tandatangan diatas kertas yang telah disiapkan panitia

Pendistribusian daging kurban beku dari HAI Australia, langsung kepada warga kurang mampu melalui Yayasan yang bermitra dengan PKPU di seluruh Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor, dan Depok. Demikian kata Aan Suherlan, penanggung jawab pendistribusian di Kp Bojongsari Jatisari Bekasi


Pak Ena Sabana sedang mencacah daging kurban beku HAI Australia


Pak Riyanto dan Pak Heru sedang membuka bungkus daging kurban beku HAI Australia

Tanda dari orang bersyukur

Rasa syukur kepada Allah SWT yang memberikan segala kehidupan ini dan merasakan diri sentiasa karena kehadiran-Nya. Allah SWT akan membalasnya dengan rahmat dan nikmat-Nya yang banyak.

Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingati kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku”. (QS Al Baqarah: 152).

Manusia adalah mahluk Allah yang paling sempurna, dan paling banyak menerima karunia-Nya jika dibanding dengan yang lainnya. Hanya saja terkadang manusia itu lupa untuk mensyukuri semua karunia yang telah Allah SWT berikan itu.

Demikian dikatakan ustad Aan Suherlan pada pengajian bapak-bapak di Komplek PKPU, Jl Sirojul Munir Kp Bojongsari Jatiasih Bekasi dimana saya juga tinggal di komplek tersebut.

Pengajian ini adalah pengajian ketiga yang diadakan tiap awal bulan pertama hari Sabtu. Untuk bulan Maret 2013 ini, pengajian diadakan di rumah ustad Samiyono, tanggal 2 Maret 2013 dengan MC pak Ena Sabana dan yang memberikan tausiyah adalah ustad Aan Suherlan dengan tema "Tanda-tanda Orang Bersyukur".

Pada kesempatan itu, ustad Aan juga mengajak pada pribadi dan semua yang hadiri di pengajian untuk selalu meningkatkan ketakwaan kepada Allah yang telah melimpahkan nikmat kepada kita, baik nikmat yang tampak maupun yang tidak tampak.

Bersyukur kepada Allah SWT atas semua nikmat yang telah diberikan kepada kita dengan jalan berpegang teguh pada ajaran Allah dan selalu ingat kepada-Nya.

Pikirkanlah diri kita, adakah bermanfaat bagi kita apa yang telah di anugrahkan Allah berupa pendengaran, akal dan pengelihatan, dan apa yang telah dianugrahkan Allah berupa harta kekayaan dan kemuliaan, serta nikmat terbesar yaitu nikmat iman dan islam.

Aan juga mengatakan bahwa karunia Ilahi yang datang silih berganti tanpa pernah kita syukuri hanya akan menambah kemurkaan Allah semata. Dan banyak nikmat Allah yang telah kita sia-siakan. Dari yang terkecil hingga besar.

“Bisa kita bayangkan, seandainya udara yang kita hirup dihargai dengan uang. Berapa banyak uang yang kita keluarkan hanya untuk membeli udara,” kata ustad Aan dihadapan bapak-bapak yang hadir.

Pengajian di bulan Maret ini dihadiri; Pak Imam Zarkasi, Supriyanto, Brotomoyo, Bobby Cahyono, Jajang Ibrahim, Aan Suherlan, Ferry Suranto, Jumroni, Samiyono, Heru Kusnanto, Riyanto, Ena Sabana, Suhendri dan saya sendiri Cecep Y Pramana (Cepy).

Ustad Aan juga menjelaskan tentang tanda-tanda dari orang yang bersyukur, yaitu: Pertama, orang yang beryukur dengan semakin banyak rezekinya, maka ia akan semakin bertambah pula dengan mengeluarkan zakat, infak, shadaqah, serta semakin ikhlas dalam hidupnya.

Kedua, orang yang bersyukur akan selalu senantiasa berusaha mati-matian shalat di awal waktu, kecuali ada halangan atau udzur syar’i. Ketiga, mudah sekali qiyamul lail atau shalat malam (tahajjud). Ini sebagai tanda-tanda orang yang bersyukur.

Keempat, akan selalu tenang dan tentram, selalu gembira dan riang hatinya. Kelima, orang yang selalu bersyukur tandanya ia selalu disenangi dan disegani oleh banyak orang. Keenam, mudah sekali menerima ilham/petunjuk dan banyak karya serta prestasinya.

Ketujuh, tanda-tanda orang yang bersyukur adalah seringkali mendapat tambahan-tambahan karunia dari Allah SWT dan terakhir dari tanda-tanda orang yang bersyukur adalah selalu dijauhkan dari laknat dan adzab Allah SWT. Semoga Allah SWT selalu memberikan kebaikan dan keberkahan untuk kita semuanya. Amin.


Jangan merasa tak berarti, apapun yang telah terjadi Anda tidak akan pernah kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda

Suatu hari, seorang motivator terkenal membuka seminarnya dengan cara unik. Sambil memegang uang pecahan Rp.100.000,- ia bertanya kepada hadirin, “Siapa yang mau uang ini?” Tampak banyak tangan diacungkan, pertanda banyak yang minat. 

“Saya akan berikan uang ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini.”
Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat-lipat.

Lalu bertanya lagi, “Siapa yang masih mau uang ini?” Jumlah tangan yang teracung tak berkurang.

“Baiklah,” jawabnya, “apa jadinya bila saya melakukan ini?” ujarnya sambil menjatuhkan uang ke lantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya. Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.

“Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?” Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak.

“Hadirin sekalian, Anda baru saja mendapatkan sebuah pelajaran penting. Apa pun yang terjadi dengan uang ini, Anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang ini tetap bernilai 100 ribu rupiah.”

Dalam kehidupan ini, kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita.
Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti. Padahal apapun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda.

Keluarga...
Sahabat....

Jadi, setiap kali merasa diri tak berarti, ingatlah akan selembar uang 100 ribu rupiah tersebut.
Jangan pernah lupa – Anda adalah SPESIAL

Menjadi bersyukur

Salah satu langkah pertama dalam mengubah negatif menjadi positif adalah dengan menemukan sesuatu yang kita bisa bersyukur.

Sebagai contoh, ketika ada seseorang yang mengkritik kita, maka reaksi alami yang muncul adalah sedikit marah, benci dan defensif.

Tetapi pertimbangkanlah apa yang akan terjadi jika kita bisa menahannya, dan sebaliknya, benar-benar mengucapkan terima kasih.

Bila kita bisa menemukan cara untuk mengucapkan terima kasih atas kritik yang datang, maka kita dapat menemukan sesuatu yang positif untuk belajar dari itu.

Menjadi benar-benar bersyukur memaksa kita untuk mempertimbangkan kemungkinan positif, apa pun keadaannya. Meskipun situasinya mungkin menyedihkan, selalu ada cara yang positif untuk bergerak maju dari itu.

Ya, sulit untuk bersyukur ketika kita sakit, namun rasa syukur dapat mulai untuk benar-benar mengurangi dan memadamkan rasa sakit itu. Ketika hal yang paling buruk terjadi, maka seketika kita akan membutuhkan kekuatan yang paling besar.

Bersyukurlah, maka ia akan menarik kekuatan dari keberkahan yang datang. Bersyukurlah, bahkan di tengah-tengah keputusasaan, dan itu akan membuka mata kita untuk kemungkinan positif di sekitar kita.

Bersyukurlah

Bersyukurlah untuk hari ini, maka kita akan mengisinya dengan sukacita. Jadi, hargailah orang di sekitar kita, maka mereka akan membawa banyak kepada nilai hidup kita.

Bersyukurlah untuk kesempatan kita, maka kita akan menemukan diri kita membuat sebagian besar dari mereka.

Bersyukurlah untuk apa yang kita miliki, maka kita akan mendapatkan lebih banyak dari itu. Bersyukurlah untuk menghadapi tantangan, maka mereka akan membantu kita menjadi lebih kuat.

Hargai hari-hari gelap berawan, maka mereka akan langsung menjadi lebih cerah. Menghargai hari-hari cerah, maka kita akan menikmati mereka bahkan lebih.

Hal-hal yang kita anggap remeh akan memudar dari kegunaan karena kita lupa mereka ada. Namun sebaliknya, hal-hal yang kita bersyukur tetap tersedia akan tumbuh lebih kuat sebagai hasil dari perhatian kita.

Pertimbangkan betapa beruntungnya kita. Anggap saja hal itu akan sering. Semakin kita menghitung keberkahan, maka akan semakin ada untuk dihitung. Bersyukurlah

Manusia bertanya, dan Al-Qur'an menjawab untuk menerangi hati kita yang sedang galau

Manusia bertanya, dan Al-Qur'an menjawab untuk menerangi hati kita yang sedang galau

Tidak jarang dari kita selalu dikelilingi dengan ujian dan cobaan dalam hidup, dan terkadang ujian hidup membuat seseorang merasa bersedih dan putus asa.

Putus asa dalam Islam adalah dosa. Coba buka wawasan dan simak kata-kata yang dirangkum dari Al-Qur'an berikut ini, dan jadikanlah untuk penguat dan penerang hati disaat sedang bersedih atau galau.

Manusia bertanya, kenapa aku diberi ujian seberat ini?

Al-Qur'an menjawab, Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah: 286)

Manusia bertanya, bolehkah aku frustasi?

Al-Qur'an menjawab, janganlah kamu bersifat lemah dan jangan pula kamu bersedih hati padahal kamulah orang orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 139)

Manusia bertanya, bolehkan aku berputus asa?

Al Qur'an menjawab, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir. (QS. Yusuf: 87)

Manusia bertanya, bagaimana cara menghadapi ujian hidup?

Al-Qur'an menjawab, hai orang orang yang beriman bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersifat siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imran: 200)

Jadilah sabar dan shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang orang yang khusyu. (QS. Al-Baqarah: 45)

Manusia bertanya, bagaimana menguatkan hatiku?

Al-Qur'an menjawab, cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia, hanya kepadaNya aku bertawakal. (QS. At-Taubah: 129)

Manusia bertanya, apa yang ku dapat dari semua ujian itu?

Al-Qur'an menjawab, sesungguhnya Allah telah membeli dari orang orang mukmin diri dan harta mereka dengan surganya. (QS. At-Taubah: 111)

Manusia bertanya, kenapa aku diuji?

Al-Qur'an menjawab, apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan kami telah beriman,sedang mereka tidak diuji lagi. (QS. Al-Ankabut: 2)

"Dan sesungguhnya kami telah menguji orang orang sebelum mereka maka sesungguhnya Allah mengetahui orang orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 3)

Manusia bertanya, kenapa aku tidak diuji dalam hal baik-baik?

Al-Qur'an menjawab, boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal amat buruk bagimu (Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui). (QS. Baqarah: 216)

Dan masih banyak lagi kandungan (surat-surat atau ayat-ayat Al-Qur'an) yang dapat menerangi hati kita yang sedang bersedih.