Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Sabtu, 26 Januari 2013

Senjata IMAN untuk Lawan Syetan

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti acara pengajian di awal bulan yang bertempat di Pesantren AlQuran, Al Amanah, dimana anak saya, Muhammad Ammar Azmi ikut nyatri di dalamnya

Pengajian awal bulanan yang berlokasi di Jl H. Awi Kampung Pedurenan RT 011 RW 03 Kelurahan Jatiluhur, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi itu diisi oleh DR Ahzami Samiun Jazuli, MA

Kehidupan di dunia ini, kata DR Ahzami, tidak lepas dari pertarungan manusia melawan syetan. Pertarungan yang tidak akan henti sampai ajal menjemput. Pertarungan yang berlaku bagi seluruh manusia tanpa pandang bulu. Hasilnya, manusia bisa menang atau kalah.

Pada dasarnya syetan ini lemah, namun mereka dapat memiliki peluang untuk mengalahkan manusia, jika saja manusia lebih lemah daripada syetan. Tetapi sebaliknya, manusia bisa menang, jika ia memiliki senjata yang sangat ampuh, yakni senjata Iman.

Sangatlah berbahaya memang jika manusia tidak punya bekal senjata IMAN. Karena kenyataannya, perang melawan syetan tidaklah berimbang. Syetan dari golongan jin bisa melihat manusia dan mereka saling bekerja sama (bergerombol) satu sama lain. Lalu, adakah kiat agar mampu memenangi pertarungan melawan syetan?

Pertama, perbaharui terus Iman, kapan dan dimana saja berada. Sesungguhnya syetan itu bersemayam dalam hati manusia. Saat manusia berdzikir kepada Allah SWT, maka syetan akan berlari ketakutan. Namun, saat manusia lupa untuk berdzikir, maka syetan akan datang kembali membisiki manusia ke jalan kejahatan.

Karena itu, Nabi SAW memerintahkan untuk senantiasa memperbaharui Iman. Lalu para sahabat bertanya, bagaimana caranya? Nabi SAW menjawab, perbanyaklah membaca, memahami dan mengamalkan laa ilaha illallah.

Rasul SAW dan para sahabat saja, yang paling benar imannya, selalu memperbaharui iman mereka dengan berbagai cara. Misalnya berzikir, pengajian, shalat berjamaah, jihad, dan lain sebagainya.

Tidak ada waktu yang tersisa, untuk memberikan kesempatan syetan menjegal kehidupan kita. Maka hadirkanlah selalu iman kapan dan dimana kita berada. Iman tidak hanya hadir di masjid saja, namun ia hadir dimana-mana dalam aspek kehidupan.

Kita patut belajar dari kisah dialog antara pengembala kambing dengan Umar bin Khatab ra. Seorang pengembala sapi yang notabene memiliki tingkat intelektual yang relatif rendah, namun memiliki nuansa keimanan yang sangat tinggi.

Saat pengembala dites keimananannya oleh sahabat Umar bin Khatab ra untuk dibeli kambingnya. Umar berkata, “Bilang saja kepada majikanmu, kambing dimakan serigala”. Pengembala pun berkata, “Dimana Allah?”. Mendengar jawaban ini, Umar pun menangis.

Kedua, mentadabburi AlQuran. Kiat kedua untuk memenangi pertarungan dengan syetan adalah dengan mentadabburi AlQuran. Dalam berbagai ayat AlQuran, dikatakan bahwa merenungi dan menghayati AlQuran akan berkorelasi dengan penambahan iman dan otomatis syetan akan menjauh.

Ketika berinteraksi dengan AlQuran, maka iman akan bertambah. Dan inilah yang membedakan antara orang yang beriman dengan orang munafik. Orang yang beriman akan bertambah imannya, sementara orang munafik maka akan bertambah penyakit nifaknya, sampai mati dalam keadaan kafir.

“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira”. (QS At Taubah: 124)

Jadi, merenungi AlQuran merupakan kebutuhan yang lebih besar dibandingkan makan dan minum. Saat tidak makan, maka bahaya ektrimnya adalah sakit. Namun, jika kita tidak tadabur AlQuran, maka konsekwensinya bukan hanya mati secara fisik namun juga hati nurani.

Hati akan terkunci untuk menerima nasehat dan akhirnya mati dalam keadaan kafir. “Maka tidaklah mereka menghayati AlQuran, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS Muhammad: 24)

Dalam kondisi hidup di dunia ini yang penuh dengan fitnah, maka kita diharuskan untuk selalu mentadaburi AlQuran. Karena inilah sumber energi yang akan hadir untuk mengalahkan syetan. Imam Ahmad bin Hambal, seorang shaleh, saat diminta bantuan meruqyah seseorang yang kesurupan jin. Sang Imam tidak bersedia datang. Ia cukup mengirimkan sandalnya. Dan syetan pun langsung lari.

Ketiga, komitmen untuk selalu Berjamaah dengan orang-orang yang Benar dan Jujur. Kiat ketiga adalah selalu berkomitem untuk selalu berjamaah dengan orang benar dan jujur dalam aqidah, ibadah dan akhlak. Sebagaimana tercantum dalam QS At Taubah 119. “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”

Orang yang sendirian, maka ia akan relatif mudah terperangkap tipu daya syetan dan tenggelam dalam perbuatan haram. Awalnya, coba-coba, namun akhirnya menjadi kebiasaan. Saat syetan menggoda manusia, maka sebagian mereka saling mendukung kelompok lainnya, sehingga kalau manusia sendirian, maka syetan akan mudah menjadi pemenang.

Dalam Islam, apa saja yang berjamaah, memiliki pahala yang besar, misalnya shalat berjamaah, makan berjamaah, berpergian berjamaah, dan lain-lain. Berjamaah akan memberikan kekuatan dan sinergi satu sama lain.

Seorang mukmin akan kuat karena disebabkan saudaranya. Jangan bingung memilih ‘label’ jamaah. Karena dasar pemilihan jamaah berdasar tuntutan AlQuran dan Hadits bukan atas dasar label, namun berdasarkan kriteria yakni mereka yang benar dan jujur.

Keempat, memahami Islam secara Mendalam. Kiat keempat adalah memahami Islam secara mendalam. Tidak mungkin orang yang ‘bodoh’ akan memiliki iman kuat sehingga memenangi pertempuran dengan syetan. Dalam sebuah hadits, “Barangsiapa dikehendaki Allah baik, maka ia diberi pemahaman islam baik”. Syetan akan menyerah saat berhadapan orang yang berilmu (paham), karena seorang faqih akan mengetahui tipu daya syetan.

Ayat pertama AlQuran yang turun menyeru tentang pemahaman (ilmu) bukan soalan jihad, sholat, dan ibadah lainnya. Karena semua ibadah tidak akan diterima Allah SWT jika tidak didasari ilmu yang dimiliki. Jadi jangan mengikuti sesuatu yang kita tidak mengetahuinya.

Jangan pernah bosan memahami Islam, sebagai modal melawan syetan yang tidak pernah akan berhenti menggoda manusia sampai kiamat. Perbanyak kajian yang didasari kesadaran diri (bukan karena ikut-ikutan) bahwa pertarungan dengan syetan tidak akan pernah berhenti. Dan semoga kita dimudahkan mencintai ilmu AlQuran, sunah dan bersama orang-orang yang shaleh. Wallahua’lam

Jumat, 25 Januari 2013

Indahnya Berzakat, Hati Menjadi Lega

Ada saatnya senang dan juga susah, hal itu wajar. Bahkan ada kaya, ada miskin, itu juga masih wajar. Justru tidak wajar bila ada jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin yang terlalu lebar. Juga tidak wajar apabila mereka yang berlimpah harta itu tidak mau berbagi dengan mereka yang sedang dalam kesusahan.

Untuk itulah Allah SWT mensyariatkan zakat sebagai jembatan bagi mereka yang kaya (aghniya) dengan kurang mampu (dhuafa). Bagi mereka yang kurang mampu (dhuafa) manfaat yang didapat terasa begitu nyata. Minimal, kesulitan yang dihadapinya akan sedikit berkurang.

Sedangkan untuk para muzaki (pemberi zakat), yang selalu menunaikan zakatnya secara konsisten, jika para mustahik ini memperoleh manfaat secara langsung dan nyata, maka mereka akan merasakan kedamaian dan kelegaan hati, walaupun hal itu tidak nampak secara kasat mata.

Karena, hanya hati yang bersih yang dapat merasakannya dengan sempurna. Karena fungsi dari zakat adalah membersihkan harta dan mensucikan jiwa. “Ambillah zakat itu dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS At Taubah: 103)

Namun, benarkah harta yang telah dizakatkan sama dengan harta yang tidak dizakatkan? Disinilah hati melakukan penilaian, karena zakat itu adalah masalah hati. Bagi para muzaki, dengan memiliki harta yang bersih setelah dizakatkan, maka hati akan merasa nyaman, puas, lega, dan jiwa akan merasa tenang.

Harta yang bersih akan menjadi berkah, tidak peduli sedikit atau banyak jumlahnya. Bagaimanakah harta yang berkah itu? Harta yang berkah itu adalah harta yang dirasakan cukup walaupun sedikit, dirasakan aman bila ditinggalkan, dan bila dibutuhkan dia ada dekat kita.

Karena itulah mereka yang hidupnya selalu menunaikan zakat akan selalu diliputi keberkahan, tidak akan pernah gelisah karena kekurangan harta, dan tidak pernah khawatir bila hartanya hilang dalam sekejap, karena dicuri, dirampok atau tertimpa musibah.

Inilah model hidup para muzaki yang ikhlas, dia akan selalu bersyukur, merasa tenang hatinya karena telah menunaikan zakat. Dengan keyakinan, memberi kebahagiaan pada saudara yang membutuhkan dan manfaat yang diperoleh akan jauh lebih besar dibanding 2,5 persen harta yang harus dikeluarkan.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalat, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. (QS Al Ma’arij: 19-25). Wallahua'lam

Kamis, 24 Januari 2013

Sayangi dan Bantu Anak Yatim Menatap Masa Depan

“Mereka bertanya kepadamu tentang anak-anak yatim. Katakanlah, “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik!” Dan jika kamu mempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia datangkan kesulitan kepadamu. Sunggu Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS Al Baqarah: 220)

Setiap manusia selalu ingin mencapai tujuan hidup bahagia lahir maupun batin. Konsep tentang kebahagiaan sangat beragam dengan versi kebenaran masing-masing. Namun, dalam kehidupan ini, manusia beralih dari keadaan bahagia menjadi menderita.

Hal itu tidak ada bedanya, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa. Penjara kehidupan, serta beban beratnya juga berbeda-beda tingkatan. Ada yang kecil dan berlangsung sementara, namun ada pula yang besar dan berlangsung sangat panjang.

Banyak duka dan derita mengisi kehidupan ini. Ia tidak akan berbelas kasihan kepada siapapun, dan tidak ada seorang pun yang bisa meneguk air yang benar-benar jernih dari segelas kehidupan.

Gambaran kehidupan tersebut merupakan sebagian dari derita kehidupan yang dialami oleh sebagian orang diantara kita, yang pahit hidupnya mereka rasakan dalam waktu yang panjang. Kepahitan yang dirasakan oleh orang-orang yang lemah (kurang mampu), yang lebih dahulu merasakan pahitnya kehidupan sebelum merasakan manisnya kehidupan.

Mereka adalah anak-anak yatim. Anak yang kehilangan sosok yang mencari bekal hidupnya, sebelum mereka tahu apa itu pekerjaan, membimbing mereka sebelum mereka mengerti apa-apa. Merekalah anak yatim, anak yang dikejutkan oleh kematian ayahnya, sebelum mereka merasakan perlindungan seorang ayah.

hidup seseorang pun bisa terjadi, apalagi kebutuhan pokoknya tidak dapat terpenuhi. Seperti halnya dengan anak yatim. Mereka merasakan kesulitan hidup untuk memenuhi kebutuhan jiwa, yaitu kebutuhan akan kasih sayang dari sosok sang ayah.

Namun derita mereka, para anak yatim, akan terasa ringan beban yang diemban, apabila datang kepada mereka tangan-tangan ‘surga’ yang peduli dengan kondisi mereka alami, baik dari saudara dekat mereka sendiri atau dari kalangan masyarakat umum. Hal itu sangat membantu mereka dalam menghadapi kenyataan hidup. Sebab mereka belum dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain.

Untuk mewujudkan pembangunan manusia seutuhnya, agama merupakan salah satu sarana pokok yang seimbang dan sesuai dengan tujuan pembangunan bangsa. Pembinaan mental spiritual juga harus dilakukan secara terus menerus, sejak manusia dilahirkan sampai pertumbuhannya sempurna. Tentu saja yang pertama bertanggungjawab terhadap pembinaan anak adalah orang tua atau keluarga.

Namun, kenyataannya berbeda, menunjukan bahwa banyak terdapat anak yang mengalami hambatan sosial ekonomi, seperti anak yatim dan anak-anak yang orang tuanya tidak mampu memenuhi kebutuhan anak. Dalam menolong dan memberi perlindungan terhadap anak yatim adalah suatu keharusan dalam Islam. Salah satu orang yang mendustakan agama adalah orang yang menghardik anak yatim. (QS Al Maa’un: 1-2).

Dan Islam sangat mendorong para pemeluknya agar mempunyai akhlak yang mulia. Salah satu akhlak tersebut adalah menyantuni anak yatim, memotivasi semangat mereka untuk bangkit menuju harapan yang dicitakan mereka. Karena anak yatim adalah manusia yang sangat membutuhkan pertolongan dan kasih sayang kita semua.

Karena mereka adalah anak yang kehilangan seorang ayah dan hidup hanya bersama ibunya pada saat mereka membutuhkan seorang ayah. Mereka membutuhkan pertolongan dan kasih sayang kita, sebab mereka tidak mungkin lagi mendapatkan kasih sayang ayahnya yang telah tiada. Mari sayangi dan bantu mereka untuk menatap masa depan mereka. Wallahua’lam

:: tulisan ini juga dimuat di website PKPU (Pos Keadilan Peduli Ummat)

Rabu, 23 Januari 2013

Memperhatikan Kaum Fakir, Miskin, dan Yatim

Islam adalah agama yang mengatur hidup dan kehidupan manusia. Salah satu ajarannya adalah memberikan jaminan kepada mereka yang membutuhkan biaya atau nafkah dengan cara menyantuninya. Bukan hanya memberi harta namun juga memberikan perhatian dan jaminan kehidupan.

Allah SWT sangat mencela orang yang tidak mau memperhatikan kaum fakir, miskin dan anak yatim. Dan Allah SWT juga mencela mereka-mereka yang menghalangi orang untuk berbagi dan menolongnya.

Menolong masyarakat kurang mampu (dhuafa) sebagaimana yang dianjurkan dalam ayat AlQuran merupakan salah satu dasar dari dasar-dasar dibangunkan ekonomi Islam. Mereka yang tidak mampu (dhuafa) saharusnya dijamin oleh negara maupun masyarakat.

Hal ini dimaksudkan untuk mencapai pemerataan kesejahteraan serta tegaknya keadilan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam AlQuran, “Janganlah harta itu hanya berputar diantara orang yang kaya-kaya saja diantara kamu”.

Pemerataan dan keadilan yang dimaksud bukanlah rata dalam jumlah, namun rata dalam peredarannya. Untuk itu, Islam mewajibkan umat Islam untuk menunaikan zakat, dan menyukai mereka-mereka yang suka berinfak dan sedakah, terlebih dengan mengutamakan keluarga atau kerabat yang kurang mampu.

Dari sini, kita semakin mengerti bahwa agama Islam adalah agama baik. Memberikan kebaikan, kesenangan, dan kenikmatan untuk dunia dan akhirat. Ajarannya tidak ada yang mencelakakan manusia. Tidak ada kemaslahan manusia kecuali dengan sebab Islam. Tidak ada agama lain selain Islam yang mengatur penggunaan harta dengan detil.

Namun, kewajiban menyantuni fakir, miskin dan anak yatim melalui fasilitas zakat, infak dan sedekah belum berjalan baik sebagaimana mestinya. Hal ini bisa jadi disebabkan karena kebodohan (kejahilan) kaum muslimin dalam memahami agama Islam.

Begitu banyak kemiskinan dan kefakiran, serta anak yatim yang terzhalimi di lingkungan di mana kita berada. Sungguh sedikit jumlah orang yang mengeluarkan zakat dibanding jumlah umat Islam secara keseluruhan.

Untuk itu, marilah kita mengamalkan ajaran Islam dalam memberikan hak jaminan hidup orang fakir, miskin dan yatim dengan cara menunaikan zakat, infak dan sedekah. Berbagi kebahagiaan dan kepedulian kepada sesame juga akan membawa hati kita selalu tenang dan ikhlas. Wallahua’lam

STATUE OF LIFE (PATUNG KEHIDUPAN)


Suatu ketika, hiduplah seorang pematung. Pematung ini, bekerja pada seorang raja yang masyhur dengan tanah kekuasaannya. Wilayah pemerintahannya sangatlah luas. Hal itu membuat siapapun yang mengenalnya, menaruh hormat pada raja ini. Sang pematung, sudah lama sekali bekerja pada raja ini. Tugasnya adalah membuat patung-patung yang diletakkan menghiasi taman-taman istana. Pahatannya indah, karena itulah, ia menjadi kepercayaan raja itu sejak lama.Ada banyak raja-raja sahabat yang mengagumi keindahan pahatannya saat mengunjungi taman istana.

Suatu hari, sang raja mempunyai rencana besar. Baginda ingin membuat patung dari seluruh keluarga dan pembantu-pembantu terbaiknya. Jumlahnya cukup banyak, ada 100 buah. Patung-patung keluarga raja akan di letakkan di tengah taman istana, sementara patung prajurit dan pembantunya akan diletakkan disekeliling taman. Baginda ingin, patung prajurit itu tampak sedang melindungi dirinya. Sang pematung pun mulai bekerja keras, siang dan malam. Beberapa bulan kemudian, tugas itu hampir selesai. Sang Raja kemudian datang memeriksatugas yang di perintahkannya. "Bagus. Bagus sekali," ujar sang Raja."Sebelum aku lupa, buatlah juga patung dirimu sendiri, untuk melengkapi monumen ini."

Mendengar perintah itu, pematung ini pun mulai bekerja kembali. Setelah beberapa lama, ia pun selesai membuat patung dirinya sendiri. Namun sayang,pahatannya tak halus. Sisi-sisinya pun kasar tampak tak dipoles dengan rapi.Ia berpikir, untuk apa membuat patung yang bagus, kalau hanya untuk diletakkan di luar taman. Patung itu akan lebih sering terkena hujan dan panas, ucapnya dalam hati, pasti, akan cepat rusak. Waktu yang dimintapun telah usai. Sang raja kembali datang, untuk melihat pekerjaan pematung. Ia pun puas.

Namun, ada satu hal kecil yang menarik perhatiannya.Mengapa patung dirimu tak sehalus patung diriku? Padahal, akuingin sekali meletakkan patung dirimu di dekat patungku. Kalau ini yang terjadi, tentu aku akan membatalkannya, dan menempatkan mu bersama patung prajurit yang lain di depan sana. Menyesal dengan perrbuatannya, sang pematung hanya bisa pasrah. Patung dirinya, hanya bisa hadir di depan, terkena panas dan hujan, seperti harapan yang dimilikinya.

RENUNGAN:
Dear All, seperti apakah kita menghargai diri sendiri? Seperti apakah kita bercermin pada diri kita? Bagaimanakah kita menempatkan kebanggaan atas diri kita? Ada kalanya memang, ada orang-orang yang selalu pesimis dengan dirinya sendiri. Mereka, kerap memandang rendah kemuliaan yang mereka miliki. Namun, apakah kita mau dimasukkan ke dalam bagian itu. Saya percaya, tak banyak orang yang menghendaki dirinya mau dimasukkan sebagai orang yang pesimis. Kita akan lebih suka menjadi orang yang bernilai lebih. Sebab,Tuhan pun menciptakan kita tak dengan cara yang main-main. Tuhan menciptakan kita dengan kemuliaan mahluk yang sempurna.

Dan teman, sesungguhnya, kita sedang memahat patung diri kita saat ini. Tapi patung seperti apakah yang sedang kita buat? Patung yang kasar, yang tak halus pahatannya, ataukah patung yang indah, yang memancarkan kemuliaan-Nya? Patung yang bernilai mahal, yang menjadi hiasan Memang, tak ada yang tahu akan ditempatkan dimana patung-patung diri kita kelak. Karena hanya Tuhan lah Maha Tahu. Karenanya, bentuklah patung-patung itu dengan indah. Pahatlah dengan halus, agar kita bisa ditempatkan ditempat yang terbaik, di sisi-Nya. Poleslah setiap sisinya dengan kearifan budi, dan kebijakan hati, agar memancarkan keindahan.Susuri setiap lekuknya dengan kesabaran, dan keikhlasan. Pahatan yang kita torehkan saat ini, akan menentukan tempat kita di akhirat kelak. Bentuklah "patung" diri Anda dengan indah!

KISAH ORANG KAYA DAN ORANG MISKIN BERTEMU DISURGA


Alkisah, di suatu negeri pernah hidup seorang kaya raya, yang rajin beribadah dan beramal. Meski kaya raya, ia tak sombong atau membanggakan kekayaannya. Kekayaannya digunakan untuk membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dantetangga-tetangganya yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya. Di musim paceklik, ia membagikan bahan pangan dari kebunnya yang berhektar-hektar kepada banyak orang yang kesusahan. Salah satu yang sering dibantu adalah seorang tetangganya yang miskin.

Dikisahkan, sesudah meninggal, berkat banyaknya amal,si orang kaya ini pun masuk surga. Secara tak terduga,di surga yang sama, ia bertemu dengan mantan tetangganya yang miskin dulu. Ia pun menyapa. "Apa kabar, sobat! Sungguh tak terduga, bisa bertemu kamu di sini," ujar si kaya."Mengapa tidak? Bukankah Tuhan memberikan surga pada siapa saja yang dikehendaki-Nya, tanpa memandang kaya dan miskin?" jawab si miskin. "Jangan salah paham, sobat. Tentu saja aku paham,Tuhan Maha Pengasih kepada semua umat-Nya tanpa memandang kaya-miskin. Cuma aku ingin tahu, amalanapakah yang telah kau lakukan sehingga mendapat karunia surga ini?" "Oh, sederhana saja. Aku mendapat pahala atas amalanmembangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya...."

"Bagaimana itu mungkin?" ujar si kaya, heran."Bukankah waktu di dunia dulu kamu sangat miskin. Bahkan seingatku, untuk nafkah hidup sehari-hari saja kamu harus berutang kanan-kiri?" "Ucapanmu memang benar," jawab si miskin. "Cuma waktu di dunia dulu, aku sering berdoa: Oh, Tuhan! Seandainya aku diberi kekayaan materi seperti tetanggaku yang kaya itu, aku berniat membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara,kerabat dan tetangga yang miskin dan banyak amal lainnya. Tapi apapun yang kau berikan untukku, aku akan ikhlas dan sabar menerimanya."

"Rupanya, meski selama hidup di dunia aku tak pernah berhasil mewujudkannya, ternyata semua niat baikku yang tulus itu dicatat oleh Tuhan. Dan aku diberi pahala, seolah-olah aku telah melakukannya. Berkat semua niat baik itulah, aku diberi ganjaran surga ini dan bisa bertemu kamu di sini," lanjut si miskin.

RENUNGAN:
Maka perbanyaklah niat baik dalam hati Anda. Bahkan jika Anda tidak punya kekuatan atau kekuasaan untuk mewujudkan niat baik itu dalam kehidupan sekarang,tidak ada niat baik yang tersia-sia di mata Tuhan.

KISAH ANJING YANG RAKUS


Ada seekor anjing yang terasa bingung saking laparnya, seharian penuh tidak mendapatkan makanan. Saat senja tiba, akhirnya dengan penuh gairah ia melihat sepotong daging yang lezat di atas tanah, ia bergegas menggondol daging itu dan berlari ke tempat tinggalnya. Dalam hati dia merenung "sungguh beruntung sekali, di luar dugaan bisa mendapatkan daging besar ini, saya harus menikmati dengan sepuasnya."

Sambil berjalan ia berpikir, dan tanpa disadari tiba di sebuah sungai, jika sudah melewati jembatan kecil berarti tempat tinggalnya sudah dekat, berpikir sampai di situ ia lantas menggigit lebih erat lagi daging itu, dan berjalan di atas jembatan penyeberangan. Ia berjalan dengan sangat hati-hati, ketika sampai di tengah jembatan, tanpa sengaja ia memandang ke sungai, dan begitu melihat ke sungai bukan main kagetnya, ia melihat ada seekor anjing di sungai itu, menggondol sepotong daging yang besar dan sedang menatapnya. Dalam hati ia mulai berpikir "wah, daging yang digondolnya itu tampaknya lebih besar dibanding daging saya ini! Jika saya sedikit lebih galak terhadapnya, siapa tahu mungkin ia akan melepaskan daging itu dan lari!"

Makin dipikir ia semakin gembira, lalu mulai galak terhadap anjing di sungai itu. Namun, anehnya, anjing itu sepertinya tidak takut sedikit pun terhadapnya. Ia memelototkan mata, dan anjing itu juga memelototkan matanya; ia berbalik, anjing itu juga berbalik, ia menghentakkan kaki, anjing itu juga ikut menghentakkan kakinya. Akhirnya, ia benar-benar marah, dalam hati berpikir "lebih baik aku menggigitnya, ia pasti akan lari, dengan begitu aku bisa mendapatkan daging itu," lalu, ia membuka moncongnya dan menggonggong dengan keras "Auh. auh.auh..."

Begitu ia membuka moncongnya, daging dalam gigitannya lalu tiba-tiba terjatuh ke sungai, menghancurkan tubuh anjing yang berada di sungai itu, dan dalam sekejap tenggelam di dalam air lenyap tak berbekas. Percikan air yang dalam menghancurkan semua mimpi si anjing yang rakus ini, dan ia baru menyadari bahwa ternyata anjing itu adalah bayangan dirinya dalam air. Lalu
dengan sedih ia menangis "kalau tahu begini aku tidak akan sedemikian rakus, namun kini, saya harus menahan lapar lagi, ke mana aku harus mencari makan?"

RENUNGAN:
Banyak orang ingin bisa hidup dengan lebih baik, harus mendapatkan lebih banyak, maka disadari atau tidak dapat mencelakakan kepentingan orang lain, tidak puas dengan apa yang sudah diperolehnya. Bahkan ada yang tak segan-segan merampas barang milik orang lain. Anjing yang rakus ini demi untuk mendapatkan sepotong daging lebih banyak, malah kehilangan makanan lezatnya, lantas apa yang hilang pada manusia yang rakus? Persaudaraan, persahabatan, hati nurani atau ketenangan hati? Ya, ini semua baru merupakan harta benda yang paling berharga dalam kehidupan! Hargailah semua yang kita miliki, tidak memaksakan sesuatu yang tidak bisa diperoleh, jangan karena rakus lantas malah kehilangan sesuatu yang sudah ada. "Kalau memang milik kita, pasti akan kita miliki, kalau bukan jangan memaksakan kehendak", orang yang tahu menikmati hidup apa adanya, itulah orang yang benar-benar kaya.