Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Sabtu, 04 Agustus 2012

Beban Dalam Kehidupan

Materi yang berada di tingkat manusia adalah yang paling kotor, dan tidak akan dapat dibawa ke surga. Manusia selalu mengejar kebahagiaan, tetapi tidak ada seorang manusia pun yang bisa terbebas dari lahir, tua, sakit, mati ataupun menghindari kesengsaraan.

Hanya dengan berkultivasi untuk melepaskan semua beban keterikatan dalam dunia, barulah bisa mencapai kebahagian di seberang sana.

Jika seseorang memiliki terlalu banyak benda-benda yang tidak dapat dia lepaskan, maka semua benda yang tidak dapat dilepaskan itu akan menjadi beban yang menempel pada tubuhnya. Beban semakin berat maka langkahnya akan semakin lamban.
Tetapi manusia sendiri tidak akan merasakan beban yang dipikulnya. Sebaliknya, beban-beban ini merupakan benda yang dianggap sangat penting bagi manusia. Benda itu adalah beban yang tidak dapat ditinggalkan dan dilepaskannya, bahkan kehilangan sedikit saja akan merasa sangat berat.

Buntalan beban yang dipikul setiap orang belum tentu sama. Ada orang yang dapat melangkah dengan cepat, ada pula orang yang melangkah dengan lamban. Apabila beban yang dipikulnya terlalu berat, maka tentu langkahnya tidak bisa cepat.

Sebenarnya apa isi dari buntalan beban itu? Ada yang disebut harta, ada yang disebut nama, ada yang disebut berbagai jenis budi manusia, ada yang disebut harga diri, ada yang disebut selera, ada yang disebut nafsu, ada pula yang disebut “konsep” yang terbentuk pada manusia. Pokoknya semua ini adalah tujuh perasaan dan enam nafsu manusia. Kesemuanya ini merupakan untaian rantai-rantai yang membelenggu manusia.

Manusia menikmati hidup dengan cara manusia, senang memisahkan diri dengan orang lain, senang jika diri sendiri mendapatkan lebih banyak dari orang lain, ingin diri sendiri lebih baik daripada orang lain, senang mendengarkan kata-kata yang enak didengar, senang dengan kenyamanan. Inilah manusia, menjadi manusia biasa memang demikian.

Kebaikan yang dilakukan antar manusia adalah demi mendapatkan, kejahatan yang dilakukan antar manusia juga demi tidak kehilangan. Manusia selalu mengharapkan lebih baik orang lain yang terluka daripada diri sendiri; Manusia lebih baik mati daripada harus melepaskan beban yang berada di atas tubuhnya.

Tetapi beban-beban tersebut sebenarnya bukan milik “manusia”. Tak peduli manusia menganggap dirinya bagaimana, fungsi satu-satunya dari beban-beban ini adalah membelenggu manusia, bahkan akan menekan manusia hingga runtuh. Tetapi ketika manusia akan meninggal dunia, tidak ada satu pun dari benda-benda yang “paling tak dapat dilepaskan” ini yang akan menyertainya pergi, tetapi hutang dan waktu yang tersia-siakan demi untuk mendapatkan beban-beban ini akan selalu menyertai manusia.

Akhirnya, apa yang didapatkan oleh manusia? Ada orang yang memiliki beban sangat berat, menekan manusia hingga membuat manusia tak dapat bernapas. Walaupun manusia ingin melepaskan beban-beban itu juga sudah tidak ada tenaga untuk mengerakkan tubuhnya; Ada beban yang dipikul orang tampak seperti terbungkus kain yang berlapis-lapis, melepaskan kain yang satu dan masih terbelenggu kain yang lain.

Ada pula orang yang sudah merasa lelah, memanggul beban dengan sikap apatis, meratapi diri dengan menghela napas, namun masih juga tidak rela menghabiskan tenaga dan energi untuk melepaskan tali yang melilit di tubuhnya.

Mencari Tuhan Di Penggorengan Pisang Raja

Ada salah satu prilaku kita yang sering terjadi adalah “Ngurusi yang bukan urusannya”, dampaknya adalah hidup tidak tentram. Hidup tidak tentram, akan berdampak pada kesehatan diri maupun kesehatan tatanan masyarakat.

Ada empat kelompok kehidupan manusia;
(1) Hidup tentram dengan berkelimpahan harta;
(2) Hidup tidak tentram dengan berkelimpahan harta;
(3) Hidup tentram dengan tidak berkelimpahan harta; dan
(4) Hidup tidak tentram dengan tidak berkelimpahan harta.

Kesempatan ini, akan diambil kasus masalah “hidup tentram dengan tidak berkelimpahan
harta”, tidak berkelimpahan harta dalam tulisan ini, bukan berarti hidupnya kekurangan, namun hidup yang tidak berkelebihan harta berlimpah ruah, namun ketentramannya sangat berlimpah ruah.
Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Waspada pada tanggal 26 Mei 2008, dihalaman
bisnis dan teknologi, dengan judul “Mencari Tuhan di Penggorengan Pisang Raja”, maaf kami belum bisa menyebutkan penulisnya, sebab sampai sekarang belum menemukan penulisnya.

Sore hari terasa lezat jika disisipi beberapa potong pisang goreng dan teh manis hangat. Setelah lelah berdiri beberapa jam menyampaikan materi pelatihan, laju mobil mengantarkan saya ke sebuah warung gorengan yang tidak jauh dari komplek perhotelan mentereng di negeri ini. Kaca mata bisnis saya selalu saja senang memperhatikan geliat orang-orang yang berani menolong diri sendiri dan keluarganya melalui usaha halal dalam bentuk apapun. Melihat warung ini, saya mencoba mengkalkulasikan kira-kira berapa besar nilai bisnisnya.

Bagaimana pengelolaannya, bagaimana pemasarannya, teknik jual si pelayan dan berbagai hal-hal teoritis lainnya. Seorang paruh baya menyodorkan sepiring pisang goreng ke hadapan saya sambil tersenyum ramah dan berbasa-basi mempersilahkan saya untuk mencicipinya sekaligus menanyakan minuman apa yang saya minati. Pemilik wajah yang begitu teduh dan damai itu bernama Sudiro yang akhirnya saya tahu bahwa panggilan akrabnya adalah Wak Diro.

Menikmati pisang goreng terasa lebih hangat dengan obrolan ringan bersama Wak Diro.
Dalam guyonan yang mengalir saya tahu ternyata Wak Diro adalah perantau asal Kudus yang sudah 16 tahun menjual gorengan pisang. Dalam satu hari ia bisa menghabiskan satu tandan besar dan hasil penjualannya bisa menyekolahkan ke empat anaknya hingga menjadi sarjana. Wak Diro rupanya jebolan fakultas teknik universitas negeri tertua di Jogjakarta, walau ia hanya bisa sampai semester 5.

“Kenapa tidak bisnis yang lain Wak? Atau menjadi pegawai negeri?” tanya saya menyelidik. Belum sempat menjawab pertanyaan saya, ia menundukkan badan tanda permisi kepada saya karena datang satu mobil Kijang Inova baru yang mendekat. Ternyata mobil itu dikemudikan oleh istrinya yang mengantarkan sesuatu.
Pikiran saya berputar tak tentu. Tanpa sadar saya sedang menakar kantong orang tua ini. “Seorang penjual pisang goreng mampu menguliahkan keempat anaknya hingga sarjana dan kini didepan mata saya, si Istri datang dengan mobil baru yang tidak murah harganya”.

Bukan cari uang.

Sekali lagi saya jarah lagi semua sudut warung kecil itu. Penataan dagangan lumayan menarik, tetapi tidak istimewa. Kualitas produknya berupa gorengan juga terasa sama seperti pisang goreng ditempat lain. Atmosfir warung juga sama seperti warung-warung lain, walau yang ini terlihat lebih bersih dan terjaga. Sarana promosi sangat sederhana, hanya tulisan Pisang Goreng Panas yang ditulis tangan dengan kuas biasa. Daftar harga tercetak di selembar kertas terlaminasi yang ditempel di dinding sebelah kiri. Ada dua orang pegawai yang membantu menggoreng, membuat minuman dan melayani pelanggan sekaligus. Tetapi jumlah pembelinya silih berganti, tidak sederas air pancuran, tetapi datang satu-satu seperti tiada henti.

Tak lama kemudian istri Wak Diro pergi, kata Wak Diro, istrinya harus mengantar beberapa kertas tisue ke lima cabangnya yang lain. Dan informasi itu membuat saya memilih untuk bertahan lebih lama demi mengetahui apa rahasia sukses bisnis ini.

Setelah melewati beberapa basa-basi, lalu ia bertanya kepada saya, “Mas, sampean apa
percaya sama Gusti Allah?”. Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena saya tidak bisa memperkirakan kemana arah pemikirannya.

Lalu tanpa menunggu jawaban saya, Wak Diro menjelaskan bahwa dalam 8 tahun terakhir Ia tidak lagi mencari uang semata, tapi Ia mencari Tuhan. “Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah”.

Seperti pengakuan kebanyakan manusia, Ia meyakini bahwa hanya Tuhan yang sanggup mengarahkan dirinya kepada kondisi apapun.”Mas, saya bukan jualan pisang goreng
lho”, aku Wak Diro, “Saya ini sedang membantu orang-orang agar bisa beribadah dengan baik”. “Wow…” pikir saya, apakah penjual pisang goreng ini masih waras?

“Saya ini senang membantu banyak orang dengan mengganjal perutnya agar ibadah shalat Ashar dan Maghrib-nya berjalan dengan baik, karena jam makan malam biasanya setelah Shalat Isya” terang Wak Dirno. Saya mulai memahami apa maksud kalimat Wak Diro sebelumnya, “Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah”.

Kini saya paham, mengapa ia begitu ramah menyambut tamu-tamunya, kualitas gorengan tetap terjaga baik ukuran maupun takarannya dan ruangan kedai ini tetap terjaga kebersihannya. Jelas bukan karena sekadar mencari uang, tetapi Wak Diro sedang beribadah. Mencari keridhaan Tuhan. Seperti dijanjikan Allah ketika kita bersyukur, maka nikmat itu terus bertambah dan mengalir lancar.

Saya benar-benar terbayang betapa saya dan banyak sahabat saya yang kerja mati-matian siang -malam hanya sekadar mencari uang. Bayangan itu begitu asam terasa setelah mendengar pengakuan Wak Diro itu. Betapa Wak Diro sudah menemukan kunci dasar sukses bisnis. Ia tidak sekadar menjual jajanan, ia muncul dengan alasan yang lebih
mulia. Pisang goreng hanya media mendapatkan ridha Sang Khalik. Semua bentuk kerja dan bisnis dikerjakannya dengan menghadirkan batin, tulus dan iklas.

Khawatir

“Bagian saya adalah mempermudah ibadah orang lain, bagian Gusti Allah menjaga saya Mas”
“Saya hanya pasrah dan memohon agar selalu dituntun Gusti Allah” aku Wak Diro. “Apapun langkah saya, saya percaya Gusti Allah akan menyelamatkan saya. Jika saya dibawa ke kubangan kerbau sekalipun, saya tetap percaya kalau itu adalah kehendak Gusti Allah dengan maksud tertentu agar saya mendapatkan hikmah atas perjalanan itu”.

Menyelesaikan pisang terakhir, saya bertanya, “Wak, apakah sampean tidak khawatir dengan kenaikan BBM?”, dengan ringan Wak Diro menjawab, “Lha wong, saya sudah serahkan hidup saya ke Gusti Allah, kok mesti kuatir?”. Sambil mengulurkan uang kembalian ke saya, ia berujar, “Saya kan cuma kawulo, apakah pantas kalau saya ikut campur tangan ‘ngatur kerjaan Kanjeng Gusti?”

Hidup adalah pilihan, kita bisa memilih hidup tentram atau hidup sengsara. Ketentraman dan kesengsaraan fokus utamanya bukan terletak di banyak atau sedikitnya
harta, namun lebih terletak pada “Kita mau menyerahkan hidup ke yang mengurus kehidupan atau tidak”. Itu saja pilihannya..

Kita itu sering aneh, selalu ngurusi yang bukan urusannya. Berani menghadapi hidup tentram, tanpa selalu merasa terhimpit aneka permasalahan! !!
Bagaimana Pendapat anda ???

Kayu Ajaib

Alkisah

Pada Zaman Bani Israel, ada seorang lelaki shalih yang hendak berdagang. Akan tetapi, dia tidak mempunyai modal. Akhirnya, lelaki itu meminjam uang kepada seorang saudagar yang dikenal pemurah. Dia meminta pinjaman sebesar seribu dinar.

Karena jumlahnya sangat banyak, saudagar yang dipinjami uang itu berkata,”Kau akan aku pinjami uang, tetapi carilah orang yang akan menjadi penjaminmu. Jika kau tidak bisa membayar, orang itu yang akan membayarnya!”

Lelaki shalih itu menjawab,“Cukuplah Allah sebagai penjaminku. Allah Makakaya dan Mahakuasa!”

Saudagar itu lalu menukas,”Kalau begitu, carilah saksi. Agar jika terjadi apa-apa dia bisa menjadi saksi yang adil.”

Lelaki shalih itu menjawab.“Cukuplah Allah sebagai saksiku. Dia Maha Melihat dan Maha Mengetahui.”

“Kau Benar.”

Lalu, saudagar itu meminjamkan uang seribu dinar setelah membuat kesepakatan bahwa tiga bulan kemudian uang itu harus sudah di kembalikan, karena uang itu akan digunakan.

*****

Lalu, lelaki shalih itu membelanjakan uang seribu dinar itu untuk membeli barang-barang dagangan. Dia hendak berdagang ke negeri seberang dengan menggunakan kapal. setelah berlayar berhari-hari, kapal itu sampai di negeri seberang dengan selamat. Dia disana, dia memulai berdagang di sebuah pasar, dekat dermaga. Dalam waktu satu bulan, dagangannya telah habis. Dia mendapatkan keuntungan besar, yaitu tiga kali lipat dari modalnya.

Setelah berkemas, dia mencari kapal ke dermaga. Namun, dia tidak menemukan kapal yang berlayar ke negerinya. Kemudian, dia teringat pada janjinya yang akan mengembalikan uang itu pada awal bulan. Waktunya tinggal empat hari. Sedangkan untuk sampai ke negerinya, dia memerlukan waktu empat hari. Dia bingung, seharusnya, hari itu dia sudah mulai berlayar.

Lalu, dia terus berjalan sepanjang pantai untuk mencari nelayan yang bisa mengantarkan pulang ke negerinya. Akan tetapi, dia tidak menemukannya. Dia menangis dan bingung. Dia tidak ingin mengkhianati janjinya.

Akhirnya, dalam kesedihannya, dia melihat septong kayu terapung di pinggir pantai. Dia mengambil kayu itu dan membawanya ke penginapannya.

Dia lalu pergi ke pasar untuk membeli alat pelubang kayu. Kayu itu dia lubanginya. setelah itu di menulis surat,
Saudarakau, aku tulis surat ini empat hari sebelum hari jatuh tempo pembayaran uang yang aku pinjam seperti yang telah kita sepakati dulu.
Aku tidak tahu apakah surat ini sampai kepadamu atau tidak. aku sepenuhnya menyerahkan urusan ini kepada Allah yang menjadi penjaminku.
Saat ini, sebenarnya aku ingin berlayar pulang untuk mengantarkan uang ini. Namun, itu tidak bisa dilakukan karena tidak ada kapal yang berlayar. Kapal yang akan berlayar ke negeri kita adanya satu bulan lagi. Ini seribu dinar aku titipkan kepada Allah untuk disampaikan kepadamu melalui kayu ini.

Wassalam,
Sahabatmu.

Lalu, dia memasukkan surat itu bersama uang seribu dinar. Surat dan uang itu, dia bungkusnya dengan kantong yang tidak tembus air. Setelah itu, dia menggergaji kayu untuk menyumpal lubang itu. Kemudian, dia memakunya kuat-kuat.

Setelah semuanya selesai, di pergi ke pantai untuk menghanyutkan kayu itu, seraya berdoa,”Ya Allah, Engkau tahu kalau aku meminjam uang seribu dinar kepada Fulan. Di bertanya padaku orang yang bisa menjadi jaminanku, dan aku menjawabnya. ‘Cukup Allahlah yang menjadi penjaminku. ‘Lalu, dia meminta saksi aku katakan,‘Cukup Allahlah yang menjadi saksiku.’ Dia pun ridha kau sebagai penjamin dan saksiku. Dia telah meminjamiku seribu dinar untuk dikembalikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa pulang guna membayarkan hutang ini, tetapi tidak bisa karena tak ada kapal. Sekarang, aku titipkan uang seribu dinar ini kepada-Mu untuk Kau sampaikan kepadanya, tepat pada waktunya. Engkaulah Tuhan yang Mahakuasa. Amin”

Lalu, dia menghanyutkan kayu itu ke laut. Dia hanya berdiri diam di tepi pantai, sampai kayu itu hilang ditelan ombak di tengah laut.

Pada hari yang telah dinantikan, saudgar yang memberi pinjaman itu, menanti di dermaga. Dia menanti datangnya kapal yang membawa orang yang telah dia pinjami uang seribu dinar. Dia ingin mengambil uangnya karena ada keperluan.

Biasanya, kapal itu datang pagi hari. Namun, pagi itu tidak ada kapal yang datang.Dia menunggu sampai sore. Namun, tidak ada juga kapal yang datang. Dia pun pasrah jika seandainya uang itu tidak kembali, dia niatkan sebagi sedekah.

Sebelum pulang, dia melihat ada kayu terapung diterjang ombak di pantai. Daripada pulang tidak membawa hasil, dia memungut gelondongan kayu itu. “Lumayan, bisa untuk kayu bakar di rumah,” pikirnya. Dia pun membawa kayu itu kerumah.

Sampai di rumah, dia meletakkan kayu itu di dapur. Melihat kayu gelondongan itu, istrinya berkata,”Sebaiknya di pecah-pecah sekalian. Biar cepat kering dan besok bisa di gunakan memasak.”

Lalu saudagar itu mengambil sebuah kapak dan memecah kayu itu. Begitu kayu itu pecah, dia tercengang melihat kantong yang ada di dalamnya. Dia memungut kantong itu dan mengeluarkan isinya. Ternyata, kantong itu berisi uang sebanyak seribu dinar dan selembar surat.

Dia membaca surat itu dengan seksama. Dia terharu dan takjub. Seketika, dia menangis dan bersujud kepada Allah. Dia merasa, betapa maha kuasanya Allah. Allah tidak pernah mengecewakan hamba-hamba-Nya yang bertawakal dan percaya sepenuh hati kepada-Nya. Surat itu datang dari saudaranya. Dia pun berdoa semoga saudaranya yang masih tertinggal di negeri seberang sehat wal afi’at dan mendapat rezeki yang lancar.

Satu bulan kemudian, lelaki shalih itu pun datang dan langsung menuju rumah saudagar itu guna mengembalikan uang yang telah ia pinjam. Pertama-tama dia meminta maaf kalau kedatangannya telat dan berarti telat pula bayar hutang kepadanya. Lalu dia menyodorkan uang seribu dinar kepada saudagar itu.

Saudagar itu berkata,”Bukankah kau telah membayarnya?”

“Kapan?”

“Bukankah kau telah menitipkannya lewat sepotong kayu glondongan itu?”

Lalu saudagar itu menceritakan perihal kayu itu yang dia temukan; yang di dalamnya ada uang seribu dinar dan surat.

Mendengar ceritanya, lelaki shalih itu seketika bertasbih, “Subhanallah, Mahasuci Allah!”

Belajar dari Sebuah Sumur

Sebuah sumur bila ditimba airnya setiap hari, dia tidak pernah kering, terus ada air di dalamnya. Anehnya kalau dalam satu hari saja air tidak ditimba, ketinggian air yang ada di dalam sumur itu juga tidak meningkat. Tetap saja seperti semula.

Secara logika, kalau air di dalam sumur itu terus-menerus ditimba tentu suatu saat akan berkurang, demikian sebaliknya bila air itu tidak ditimba seharusnya ketinggian air itu meningkat, tetapi ini tidak terjadi. Aneh kan? Inilah hukum alam, di mana di dalam semesta terdapat misteri, dan juga semesta ini bertujuan untuk selalu memberi.
Sesungguhnya kehidupan kita juga sama dan serupa dengan sumur ini, sebab kita adalah bagian dari alam semesta. Tujuan alam semesta adalah untuk memberi, demikian juga kehadiran kita di muka bumi ini juga untuk memberi. Pada umumnya orang berpikir bahwa kalau dia memberi, apa yang dimilikinya pasti akan kekurangan. Namun kalau kita mau belajar dari sumur ini, semakin banyak dia memberi, akan semakin banyak air yang mengalir kepadanya. Jadi tidak perlu ragu lagi untuk memberi, karena apa yang diberikan akan kembali lagi kepada si pemberi.

Dalam hal memberi tidak seharusnya dalam bentuk uang atau materi saja; kita bisa memberi apa saja yang kita miliki. Menolong atau membantu orang lain sebetulnya juga merupakan tindakan memberi dan sebagai pedomannya, berikan sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang Anda miliki. Sebagai contoh, Anda memiliki kemampuan dan keterampilan bahasa Inggris, maka ajarkan keterampilan ini kepada orang lain yang membutuhkan. Dengan demikian, Anda sudah memberikan apa yang Anda miliki.

Ketika Anda mengajarkan keterampilan ini, maka dengan sendirinya kemampuan dan keterampilan Anda akan semakin meningkat. Yang perlu kita perhatikan adalah janganlah memberi karena terpaksa, janganlah memberi karena ingin dipuji orang lain, janganlah memberi untuk menunjukkan bahwa Anda orang yang kaya dan janganlah memberi hanya karena kebiasaan. Kalau ini yang Anda lakukan, sebetulnya pemberian Anda tidaklah ikhlas.

Sikap mental memberi seharusnya berlandaskan pada rasa belas kasih kepada orang lain, bukan karena mengharapkan sesuatu dari orang lain. Sebaiknya Anda memberi karena menginginkan orang lain bisa bahagia, bisa hidup lebih baik, dan lebih layak. Intinya, pemberian itu memang seharusnya bisa meningkatkan kualitas hidup bagi orang yang menerimanya.

Pada zaman yang serba materialistik ini, segala sesuatu yang diberikan tentu mempunyai tujuan untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain, jadi memang agak sulit untuk memberi tanpa pamrih. Namun begitu bila kita tidak mencobanya, kita tidak akan tahu bahwa diri kita bisa memberi tanpa harus mengharapkan sesuatu (pamrih). Dengan mengembangkan sikap mental memberi yang murni, saya yakin setiap orang bisa melakukan ini. Sekarang pilihannya terserah kepada Anda. Sedangkan manfaat langsung yang bisa Anda rasakan ketika memberi adalah perasaan puas – kepuasan batin, dan inilah sebetulnya kebahagiaan pada tingkat yang tinggi!

Salam Bahagia dan Sejahtera.

Kamis, 02 Agustus 2012

Semoga Ramadhan Hapus Hinanya Kemunafikan

kemunafikan

Ada yang aku coba jelaskan dalam heningnya Diam, seperti kalian, yang menyembunyikan ke pura puraan dalam suara suara lantang.  Sadari, ada yang kita coba perangi dengan akrabnya persahabatan, ada gumpalan gumpalan benci yang kita gunakan mengungkapakan perasaan sayang.

Mungkin itulah Kemunafikan, aku dan kalian hanyut bersamanya,,,terlena dan melupa

dan saat hati mulai bertanya kenapa,,,
Kenapa ada cinta ditengah sakitnya luka?
Kenapa ada dendam yang terselip dalam rak rak persaudaraan?
Kenapa harus senyum memkasa jika tak sampai pada lepasnya tawa?
Kenapa harus terbang tinggi jika harus tenggelam mati?
Kenapa harus perpura pura, selalu berpura pura
Aku mendengar....kalian terdiam, kita hening tanpa jawaban!!!

dan saat hati mulai bertanya bagaimana,,,
Kita telah lupa bagaimana indahnya kejujuran.
Kita sudah tidak cukup berani menerima pahitnya kebenaran,.
Kita sudah terlalu sombong mengakui rendahnya kehinaan.

Kemunafikan,,,
Seperti apa kemunfikan, apakah dia selalu ada dan tak kasat terlihat seperti gemerlap bintang di terik siang, atau seperti panasnya mentari yang terlupakan bersama dinginnya malam.
Adakah jalan untuk berlari darinya.?
Adakah obat yang bisa mujarab menangkalnya?
Aku berharap ramadhanMU bisa mengusirnya,
Aku berharap ramadhanMU bisa menghapusnya,

Moerad Qrad

HARAPAN

“Harapan adalah sarapan yang baik, Tetapi makan malam yang buruk.”
– Francis Bacon

Kita harus hidup dengan harapan, tetapi kita tidak bisa hidup menggantung semata pada harapan. Adalah baik untuk berharap yang terbaik. Tetapi ha
l itu tidak cukup. Kita tidak bisa hanya berharap – kita harus bertindak.

Sangat menyedihkan, bahwa banyak hal digantung berlebihan pada harapan – demi perbaikan nasib. Berharap yang terbaik belum menghasilkan apa-apa. Bekerja dan bertindak – disertai dengan
harapan di dalam hati – adalah hal yang membawa hasil. Kombinasi yang sempurna. Harapan tidak akan mengecewakan – selama hal itu disertai dengan tindakan dan komitmen.
Harapan tidak bisa mengganti tindakan. Kerjakan apa yang harus dikerjakan – ada atau tidak ada harapan. Harapkan yang terbaik dan kerjakan apa saja yang memungkinkan harapan itu terwujud.

Mulai hari baru anda dengan harapan, dan sambung dengan kerja dan karya. Biarkan harapan menginspirasikan anda, ketimbang membuai anda. Harapkan yang terbaik, dan bayar setiap ongkosnya. Harapan bergantung pada ANDA.

Apa yang Memotivasi Para Bilyuner..?
Pernahkah terpikir oleh anda, apa yang memotivasi para bilyuner? Bahkan jauh hari sebelum menjadi bilyuner – kekayaan yang mereka kumpulkan telah mencukupi untuk hidup mereka, anak mereka, cucu mereka, atau bahkan generasi selanjutnya.

Kebanyakan bilyuner adalah pekerja keras. Bangun pagi-pagi – lalu pergi bekerja hingga larut malam. Mereka melakukan itu – tentu bukan lagi karena sekedar mengejar uang. Lalu apa yang mereka kejar? Apakah itu keserakahan? atau kekuasaan? Mungkin. Tetapi secara umum, orang-orang pelit / serakah – jarang beroleh sukses – karena mereka tidak memberi nilai lebih pada orang lain. Kebanyakan bilyuner modern masa kini, tidak menjadi bilyuner karena kikir.

Para bilyuner termotivasi oleh cita-cita mereka. Cita-cita untuk membuat perbedaan, sehingga dunia menjadi berbeda karena mereka ADA. Motivasi ini yang memampukan mereka untuk menjadi bilyuner. Dan karena hal itu pula mereka tetap bisa bekerja keras – sekalipun telah menjadi bilyuner.

Apakah anda ingin hidup seperti seorang bilyuner? Mudah sekali. Berhentilah bekerja hanya untuk sekedar hidup – dan buat perbedaan. Sekalipun di hari terburuk

Hidup adalah kemewahan, hidup adalah kegembiraan – sekalipun di hari terburuk. Kenyataan bahwa anda saat ini hidup sehingga bisa membuat keputusan, bisa melaksanakannya, dan mampu membuat perbedaan – jauh lebih berharga ketimbang segala kesulitan dan kekecewaan yang mungkin menghadang.

Saat dunia gelap – hidup adalah alasan mengapa anda harus menjadi cahaya.

Kualitas hidup anda tidak tergantung pada apa yang anda temui, tetapi pada seperti apa anda setelah melewati segala tantangan. Hari ini adalah hari istimewa – karena anda diperbolehkan masuk ke hari ini. Ada kesempatan untuk tumbuh – dan mencapai cita-cita anda ke segala arah. Bila orang di sekitar anda pencemooh dan pendengki – anda punya kesempatan untuk membuat – bahwa KARENA ANDA – lingkungan anda bisa berubah ke arah lebih baik. Tantangan kesulitan yang ada di depan anda menyembunyikan harta karun nyata yang menunggu untuk digali.

Hati kecil anda sudah mengerti hal ini. Hidup adalah indah – bila anda menerima hidup sebagai kesempatan. Di mana pun anda, apapun yang anda hadapi, ambil keputusan untuk menikmati keindahan itu setiap hari. Dan saat anda mengambil pilihan ini – dunia di sekeliling anda pun akan menjadi lebih baik.

Perbuatan Baik Yang Tidak Pernah Sia-Sia

Al kisah ada seorang dermawan yg berkeinginan untuk berbuat kebaikan.
Dia telah menyiapkan sejumlah uang yang akan dia berikan kepada beberapa orang yang ditemuinya.
Pada suatu kesempatan dia bertemu dengan seseorang maka langsung saja dia menyerahkan uang yang dimilikinya kepada orang tersebut. Pada keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang penjahat beringas. Mendengar kbr ini si dermawan hanya mengatakan” Ya Tuhan aku telah memberikan uang ke pada seorang penjahat”
Di lain waktu, dia kembali bertemu dengan seseorang, si dermawan pada hari itu juga telah berniat untuk melakukan kebaikan. Ia dengan segera memberikan sejumlah uang kepada orng tersebut. Keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan uang kpd seorang koruptor. Mendapat kabar ini si dermawan hanya berkata “Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada koruptor”.
Si dermawan ini tidak berputus asa, ketika dia bertemu dengan seseorang dengan segera dia menyerahkan sejumlah uang yang memang telah disiapkannya. Maka esok harinya pun tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang kaya raya. Mendengar hal ini si dermawan hanya berkata. ” Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada penjahat, koruptor dan seorang yang kaya raya”.
Sekilas kita bisa menyimpulkan bahwa si dermawan ini adalah seorang yang “Ceroboh” Asal saja dia memberikan uang yang dimilikinya kepada orang yang tidak dikenalnya, padahal jika dia lebih teliti maka niat baik nya itu bisa lebih berguna tersalurkan kepada orang yang memang membutuhkan.
Tapi ternyata suatu niat yg baik pasti akan berakhir dengan baik, pun begitu pula dengan “kecerobohan” si dermawan.

Uang yg diberikannya kepada sang penjahat ternyata mampu menyadarkannya bahwa di dunia ini masih ada orang baik, orang yg peduli dengan lingkungan sekitarnya. Penjahat ini bertobat dan menggunakan uang pemberian sang dermawan sebagai modal usaha. Sementara sang koroptor, uang cuma-cuma yg diterimanya ternyata menyentuh hati nuraninya yang selama ini telah tertutupi oleh keserakahan, dia menyadari bahwa hidup ini bukanlah tentang berapa banyak yang bisa kita dapatkan. Dia bertekad mengubah dirinya menjadi orang yang baik, pejabat yang jujur dan amanah. Sementara itu pemberian yg diterima oleh si kaya raya telah menelanjangi dirinya, karena selama ini dia adalah seorang yg kikir, tak pernah terbesit dalam dirinya untuk berbagi dengan orang lain, baginya segala sesuatu harus lah ada timbal baliknya. Dirinya merasa malu kepada si dermawan yang dengan kesederhananya ternyata masih bisa berbagi dengan orang lain.
Sahabat, tak akan ada yang berakhir dengan sia-sia terhadap sutau kebaikan. Karena kebaikan akan berakhir pula dengan kebaikan. Hidup ini bukanlah soal berapa banyak yang bisa kita dapatkan, tapi berapa banyak yang bisa kita berikan
.