Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Senin, 02 Juli 2012

Orag bodoh yang diam

Saat muda dulu, saya sering dinasihati untuk tidak banyak berkomentar yang hanya menunjukkan kurangnya pengertian saya.

Orang bodoh yang diam, tampil lebih bijak daripada orang yang setengah tahu tapi banyak berkomentar yang setengah matang.

Mungkin, karena ketidak-stabilan masa muda saya, saya sering mengumumkan kegamangan pikiran saya dengan komentar yang kurang bernilai.

Sejak itu, saya belajar untuk diam, berterima kasih, atau menyatakan rasa syukur, seraya mengambil pengertian baik dari segala sesuatu, dengan menggunakan sudut pandang dari hati yang baik.

Kalimat yang indah adalah pengindah rezeki

Pencemooh dan pemaki setiap saat mengatakan kalimat buruk yang menjadi doa negatif bagi diri mereka sendiri.

Mereka seperti tidak memperhatikan bahwa kata 'kualat' itu masih berlaku.

Sesungguhnya, setiap kalimat ada yang menyaksikan.

Maka, marilah kita memasukkan diri kedalam pergaulan yang santun dan penuh hormat, yang senyumnya teduh dan berbicaranya ramah.

Kalimat yang indah adalah pengindah rezeki.

Korupsi Sekali, Ditanggung Ratusan Tahun

Pada suatu hari seseorang sedang berdiskusi dengan seorang nyonya tua dari sebuah desa mengenai pepatah kuno, “Berbuat baik akan mendapat balasan baik.”

Nyonya tua ini berkata, ”Saya percaya kepada pepatah ini.” Dia lalu bercerita tentang pengalaman kakeknya.

Kakek nyonya tua bernama Tuan Pik, adalah seorang saudagar, dia selalu berdagang ke seluruh penjuru Negara.

Pada suatu hari, dia tiba di sebuah kota kecil yang bernama Tungyuan, Hebei. Di kota ini ada sebuah penginapan. Setiap kali Tuan Pik datang ke kota ini selalu menginap di penginapan ini. Ada kasirnya seorang pria. Orangnya sangat jujur, baik hati dan selalu ramah melayani setiap tamu. Oleh sebab itu setiap kali singgah tuan Pik selalu mengobrol dengannya.
Pak Kasir ini mempunyai sebuah jari jempol yang sepanjang tahun dibungkus dengan perban. Banyak orang termasuk Tuan Pik pernah menanyakan kenapa tangannya dibungkus terus. Pak Kasir ini hanya berkata bahwa jempolnya terkena suatu penyakit, dan meski sudah mencari berbagai macam pengobatan namun tidak kunjung sembuh. Oleh sebab itulah jempolnya diperban terus.

Sekali ini Tuan Pik masih menanyakan mengenai jempol tangannya. Pak Kasir lalu berkata, ”Hari ini saya akan memperlihatkan jempol saya, dan menceritakan apa yang terjadi?” Dia lalu membuka perban itu, setelah perban terbuka Tuan Pik menjadi sangat terkejut. Rupanya bukan sebuah jempol tangan biasa, bukan juga sebuah jempol yang sepanjang tahun luka. Lalu? ternyata jempol itu adalah sebuah jari kaki babi!

Pak Kasir lalu dengan serius menceritakan keadaan kehidupan lalunya. Sejak kecil, entah kenapa dia bisa mengingat kejadian kehidupan yang lalu. Di kehidupan yang lalu dia adalah seorang bhiksu yang tinggal di sebuah biara. Pada saat itu biara akan direnovasi. Oleh sebab itu ada penderma yang mendermakan uang, pada saat itu timbul rasa tamaknya, dia korupsi 200 yuan dari uang tersebut.

Pada saat dia meninggal, setelah reinkarnasi dia berubah menjadi seekor keledai karena 200 yuan yang dikorupsinya. Sepanjang hari bekerja keras membanting tulang membayar hutangnya. Setiap hari dia harus mengangkut barang yang sangat berat, tidak pernah beristirahat.

Punggungnya terluka, lukanya mulai membusuk tetapi majikannya tidak mengobati dan tidak membiarkan dia beristirahat. Akhirnya karena putus asa dia bunuh diri dengan melompat ke jurang.

Setelah meninggal sampai ke neraka, raja neraka berkata, "hutangmu yang 200 yuan belum habis dilunasi !”
Dia kemudian reinkarnasi kembali menjadi seekor babi kecil, babi kecil ini sangat rakus oleh sebab itu dalam beberapa bulan sudah tumbuh menjadi ratusan kilo, lalu dibunuh oleh penjagal babi.

Kemudian dia reinkarnasi lagi, menjadi seorang bayi lelaki. Bayi ini sejak lahir jempol tangannya berbentuk jari babi. Inilah kehidupannya yang sekarang. Sejak kecil, karena mengetahui kehidupan yang dulu, maka pada kehidupan yang sekarang dia tidak berani berbuat jahat, seperti menipu, korupsi, tamak, dan perbuatan jahat lainnya.

Pak Kasir dengan serius berkata kepada Tuan Pik, "setiap hal yang dilakukan harus menanggung akibatnya, berbuat baik akan mendapat balasan baik dan berbuat jahat akan mendapat karma. Semua itu adalah kebenaran! Jari babi ini akan selalu mengingatkanku agar jangan pernah melakukan perbuatan yang jahat lagi. Juga mengingatkan semua orang yang pernah mendengar ceritaku."

Akhirnya, ketika Tuan Pik pulang ke rumahnya, ia mengumpilkan seluruh anggota keluarganya. Dia menceritakan cerita ini kepada anggota keluarganya dengan serius, dan mengingatkan mereka untuk selalu menceritakan hal ini kepada anak cucu mereka.

Batu dan Bisikan (Mobil Jaguar dan Kursi Roda)

Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.

Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu yang tampak melintas. Aah…, ternyata, ada sebuah batu yang menimpa Jaguar itu. Sisi pintu
mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.

Cittt….ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, di mundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang
pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya seorang anak yang paling dekat, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

“Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!”
Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. “Kamu tentu paham, mobil baru semacam itu akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau sampai tergores.” Ujarnya lagi dengan geram, tampak ingin memukul anak itu.

Sang anak tampak ketakutan, dan berusaha meminta maaf. “Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.” Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. “Maaf Pak, aku melemparkan
batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”

Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. “Itu disana ada kakakku. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..”

Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. “Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi dia terlalu berat untukku.”

Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, di angkatnya anak yang cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk
mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan tergores, sama seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.

Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. “Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas
perbuatanmu.” Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.

Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya.
Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu
tetap nyata terlihat “Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”

***

Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat,
sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar?

Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita. Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.

Teman, kadang memang, ada yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.

Menjadi Majikan Bagi Nasib Diri Sendiri

“Miskin dan kaya adalah nasib ” ini adalah mitos yang berlaku di dalam masyarakat, khususnya di negara berkembang. Tak terkecuali di negara kita, Indonesia.

Kita sering mendengar, bahkan mungkin termasuk di antara kita pernah berucap; miskin sudah merupakan nasib kita. Bagaimanapun kita bekerja keras, tidak mungkin berubah, karena ini sudah suratan takdir. Sebaliknya, kalau nasib kita sudah ditentukan kaya dari “sononya”, maka usaha apa pun, bahkan kerja “seenaknya” bisa menjadikan kita sukses dan kaya.

Mitos seperti ini, sadar atau tidak, sudah diterima secara dogmatis di dalam masyarakat kita. Ditambah dengan mitos-mitos modern yang destruktif, seperti; bila kita berpendidikan rendah (hanya lulusan SMA/SMP/bahkan SD) maka spontan yang timbul di benak kita; kita sulit maju, sulit sukses dan kaya.
Dengan persepsi seperti ini, jelas kita telah terkena penyakit mitos yang menyesatkan. Hal ini akan mempengaruhi sikap mental dalam praktek di kehidupan nyata, sehingga menghasilkan kualitas hidup “ala kadarnya” atau sekedar hidup. Jika mitos ini dimiliki oleh mayoritas masyarakat kita, bagaimana mungkin kita bisa mengentaskan kemiskinan untuk menuju pada cita cita bangsa , yaitu; masyarakat adil-makmur dan sejahtera.

Kemiskinan sering kali merupakan penyakit dari pikiran dan hasil dari ketidaktahuan kita tentang prinsip hukum kesuksesan yang berlaku. Bila kita mampu berpikir bahwa kita bisa sukses dan mau belajar, serta menjalankan prinsip-pinsip hukum kesuksesan, mau membina karakteristik positif, yaitu; punya tujuan yang jelas, mau kerja keras, ulet, siap belajar, dan berjuang, maka akan terbuka kemungkinan-kemungkinan atau aktifitas-aktifitas produktif yang dapat merubah nasib gagal menjadi sukses. Miskin menjadi kaya! Seperti pepatah dalam bahasa Inggris “character is destiny”, kharakter adalah nasib.

Tidak peduli bagaimana Anda hari ini, dari keturunan siapa, berwarna kulit apa, atau apa latar belakang pendidikan Anda. Ingat, Anda punya hak untuk sukses!!!

Seperti kata-kata mutiara yang saya tulis; Kesuksesan bukan milik orang-orang tertentu. Sukses milik Anda, milik saya, dan milik siapa saja yang benar-benar menyadari, menginginkan, dan memperjuangkan dengan sepenuh hati.

Hancurkan mitos “miskin adalah nasib saya!”

Bangun karakter dan mental sukses!!!

Karena kita adalah penentu masa depan kita sendiri!

Majikan bagi nasib kita sendiri!

Sekali lagi, coh che chi ming yuin tek cu ren. Jadilah majikan bagi nasib diri sendiri.

Suara Seorang Kakak

Sebagian besar orang memperoleh inspirasi dalam hidup mereka. Mungkin dari percakapan dengan seseorang yang kau hormati atau sebuah pengalaman. Apa pun bentuknya, inspirasi cenderung membuatmu memandang kehidupan dari sudut pandang yang baru. Inspirasiku berasal dari adikku Vicki, seseorang yang baik hati dan penuh perhatian. Ia tidak peduli akan penghargaan atau masuk dalam surat kabar. Yang diinginkannya hanyalah berbagi cinta dengan orang yang dikasihinya, keluarga dan teman-temannya.

Pada musim panas sebelum aku mulai kuliah tingkat tiga, aku menerima telepon dari ayahku yang memberitakan bahwa Vicki masuk rumah sakit. Ia pingsan dan bagian kanan tubuhnya lumpuh. Indikasi awal adalah ia menderita stroke. Namun, hasil tes memastikan bahwa penyakitnya lebih serius. Ada sebuah tumor otak ganas yang menyebabkannya lumpuh. Dokter hanya memberinya waktu kurang dari tiga bulan. Aku ingat aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin ini terjadi? Sehari sebelumnya Vicki baik-baik saja.

Sekarang, hidupnya akan berakhir pada usia begitu muda. Setelah mengatasi rasa kaget dan perasaan hampa pada awalnya, aku memutuskan bahwa Vicki membutuhkan harapan dan semangat.

Ia memerlukan seseorang yang membuatnya percaya bahwa ia dapat mengatasi rintangan ini. Aku menjadi pelatih Vicki. Setiap hari kami membayangkan bahwa tumornya menyusut dan semua yang kami bicarakan bersifat positif. Aku bahkan memasang poster di pintu kamar rumah sakitnya yang bertulisan, “Kalau kau memiliki pikiran negatif, tinggalkan pikiran itu di pintu.”

Aku sudah berbulat hati untuk membantu Vicki mengalahkan tumor itu. Kami berdua membuat perjanjian yang disebut 50-50. Aku berjuang 50% dan Vicki akan memperjuangkan 50% sisanya.

Bulan Agustus tiba dan kuliah tingkat tiga akan dimulai di universitas yang jaraknya 3000 mil dari rumah. Aku bingung, apakah aku harus pergi atau tetap menemani Vicki. Aku salah bicara, menyebutkan bahwa aku mungkin tak akan pergi kuliah. Ia menjadi marah dan menyuruhku untuk tidak khawatir karena dia akan baik-baik saja. Jadi, malah Vicki, yang berbaring sakit di tempat
tidur di rumah sakit, yang menyuruhku agar jangan khawatir. Aku sadar bahwa kalau aku tetap bersamanya, aku
mungkin akan menyiratkan bahwa dia sedang sekarat dan aku tak mau ia berpikir begitu. Vicki harus yakin bahwa ia dapat menang melawan tumor itu.

Kepergianku malam itu, merasakan bahwa ini mungkin terakhir kalinya aku melihat Vicki dalam keadaan hidup, adalah hal yang tersulit yang pernah kulakukan. Selama kuliah, aku tak pernah berhenti memperjuangkan 50% bagianku untuknya. Setiap malam sebelum tidur, aku berbicara dengan Vicki, berharap ia dapat mendengarku. Aku berkata, “Vicki, aku sedang berjuang untukmu dan aku tak akan menyerah. Asalkan kau tak pernah berhenti berjuang, kita dapat mengalahkan tumor ini.”

Beberapa bulan berlalu dan dia masih bertahan. Aku sedang berbicara dengan seorang teman yang lebih tua dan ia menanyakan keadaan Vicki. Aku bercerita bahwa kondisinya makin buruk, tapi dia tak menyerah.

Temanku melontarkan suatu pertanyaan yang benar-benar membuatku berpikir. Katanya, “Menurutmu, apakah dia bertahan itu karena dia tak mau mengecewakanmu?” Mungkin perkataannya benar? Mungkin aku egois, menyemangati Vicki untuk terus berjuang? Malam itu sebelum tidur, aku berkata padanya, “Vicki, aku mengerti kau sangat menderita dan mungkin kau ingin menyerah. Kalau memang begitu, aku mendukungmu. Kita tidak akan kalah karena kau tak pernah berhenti berjuang. Kalau kau ingin pergi ke tempat yang lebih baik, aku mengerti. Kita pasti bersama lagi. Aku menyayangimu dan aku akan terus bersamamu di mana pun kau berada.”

Keesokan paginya, ibuku menelepon, memberi tahu bahwa Vicki telah meninggal.

Sumber: Chicken Soup for the Teenage Soul, by James Malinchak

Minggu, 01 Juli 2012

Aku Ingin Menjadi Sejarah Indah Kehidupan


Aku tidak ingin kisahku, hanya sebatas sejarah bisu yang teredam bisingnya zaman, diam tanpa makna, diam tanpa kata.
Aku ingin Dia menjadi bintang terang di saat malam tanpa rembulan, Aku ingin dia menjadi kerasnya angin dikala derasnya hujan tak mampu menyadarkan.

Aku tidak ingin kisahku hanya sebatas aku dan hidupku, Dia harus tertanam pada setiap langkah yang aku jejakkan, Dia harus ikut bernyanyi, menari dan ceria mengabarkan setiap kebaikan, untukku, untuk hidupmu, untuk sebagian dari kalian.

Sungguh, aku ingin Dia tertulis dan terbaca, aku ingin Dia terus berteriak dan berkata kata. Aku ingin Dia tersenyum, menghadirkan tawa, mengusir resah membuang gelisah, dan mampu memberikan sejuta harapan yang mungkin selalama ini selalu kalian impikan.

Mungkin untuk itulah aku di sini, untuk itulah aku berani menulis dan lancang berkata-kata, di atas keterbatasan yang sering menghinakan.
Mungkin untuk itulah aku disni, mencoba ikut menyumbangkan setitik makna, mengabarkan setetes kebaikan, sehingga kelak, dikala raga tak lagi bertemankan nyawa, aku masih terkenang sebagai indahnya sejarah kehidupan, aku masih tertulis menjadi baris baris tulisan yang akan selalu mendoakan.

Semoga ini bisa menjadi do'a, untukKU, untuk HidupMu, dan untuk sebagian dari kalia. 

Moerad Qrad