Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Jumat, 04 Mei 2012

Motivasi Pelajar




sebagai pelajar kita harus belajar dengan giat untuk mencapai cita-cita kita yang kita inginkan. Walaupun dalam mewujudkan cita-cita itu sangatlah sulit tapi kita harus percaya jika kita berusaha dengan tekad yang bulat dan diimbangi dengan doa maka percayalah apa yang kita inginkan pasti akan tercapai.

Rabu, 02 Mei 2012

Karet Gelang

Suatu kali saya membutuhkan karet gelang, satu saja. Shampoo yang akan saya bawa tutupnya sudah rusak. Harus dibungkus lagi dengan plastik lalu diikat dengan karet gelang. Kalau tidak bisa berabe. Isinya bisa tumpah ruah mengotori seisi tas. Tapi saya tidak menemukan satu pun karet gelang. Di lemari tidak ada. Di gantungan-gantungan baju tidak ada. Di kolong-kolong meja juga tidak ada.

Saya jadi kelabakan. Apa tidak usah bawa shampoo, nanti saja beli di jalan. Tapi mana sempat, waktunya sudah mepet. Sudah ditunggu yang jemput lagi. Akhirnya saya coba dengan tali kasur, tidak bisa.

Dipuntal-puntal pakai kantong plastik, juga tidak bisa. Waduh, karet gelang yang biasanya saya buang-buang, sekarang malah bikin saya bingung. Benda kecil yang sekilas tidak ada artinya, tiba-tiba menjadi begitu penting.

Saya jadi teringat pada seorang teman waktu di Yogyakarta dulu. Dia tidak menonjol, apalagi berpengaruh. Sungguh, Sangat biasa-bisa saja. Dia hanya bisa mendengarkan saat orang-orang lain ramai berdiskusi. Dia

hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Itu pun kadang-kadang salah. Kemampuan dia memang sangat terbatas.

Tetapi dia sangat senang membantu orang lain; entah menemani pergi, membelikan sesuatu, atau mengeposkan surat. Pokoknya apa saja asal membantu orang lain, ia akan kerjakan dengan senang hati. Itulah sebabnya kalau dia tidak ada, kami semua, teman-temannya, suka kelabakan juga. Pernah suatu kali acara yang sudah kami persiapkan gagal, karena dia tiba-tiba harus pulang kampung untuk suatu urusan.

Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang begitu kecilnya, sehingga sama sekali tidak berarti. Benda yang sesehari dibuang-buang pun, seperti karet gelang, pada saatnya bisa menjadi begitu penting dan merepotkan.

Mau bukti lain? Tanyakanlah pada setiap pendaki gunung, apa yang paling merepotkan mereka saat mendaki tebing curam? Bukan teriknya matahari. Bukan beratnya perbekalan. Tetapi kerikil-kerikil kecil yang masuk ke sepatu.

Karena itu, jangan pernah meremehkan apa pun. Lebih-lebih meremehkan diri sendiri. Bangga dengan diri sendiri itu tidak salah. Yang salah kalau kita menjadi sombong, lalu meremehkan orang lain.

Ketika Berbohong Jadi Bumerang Dalam Pendidikan Anak

Orang tua manapun pasti kesal ketika mengetahui anaknya berbohong. Padahal sebagai orang tua kita selalu mengingatkan sang anak untuk tidak berbohong. Saking gemesnya, beberapa orang tua mengganjarkan hukuman entah itu dalam bentuk fisik atau mental agar anak betul-betul kapok. Padahal ini jelas bisa mempengaruhi Pendidikan Anak kedepannya 

Tapi tahukah anda bahwa salah satu penyebab anak suka berbohong adalah karena pola asuh yang salah??? Mmmmhhhh… kira-kira kita sebagai orang tua ‘ngeh’ ngga ya salahnya dimana.
Yuk, kita kupas satu persatu supaya tidak berefek buruk pada pendidikan anak anda.

1. Orang tua memberikan contoh yang salah.

Perhatikan percakapan berikut :

Kriiiiinnngggg….. (telepon berbunyi ).

Papa : “Nak, nanti kalo yang nelpon pak Johan, bilangin yah, papa ngga ada, lagi keluar rumah?!”

Anak : “Oh, oke, pa!”

ATAU

Sang ibu dan anak yang habis jalan – jalan seharian hingga malam hari, sampai sang anak kecape’an.

Anak : “Oh iya, ma! Aku lupa, ada PR bahasa Inggris! Aduuuh!”

Ibu : “Ya udah, besok kamu bilang aja, kamu habis bantuin bapak jualan, karena warung lagi rame”

Naahh, disini secara tidak langsung orang tua membentuk kepribadian sang anak menjadi seorang pembohong dan akan mempengaruhi pendidikan anak secara mental. Anak akan berfikir, “Oh, berarti bohong itu ngga papa”.

Akibatnya anak akan terus belajar bahwa berbohong bukan suatu kesalahan.

2. Takut dimarahi.

Banyak orang tua yang langsung memarahi anaknya ketika berbohong. Walaupun ketahuan, tetap saja secara mental anak itu akan merasa down. Jangan langsung menuduhnya, “Aduh, kamu bohong terus sih!”. Tapi coba katakan baik-baik;

“Mama kok ngga ngerti ya maksud cerita kamu. Coba sini certain lebih jelas deh…”

Biasanya kalau anak itu jujur dia akan konsisten dengan ceritanya. Sikap seperti ini juga akan membuat anak lebih melunak ketimbang harus memarahinya terus-terusan.

3. Tidak memberikan jalan keluar.

Rino menyembunyikan kertas nilai ulangannya yang jelek karena takut dimarahi sang mama. Ketika sang mama menemukan kertas ulangannya yang disimpan di antara lembaran buku-buku pelajarannya, sang mama berkata, “Kamu kenapa nilainya jelek terus sih, emang ngga belajar apa!?”

Bandingkan, “Rino, mama nemuin kertas ulangan kamu nih, kok nilainya cuma 40? Kamu kalo butuh bantuan mama bilang dong, nak. Apa kamu mau dimasukin kursus aja?”

Menyalahkan anak yang mendapatkan nilai buruk sama sekali tidak akan menolong. Orang tua seharusnya lebih peka akan kekurangan anak dalam menguasai pelajaran tertentu. Karena anak cenderung mempercayai anda, jika anda selalu membantu untuk mencari jalan keluar, sehingga bisa memperkecil kemungkinan anak berbohong lagi.

Dan jangan lupa tenangkan anak ketika menghadapi ujian, “Nak, nanti kasih tau mama ya hasil ulangan kamu, mama cuma mau mastiin aja, berapa persen sih materi yang sudah kamu pelajari semalam”. Ini tidak hanya membantu anak secara mental tapi juga membantu pendidikan anak di sekolah.

4. Dunia khayal.

Jika di depan anda sang anak berbohong dengan temannya, bisa jadi dia sedang tidak berbohong tapi sedang asik dengan dunia khayalnya. Perhatikan :

Nira : “Aku di rumah punya kucing dooong, lucuuuu dehh. Bulunya lebat loohh!”

Sasha : “Aku juga ada, namanya Bonny, badannya nduuuut deh soalnya makannya banyak”

Sampai dirumah.

Mama : “Sha, tadi mama dengar kamu cerita sama Nira kita punya kucing ya? Iiiihh… kamu juga pengen punya kucing kaan? Ya udah, emang kamu maunya punya kucing yang kaya gimana?” Ingat, jangan terlalu lama membicarakan topik ini. Segera ganti dengan topik yang lain.

Perhatikan tips pendidikan anak berikut ini.

Jika anda seorang yang mudah terpancing emosi, tariklah napas dalam-dalam dan pergilah ke ruangan yang lain untuk mengalihkan emosi. Setelah reda bicarakan baik-baik.
Hukuman fisik tidak akan membuat anak jera sebaliknya malah memperburuk pendidikan anak anda dan dia akan mencari akal bagaimana supaya tidak ketahuan lagi.
Ketika mulai berbohong, arahkan dia untuk berkata jujur, “Sayang, kamu inget ngga waktu itu… tapi kamu jujur sama mama. Mama bangga banget loh sama kamu”.
Pujilah ketika anak sudah mengakui perbuatannya. Hal ini jelas berguna bagi pendidikan anak anda, bahwa berbohong adalah salah dan mengakui kesalahan adalah baik.

Tapi kalau besok – besok anak anda masih suka berbohong, inilah pendapat Elizabeth Pantley, seorang pakar pendidikan anak dan penulis buku Perfect Parenting and Kid Cooperation;

“Mengajar anak bicara jujur memang butuh banyak waktu dan kesabaran. Jadi, kalau besok atau minggu depan atau bulan depan Anda menemui situasi ini lagi, yah, begitulah anak-anak”

Demi pendidikan anak anda, sebagai orang tua selayaknya anda mengingatkan mereka tidak hanya lewat ucapan, tapi juga lewat tindakan sehari-hari agar anak lebih mudah memahami apakah hal itu benar atau salah. Semoga artikel pendidikan anak ini berguna bagi anda

Ketika anak berbohong

Anda sudah melakukan berbagai cara untuk mengantisipasi agar si kecil tidak berbohong. Tapi kali ini Anda curiga ia berbohong. Anda betul-betul penasaran dan berusaha membuatnya mengaku. Tapi semakin Anda berusaha, ia justru semakin teguh mempertahankan kebohongannya. Nah, jangan-jangan itu bukan karena ia pembohong, tapi cara Anda merespon yang kurang tepat. Anda bisa menyimak contoh berikut.

Temannya punya anak anjing yang sangat lucu. Si kecil tahu-tahu bilang, “Aku juga punya anak anjing lucu banget di rumah.” Padahal, ia sama sekali tak punya binatang peliharaan. Si kecil melakukan ini mungkin karena betul-betul ingin anak anjing juga, sehingga ia berfantasi dan lupa realita sebenarnya, atau ia ingin dianggap hebat oleh temannya. Jangan katakan, “Sayang, kamu kan nggak punya anak anjing?” Tapi katakan saja, “Sepertinya kamu betul-betul ingin anak anjing seperti punya Diana, ya? Coba cerita deh, anak anjing seperti apa yang kamu inginkan?” Jangan terlalu lama meneruskan pembicaraan tentang anak anjing, usahakan ganti topik segera.


Si kecil minta ijin untuk menggambar di buku gambarnya, namun kemudian Anda menemukan beberapa coretan baru di dinding. Begitu ketahuan, ia langsung menceritakan betapa nakal adiknya – yang saat itu sedang tidur nyenyak. Besar kemungkinan sebetulnya ia cemburu dengan adiknya. Daripada langsung berteriak, “Kamu si tukang bohong! Bilang saja kamu yang melakukan!” lebih baik katakan saja apa mau Anda, “Tidak ada yang boleh mencoret dinding, kalau ada yang mau mencoret, kamu bisa tolong Mama untuk mengingatkan dia.”

Ia mendapat nilai ulangan jelek. Alih-alih mengaku, ia malah menyembunyikan kertasnya di tas dan baru Anda ketahui ketika mengecek apakah buku pelajaran besok sudah dibawa semua. Sepertinya ia takut dimarahi dan dihukum oleh Anda. Kalau Anda biarkan kebohongan ini terjadi terus, ia tidak akan belajar menerima dan mengatasi keadaannya. Jadi daripada langsung memarahi, “Kamu sengaja ya menyembunyikan nilai jelekmu, ketahuan tau! Makanya, belajar yang bener!” lebih baik Anda berikan penerimaan dan beritahu jalan keluarnya, “Sayang, Mama menemukan hasil ulangan kamu. Sepertinya kamu kesulitan ya mengerjakan ulangan ini. Kamu mau mama bantu belajar?”
Ketika ketahuan bohong lagi, jangan langsung katakan, “Tuh kan, apa Mama bilang, kamu sukanya bohong, kan.” Justru Anda perlu menunjukkan ia bisa bicara jujur, “Sayang, kamu ingat nggak, ketika kamu …. Saat itu kamu jujur, dan Mama bangga sekali sama kamu.”
Jika Anda tidak yakin apakah anak berbohong atau tidak, jangan langsung menuduhnya, “Kamu lagi bohong ya? Coba bilang yang jujur.” Katakan saja dengan sabar, “Mama agak bingung dengan ceritamu. Coba duduk sebelah Mama, Mama ingin dengar lagi bagaimana kejadiannya.” Jika dia konsisten, kemungkinan dia tidak bohong.Menurut Marilyn LaCourt, terapis keluarga, memergoki anak berbohong bukanlah cara yang paling efektif untuk menghentikan mereka dari kebohongan. Elizabeth Pantley, penulis buku Perfect Parenting and Kid Cooperation menambahkan, mengajar anak bicara jujur memang butuh banyak waktu dan kesabaran. Jadi, kalau besok atau minggu depan atau bulan depan Anda menemui situasi ini lagi, yah, begitulah anak-anak.

Selasa, 01 Mei 2012

Kebiasaan yang diulang terus menerus, akan melahirkan keahlian


Di Tiongkok pada zaman dahulu kala, hidup seorang panglima perang yang terkenal karena memiliki keahlian memanah yang tiada tandingannya. Suatu hari, sang panglima ingin memperlihatkan keahliannya memanah kepada rakyat. Lalu diperintahkan kepada prajurit bawahannya agar menyiapkan papan sasaran serta 100 buah anak panah.

Setelah semuanya siap, kemudian Sang Panglima memasuki lapangan dengan penuh percaya diri, lengkap dengan perangkat memanah di tangannya.

Panglima mulai menarik busur dan melepas satu persatu anak panah itu ke arah sasaran. Rakyat bersorak sorai menyaksikan kehebatan anak panah yang melesat! Sungguh luar biasa! Seratus kali anak panah dilepas, 100 anak panah tepat mengenai sasaran.

Dengan wajah berseri-seri penuh kebanggaan, panglima berucap, "Rakyatku, lihatlah panglimamu! Saat ini, keahlian memanahku tidak ada tandingannya. Bagaimana pendapat kalian?"

Di antara kata-kata pujian yang diucapkan oleh banyak orang, tiba-tiba seorang tua penjual minyak menyelutuk, "Panglima memang hebat ! Tetapi, itu hanya keahlian yang didapat dari kebiasaan yang terlatih."

Sontak panglima dan seluruh yang hadir memandang dengan tercengang dan bertanya-tanya, apa maksud perkataan orang tua penjual minyak itu. Tukang minyak menjawab, "Tunggu sebentar!" Sambil beranjak dari tempatnya, dia mengambil sebuah uang koin Tiongkok kuno yang berlubang di tengahnya. Koin itu diletakkan di atas mulut botol guci minyak yang kosong.

Dengan penuh keyakinan, si penjual minyak mengambil gayung penuh berisi minyak, dan kemudian menuangkan dari atas melalui lubang kecil di tengah koin tadi sampai botol guci terisi penuh. Hebatnya, tidak ada setetes pun minyak yang mengenai permukaan koin tersebut!

Panglima dan rakyat tercengang. Merela bersorak sorai menyaksikan demonstrasi keahlian si penjual minyak. Dengan penuh kerendahan hati, tukang minyak membungkukkan badan menghormat di hadapan panglima sambil mengucapkan kalimat bijaknya, "Itu hanya keahlian yang didapat dari kebiasaan yang terlatih! Kebiasaan yang diulang terus menerus akan melahirkan keahlian."


Dari cerita tadi, kita bisa mengambil satu hikmah yaitu: betapa luar biasanya kekuatan kebiasaan. Habit is power!

Hasil dari kebiasaan yang terlatih dapat membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah dan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Demikian pula, untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan, kita membutuhkan karakter sukses. Dan karakter sukses hanya bisa dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan seperti berpikir positif, antusias, optimis, disiplin, integritas, tanggung jawab, & lain sebagainya.

Mari kita siap melatih, memelihara, dan mengembangkan kebiasaan berpikir sukses dan bermental sukses secara berkesinambungan. Sehingga, karakter sukses yang telah terbentuk akan membawa kita pada puncak kesuksesan di setiap perjuangan kehidupan kita.

Sekali lagi: Kebiasaan yang diulang terus menerus, akan melahirkan keahlian!

Kamu Bisa Datang Siang ini



Di sebuah sudut waktu
Aku terhenti setelah berlari meninggalkan Pagi
Meninggalkan langkahmu  beralun sendiri

Semoga kamu tidak tersesat dan terluka
Semoga kamu menemukan jejak yang aku tinggalkan
sehingga kamu bisa datang siang ini
dan bersama kita melwati sisa hari dengan tangis dan tawa
bersama kita melewati pahit dan manisnya waktu senja

dan saat mata  mulai lelah dan terpejam
kita bisa menari dalam indahnya mimpi-mimpi
selamanya dalam alam abadi.......


aku menunggumu siang ini

Pot Kosong

Pada suatu ketika, seorang Kaisar China ingin memilih pengganti tahtanya. Kaisar tersebut sudah tua & tidak memiliki putra. Karena ia sangat menyukai bunga & tumbuhan, ia memutuskan untuk memanggil semua anak di kerajaannya & memberikan mereka masing – masing sebiji benih.
Ia mengatakan bahwa anak yang memiliki hasil terbaik dalam waktu enam bulan akan memenangkan kompetisi tersebut & akan menjadi penerus tahtanya.

Semua anak di China ingin memenangkan kontes tersebut. Berkumpullah banyak anak – anak di istana pada hari ketika Sang Kaisar memberikan biji benih. Setiap anak membawa pulang satu biji benih di tangannya.


Salah seorang anak bernama Jun. Ia pandai berkebun, semua orang di desanya mengatakan bahwa ia seorang petani muda terbaik di desa itu. Ia dengan hati – hati membawa benih dari Sang Kaisar pulang ke rumahnya.

Di rumah, ia mencoba menumbuhkan biji benih itu dalam sebuah pot dengan teliti & sebaik – baiknya.

Satu minggu sesudahnya , Cheun memberitahukan bahwa biji benihnya sudah bertunas. Manche kemudia mengatakan bahwa dalam potnya sudah muncul tunas muda. Lalu Wong pun menyatakan hal yang sama. Jun menjadi bingung – tak ada satu pun dari anak – anak tersebut yang dapat menanam pohon sebaik dirinya! Tapi biji benih Jun tidak tumbuh.

Segera semua pot di seluruh desa itu telah bertunas. Kemudian anak – anak tersebut memindahkan tanaman mereka keluar supaya tunas mudanya mendapatkan sinar matahari yang cukup. Segera, puluhan tunas muda dalam pot di desa Jun telah bertumbuh daun. Tapi biji benih Jun tidak tumbuh.

Jun kebingungan – apa yang salah? Dengan seksama Jun memindahkan biji benihnya ke dalam pot baru. Ia mengubah cara menanamnya, tapi tetap saja biji benih Jun tidak tumbuh.

Enam bulan berlalu. Semua anak harus membawa tanaman mereka ke istana untuk dinilai. Cheun, Manchu, Wong & ratusan anak lainnya menyiapkan pot tanaman mereka. Kemudian mereka memakai pakaian terbaik yang mereka miliki. Beberapa orangtua mendampingi putra mereka membawakan tanamannya.

“Apa yang harus kulakukan?” Tanya Jun pada orangtuanya.
“Biji benihku tidak mau tumbuh! Pot milikku kosong!”
“Kau sudah melakukan yang terbaik,” jawab ayahnya.
“Jun, bawa saja pot milikmu kepada Kaisar,” balas ibunya, “Itulah usaha terbaikmu.”

Jun membawa pot kosong miliknya ke istana. Ia merasa malu, tapi apa yang dikatakan orangtuanya benar. Ia telah berusaha sebaik mungkin.

Di istana, semua anak berbaris rapi. Mereka menunjukkan tanamannya. Kemudian Sang Kaisar memeriksanya satu per satu.

Ketika ia mendatangi Jun, ia mentertawakannya & bertanya,”Apa ini? Kau membawakan aku pot kosong??”

“Ya, Yang Mulia,” jawab Jun,”Saya mencoba sebaik mungkin. Saya menanam biji benih Yang Mulia berikan dengan tanah subur. Saya menjaga & mengamatinya setiap hari. Ketika biji benihnya tidak tumbuh, saya memindahkannya ke dalam pot baru. Saya bahkan memindahkannya kembali. Tapi tetap saja tidak tumbuh. saya minta maaf Yang Mulia.” Jelas Jun sambil menggelengkan kepala.

“Hmm,” jawab Sang Kaisar,”Aku akan memilihmu sebagai penerusku,” lanjutnya. Semua orang terkejut. Tapi kemudian Sang Kaisar berkata,”Saya tidak tahu darimana anak – anak ini mendapatkan biji benihnya. Tidak mungkin ada yang tumbuh dari biji – biji benih yang aku berikan pada mereka. Aku telah merebus semua biji benihnya.”

Dan dia tersenyum pada Jun & berkata,”Kau adalah satu – satunya anak yang mau jujur kembali dengan membawa pot kosong.”