Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Jumat, 09 Maret 2012

Gadis Kecil Dengan Kotak Emas

Di sebuah keluarga miskin, seorang ayah tampak kesal pada anak perempuannya yang berusia tiga tahun. Anak perempuannya baru saja menghabiskan uang untuk membeli kertas kado emas untuk membungkus sekotak kado.

Keesokan harinya, anak perempuan itu memberikan kado itu sebagai hadiah ulang tahun pada sang ayah.

“Ini untuk ayah,” kata anak gadis itu.

Sang ayah tak jadi marah. Namun ketika ia membuka kotak dan mendapatkan isinya kosong, meledaklah kemarahannya.

“Tak tahukah kau, kalau kau menghadiahi kado pada seseorang, kau harus memberi sebuah barang dalam kotak ini!”

Anak perempuan kecil itu menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Ia berkata terisak-isak, “Oh ayah, sesungguhnya aku telah meletakkan sesuatu ke dalam kotak itu.”

“Apa yang kau letakkan ke dalam kotak ini? Bukankah kau lihat kotak ini kosong?” bentak ayahnya.

“Oh ayah, sungguh aku telah meletakkan hampir ribuan ciuman untuk ayah ke dalam kotak itu,” bisik anak perempuan itu.

Sang ayah terperangah mendengar jawaban anak perempuan kecilnya. Ia lalu memeluk erat-erat anak perempuannya dan meminta maaf.

Konon, orang-orang menceritakan bahwa, pria itu selalu meletakkan kotak kado itu di pinggir tempat tidurnya sampai akhir hayat. Kapan pun ia mengalami kekecewaan, marah atau beban yang berat, ia membayangkan ada ribuan ciuman dalam kotak itu yang mengingatkan cinta anak perempuannya.

Dan sesungguhnya kita telah menerima sebuah kotak emas penuh berisi cinta tanpa pamrih dari orang tua, istri/suami, anak, pasangan, teman dan sahabat kita. Tak ada yang lebih indah dan berharga dalam hidup ini selain cinta.

(Judul asli: A Little Girl and The Golden Box, Ana Lucia)

Video Motivasi | Saat Kesedihan Datang



Banyak kesedihan melanda kita pada hari-hari kita melakukan tugas kehidupan kita. Terkadang di waktu yang tidak tepat kita mendapatkan sebuah bencana yang membuat kita sedih. Baik itu yang ringan maupun yang berat. Tapi sadarkah kita dimana kita harus meletakkan kesedihan kita, dimana kita harus menangis dimana kita harus meminta. Semuanya itu harus kita lakukan dan kita tumpahkan kepada Allah SWT, kepada-Nyalah kita memohon dan hanya kepada-Nyalah kita meminta. So, jika kita sedang bersedih mari kita serahkan diri kita kepada Allah SWT supaya kita menjadi tenang, tentram dan damai di dalam alunan ibadah kita.

Kamis, 08 Maret 2012

Tiga Pintu Kebijaksanaan

Seorang Raja, mempunyai anak tunggal yg pemberani, terampil dan pintar. Untuk menyempurnakan pengetahuannya, ia mengirimnya kepada seorang pertapa bijaksana.

"Berikanlah pencerahan padaku tentang Jalan Hidupku" Sang Pangeran meminta.

"Kata-kataku akan memudar laksana jejak kakimu di atas pasir", ujar Pertapa.

"Saya akan berikan petunjuk padamu, di Jalan Hidupmu engkau akan menemui 3 pintu. Bacalah kata-kata yang tertulis di setiap pintu dan ikuti kata hatimu."


Sekarang pergilah sang Pertapa menghilang dan Pangeran melanjutkan perjalanannya. Segera ia menemukan sebuah pintu besar yang di atasnya tertulis kata "UBAHLAH DUNIA"

"Ini memang yang kuinginkan" pikir sang Pangeran. "Karena di dunia ini ada hal-hal yang aku sukai dan ada pula hal-hal yang tak kusukai. Aku akan mengubahnya agar sesuai keinginanku"

Maka mulailah ia memulai pertarungannya yang pertama, yaitu mengubah dunia. Ambisi, cita-cita dan kekuatannya membantunya dalam usaha menaklukkan dunia agar sesuai hasratnya. Ia mendapatkan banyak kesenangan dalam usahanya tetapi hatinya tidak merasa damai. Walau sebagian berhasil diubahnya tetapi sebagian lainnya menentangnya.

Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari, ia bertemu sang Pertapa kembali.

"Apa yang engkau pelajari dari Jalanmu ?" Tanya sang Pertapa

"Aku belajar bagaimana membedakan apa yang dapat klakukan dengan kekuatanku dan apa yang di luar kemampuanku, apa yang tergantung padaku dan apa yang tidak tergantung padaku" jawab Pangeran

"Bagus! Gunakan kekuatanmu sesuai kemampuanmu. Lupakan apa yang diluar kekuatanmu, apa yang engkau tak sanggup mengubahnya" dan sang Pertapa menghilang.

Tak lama kemudian, sang Pangeran tiba di Pintu kedua yang bertuliskan "UBAHLAH SESAMAMU"

"Ini memang keinginanku" pikirnya. "Orang-orang di sekitarku adalah sumber kesenangan, kebahagiaan, tetapi mereka juga yang mendatangkan derita, kepahitan dan frustrasi"

Dan kemudian ia mencoba mengubah semua orang yang tak disukainya. Ia mencoba mengubah karakter mereka dan menghilangkan kelemahan mereka. Ini menjadi pertarungannya yang kedua.

Tahun-tahun berlalu, kembali ia bertemu sang Pertapa.

"Apa yang engkau pelajari kali ini?"

"Saya belajar, bahwa mereka bukanlah sumber dari kegembiraan atau kedukaanku, keberhasilan atau kegagalanku. Mereka hanya memberikan kesempatan agar hal-hal tersebut dapat muncul. Sebenarnya di dalam dirikulah segala hal tersebut berakar"

"Engkau benar" Kata sang Pertapa. "Apa yang mereka bangkitkan dari dirimu, sebenarnya mereka mengenalkan engkau pada dirimu sendiri.

Bersyukurlah pada mereka yang telah membuatmu senang & bahagia dan bersyukur pula pada mereka yang menyebabkan derita dan frustrasi.

Karena melalui mereka lah, Kehidupan mengajarkanmu apa yang perlu engkau kuasai dan jalan apa yang harus kau tempuh"

Kembali sang Pertapa menghilang.

Kini Pangeran sampai ke pintu ketiga "UBAHLAH DIRIMU"

"Jika memang diriku sendiri lah sumber dari segala problemku, memang disanalah aku harus mengubahnya". Ia berkata pada dirinya sendiri.

Dan ia memulai pertarungannya yang ketiga. Ia mencoba mengubah karakternya sendiri, melawan ketidak sempurnaannya, menghilangkan kelemahannya, mengubah segala hal yg tak ia sukai dari dirinya, yang tak sesuai dengan gambaran ideal.

Setelah beberapa tahun berusaha, dimana sebagian ia berhasil dan sebagian lagi gagal dan ada hambatan, Pangeran bertemu sang Pertapa kembali.

"Kini apa yang engkau pelajari ?"

"Aku belajar bahwa ada hal-hal di dalam diriku yang bisa ditingkatkan dan ada yang tidak bisa saya ubah"

"Itu bagus" ujar sang pertapa. "Ya" lanjut Pangeran, "tapi saya mulai lelah untuk bertarung melawan dunia, melawan setiap orang dan melawan diri sendiri. Tidakkah ada akhir dari semuai ini ? Kapan saya bisa tenang ? Saya ingin berhenti bertarung, ingin menyerah, ingin meninggalkan semua ini !"

"Itu adalah pelajaranmu berikutnya" ujar Pertapa. Tapi sebelum itu, balikkan punggungmu dan lihatlah Jalan yang telah engkau tempuh". Dan ia pun menghilang.

Ketika melihat ke belakang, ia memandang Pintu Ketiga dari kejauhan dan melihat adanya tulisan di bagian belakangnya yang berbunyi "TERIMALAH DIRIMU".

Pangeran terkejut karena tidak melihat tulisan ini ketika melalui pintu tsb.

"Ketika seorang mulai bertarung, maka ia mulai menjadi buta" katanya pada dirinya sendiri.

Ia juga melihat, bertebaran di atas tanah, semua yang ia campakkan, kekurangannya, bayangannya, ketakutannya. Ia mulai menyadari bagaimana mengenali mereka, menerimanya dan mencintainya apa adanya.

Ia belajar mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi membandingkan dirinya dengan orang lain, tanpa mengadili, tanpa mencerca dirinya sendiri.

Ia bertemu sang Pertapa, dan berkata "Aku belajar, bahwa membenci dan menolak sebagian dari diriku sendiri sama saja dengan mengutuk untuk tidak pernah berdamai dengan diri sendiri. Aku belajar untuk menerima diriku seutuhnya, secara total dan tanpa syarat."

"Bagus, itu adalah Pintu Pertama Kebijaksanaan" , ujar Pertapa. "Sekarang engkau boleh kembali ke Pintu Kedua"

Segera ia mencapai Pintu Kedua, yang tertulis di sisi belakangnya "TERIMALAH SESAMAMU"

Ia bisa melihat orang-orang di sekitarnya, mereka yang ia suka dan cintai, serta mereka yang ia benci. Mereka yang mendukungnya, juga mereka yang melawannya.

Tetapi yang mengherankannya, ia tidak lagi bisa melihat ketidaksempurnaan mereka, kekurangan mereka. Apa yang sebelumnya membuat ia malu dan berusaha mengubahnya.

Ia bertemu sang Pertapa kembali, "Aku belajar" ujarnya "Bahwa dengan berdamai dengan diriku, aku tak punya sesuatupun untuk dipersalahkan pada orang lain, tak sesuatupun yg perlu ditakutkan dari merela. Aku belajar untuk menerima dan mencintai mereka, apa adanya.

"Itu adalah Pintu Kedua Kebijaksanaan" ujar sang Pertapa,

"Sekarang pergilah ke Pintu Pertama"

Dan di belakang Pintu Pertama, ia melihat tulisan "TERIMALAH DUNIA"

"Sungguh aneh" ujarnya pada dirinya sendiri "Mengapa saya tidak melihatnya sebelumnya". Ia melihat sekitarnya dan mengenali dunia yang sebelumnya berusaha ia taklukan dan ia ubah.

Sekarang ia terpesona dengan betapa cerah dan indahnya dunia. Dengan kesempurnaannya.

Tetapi, ini adalah dunia yang sama, apakah memang dunia yang berubah atau cara pandangnya?

Kembali ia bertemu dengan sang Pertapa : "Apa yang engkau pelajari sekarang ?"

"Aku belajar bahwa dunia sebenarnya adalah cermin dari jiwaku. Bahwa Jiwaku tidak melihat dunia melainkan melihat dirinya sendiri di dalam dunia. Ketika jiwaku senang, maka dunia pun menjadi tempat yang menyenangkan. Ketika jiwaku muram, maka dunia pun kelihatannya muram.

Dunia sendiri tidaklah menyenangkan atau muram. Ia ADA, itu saja.

Bukanlah dunia yang membuatku terganggu, melainkan ide yang aku lihat mengenainya. Aku belajar untuk menerimanya tanpa menghakimi, menerima seutuhnya, tanpa syarat.

"Itu Pintu Ketiga Kebijaksanaan" ujar sang Pertapa. "Sekarang engkau berdamai dengan dirimu, sesamamu dan dunia" Sang pertapa pun menghilang.

Sang pangeran merasakan aliran yang menyejukkan dari kedamaian, ketentraman, yang berlimpah merasuki dirinya. Ia merasa hening dan damai.

Hachiko

Hachiko adalah seekor anjing yang lahir di sekitar bulan November 1923 di Odate, Jepang. Ia pindah ke Tokyo, saat majikannya pindah ke sana.

Pemilik anjing itu bernama Eisaburo Ueno. Eisaburo adalah seorang tua yang tinggal sendirian di rumahnya, istrinya sudah meninggal dan anak-anaknya sudah menikah dan tidak tinggal di situ lagi. Eisaburo Ueno bekerja di sebuah universitas di dekat Tokyo sebagai seorang profesor.

Sudah sebuah kebiasaan bagi orang tua itu untuk menaiki kereta listrik di Stasiun Shibuya untuk bekerja. Ia berangkat sekitar jam 8 pagi, dan biasanya ia pulang dan tiba di stasiun itu kembali sekitar jam 5 sore.


Hachiko, si anjing itu, sangat setia menemani tuannya. Setiap pagi ia berjalan bersama tuannya menuju ke Stasiun Shibuya. Setelah ‘melepas kepergian’ tuannya, anjing itu pulang sendiri ke rumah. Dan uniknya tepat sebelum jam 5 sore, anjing itu sudah datang kembali ke stasiun untuk menjemput tuannya.

Kebiasaan ini dilakukannya setiap hari selama beberapa tahun, dan orang-orang di sekitar situ sudah mulai hapal dengan tingkah anjing (dan pemiliknya) itu. Para petugas stasiun pun selalu tersenyum ramah saat melihat anjing itu berlari-lari kecil menjemput tuannya setiap sore.

Tapi malang, pada suatu siang, Eisaburo mendapatkan serangan jantung di universitas tempatnya bekerja. Ia meninggal sebelum mendapatkan perawatan medis dari rumah sakit. Segenap keluarganya langsung dihubungi oleh pihak universitas untuk menjemput jenazah Eisaburo.

Lalu bagaimana dengan anjing itu ? Ternyata, pada sore harinya anjing itu tetap datang ke stasiun untuk menjemput tuannya, tapi hingga larut malam ia menunggu, ternyata tuannya tidak datang. Anjing itu pulang kembali ke rumah.

Besok sorenya, anjing itu kembali datang ke Stasiun - dan sekali lagi - ia pulang dengan ‘tangan hampa’. Kebiasaan ini ia lakukan setiap hari. Para petugas stasiun dan orang-orang di situ sangat bersimpati dan kadangkala memberinya makan saat ‘menjemput tuannya’.

Beberapa kerabat Eisaburo pun sebenarnya sudah berusaha untuk memelihara dan merawat anjing itu, tetapi tetap saja - setiap sore anjing itu nekat berlari menuju ke stasiun Shibuya.

Tak terasa 11 tahun sudah berlalu, dan anjing itu tetap melakukan aktivitas hariannya menunggu tuannya di stasiun tiap sore - hingga larut malam, bahkan kadang baru pulang besok paginya setelah pulas tertidur di stasiun.

Setelah berumur 15 tahun, anjing itu akhirnya meninggal dunia dalam kesetiaannya, tepat di tempat dimana ia biasa menunggu tuannya.

Untuk memuji dan menghargai kesetiaan anjing itu, orang-orang membangun sebuah patung Hachiko di Stasiun Shibuya. Patung anjing itu masih berdiri kokoh hingga saat ini, sebagai sebuah inspirasi kesetiaan bagi orang-orang yang melewatinya.

Delapan Hadiah Terindah

KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yg tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir di hadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada di sampingnya, Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagiaan.

MENDENGAR
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan sudah lama diketahui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan Anda memberikan tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.

DIAM
Seperti kata-kata, didalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya, Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomel.

KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah “Kau bebas berbuat semaumu”. Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari!

TANGGAPAN POSITIF
Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yg kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf) adalah kado indah yang sering terlupakan.

KESEDIAAN MENGALAH
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado “kesediaan mengalah”. Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa musti jadi pemicu pertengkaran yg berlarut-larut? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yg sempurna di dunia ini.

SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yg beku, pemberi semangat dalam keputusasaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah.

Bagaimana Cara Menjaga Hubungan Jarak Jauh Biar Tetap Harmonis

LDR Long Distance Relationship (LDR) atau hubungan jarak jauh merupakan hubungan percintaan kedua sejoli yang terpisah oleh jarak. Cinta memang tak mengenal ruang dan waktu, namun di jaman sekarang ini, hubungan jarak jauh semakin banyak seiring majunya teknlogi. Tanpa mempedulikan jarak, mereka terus membina hubungan ini sampai ke pelaminan. Bagaimana sih cara mempertahankan hubungan jarak jauh? Coba simak beberapa tips berikut ini.

Komunikasi
Hal ini merupakan nomor satu dalam menjalin hubungan jarak jauh. Tanpa komunikasi, hubungan itu akan hambar, dan tentunya berakhir di tengah jalan. Apabila menghadapi suatu masalah yang agak berat, upayakan untuk berbicara satu sama lain sehingga tidak menimbulkan kecurigaan atau miscommunication. Sering-seringlah berkomunikasi dengan menggunakan media apapun, mulai dari telpon, chat, surat, hingga sms.

Tak perlulah komunikasi tiap hari via telpon karena hanya akan memperbengkak tagihan dan tentu membuat kita kere mendadak. Gunakan fasilitas messenger atau chatting dengan menggunakan internet. Hal ini tentu lebih irit ketimbang menelpon. Jangan lupa pada teknologi yang semakin maju, kita dapat menelpon orang yang di seberang benua dengan menggunakan software messenger. Lebih murah khan?
Komitmen
Dalam menjalin hubungan jarak jauh, komitmen itu sangat diperlukan, baik untuk hal-hal kecil hingga yang besar. Contohnya berkomitmen mengenai frekuensi komunikasi. Siapa yang menelpon duluan, berapa kali dalam seminggu dan masih banyak lain. Selain itu tentunya komitmen dalam hubungan ini. Banyak yang menjalani hubungan jarak jauh hanya untuk main-main. Sehingga buatlah komitmen ketika menjalani hubungan ini. Yakinkan kepada pasangan bahwa hubungan ini untuk ke arah serius.

Kepercayaan
Menjalani hubungan jarak jauh, kepercayaan merupakan penunjang hubungan. Pastikan Anda dan pasangan saling percaya satu sama lain. Timbulnya kecurigaan dapat membuat hubungan menjadi melempem dan tentunya hubungan ini menjadi terancam. Pastikan Anda tidak berbuat macam-macam yang mengakibatkan hilangnya kepercayaan pasangan Anda kepada Anda, dan sebaliknya. Terapkan rasa percaya satu sama lain agar hubungan ini tidak menjadi berat.

Sabar
Kesabaran ini sangat penting, karena hubungan jarak jauh berarti mempunyai kendala sulit bertemu. Terkadang emosi mempengaruhi hubungan. Ketika mood sedang tidak bagus, Anda bisa saja menyalahkan pasangan Anda sebagai bantalan emosi. Dan tentu saja dalam kondisi ini, kesabaran memiliki peran penting. Belum lagi dengan kesibukan masing-masing, Anda harus bersabar. Ansitipasikan segala sesuatu dan jangan sambai emosi menguasai pikiran yang akhirnya berakibat buruk. Cobalah berpikir positif, karena pada akhirnya Anda akan melewati semua ini dan hidup bersama dengan pasangan Anda. Jadikan itu sebagai motivasi dalam hubungan ini.

Pertimbangan
Pertimbangkan segala resiko yang akan dihadapi ketika menjalani hubungan jarak jauh, mulai dari sulitnya bertemu, sampai dengan perasaan masing-masing. Apakah Anda kuat menjalani hubungan jarak jauh? Apakah Anda bahagia menjalani hubungan ini? Apakah kira-kira keluarga Anda dapat menerima pasangan Anda? Kendala apa saja yang Anda hadapi ketika berhubungan jarak jauh? Pertimbangkan semuanya ketika Anda memutuskan untuk LDR.

Setelah menjalani LDR, cobalah untuk pertahankan hubungan Anda. Apabila ternyata hubungan ini mengakibatkan ketidakbahagiaan atau bahkan Anda sendiri ingin mengakhirinya, pertimbangkan kembali secara matang, apalagi kalau ternyata hubungan ini sudah berjalan kea rah serius. Namun apabila memang sudah tidak ada jalan keluar, jangan ragu-ragu untuk mengakhiri hubungan, karena pada ke depannya, Andalah yang akan merasakannya. Buatlah keputusan secara matang-matang untuk menjalani hubungan ini.

Apakah Anda siap berhubungan jarak jauh?

Selasa, 06 Maret 2012

BU ROS...

Wajahnya telah dipenuhi kerut merut. Tapi wajah itu tetap menggambarkan kedamaian dan keramahan, meskipun sedang dalam keadaan sakit. Pas seperti yang digambarkan oleh teman sekerja saya yang mengenalkan saya padanya. Ia tak mau diam, meski serangan stroke kini membatasi geraknya. Berjalan-jalan, mengerjakan pekerjaan rumah dan melakukan apapun yang bisa beliau lakukan. Memang, kata teman saya, sebelum mendapat serangan tersebut, beliau adalah seorang yang energik dan aktif mengikuti berbagai kegiatan khususnya pengajian, termasuk yang di luar kota.

Wanita itu biasa dipanggil Ibu Ros. Usia sekitar 65 tahun. Asli Minang. Beliau hidup sendiri di Jakarta, karena suaminya sudah meninggal, sedang Allah tidak mengaruniai mereka seorang pun putra. Untuk kehidupannya, beliau menjadikan rumahnya sebagai kost-an bagi para mahasiswa sebuah kampus di wilayah itu.

Hari itu, semua penghuni kost sedang pergi, maklum sedang libur semester. Seperti biasa, Bu Ros sendirian di rumah. Tetapi, karena ada urusan, beliau pergi ke rumah saudaranya dan baru pulang saat malam menjelang. Namun beliau sangat terkejut menemukan jendela dalam keadaan terbuka. Ketika diperiksa, rumah dalam kondisi berantakan dan beberapa barang hilang. Rupanya maling telah mengobok-obok rumahnya.

Melihat kondisi yang mengejutkan itu penyakit darah tinggi Ibu Ros pun kambuh dan beliau mendapat serangan stroke. Beliaupun terpaksa dirawat beberapa hari di rumah sakit. Alhamdulillah, kondisi beliau tidak terlalu parah hingga beberapa hari kemudian sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Beliau kemudian, untuk sementara, tinggal di rumah keponakannya.

Namun, sebagaimana penderita stroke lainnya, kondisi beliau tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Lidah sulit digerakkan hingga sulit mengucapkan sebuah kalimat secara sempurna. Demikian juga dengan jari-jemarinya. Hal itu membuat beliau sangat berduka, namun juga berusaha keras untuk bisa sembuh kembali.

Saat beliau tengah berduka itulah, teman saya mengenalkan saya padanya. “Beliau butuh teman yang bisa mengerti,” begitu ungkap teman saya. Sejak itulah saya berkenalan dengan beliau. Beberapa kali kami bertemu, tapi lebih sering kami berkomunikasi via telepon. Ketika ngobrol, beliau berusaha agar kata-kata yang beliau ucapkan dapat saya dengar dengan jelas. Sekalian berlatih, katanya. Beliau juga banyak bercerita tentang berbagai upaya yang ditempuh untuk bisa segera sembuh. Terapi akupuntur, berobat ke beberapa dokter ahli hingga minum jamu dari sinshe.

Apapun beliau lakukan agar bisa sembuh. Terapi fisik lainnya seperti jalan-jalan setiap pagi pun beliau lakukan, meskipun fisik beliau lemah. Beliau juga makin banyak berdzikir dan tilawah AlQur’an, untuk mengisi waktu selama masa penyembuhan sekaligus sarana terapi.

Suatu hari, saya menemani beliau mengunjungi rumah yang telah sebulan ditinggalkannya. Saat itu kami berbincang lebih banyak lagi dan salah satunya adalah tentang keinginan dan usahanya yang sedemikian keras untuk bisa pulih kembali.

“Di usia saya yang sekian, mulut, lidah dan jari-jari ini adalah modal utama saya untuk beribadah. Dengannya saya bisa berdzikir dan mengeja huruf-huruf Qur'an saat tilawah. Mulut ini adalah modal saya utuk tersenyum dan bertaushiyah, karena hanya senyum dan kata-kata yang bisa banyak saya sedekahkan. Sejak sakit, saya tak bisa lagi membaca Qur'an dengan tartil. Sejak mendapat serangan ini, saya kesulitan mengurai senyum kepada tetangga. Kini saya tak lagi dapat menyampaikan kata-kata hikmah. Karena itulah saya bertekat untuk sembuh. Agar saya bisa membaca Quran dan berdzikir dengan tartil, juga tetap dapat menebar senyum dan hikmah bagi sesama”.

Uraiannya menohok perasaan saya. Di saat kita yang masih muda dan sempurna tak tergerak untuk memperbaiki bacaan Qur'an, bahkan sekedar ‘membaca’ saja malas, ada seorang wanita tua dengan segala keterbatasannya bersungguh-sungguh untuk membaca Qur'an dengan baik dan benar. Di saat kita yang sehat pelit tersenyum kepada sesama dan enggan bertutur kata hikmah, seorang lanjut usia yang tak lagi sempurna begitu keras ingin menjalankannya.

Tiga tahun lebih berlalu, sejak terakhir kali saya berkomunikasi dengan beliau. Kata teman saya, beliau masih sehat dan seaktif yang dulu. Pun uraian panjang itu masih saya kenang dan saya hayati hingga kini. Sebagai pengingat kala saya lelah untuk tilawah dan capek memperbaiki bacaan. Sebagai pendorong kala saya kehilangan senyum. Sebagai penyokong saat saya lupa untuk bertutur hikmah dan malas bertaushiyah. (sepenuh takzim untuk Ibu Ros)