Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Sabtu, 09 Juli 2011

Marilah Berbuat Baik

Dia hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiri di pinggir jalan itu. Tetapi dalam cahaya berkabut ia dapat melihat bahwa wanita tua itu membutuhkan pertolongan. Lalu ia menghentikan mobil Pontiac-nya di depan mobil Mercedes wanita tua itu, keluar dan menghampirinya. Walaupun dengan wajah tersenyum wanita tua itu tetap merasa khawatir. Setelah menunggu beberapa jam dan tidak ada seorang pun yang menolongnya, tidakkah lelaki itu bermaksud menyakitinya? Lelaki tersebut penampilanya tidak terlalu baik. Ia kelihatan begitu memprihatin-kan.

Wanita tua itu dapat merasakan kalau dirinya begitu ketakutan; berdiri sendirian dalam cuaca yang begitu dingin. Lelaki tersebut tahu apa yang ia pikirkan. "Saya kemari untuk membantu Anda, Bu. Kenapa Anda tidak menunggu di dalam mobil, bukankah di sana lebih hangat? Oh... ya nama saya Bryan." Ya, dia memang sudah terlalu lelah, apalagi untuk wanita setua, menunggu dalam dingin kini benar-benar terasa berat. Bryan masuk ke dalam kolong mobil wanita tua itu untuk memperbaiki yang rusak. Akhirnya ia selesai, tetapi dia kelihatan begitu kotor dan lelah. Wanita tua itu membuka kaca jendela mobilnya, dan berbicara kepadanya. "Saya dari St. Louis, kebetulan lewat di jalan ini. Saya sungguh merasa tidak cukup hanya mengatakan terimakasih atas pertolongan yang Anda berikan." Wanita tua itu berkata berapa yang harus ia bayar. Berapapun jumlahnya yang Bryan minta tidak menjadi masalah, karena ia membayangkan apa yang akan terjadi jika lelaki tersebut tidak menolongnya. Bryan hanya tersenyum. "Bu, menolong orang itu bukan pekerjaan, karena itu tidak layak suatu imbalan. Saya yakin, apabila menolong seseorang, suatu hari nanti tuhan juga akan menolong saya, dengan tangan yang berbeda. Amal itu berputar, Bu." "Bila Ibu benar-benar ingin membalas jasa saya, suatu saat nanti apabila ia melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan maka tolonglah orang tersebut, ingatlah pada saya". Bryan menunggu sampai wanita tua itu menstater mobilnya, lalu hilang dari pandangan. Setelah berjalan beberapa mil wanita tua itu melihat kafe kecil. Ia lalu mampir ke sana untuk makan dan beristirahat sebentar. Seorang pelayan wanita datang dan memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Wanita tua itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil, dan masih begitu muda. Lalu ia teringat kepada Bryan. Setelah wanita tua itu selesai makan dan sang pelayan sedang mengambil kembalian untuknya, wanita tua itu pergi keluar secara diam-diam. Setelah kepergiannya, sang pelayan kembali. Pelayan itu celingukan, bingung, tak menemukan wanita tua itu. Di meja, ia menemukan secarik kertas, dan sepuluh lembar uang $100. Ia begitu terharu setelah membaca apa yang ditulis oleh wanita tua itu: "Kamu tidak berhutang apa pun pada saya. Karena seseorang telah menolong saya, oleh karena itulah saya menolong kamu, maka inilah yang harus kamu lakukan: jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan kasih sayang". Malam ketika ia pulang dan pergi tidur, pelayan itu berpikir mengenai uang dan apa yang ditulis oleh wanita tua itu. Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau ia dan suaminya sangat membutuhkan uang untuk menanti kelahiran bayinya? Ia tahu bagaimana suaminya sangat risau mengenai hal ini. Lalu, ia memeluk suaminya yang terbaring di sebelahnya dan memberikan kecupan yang lembut sambil berbisik, "Semuanya akan baik-baik saja, I love you, Bryan"

Menolong Kepiting

Seorang siswa Chan sedang bermeditasi di tepi sungai. Tiba-tiba ia mendengar suara percikan air. Ia membuka mata dan melihat seekor kepiting sungai sedang meronta-ronta melawan seretan arus sungai. Siswa itu mengulurkan tangan menarik kepiting itu keluar dari seretan arus meski untuk itu ia harus merelakan tangannya tergigit sumpit kepiting. Siswa itu kemudian meletakkan kepiting di tepi sungai dan melanjutkan meditasinya. Lalu tak lama ia mendengar suara yang sama. Ia membuka mata dan melihat kepiting itu terseret lagi dalam arus. Sekali lagi ia menolongnya dan sudah tentu sekali lagi tangannya tergigit sumpit kepiting. Ia melanjutkan meditasi. Sesaat kemudian ia mendengar lagi suara percikan air sungai. Kepiting itu kembali tercebur dalam sungai dan terseret arus. Untuk ke sekian kalinya ia mengangkatnya dan untuk ke sekian kalinya pula tangannya tergigit. Guru Chan yang sedang melintas melihat kejadian ini dan bertanya, “Kau sungguh bodoh, tidakkah kau tahu bahwa kepiting itu bisa menggigit tanganmu?” “Tahu.”
“Lalu kenapa kau masih menolongnya?” “Menggigit adalah sifatnya, welas asih adalah sifatku. Sifatku takkan mungkin berubah hanya karena pengaruh sifatnya. Jalan Bodhisattva tak mengenal kata menderita dalam menolong makhluk lain.” Sekali lagi kepiting itu tercebur dalam sungai. Siswa itu melihat tangannya yang membengkak karena beberapa kali gigitan kepiting, lalu melihat kepiting yang meronta-ronta dalam seretan arus sungai. Tanpa ragu-ragu ia kembali mengulurkan tangan berusaha mengangkat kepiting itu. Kali ini Guru Chan memberikan sebatang ranting kepadanya. Sang siswa paham akan maksud Guru Chan itu, ia segera mengambil ranting itu dan menggunakannya untuk mengangkat kepiting dari dalam sungai. Kali ini tangannya bebas dari gigitan kepiting. Guru Chan berkata sambil tertawa, “Welas asih adalah hal yang bajik dan benar, tetapi welas asih juga harus disertai metode yang bijaksana.”

Dalam membimbing makhluk hidup, Bodhisattva juga harus mempelajari pintu Dharma yang tak terhingga yang juga meliputi ilmu-ilmu keduniawian. Menggunakan cara atau peralatan bukan berarti merendahkan makna welas asih

CUACA YANG DI SUKAI

Tamu restoran bertanya pada pelayan, “Prakiraan cuaca untuk esok hari gimana?” Pelayan dengan mantap menjawab, “Pasti cuaca yang saya sukai.” Tamu restoran tidak mengerti maksud ucapan itu. “Koq kamu bisa tahu persis kalau cuaca esok hari adalah cuaca yang kamu sukai?” Pelayan menjelaskan, “Lingkungan di sekitar sering tidak sesuai dengan kehendak saya, sebab itu saya belajar menyukai segala sesuatu yang saya hadapi. Jadi gampang saja, cuaca esok hari pasti adalah cuaca yang saya sukai.” Hari-hari yang gembira itu terbentuk dari pikiran yang gembira. Sikap kita menentukan emosi kita, mempengaruhi kesehatan kita, bahkan mengubah hal-hal yang kita hadapi hari ini.

Segala sesuatunya harus selalu dilihat dari sudut yang bermanfaat dan menyenangkan, inilah jalan menuju jiwa yang sehat, juga satu-satunya jalan menuju kebahagiaa
n.

~DATANG ATAU TIDAK….?~

Seorang hartawan akan melangsungkan pesta pernikahan bagi anaknya.Ia mempunyai seorang famili miskin yang tidak ingin diundangnya, karena ia tahu famili itu tidak mungkin mampu memberi sumbangan. Namun demi menghargai adat istiadat, ia tetap harus mengundang famili miskin itu. Hartawan itu mengirimkan kartu undangan dengan menambahkan dua kalimat di atasnya:Jika kamu datang, berarti kamu rakus. Jika kamu tidak datang, berarti kamu pelit. Hartawan itu tertawa dalam hati, hm, coba lihat kamu datang tidak, demikian ia membatin.Pada hari H-nya, sang hartawan melihat familinya itu datang menghadiri pesta pernikahan anaknya. Setelah mengucapkan selamat dan menyodorkan sebuah amplop merah (angpao/hongbao) pada sang hartawan empunya hajad, famili miskin itu
berlenggang kangkung duduk dan menyantap makanan lezat yang tersaji. Sang hartawan membuka angpao yang diterimanya, di dalamnya hanya terlihat satu lembar uang RMB 1 dolar (sekitar Rp 1.350) dengan selembar kertas bertuliskan: Jika kamu terima, berarti kamu tamak. Jika kamu tolak, berarti kamu menghina.

SD:
Hebat! Hebat!
Kita harus belajar banyak dari famili miskin itu. Jangan cepat mengumbar amarah menghadapi setiap perlakuan tidak menyenangkan yang kita hadapi. Terima dengan sabar dan bereaksi dengan bijaksana.

Bebas Memberikan Saran

Hallo sobat ku semuanya, maaf bingung mau nulis apa.
Tapi di postingan ini silahkan bagi yang membaca untuk memberikan saran untuk kebaikan blog ini.
silahkan anda memberikan kritik yang pedas tapi nggak boleh berkata kotor, dosa :D
oke teman ?
saya tunggu lho sarannya.
jangan takut, saya tidak akan marah kok jika kalian memberikan kritik pedas, malah saya akan senang sekali mendapatkan kritikan kalian : )
orang yang mau menerima saran oang lain adalah orang yang dapat membangun diri dan orang yang tidak mau menerima saran orang lain adalah orang yang tidak mau menjadi lebih baik : )

Kamis, 07 Juli 2011

Inilah Keadaan Bumi Kita

Disini saya akan memberikan sedikit video bagaimanakah keadaan bumi sekarang :



sudah lihat kan ?
itulah keadaan bumi kita jika kita tidak menghiraukan bumi kita mulai dari sekarang, kita tidak sadar bahwa kita terus merusak dan merusak keadaan bumi ini. Keadaan bumi yang seperti ituadalah sangat memprihatinkan dan sangat meresahkan kita. Mungkin jika kita terus membuat pemanasan global dan terus merusak bumi ni, mungkin bumi ini enggan menerima kita lagi dan mungkin bumi ini akan lenyap dengan seiring waktu yang ada.

Lantas, bagaimana dengan anak cucu kita nanti ?
apakah mereka masih bisa memijakkan kakinya di bumi ini ?
atau mungkin mereka tidak akan pernah bisa melihat bumi yang indah ini lagi ?
Banyak yang kita cemaskan, mungkin jika kita merusak lebih dari ini anak cucu kita tak akan pernah senang dilahirkan di bumi ini, malah mereka akan menyesal dan prihatin serta kecewa terhadap orang terdahulu yang mengeksploitasi berlebih bumi ini.

Bumi yang kita pijak ini juga butuh nutrisa dan butuh kasih sayang kita, jangan kita sakiti mereka terus menerus. So, marilah kita bangun bumi ini menjadi lebih baik lagi dan marilah kita buat bumi ini senang dan masih bisa bertahan untuk anak dan cucu kita kelak. Amin : )

Kisah mengharukan : Anak berusia 5 tahun

 
Di hari terakhir sebelum hari lebaran, aku bergegas pergi ke Supermarket untuk membeli beberapa hadiah lagi yang belum sempat terbeli pada waktu sebelumnya.

Ketika saya melihat kekerumunan orang disana, saya mulai mengeluh pada diri sendiri.


"Kayaknya saya akan selamanya berada disini nih dan padahal saya masih harus pergi kebeberapa tempat lagi..."

Lebaran, bener-bener makin tahun makin menyebalkan. Padahal aku berharap bisa santai-santai, lalu tidur dan bangun sesudahnya...


Namun demikian, aku langkahkan juga kakiku menuju ke bagian mainan anak, dan disana aku mulai melihat-lihat harga, dan bertanya-tanya betul nggak sih anak-anak bermain dengan mainan-mainan semahal ini.

Sembari mencari-cari mainan dibagian itu, aku melihat seorang anak laki kecil sekitar 5 tahunan, merapatkan sebuah boneka kedadanya sendiri.

Dia terus menyentuh rambut boneka itu dengan.. tatapan yang sedih.



Aku jadi bertanya-tanya untuk siapakah boneka itu.

Kemudian si anak lelaki kecil itu memandang kepada seorang wanita tua yang berdiri disebelahnya: "Nek, nenek yakin kalau aku nggak punya cukup uang?"


Wanita tua itu menjawab: "Kamu kan sudah tahu bahwa kamu nggak punya cukup uang untuk membeli boneka ini,sayang."

Kemudian si nenek memintanya untuk diam disitu selama 5 menit sementara dia pergi berkeliling. Si nenek meninggalkannya dengan bergegas.


Si anak lelaki kecil tetap memegang boneka itu dalam tangannya.

Akhirnya, aku mulai berjalan menuju kearahnya dan aku menanyakannya kepada siapa boneka itu akan diberikan?

"Boneka inilah yang sangat diidamkan oleh adik perempuan saya dan dia sangat menginginkannya pada lebaran sekarang ini. Dia sangat yakin bahwa saya akan membawakan boneka ini untuknya."


Aku mencoba meyakinkan bahwa kamu akan membawakan boneka itu untuk adiknya, dan kamu jangan mengkawatirkannya.

Tapi kemudian dia menjawabku dengan sangat sedih.


"Tidak.. Aku tidak mungkin membawakan boneka ini ketempat dia berada sekarang. Saya harus memberikannya kepada Ibu saya sehingga ibu dapat memberikannya ketika Ibu pergi ketempatnya."


Matanya terlihat sangat sedih.. ketika dia mengatakan kalimat itu. "Adik saya telah pergi menghadap Tuhan. Ayah berkata bahwa Ibu juga akan pergi menemui Tuhan segera, jadi saya pikir tentunya Ibu bisa membawakan boneka ini untuk diberikan kepada adik saya."


Jantungku hampir putus rasanya, mendengar penjelasan anak itu...

Betapa mata hati saya terbuka mendengar perkataan anak itu, bahwa masih ada yang namanya cinta di dunia ini yang sangat mulia dari hati seorang anak berusia 5 tahun. Karena selama ini saya merasa semua yang ada di dunia ini adalah semu termasuk rasa cinta yang saya miliki.


Anak kecil itu memandang saya dan mengatakan: "Saya sudah pesankan ke Ayah untuk mengatakan ke Ibu jangan pergi dulu. Saya bilang tolong tunggu saya sampai saya pulang dari supermarket."

Selanjutnya anak itu memperlihat selembar foto dirinya yang lucu dimana dia sedang tertawa. Dia kemudian berkata kepadaku: "Saya juga pengin Ibu membawa serta foto ini bersamanya, supaya Ibu tidak lupa denganku."


"Aku sangat mencintai Ibuku.. padahal saya berharap Ibu tidak seharusnya meninggalkanku tapi.. Ayah berkata bahwa Ibu harus pergi untuk menemani adik perempuan saya."


Kemudian.. ia memandangi boneka itu lagi dengan sedih dan mengusap rambutnya perlahan.

Aku cepat mengambil dompetku dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan berkata kepada anak itu: "Bolehkah aku hitung uangmu, mungkin kamu punya cukup uang?"


"Baik..." katanya lirih. "Saya berharap ada cukup uangnya."

Aku sisipkan uangku kedalam uangnya tanpa sepengetahuannya dan kami mulai menghitungnya. Ternyata uangnya cukup untuk boneka itu bahkan lebih.

Anak laki itu berkata: "Terima kasih Tuhan atas pemberian uang ini."


Kemudian dia memandangku dan menambahkan: "Kemarin, sebelum tidur saya memohon kepada Tuhan agar saya memiliki cukup uang untuk membelikan boneka ini, agar supaya Ibu dapat membawakannya untuk adikku. Ternyata Tuhan mendengarkanku."


"Saya juga berharap memiliki cukup uang agar dapat membeli sekuntum mawar putih untuk Ibuku, tapi saya nggak berani meminta terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi ternyata Tuhan memberiku uang cukup untuk membeli boneka ini dan juga mawar putih."


Aku selesaikan belanjaan saya dengan sebuah perasaan yang amat sangat berbeda dengan ketika saya memulainya. Beberapa menit kemudian, wanita tua itu telah kembali dan aku pergi dengan trolley-ku.


Aku nggak bisa menghilangkan bayangan anak laki-laki itu dari ingatanku.

Kemudian, aku ingat kepada sebuah artikel dari sebuah koran lokal 2 hari yang lalu, yang mengatakan bahwa seorang mabuk yang mengemudikan sebuah truk menabrak sebuah mobil yang sedang dikendari oleh seorang wanita muda dengan anak perempuannya yang masih kecil.


Si anak perempuan meninggal seketika, dan ibunya masih hidup tetapi dalam keadaan kritis. Keluarganya harus mengambil keputusan apakah harus mencabut kabel dari mesin yang membantunya bertahan hidup, sebab wanita muda itu sudah tidak mungkin lagi lepas dari keadaan koma.


Apakah mereka keluarga dari anak laki-laki kecil itu?


Dua hari setelah pertemuanku dengan dengan anak laki-laki itu, aku baca disurat kabar bahwa wanita muda itu telah meninggal dunia.


Aku segera bergegas dan pergi membeli seikat mawar putih dan pergi kesebuah pemakaman dimana jenazah di perlihatkan kepada para pelayat dan didoakan sebelum pemakaman.


Ternyata wanita muda itu ada disana, terbaring didalam petinya, memegang setangkai mawar putih yang indah dengan selembar foto anak lelaki itu dan boneka diletakkan diatas dadanya.


Saya meninggalkan tempat itu.. sambil menangis, dan merasakan hidup saya telah berubah untuk selama-lamanya.

Cinta.. yang dimiliki oleh bocah lelaki itu kepada Ibu dan adiknya tercinta, tetap melekat hingga hari itu, sungguh tidak terbayangkan.

Hanya dalam bilangan detik, seorang yang sedang mabuk telah mengambil semuanya itu darinya.

Moral dari cerita ini adalah:
Sediakan waktu untuk menghargai apa yang kamu miliki saat ini.
Cinta yang kita miliki dari dasar hati yang paling dalam adalah sesuatu yang sangat mahal harganya, tidak dapat dinilai dengan materi sekalipun.
Janganlah kita menyia-nyiakan waktu kita di dunia ini untuk selalu mencintai dan mengasihi orang-orang yang kita cintai agar kita dapat menikmati dan merasakan betapa sangat indah dan berarti hidup kita ini apabila kita hidup selalu dalam kasih sayang dan cinta, karena tanpa itu semua apalah arti hidup kita ini...??? ( Materi bukanlah tolak ukur kebahagiaan seseorang dalam menjalani kehidupan).