Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Jumat, 09 Januari 2009

Tips & Trik Ekstrim Melamar Pekerjaan


Judul: Tips & Trik Ekstrim Melamar Pekerjaan
Bahasa: Indonesia
Penulis: Agus Salim
Jumlah halaman: 26
Format ebook: EXE
Harga: Rp. 0,-
Perekomendasi: Admin

Apakah anda seorang pencari kerja yang selalu kesulitan mendapatkan pekerjaan?.
Sepertinya anda wajib mencoba tips-tips yang ada di ebook ini.
Jadilah kandidat yang paling "ekstrim", dengan membuat surat lamaran pekerjaan yang berbeda dari yang dibuat kebanyakan orang, dan jadilah pemenang dalam persaingan tersebut.

Anda dapat mendownload langsung ebooknya Disini

Kunjungi juga website penerbit ebooknya di www.buku-profitable.com

Kamis, 08 Januari 2009

Dimana Kebahagiaan??

Mencari kebahagiaan adalah fitrah murni setiap manusia. Tidak melihat apakah itu lelaki atau perempuan, tua atau muda, orang kaya atau orang miskin, orang besar atau orang kecil. Semua menginginkan kebahagiaan. Segala tindak tanduk manusia dapat kita lihat tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mencari kebahagiaan.
Kebahagiaan itu bukan terletak pada tangan, mata, kaki, telinga atau yang lainnya. Tetapi kebahagiaan itu terletak pada hati atau jiwa. Orang yang mendapat kebahagiaan akan merasa ketenangan hati, ketenangan jiwa dan keindahan ruh. Kalau kita lihat berbagai cara dan jalan telah ditempuh oleh manusia untuk mendapatkan kebahagiaan. Ada yang mencari kebahagiaan melalui kekayaan, pangkat, nama, kemasyhuran atau isteri yang cantik. Tetapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah, benarkan semua itu dapat memuaskan hati manusia dengan mutlak?
Kalau mencari kebahagiaan itu diusahakan dengan kebendaan, percayalah…manusia akan gagal mencapai kebahagiaan,yang ada adalah manusia akan mencapai kekecewaan, manusia akan merasa malang sepanjang hari, jiwa tidak tenang, tidak tenteram sepanjang masa. Inilah yang dikatakan Neraka sementara sebelum merasakan Neraka yang hakiki dan dahsyat serta mengerikan di akhirat nanti.
Buktinya dapat kita lihat, orang-orang yang mencari kebahagiaan melalui :
1.Kekayaan
Setelah manusia itu mendapat kekayaan, ia tidak akan dapat terhindar dari masalah-masalah yang tidak menyenangkan. Yaitu ujian-ujian. Ujian-ujian itu merupakan sunnatullah yang sengaja Allah datangkan kepada setiap manusia. Contohnya, ia tidak dapat terhindar dari sakit yang Allah datangkan kepadanya. Jika sudah ditimpakan kesakitan maka diwaktu itu kekayaan tidak berguna lagi. Atau dalam waktu-waktu yang lain terjadi pencurian, kebakaran, diancam dan sebagainya. Kalau semua itu terjadi, walau sekaya apapun ia, tidak dapat memberi kebahagiaan kepada manusia.
2.Pangkat dan Jabatan
Dalam keadaan mencari kebahagiaan melalui pangkat, ia juga tidak dapat terhindar daripada dihina oleh orang yang diatasnya. Ia tidak dapat terhindar dari hasad dengki dari orang lain yang berada di atasnya, semua orang akan benci sebab untuk mendapatkan pangkat ia selalu mengumpat orang, memfitnah, menjatuhkan orang lain agar orang memberi perhatian kepadanya. Apabila sudah mendapat pangkat apakah ia dapat terhindar dari ujian-ujian yang Allah datangkan kepadanya?. Apakah ia dapat terhindar dari kematian anak, isteri, keluarga atau orang yang dicintai? Apakah pangkat tersebut dapat memberi kebahagiaan dan ketenangan jiwa pada seseorang?
3.Nama dan Glamor
Begitu juga kalau seseorang itu mencari kebahagiaan dengan nama kemasyhuran dan isteri cantik, ia tidak akan dapat merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Orang yang mencari kebahagiaan dengan dunia atau material semata-mata tidak akan menemui kebahagiaan selama-lamanya. Kebahagiaan yang diharapkan tetapi kecelakaan yang datang, yaitu kesengsaraan dan penderitaan di dunia lagi.
Kita lihat beberapa contoh :
Bintang film terkenal yang dipuja orang yaitu Marilyn Monroe dan Elvis Presley mati bunuh diri. Dikalangan selebritis kita perceraian sudah menjadi budaya,baru menikah 3 sampai 5 tahun rumah tangga sudah hancur dan anak terkorban, sedangkan mereka pada lahiriah atau materiil seolah-olah sudah mendapat kebahagiaan, kaya dan berkecukupan,muda usia, wajah ganteng dan cantik. Tetapi mengapa terjadi demikian?
Ada juga di kalangan mereka yang mencoba bunuh diri, tetapi dapat diselamatkan. Adayang tidak berani bunuh diri, tetapi terlibat dengan ganja, narkotik, minuman keras dan bermacam-macam kejahatan yang mengerikan dan merusak masyarakat. Mereka anggap itu kebahagian. Ada yang terliat dengan hiburan-hiburan yang tidak sehat, prostitusi, dll. Ada juga yang berusaha sungguh-sungguh agar dapat memberi kebahagiaan , kepuasan jiwa dan ketenangan hati. Mereka tinggalkan segala-galanya membawa diri mengikuti rasa hati, kesana kemari tidak tentu arah. Ada yang membiarkan pakaiannya compang camping, seolah-olah ingin hidup seperti rumput dan angin. Malah seringkali budaya seperti ini yang menjadi masalah pada masyarakat sekarang ini.
Benarlah firman Allah SWT yang artinya :
”Tidak ada hidup di dunia ini, melainkan harta benda yang menipu daya” Q.S Al Hadid : 20
Di dunia pun sudah tertipu dan mengecewakan,karena mereka yakin pangkat, kekayaan, nama dan kemahsyuran, serta isteri cantik dapat memberikan kebahagiaan , tetapi semua itu telah menipu mereka. Di akhirat nanti baru dia sadar bahwa dunia ini menipunya, hingga menjadikan dia lupa perintah Allah. Dunialah yang menyebabkan dia terjun ke Neraka.
Sehingga kelak akan terkejut dengan janji Allah dalam firmanNya yang artinya :
”Rasakanlah azab dan siksa yang pedih”
Kalau begitu dimanakah kebahagiaan yang hakiki? Apakah di dunia atau akhirat? kebahagiaan yang hakiki dan sejati adalah setelah kita beriman kepada Allah dan Rasul serta melaksanakan apa yang diwajibkan dan meninggalkan apa yang dilarang dengan sepenuh hati dan ikhlas.
Allah berfirman yang artinya :
”Ketahuilah bahwa dengan mengingati Allah itu hati akan tenang (jiwa akan tenang)” Q.S : Ar-Raad : 28.
Yang dimaksud tenang adalah tenang dengan dunia, tidak risau dengan dunia, tidak risau dengan rizkinya di dunia, tidak mudah tertipu dengan gemerlap dunia. Tetapi yang dirisaukan adalah nasibnya di akhirat serta dosa-dosanya kepada Allah
Dimana di akhirat nanti tidak berguna lagi harta kekayaan, pangkat, pujian dari orang dan isteri yang cantik. Semua tidak akan dapat memberi manfaat lagi dihari akhirat.
Firman Allah yang artinya :
”Di hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat sejahtera”Q.S : Asy-Syuaraa : 88 – 89
Berikut ada sebuah sajak dari Abuya Ashaari Muhammad At Tamimi berjudul “Musafir Kelana” untuk kembali meyakinkan hati kita tentang hakikat hidup ini..
 
Kita di dunia adalah musafir kelana
Di sini bukan tempat tinggal berlama-lama
Hidup di dunia hanya sementara
Ke Akhirat sana tujuan kita

Di waktu musafir carilah barang-barang yang berguna sebanyak-banyaknya
Untuk dibawa pulang ke Akhirat sana
Jangan bawa barang-barang yang salah
Di sana nanti hukuman menunggu kita

Di waktu di dunia jangan kita lupa
Di dunia bukan tempat tinggal kita
Mau ataupun tidak mau kita terpaksa ke sana
Kalau tidak ada amal baik yang dibawa kecewalah kita

Ingatlah jangan kita terlalai
Berhati-hatilah dengan dunia yang menipu kita
Jika kita tersilap di dunia ini
Merana selamanya di Akhirat sana
Ingatlah sebelum terlambat…

Selasa, 06 Januari 2009

Orang Tua (Juga) Ingin DIKAGUMI

Saya memiliki kenangan yang sangat menyentuh dengan ayah saya. Kenangan itu tercipta hampir dua puluh tahun yang lalu. Saya belum masuk sekolah saat itu, kira-kira baru berusia tiga atau empat tahun.

Kejadiannya begini…

Pada suatu pagi yang cerah dan indah, terjadi hal yang tak terduga. Sesuatu yang di luar kebiasaan keluarga kami.

Ayah saya biasanya sudah berangkat pagi-pagi ke kebun. Kira-kira jam setengah enam atau jam enam pagi beliau sudah pergi. Matahari pun belum terbit saat itu, masih bersembunyi di balik bukit. Selain untuk memindahkan kerbau ke tempat yang memiliki rumput segar, juga untuk mengawasi pengairan di sawah. Nanti sekitar jam sembilan atau jam sepuluh pagi ayah pulang untuk makan pagi.

Ibu saya bangun lebih telat dari ayah. Setelah bangun ibu langsung menyiapkan makan pagi untuk kami semua. Saya dan kakak perampuan saya merupakan orang yang bangun paling akhir. Kami adalah raja dan ratu di rumah. Ya… namanya juga anak-anak.

Setelah bangun biasanya saya ke rumah tetangga menemui teman saya untuk bermain. Kalau teman saya sedang pergi bersama orang tuanya, terpaksa saya main sendirian. Kadang-kadang juga saya main masak-masak bersama kakak perampuan saya.

Akan tetapi… pagi ini berbeda.
Saat ayah bangun, dia membangunkan dan mengajak saya ke kebun. Saya masih ingin tidur saat kami mulai berangkat ke kebun. Mata masih mengantuk. Namun, saya senang diajak ayah.
“Ayah mau tunjukan sesuatu kepada kamu,” kata ayah saya.

Matahari masih tidur di balik bukit. Belum bangun. Tetesan embun dan udara pagi yang dingin menyambut kedatangan kami. Saya masih dibalut selimut… nyaman dan hangat dalam gendongan ayah. Desa kami berada di ketinggian sekitar lima ratus meter di atas permukaan laut. Jadi, di pagi hari sekitar jam enam masih cukup dingin.

Sampai di kebun yang berjarak sekitar dua kilo meter dari rumah, ayah menunjukan sesuatu yang menjadi tujuan kami pagi itu.
“Tadi malam kerbau ayah beranak,” kata ayah. “Inilah yang mau ayah tunjukan ke kamu.” Wajah ayah nampak senang dan bahagia. Saya juga senang dan takjub melihat anak kerbau untuk pertama kalinya.

Menyadari ada yang datang mendekat, sang induk terlihat siaga. Telinganya berdiri tegak. Matanya awas memeriksa keadaan sekitar. Naluri keibuannya nampak. Akan tetapi, setelah mengetahui yang datang tersebut adalah ayah, tuannya, dia terlihat nyaman. Kemudian, melanjutkan acara makan rumputnya.

Anak kerbau terlihat lucu dan imut. Matanya bulat seperti bola ping pong. Dia selalu berada di dekat induknya. Tubuhnya berwarna abu-abu. Tanduknya belum tumbuh. Mirip kancil dalam film kartun. Ini adalah pagi pertamanya. Inilah untuk pertama kalinya dia melihat dunia. Dia mungkin belum tahu kalau ayah adalah tuannya.

Kata ayah, kerbau melewati masa bunting selama sembilan bulan. Sama seperti manusia. Oh ternyata manusia sama dengan kerbau, masa kehamilannya. Itulah pelajaran biologi pertama saya.

Setelah puas melihat anak kerbau, kami pulang ke rumah. Saya dengan penuh kebanggaan bercerita tentang anak kerbau kepada ibu dan kakak. Tidak lupa, saya juga berbagi cerita kepada teman-teman.

Seiring berlalunya waktu, saya pun jadi lupa akan pengalaman itu. Terkubur di dasar memori.
Namun… sekarang, hampir dua puluh tahun berlalu, kenangan itu kembali hidup dalam ingatan. Semuanya tergambar kembali secara jelas. Seolah baru saja terjadi kemarin. Kenangan manis itu juga menghadirkan sebuah pertanyaan singkat tapi dalam… Apa sebenarnya yang mau dikatakan ayah kepada saya saat itu. Apa makna sesungguhnya dari kejadian di pagi yang indah itu.

Kalau hanya untuk melihat anak kerbau, kenapa ayah harus mengajak saya pagi-pagi di saat saya masih terlelap. Kan bisa saja nanti siang atau besoknya. Dan juga mengapa ayah tidak mengajak kakak perampuan saya yang lebih tua sekaligus anak sulung. Mengapa dia hanya mengajak saya. Seolah-olah peristiwa kerbau beranak adalah sesuatu yang sangat penting bagi saya. Bagaimanapun juga, saya hanya seorang anak kecil.

Apa yang sebenarnya ingin ayah perlihatkan kepada saya. Apa makna peristiwa itu. Adakah sesuatu yang bernilai untuk dipetik di sana?

Setelah menelusuri kembali, merenung cukup dalam… akhirnya saya menangkap pesan yang ingin disampaikan ayah. Ya, saya paham sekarang. Saya paham makna tersembunyi dalam kejadian itu.

Ayah adalah orang desa yang hanya tamatan SD. Beliau belum pernah menginjakkan kaki di kota besar. Kota terbesar yang pernah dikunjunginya adalah kota kabupaten. Selain itu, ayah selalu menghabiskan waktunya di desa. Setiap hari ayah bekerja di sawah, bermandikan lumpur dan terik sinar matahari. Berteman dengan kerbau dan burung-burung pemakan padi. Berbagi darah dengan lintah dan nyamuk. Tanpa alas kaki. Hidupnya sangat sederhana.

Sejujurnya… tidak ada banyak hal yang bisa dibanggakan dari sosok ayah seperti itu. Saya pikir, dia juga bingung harus bagaimana membuat saya, anak lelakinya mengagguminya.

Ayah juga pernah bercerita… dulu dia memiliki seekor kuda jantan. Kuda tersebut sering ayah tunggangi dan memiliki stamina yang prima. Ayah sangat sayang pada kuda peliharaannya itu. Namun, suatu hari ayah berubah pikiran. Ayah memutuskan untuk mem-barter kudanya dengan seekor kerbau. Karena nilai kerbau lebih tinggi dari nilai seekor kuda, ayah hanya mendapatkan seekor anak kerbau betina untuk kuda jantannya.

Ayah merawat anak kerbau itu dengan baik. Dan sekarang, setelah beberapa tahun kerbau tersebut beranak untuk pertama kalinya. Peristiwa beranaknya kerbau itulah yang membuat ayah menggendong saya pagi-pagi ke kebun. Ayah ingin saya menjadi orang pertama yang mengetahuinya, selain dirinya dan ibu.

Tidak banyak orang yang bisa memelihara kerbau dengan baik dari kecil sampai dapat beranak. Hanya orang sabar dan penyayang binatang yang dapat melakukannya. Jenis orang seperti itu di desa saya tidak banyak. Dan ayah termasuk dalam kelompok itu. Ayah merasa hal itu cukup menjadi peristiwa untuk dibanggakan di mata anak lelakinya.

Sebenarnya yang ingin ayah katakan dengan menunjukan anak kerbau tersebut adalah “Putraku, ayahmu ini hebat.” Itulah pesan yang saya tangkap setelah merenungnya cukup lama. Ayah ingin dikagumi. Bukan oleh kakak perampuan saya, tetapi oleh saya, putranya, yang akan mewarisi sifat-sifatnya. Yang akan menjadi penerusnya.

Namun, butuh waktu hampir dua puluh tahun bagi saya untuk memahami pesan tersembunyinya itu.

Saya bersyukur dapat memahami kejadian itu sekarang, saat ayah masih hidup. Saya beruntung masih memiliki kesempatan untuk membuat ayah bahagia. Untuk memberikan apa yang dia inginkan. Untuk berterima kasih atas segala pengorbanan dan cinta yang tulus dia curahkan untukku.

Saya ingin ayah tahu kalau sosok seorang ayah adalah hal yang tidak tergantikan dalam hidup seorang anak. Saya ingin dia tahu kalau di lubuk hati yang terdalam saya selalu mengaguminya. Tak peduli sesederhana apa pun dia. Saya juga ingin meminta maaf atas segala kesalahan dan pertengkaran yang saya perbuat. Saya ingin ayah tahu kalau dia adalah ayah yang hebat, penuh cinta dan teladan kehidupan yang mengagumkan.

Ternyata… orang tua juga ingin dikagumi.
www.spiritual-motivasi.blogspot.com

Hermanus Y Lobo
SPIRITUAL MOTIVATOR
eMail : hermanusylobo@gmail.com

Managing People Strategy (Esai-esai Inspiratif tentang Strategi Bisnis dan Pengembangan Kinerja SDM)


Judul: Managing People Strategy
Bahasa: Indonesia
Penulis: Yodhia Antariksa, Msc in HR
Jumlah halaman: 65
Format ebook: PDF
Harga: Rp. 0,-
Perekomendasi: Yodhia Antariksa

Ebook yang kini sedang ada dihadapan Anda ini hendak membincangkan tiga tema sentral dalam dinamika bisnis modern, yakni tentang strategi bisnis, tentang pengembangan kinerja SDM, dan tentang mindset.
Keseluruhan tulisan dalam ebook ini merupakan kumpulan artikel pilihan yang pernah dimuat di www.strategimanajemen.net – sebuah blog yang di kelola secara mandiri dan secara reguler menghidangkan sajian-sajian renyah dalam bidang management skills dan business strategy.

Anda dapat mendownload langsung ebooknya Disini

Kunjungi juga website penerbit ebooknya di www.strategimanajemen.net

Senin, 05 Januari 2009

Dari Tidak Bisa Menjadi Bisa


Judul: Dari Tidak Bisa Menjadi Bisa
Bahasa: Indonesia
Penulis: Rahmat,ST
Jumlah halaman: 32
Format ebook: PDF
Harga: Rp. 0,-
Perekomendasi: Admin

Ada suatu prinsip tentang pikiran yaitu "bila anda berfikir anda bisa, maka anda bisa... tetapi bila anda berfikir anda tidak bisa, maka anda tidak bisa".

Inilah keajaiban berfikir. Jika anda mengubah cara berfikir anda, kehidupan anda pun ikut berubah. Jika fikiran anda berubah ke arah positif, selain anda dapat merangkul sepenuhnya kekuatan pemikiran anda, maka kekuatan itu akan mengubah cara anda menjalani kehidupan.

Anda dapat mendownload langsung ebooknya Disini

Kunjungi juga website penerbit ebooknya di www.motivasi-islami.com

Minggu, 04 Januari 2009

Akses kerja online di indonesia


Judul: Akses kerja online di indonesia
Bahasa: Indonesia
Penulis: Benny Lo
Jumlah halaman: 3
Format ebook: PDF
Harga: Rp. 0,-
Perekomendasi: Admin

Saat ini telah banyak perusahaan merasa perlu untuk menayangkan iklan lowongan mereka di website resmi mereka atau menggunakan jasa situs-situs yang khusus memuat iklan lowongan pekerjaan. Hal ini selain menghemat biaya (jika dibandingkan dengan memasang iklan di media cetak), juga secara langsung dapat mengetahui bahwa calon karyawannya tidak “gaptek” (gagap teknologi)!

Ebook ini berisi daftar kumpulan alamat alamat situs lowongan kerja dan daftar alamat milis lowongan kerja yang di harapkan dapat membantu para pencari kerja di internet agar dapat segera menemukan pekerjaan yang mereka harapkan.

Anda dapat mendownload langsung ebooknya Disini

Kunjungi juga website penerbit ebooknya di www.akseskerja.com

Sabtu, 03 Januari 2009

TIDAK ADA YANG NAMANYA KESALAHAN

Beberapa waktu yang lalu, saya membeli dan menonton film yang sedang heboh saat ini, yakni Kungfu Panda. Semua orang yang telah menontonnya tentu tahu kalau film ini sangat memikat dan penuh dengan pesan moral.


Ada satu pesan yang saya rasa sangat mengena dengan diri saya. Pesan itu diucapkan master Oogway kepada master Shi Fu. Master Shi Fu mengatakan bahwa pemilihan Po menjadi prajurit naga adalah suatu kesalahan. Tetapi apa yang dikatakan master Oogway?
“TIDAK ADA YANG NAMANYA KESALAHAN.”


Saya tersentak mendengar kata-kata itu. Tidak ada yang namanya kesalahan???
Saya jadi teringat pengalaman saya sendiri saat memutuskan berhenti kuliah dari jurusan Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta, tahun 2005. Saat itu dengan na’ifnya saya yang hanya anak seorang petani biasa, memilih masuk universitas mahal. Setelah sekitar dua bulan kuliah, saya mulai menyadari kalau biaya yang dibutuhkan sangat banyak dan “di atas” kemampuan orang tua saya.


Baru dua bulan kuliah, seluruh tabungan orang tua saya, yang mereka kumpulkan sejak awal berkeluarga, sudah habis. Bayangkan, baru dua bulan kuliah. Pada hal, waktu kuliah minimum untuk jurusan arsitek adalah sekitar 3 – 5 tahun. Itu minimal. Kalo maksimal bisa 8 tahun. Atau lebih.


Kalau sekarang saja tabungan telah habis, bagaimana dengan biaya-biaya selanjutnya? Orang tua sudah memasuki masa ‘senja’. Ada dua adik yang sedang duduk di bangku SMA. Bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi masalah ini? Hal ini terus menghantui pikiran saya setiap hari. Saya merasa sedikit bersalah, tanpa pertimbangan yang matang memilih masuk jurusan Arsitektur di universitas sekelas Atma Jaya, yang membutuhkan biaya yang mahal.


Akhirnya terlintas di pikiran untuk berhenti kuliah. Melalui berbagai pertimbangan dari berbagai sudut pandang yang saya miliki saat itu, saya pikir itulah jalan terbaik. Keputusan untuk berhenti kuliah bukanlah keputusan yang mudah, tetapi saya pikir itulah solusi terbaik.Setelah bergolak di dalam diri selama beberapa minggu, akhirnya saya memutuskan berhenti kuliah. Saya tidak berkonsultasi dengan orang tua atau pun teman-teman mengenai masalah ini. Saya mengambil keputusan sendiri.


Buku Rich Dad Poor Dad lah yang menguatkan saya untuk berhenti kuliah. Buku itu saya beli ketika ada pameran buku di kampus. Saya membacanya berulang kali. Membaca buku itu membuat saya yakin dengan keputusan saya untuk berhenti kuliah. Katanya, sekolah tidaklah menjamin seseorang cerdas secara financial. Seseorang bisa berpendidikan tinggi, namun tidak tinggi dalam pengetahuan tentang uang.


Untuk menjadi kaya, matematika kelas lima dan akal sehat saja sudah cukup, ditambah pengetahuan tentang uang dan cara kerjanya. Jadi, berhenti kuliah pun tidak akan membuat saya gagal atau miskin, begitulah yang saya pikirkan saat itu.


Yang penting saya tetap menambah pengetahuan saya melalui berbagai buku pengembangan diri. Saya sangat yakin akan keputusan tersebut.


Setelah tidak kuliah, saya menghabiskan waktu setiap hari dengan membaca berbagai buku pengembangan diri. Teman-teman saya mengira saya masih kuliah. Setiap hari saya berangkat dari kost, tapi bukan ke kampus, melainkan ke toko buku. Atau pun kalau ke kampus, saya tidak masuk kelas, melainkan ke perpustakaan. Orang tua terus mengirimkan uang karena mereka mengira saya masih kuliah.


Setelah beberapa bulan tidak kuliah, saya mengambil kursus akuntansi dan pajak di salah satu lembaga kursus di Jogja. Mengikuti saran Kiyosaki, untuk bisa kaya saya harus mengetahui cara kerja uang, jadi saya mempelajari akuntansi dan pajak yang merupakan keunggulan orang kaya dibandingkan dengan kelas menengah dan orang miskin. Saya merasa sedikit tenang karena setidaknya uang yang orang tua kirimkan ada manfaatnya, yaitu untuk biaya kursus.


Selesai kursus, saya dan para peserta lain dipekerjakan oleh pemilik kursus di kantor konsultan pajak miliknya. Di sini teori yang telah kami pelajari semakin dimantapkan dengan praktek secara langsung. Saya merasa beruntung memilih kursus di sini.


Namun….

Kadang muncul perasaan takut dalam diri saya. Bagaimana cara saya menyampaikan kepada orang tua saya bahwa saya sudah berhenti kuliah? Jangan-jangan keputusan untuk berhenti kuliah adalah suatu keputusan yang salah. Bagaimana tanggapan orang tua dan keluarga terhadap keputusan saya ini?


Pikiran-pikiran itu terus mendera batinku. Kecemasan sering datang dan hinggap di hati. Saya mulai merasa ketakutan akan apa yang telah saya perbuat. Bagaimana tanggapan orang tua setelah semua uang yang telah dikeluarkan, bahwa inilah hasilnya. Saya OD (out dhewe). Yang paling menakutkan adalah kalau orang tua sampai stress lalu stroke. Wow.. benar-benar menakutkan.


Terkadang tengah malam saya terbangun dan memikirkan hal itu. Saat itu menjadi saat-saat yang berat dalam hidup saya. Jangan-jangan saya telah melakukan sebuah kesalahan besar. Bagaimana dengan masa depan saya. Apa yang salah dengan hidup saya. Doa menjadi satu-satunya sandaran bagi saya.


Suatu hari sementara kerja, saya ditelepon oleh seorang pria yang mengaku dari kantor pusat Fren (saat itu hp saya menggunakan kartu Fren) yang mengatakan bahwa saya memenangkan hadiah satu juta rupiah dari Fren, dan pajak hadiah ditanggung pihak Fren. Hati kecil saya mengatakan bahwa itu tidak benar. Tapi entah mengapa saya mempercayainya.


Orang itu menanyakan apakah saya memiliki kartu ATM. Saya mengatakan ya, saya memiliki ATM BNI. Lalu pria di ujung telepon meminta nomor kartu ATM saya beserta nama lengkap. Kemudian saya diminta untuk ke ATM sekarang juga untuk mengecek hadiah yang telah dijanjikan. Sekali lagi hati kecil saya melarang. Tapi entah kenapa saya menuruti perkataan pria misterius itu.


Jalan menuju ATM BNI melewati counter FREN untuk wilayah Jogja. Sempat juga terlintas di benak untuk menanyakan kepastian hadiah itu ke bagian customer servicenya. Tapi lagi-lagi entah mengapa saya mengabaikannya.


Setibanya di ATM saya dihubungi lagi oleh pria tersebut. Saya dibimbing memasukan kode-kode tertentu ke mesin ATM. Lucunya pada saat itu saya sempat menanyakan kepada pria di ujung telepon bahwa jangan-jangan ini adalah penipuan. “Ini sungguhan,” jawab pria tersebut. Ternyata memang saya sedang ditipu.


Pria tersebut meyakinkan saya bahwa ini benar-benar benar. Lagi-lagi ada suara kecil di dalam diri yang mengatakan kalo hal itu tidak benar. Tapi sekali lagi saya abaikan dan memilih mempercayai pria misterius itu.


Setelah memasukan kode seperti yang diinstruksikan, ternyata saldo saya tidak bertambah. Saya menanyakan hal tersebut, namun dijawab bahwa sedang dalam proses. Dan saya diminta untuk menunggu beberapa jam. Lalu saya kembali ke tempat kerja.
Namun sebelum saya kembali ke tampat kerja, saya mengambil sebagian tabungan saya. Sisanya saat itu sekitar lima ratus ribuan. Esoknya saya ke ATM, ternyata saldonya belum bertambah. Dan tidak berkurang juga. Saldonya tetap. Seminggu kemudian saya mengecek lagi di ATM, ternyata saldonya masih tetap sama.


Masa kontrak kost saya akan berakhir. Dan saya berencana untuk melanjutkan kontrak setahun berikutnya. Kemudian saya menghubungi orang tua saya untuk mengirimkan uang untuk tujuan tersebut. Ayah saya lalu mentransfer uang senilai 1.700.000. Beliau meminta agar saya segera mengambil uang tersebut. Karena masih ada uang di tangan dan masa kontrak kost masih kira-kira dua minggu lagi, jadi saya tenang-tenang saja. Saya biarkan uang tetap di bank.


Suatu malam saya berencana ke ATM untuk mengecek uang tersebut. Sungguh terkejutnya saya menyadari bahwa dompet saya tidak ada. Setelah mencari di seisi kamar, tetap tak ditemukan. Dompet saya jatuh dan mungkin sudah hilang dan diambil orang. Dan kartu ATM tersimpan di dompet tersebut. Mampus deh….


Tapi saya tidak kehabisan akal. Langsung saya hubungi customer service BNI dan minta kartu ATM saya dibekukan. Ah… untuk sementara saya aman. Uang masih ada. Uang yang di dompet nilainya tidak terlalu banyak.


Eh..ternyata dompet saya jatuh di tempat kerja, dan besoknya dikembalikan oleh cleaning service kantor. Terima kasih Tuhan, dompetku kembali.


Akhirnya hari terakhir masa kontrak kost pun tiba. Saya diharuskan membayar untuk masa kontrak yang baru. Selesai sarapan saya ke BNI. Karena ATM telah dibekukan, saya membawa buku Tabungan. Sebelum menarik uang, saya minta dicetak data-data transaksi ke buku tabungan saya.


Sungguh terkejutnya saya. Jantung serasa mau copot. Bumi terasa berhenti berputar. Pagi yang cerah terasa gelap.


Saldo yang tertera di buku tabungan adalah empat puluh tujuh ribu dan sekian ratus rupiah. Lalu uang Rp 1.700.000,- yang baru ditransfer ayah saya kemana???????
Ternyata telah didebit ke rekening seseorang. Saya merasa dan yakin tidak pernah melakukan apa-apa atas uang tersebut. Masih teringat jelas bagaimana sedihnya hatiku saat itu. Hampir saja saya menangis di depan kasir. Akan tetapi, saya tahan. Ternyata uang saya telah ditarik oleh seseorang di Jakarta.


Langsung saya minta rekening saya ditutup saat itu juga. Perasaanku campur aduk. Antara sedih, sesal, marah dan sebagainya. Sampai saya bingung bagaimana menggambarkan betapa berat yang saya rasakan saat itu. Bayangkan anda di perantauan, jauh dari orang tua, dan tidak memiliki uang. Gaji dari kerjaan sangat kecil dan hanya cukup untuk makan sehari. Itu pun kalau irit banget. Hariku terasa gelap-gulita.


Terbayang kesedihan orang tua yang telah bekerja keras untuk mengumpulkan uang sebanyak itu, dan sekarang hilang begitu saja. Dan saya berkontribusi atas hilangnya uang tersebut. Hatiku sangat sedih. Bukan atas uang itu, tetapi atas kerja keras orang tua saya. Mereka tentu akan sangat kecewa, ditambah lagi saya sudah DO kuliah tanpa memberitahu mereka. Saya menangis.


Hal itu membuat saya semkin yakin kalau keputusan untuk berhenti kuliah adalah keputusan yang salah. Saya telah melakukan kesalahan. Kesalahan yang besar. Inilah hukumannya.


Dalam keadaan seperti itu, saya tidak punya pilihan lain selain memberi tahu orang tua kalo uang sudah diambil orang. Uang hilang.


Persis seperti yang saya bayangkan, orang tua sangat kecewa dan marah.

“Kami telah bekerja keras setiap hari untuk mengumpulkan uang tersebut. Walaupun sakit kami tetap bekerja. Dan sekarang uang itu hilang begitu saja. Kau tahu kita ini petani, mengumpulkan uang sebanyak itu membutuhkan kerja keras dan waktu yang lama. Memang kau pikir kami punya gaji seperti pegawai negeri? Sekarang adik-adikmu juga mau ujian. Mereka minta uang sekolah. Kami benar-benar pusing!”, kata ayah saya.


Betapa sedih hati saya mendengar kata-kata itu. Sedih telah mengecewakan orang tua. Ayah saya adalah seorang yang tidak banyak bicara. Kalau marah lebih memilih diam. Kalau dia sampai berkata seperti itu, berarti betapa marahnya dia. Betapa kecewanya dia. Saya merasa berdosa.


Kabar hilangnya uang tersebut menyebar dengan cepat ke semua anggota keluarga. Mereka menelpon saya, menanyakan kebenaran hal tersebut. Dan sebagai anggota keluarga yang baik mereka merasa berkewajiban menasihati saya. Nasihat yang sudah bosan saya dengar. Karena saking banyaknya. Yang saya butuhkan adalah uang. Tetapi tidak ada satu orang pun yang memberi saya uang.


Akhirnya terpaksa orang tua saya mengirim lagi uang untuk saya. Walaupun mereka sangat kecewa dengan kejadian kehilangan itu tetapi, mereka masih mencintai saya. Saya merasa sangat beruntung memiliki orang tua seperti mereka.


Saya tetap bekerja di kantor konsultan pajak. Akan tetapi, saya masih bingung bagaimana caranya untuk memberitahu orang tua kalau saya sudah tidak kuliah lagi. Sebenarnya saya takut memberi tahu hal itu. Rasanya bukan saat yang tepat sekarang ini. Saya tahan saja dulu. Biarkan orang tua jangan tahu dulu akan hal itu.


Kemudian saya berpikir, saya tidak mungkin dapat hidup layak kalau terus bekerja di tempat kerja yang sekarang. Gajinya sangat kecil karena kami hanya magang di situ. Bukan karyawan tetap. Tapi… mau ke mana?


Siapa yang mau menerima saya menjadi karyawannya. Pengalaman saya sangat minim, bahkan bisa dibilang tidak berpengalaman. Bagaimana ini? Saya sangat tidak percaya diri saat itu.


Saya terus memikirkan jalan keluar untuk masalah itu beberapa hari berikutnya. Saya juga meminta bantuan Tuhan dalam doa. Selama saya berusaha memecahkan masalah itu, tidak terjadi apa pun dalam hidup saya. Semua berjalan sebagaimana biasanya. Saya juga belum menemukan jalan keluar yang meyakinkan.


Sampai pada suatu siang, Bapak pemilik kursus dan kantor konsultan tempat kami bekerja menelepon. Ternyata tujuan beliau menelepon adalah untuk mengajak seorang rekan kursus saya untuk bekerja di Jakarta. Yang aneh adalah tanpa saya ketahui, teman saya tersebut memilih saya untuk bersama dia mengisi lowongan yang ditawarkan. Dia memang cukup dekat dengan Bapak pemilik Kursus.


Memang lowongan yang ditawarkan untuk dua orang. Tapi… saya tidak tahu mengapa dia memilih saya. Ada beberapa teman kursus lain yang juga bekerja di situ, tapi dia malah memilih saya. Terima kasih Tuhan…ternyata Engkau menjawab doaku.


Singkat cerita…

Saya akhirnya punya cukup uang dan sekarang kuliah lagi sambil bekerja. Biaya kuliahnya saya bayar sendiri. Saya punya cukup uang untuk mengikuti Super Camp Becoming a Money Magnet, sebuah seminar tiga hari yang sangat luar biasa dan mencerahkan pikiran saya.


Dan hidup saya terasa lebih indah sekarang ini. Hal seperti ini terasa begitu sulit untuk digapai saat masih di Jogja.


Saya akhirnya mengatakan yang sebenarnya kepada orang tua bahwa saya sudah berhenti kuliah dari Atma Jaya. Mereka cukup terkejut awalnya. Mereka kecewa dengan keputusan saya. Namun saya jelaskan bahwa sekarang saya sudah kuliah lagi dan dengan biaya sendiri. Akhirnya keterkejutan dan kekecewaan mereka sedikit mencair, dan mereka mendukung saya. Namun, sepertinya mereka terpaksa..


Saya merasa dukungan mereka benar-benar tulus setelah saya membersihkan “duri-duri” di sepanjang hubungan kami, ketika SC di puncak. Seminggu setelah SC, saya berbicara dengan ibu saya di telepon. Dan kalimat yang benar-benar di luar dugaan saya adalah ketika ibu saya berkata;

“Saya dan ayahmu semalam berbincang-bincang tentang kamu. Dan kami pikir keputusanmu untuk berhenti kuliah dan ke Jakarta adalah pilihan yang tepat. Kami memang telah kesulitan mencari uang. Apalagi masih ada dua adikmu yang bersekolah. Kami malah merasa bersyukur akhirnya kamu mampu kuliah tanpa bantuan kami. Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa berdoa dan bersyukur kepada Tuhan. Kami hanya bisa mendukungmu dalam doa.”

Ah… rasanya legah banget. Akhirnya orang tua mendukung tindakan saya. Sebelumnya saya selalu berusaha membuat mereka mendukung keputusan saya. Mereka mengatakan mendukung, namun saya merasa mereka tidak benar-benar mendukung saya sepenuhnya.


Akhirnya, keputusan yang dulu saya pikir adalah suatu KESALAHAN, ternyata bukanlah demikian. Saya merasa bersyukur karena dulu berani mengambil keputusan untuk “keluar” dari Atma Jaya. Saya bahagia dengan keadaan saya saat ini. Saya jadi lebih bijak sekarang. Entah apa yang akan terjadi kalau saya tidak berani DO…


Saya kira benar yang dikatakan master Oogway, TIDAK ADA YANG NAMANYA KESALAHAN. Just need to believe… Bukankah akhirnya Po sukses membungkam Thai Lung?

Apa pun yang kita yakini dapat kita lakukan…LAKUKANLAH. Keyakinan itulah yang akan memberi kita kekuatan untuk bertahan dan terus maju menggapai impian kita.


**********************************************************************************
Maaf kalau ada kata atau kalimat yang kurang tepat. Semoga sharing saya ini bisa bermanfaat bagi yang membaca.

Hermanus Y Lobo
SPIRITUAL MOTIVATOR
eMail : hermanusylobo@gmail.com

*Segala sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik untuk kita. Semuanya akan membawa kita semakin dekat dengan tujuan hidup kita. Percayalah bahwa semua akan baik-baik saja.*