Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label rumah tangga harmonis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah tangga harmonis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2013

Menikah adalah pembuka dari pintu-pintu rizki

Dan nikahkanlah orang-orang yang masih sedirian diantara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS An Nuur: 32)

Ayat di atas menganjurkan kepada umat Islam untuk menikah. Allah SWT menegaskan bahwa menikah bukan sebagai penyebab sebuah kemiskinan. Menikah adalah pembuka dari pintu-pintu rizki. Ia membawa berkah dan rahmah dari Allah SWT. Dengan menikah, Allah SWT akan menambah rizki dan karuniaNya kepada hambanya yang yakin terhadap ayat-ayat Allah.

Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan AlQuran dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami.

Anas bin Malik r.a berkata: “Telah bersabda Rasulullah SAW: Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR Thabrani dan Hakim)

Menikah bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sebagai risalah yang syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna), Islam telah memberikan tuntunan tentang tujuan pernikahan yang harus dipahami oleh kaum Muslim, yaitu agar pernikahan itu berkah dan bernilai ibadah serta benar-benar memberikan ketenangan bagi suami-istri.

Menikah hendaknya diniatkan untuk mengikuti sunah Rasullullah SAW, melanjutkan keturunan, dan menjaga kehormatan. Menikah juga hendaknya ditujukan sebagai sarana dakwah, meneguhkan iman, dan menjaga kehormatan.

Pernikahan merupakan sarana dakwah suami terhadap istri atau sebaliknya, juga dakwah terhadap keluarga keduanya, karena pernikahan berarti mempertautkan hubungan dua keluarga besar. Dengan begitu, pertalian persaudaraan dan kekerabatan diantara keduanya pun semakin luas. Hal ini berarti, sarana dakwah juga bertambah. Wallahua’lam.


Rabu, 02 Oktober 2013

Perempuan Madrasah Pertama Bagi Anak-Anak

Perempuan (ibu) adalah madrasah pertama bagi pendidikan seorang anak. Apa yang didapatkan oleh seorang anaknya pada masa-masa awalnya akan sangat berpengaruh ketika ia tumbuh besar kelak. Anak yang cenderung meniru apa yang dilihatnya. Hal tersebut bergantung sekali kepada orang-orang yang ada di sekelingnya.

Di sinilah letak peran penting seorang perempuan dalam pembentukan watak seorang anak, dimana perempuanlah orang yang pertama kali berhubungan komunikasi dengan sang anak, yaitu dimulai sejak sang anak berada dalam kandungan atau bahkan jauh sebelum itu, saat ruh ditiupkan ke dalam rahimnya.

Ketika anak dalam kandungan, perempuan sebagai ibu, punya peran penting untuk pertumbuhkembangan sang anak, selain peran penting sang ayah. Ketika ibu tidak menjaga pola komunikasi fisik dan mentalnya, maka akan berakibat buruk. Tidak hanya dirasakan oleh ibu itu sendiri, dan anak yang berada di dalam kandungan turut merasakannya.

Hal itu akan berlanjut hingga sang anak lahir. Komunikasi dan kontak fisik serta batin secara langsung begitu erat terjalin antara ibu dan anak. Maka ketika seorang ibu memperlakukan anak dengan baik ketika merawat anaknya, pada saat itu pula ia telah memberikan contoh perilaku baik pada sang anak. Pada masa-masa berikutnya, anak akan melewati sebuah masa emas bagi perkembangan hidupnya. Anak akan dengan mudah menyerap segala informasi yang sampai padanya.

Maka sangat ditekankan, seorang perempuan (ibu) haruslah mengerti dan memahami posisi penting ini dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk sebuah “misi suci”, membangun generasi-generasi tangguh yang akan menjadi pelaku-pelaku sejarah di masa mendatang. Akan berbeda tentunya bila kita membandingkan seorang perempuan yang mempunyai ilmu dan tidak.

Ketika perempuan itu mempunyai ilmu dan memahami hakikat dirinya maka ia akan selalu berbuat apa yang telah disebutkan AlQur’an sebagai pedoman bagi kaum Muslim, umat yang terbaik yang selalu bermanfaat bagi manusia.

Namun sayangnya, masih sedikit sekali orang tua yang menyadari peranan penting mereka, terlebih ibu yang mempunyai kedekatan komunikasi dan emosional lebih dalam pendidikan anak ini. Mereka beranggapan ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, maka tanggung jawab pendidikan sudah lepas dari tangan mereka dan beralih pada guru-guru yang ada di sekolah.

Padahal tidaklah demikian, karena perempuan (ibu) lebih banyak waktu kebersamaan keluarga bagi anak daripada kebersamaan anak dengan guru-guru mereka. Terlebih lagi pada ibu, yang mempunyai peran penting dalam sosialnya, seperti melahirkan, menyusui dan mendidik, di samping ayah, setidaknya ia menyadari betul akan peran pentingnya tersebut.

Ia seharusnya memanfaatkan momen-momen penting yang dilalui oleh anak dan mengisinya dengan hal-hal yang berharga, melalui pendidikan yang ia berikan selama kebersamaannya dengan sang anak. Ia juga berpeluang untuk menanamkan nilai-nilai yang bersumber pada agama yang juga sesuai dengan fitrah sang anak. Maka ketika semua ini disadari, akan lahir generasi-generasi tangguh dari keluarga tersebut.

Dengan demikian, peran perempuan ternyata begitu besar dalam hal melahirkan sebuah peradaban. Tanpa kehadiran perempuan niscaya kehidupan ini tidak akan berputar seperti yang kita lihat sekarang. Tugas-tugas seperti itulah yang akhirnya memuliakan seorang perempuan.


Minggu, 29 September 2013

Membangun Rumah Tangga

Membangun rumah tangga tidaklah seperti membangun rumah mewah atau gedung bertingkat. Menyusun batu bata di atas batu-bata lainnya.

Tidak juga seperti membuat sebuah taman, merangkai bunga di samping bunga. Apalagi seperti menghimpun binatang dalam satu kandang, satu jantan sepuluh betina.

Tidak. Tidak seperti itu maksudnya. Membangun rumah tangga itu harus dimulai dengan pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita dengan beberapa syarat, antara lain yang selalu harus dipahami dan dihayati. Pertama, berkaitan dengan ijab kabul, serah terima pernikahan.

Ijab kabul itu pada hakikatnya adalah sebuah ikrar untuk hidup bersama, se-iya se-kata dalam mewujudkan sakinah atau ketentraman dengan menjalankan segala tuntutan dan kewajiban. Saling wasiat mewasiatilah tentang suami dan istri untuk berbuat baik, juga saling komunikasi diantara keduanya.

Sepasang suami istri harus menerimanya atas dasar amanah Allah SWT, dan menjadi halal hubungan seksual itu atas dasar kalimat Allah SWT. Itulah yang harus selalu diingat dan dihayati, agar menjadikan kehidupan rumah tangga dinaungi oleh makna kalimat itu.

Kebenaran, keadilan, langgeng, luhur penuh kebajikan, tidak berubah dan dikaruniai anak yang shaleh-shalehah. Ia juga sebagai penyejuk mata, penyenang hati, berbakti kepada kalian ayah bundanya dan kakek neneknya serta santun pada ahli keluarga dan tetangga disekitarnya. Inilah yang pertama, ijab Kabul (serah terima pernikahan).

Kedua, adalah mahar. Suami berkewajiban menyerahkan maskawin atau mahar kepada istri. Islam menganjurkan agar mahar itu sesuatu yang bersifat materi. Karena itu bagi yang tidak memilikinya, dianjurkan untuk menangguhkan pernikahan sampai dia memiliki kemampuan.

Namun, jika satu dan lain hal yang menyebabkan dia harus juga melakukan pernikahan, maka cincin besi pun dibolehkan. Begitulah sabda Nabi Muhammad SAW. Dan jika cincin besi inipun tidak dimilikinya, sedang pernikahan tidak dapat ditangguhkan lagi, maka mahar itu boleh berupa jasa mengajarkan Al Quran. Begitulah petunjuk Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Mahar atau maskawin itu adalah lambang kesiapan dan kesediaan suami untuk memberi nafkah kepada istri dan sekaligus kepada putra-putrinya nanti. Selama mahar itu bersifat lambang, maka tidak harus banyak, bahkan sebaik-baik maskawin adalah seringan-ringannya.

Begitu sabda nabi Muhammad SAW, walaupun Al Quran tidak melarang untuk memberi sebanyak mungkin mahar atau maskawin. Mengapa demikian? Karena pernikahan itu bukanlah akad jual beli. Karena mahar itu bukan harga dari seorang perempuan. Wallahua’lam.

Jumat, 20 September 2013

Berjuang Membangun Rumah Tangga Terbaik

Seharusnya kita selalu bersyukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan untuk kita, dari jenis kita sendiri, pasangan kita, jodoh-jodoh agar kita condong tenteram kepada mereka dan menjadikan cinta dan kasih sayang di antara kita.

Pernikahan merupakan salah satu sunnah Rasul SAW dan merupakan anjuran agama. Pernikahan yang disebut dalam AlQuran sebagai perjanjian agung, bukanlah sekedar upacara dalam rangka mengikuti tradisi, bukan pula semata-mata sebagai sarana mendapatkan keturunan, apalagi hanya sebagai penyaluran ‘libido seksualitas’ atau pelampiasan nafsu syahwat belaka.

Penikahan adalah amanah dan tanggungjawab. Pernikahan adalah surga bagi pasangan yang bertanggungjawab dan melaksanakan amanah. Masing-masing dari pasangan, yaitu suami-isteri memikul tanggung jawab bagi keberhasilan pernikahan mereka untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Apabila masing-masing lebih memperhatikan dan melaksanakan kewajibannya terhadap pasangannya daripada menuntut haknya saja, maka insya Allah keharmonisan dan kebahagian hidup rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah (SAMARA) akan lestari sampai Hari Akhir.

Namun, sebaliknya apabila masing-masing pasangan hanya melihat, dan menuntut haknya sendiri karena merasa memiliki kelebihan atau melihat kekurangan dari yang lain, maka kehidupan mereka akan menjadi beban yang sering kali tak tertahankan.

Masing-masing, laki-laki (suami) dan perempuan (istri), secara fitrah mempunyai kelebihan dan kekurangannnya masing-masing. Namun kelebihannya itu bukan untuk dibanggakan.

Begitu pula dengan kekurangan pasangan bukan untuk diejek atau bahkan dibuat rendah (direndahkan). Tetapi semua itu, pernikahan merupakan peluang bagi kedua pasangan untuk saling melengkapi dengan penuh amanah dan tanggungjawab.

Suami dan isteri hendaklah bersama-sama berjuang membangun kehidupan keluarga mereka dengan akhlak Islam dan menjaga keselamatan dan keistiqamahannya selalu. Dengan demikian akan terwujudlah kebahagian hakiki di dunia maupun di akhirat kelak, Insya Allah.


Kamis, 19 September 2013

Pernikahan Bukan Sekedar Formalitas

Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia berpasang-pasangan satu dengan yang lainnya, menyatukan keduanya dalam takwa, serta menumbuhkan darinya rasa tenteram dan kasih sayang.

Islam sebagai ajaran yang sesuai dengan fitrah, telah mensyari'atkan adanya pernikahan bagi setiap manusia. Dengan pernikahan seseorang dapat memenuhi kebutuhan fitrah kemanusiaannya dengan cara yang benar sebagai suami isteri, lebih jauh lagi mereka akan memperoleh pahala disebabkan telah melaksanakan amal ibadah yang sesuai dengan syari'at Allah SWT.

Pernikahan dalam pandangan Islam, tidak hanya sekedar formalisasi hubungan suami isteri, pergantian status, serta upaya pemenuhan kebutuhan fitrah manusia. Pernikahan tidak hanya sekedar upacara sakral yang merupakan bagian dari daur kehidupan manusia.

Pernikahan merupakan ibadah yang disyari'atkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya, maka tidak diragukan lagi pernikahan adalah bukti ketundukan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah tidak membiarkan hamba-Nya beribadah dengan caranya sendiri.

Allah yang Maha Rahman memberikan tuntunan yang agung untuk melaksanakan ibadah ini, sebagaimana ibadah-ibadah yang lainnya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya.

Maka adalah sebuah kecerobohan, bila hamba-Nya yang ingin melaksanakan ibadah yang suci ini (nikah) menodainya dengan bid'ah (yang tidak diajarkan oleh Islam) dan khurafat (hal-hal yang membawa kepada kemusyrikan terhadap Allah), sehingga mencabut status aktivitas itu dari ibadah menjadi mafsadat/dosa.

Adalah sebuah kemestian bagi setiap muslim untuk berusaha menyempurnakan ibadahnya semaksimal mungkin, tidak terkecuali dengan sebuah proses dan kegiatan pernikahan. Semua itu dilakukan agar hikmah dan berkah ibadah dari ibadah itu dapat dirahmati dan diberkahi oleh Allah Azza wa Jalla.

Selasa, 17 September 2013

Keharmonisan Hidup Rumah Tangga

Keharmonisan hidup berumah tangga adalah salah satu faktor utama dalam membina sesebuah masyarakat yang baik dan terhormat. Rumah tangga yang baik dan harmoni ini sukar diperoleh tanpa adanya kerjasama serta saling hormat menghormati antara suami isteri serta anggota keluarga lainnya.

Suami harus berkelakuan baik dan berakhlak mulia dalam mengendalikan rumah tangganya. Selain itu, ia juga harus senantiasa memperlihatkan contoh-contoh yang baik dalam pergaulan supaya ia mudah diteladani oleh isteri dan anak-anaknya.

Tidak sewajarnya, di dalam rumah tangga, para suami bertindak keras, apalagi bengis hanya karena untuk mengarahkan itu dan ini, serta mau semuanya tersedia untuknya tanpa memikirkan suasana rumah tangga yang memerlukan kasih sayang, kerjasama dan saling bantu membantu.

Dalam kehidupan berumah tangga, Rasulullah Saw telah memberikan sekaligus memperlihatkan suri teladan yang baik yang dapat diikuti oleh seorang suami dalam membina rumah tangganya. Sebagai seorang suami, Rasulullah Saw sangat bertimbang rasa dan bersedia membantu istri dan keluarganya.

Banyak pekerjaan yang dilakukan dengan tangannya sendiri, seperti menjahit pakaian, memerah susu kambing dan apabila mau makan Baginda Rasul makan makanan yang tersedia dihadapannya.

Rasulullah Saw sangat marah kepada suami yang ringan tangan, selalu memukul isterinya sebagaimana memukul hamba sahaya. Di samping itu, Rasulullah juga menunjukkan panduan dan contoh tentang hidup tolong menolong serta perasaan kasih sayang kepada isteri. Rasulullah Saw juga menunjukkan suri teladan yang baik, khususnya kepada mereka yang mempunyai isteri lebih dari seorang.

Sebagaimana yang diketahui umum bahwa Rasulullah Saw mempunyai beberapa orang isteri yang terdiri dari berbagai usia. Ada yang masih muda dan cantik, dan ada yang sudah berumur. Walaupun demikian, Rasulullah Saw tidak pernah bersikap pilih kasih dalam layanan kasih sayang diantara mereka.

Masa dan giliran mereka dibuat dengan adil serta cukup rapi sekalipun saat Rasulullah sakit. Apabila Rasulullah Saw hendak berpergian (musafir), maka beliau mengundi antara isteri-isterinya itu dan hanya yang terkena undi (terpilih) saja yang berhak bersamanya berpergian. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari keharmonisan rumah tangga Nabi Saw.

Sabtu, 02 Februari 2013

Kunci Rumah Tangga Harmonis dengan Komunikasi Efektif

Salah satu hal penting dalam membina hubungan rumah tangga agar tetap berjalan dengan harmonis adalah dengan komunikasi yang efektif antara suami dan istri.

Komunikasi menjadi poin penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Dengan lancarnya komunikasi maka segala interaksi yang lain juga pasti akan berjalan baik.

Demikian dikatakan Triwisaksana atau yang akrab dipanggil Bang Sani, dihadapan keluarga besar pengajian yang saya juga ikut di dalamnya, pada acara rihlah (rekreasi dan relaksasi) akhir Januari tahun 2012 di Sunset View Hotel, Jl Raya Pantai Carita KM 11 Pantai Carita Pandeglang Banten.

Jika kita telusuri lebih dalam lagi, kata Bang Sani, maka komunikasi merupakan salah satu nikmat besar yang dianugerahkan kepada kita. Karena dengan adanya komunikasi, kita lebih mudah dikenali dan dipahami.

Banyaknya kasus dalam rumah tangga, entah itu perceraian, perselingkuhan, ataupun Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), bermula dari komunikasi yang kurang baik dan efektif, yang memunculkan efek salah paham dan ketegangan. Akibatnya terjadilah hal-hal yang dapat membuat keretakan dalam rumah tangga, papar Bang Sani.

Komunikasi yang baik merupakan pondasi bagi pernikahan yang sehat. Ada beberapa cara komunikasi yang bisa dilakukan agar rumah tangga tetap harmonis. Pertama, menghormati perbedaan pendapat. Komunikasikan bersama setiap ada perbedaan pendapat tanpa perlu mengedepankan ‘ego’ masing-masing.

Dengan memahami setiap perbedaan pasti akan menemukan solusi yang dapat disepakati walaupun bukan yang terbaik. Kedua, menjadi pendengar yang baik. Seringkali orang lebih senang mendominasi pembicaraan ketimbang mendengarkan.

Padahal dengan mendengarkan kita memiliki ketrampilan komunikasi yang lebih baik daripada yang berbicara. Cobalah meluangkan waktu untuk mendengarkan pasangan kita. Ketiga, sabar. Salah satu poin utama dalam setiap hubungan rumah tangga adalah kesabaran.

Cobalah berbesar hati dan siap menerima apabila pasangan kita melakukan kesalahan dan memaafkannya, tentu saja komunikasikan permasalahan yang ada untuk menemukan solusi terbaik.

Dengan cara komunikasi efektif di atas rumah tangga kita akan tetap harmonis. Walaupun badai pasti akan tetap datang, namun jika kita dan pasangan dapat bekerjasama dan berkomunikasi dalam mengatasi masalah, tentu kita bakal segera melewati badai dan menemukan cahaya matahari yang terang. Demikian Bang Sani mengakhiri tausiyah.