Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label miskin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label miskin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2011

BAGAIMANA SIMISKIN BERDANA

Si miskin bertanya kpd Buddha: mengapa saya sangat miskin ?
佛陀:因为你没有学会给予别人。


Buddha: karena anda tak pernah berdana.
穷人 :我什么都没有,如何给予?


Simiskin: apapun saya tak punya, bagaimana bisa berdana ?
佛陀:一个人即使没有钱,也可以给予人五样东西:


Buddha: walaupun tak punya harta, tapi masih mendanakan 5 jenis benda :
一、颜施,即微笑处事。


1. Dana rupa,mengerjakan segalanya disertai senyuman.
二、言施,多说鼓励赞美和安慰的话。


2. Dana kata kata, perbanyak kataPenyemangat,sanjungan,dan kata yang menghibur.
三、心施,敞开心扉对人诚恳。


3. Dana hati, bukalah hati untuk orang lain.
四、眼施,用善意的眼光给予别人。

4. Dana mata, lihatlah orang di sekitar kita dengan pandangan welas asih.
五、身施,以行动帮助别人。

5. Dana tubuh, bantulah orang lain dengan tenaga kita.
欢迎转发,

harap dapat disebarkan
做法布施,

cara cara berdana ini,
功德无量。


kebajikannya tak terbatas
Sabbe satta bhavantu sukhitatta
 :) 

Jumat, 29 Juli 2011

Miskin

Alkisah di sebuah sekolah dasar, tercatatlah seorang siswa kelas satu.

Sebut namanya Bakar. Ia anak konglomerat ternama.

Bukan cuma bapaknya yang pedagang besar. Kakek moyangnya pun demikian.

Mereka adalah rezim saudagar terkenal sejak era abad pertengahan.


Ketika Pires berkata, ''Tuhan menciptakan Timor untuk pala, Banda untuk lada, dan Maluku untuk cengkih,'' di sanalah kakek moyang Bakar berperan.

Bakar masih menikmati warisan kebesaran itu. Ia bersekolah di SD
unggulan berstandar internasional dan bilingual, sekitar 2 kilometer
dari rumah (mobil senilai Rp 1 miliar yang ia pakai hanya mencatatkan perjalanan 4 kilometer setiap hari). Seorang sopir dan ''baby sitter''

mengantar dan menungguinya setiap hari saat ia belajar.

Laiknya sekolah mahal dan unggulan lainnya, mengarang adalah pelajaran yang diposisikan amat penting di SD tersebut. Anak-anak didik, sejak kelas satu, sudah dilatih untuk mengekspresikan isi kepala mereka dengan kata-kata yang tertata baik, namun dengan isi yang mencerminkan kebebasan pikiran.

Sampailah, suatu ketika, sang guru meminta siswa kelas I membuat
karangan tentang kehidupan keluarga yang sangat miskin di seberang benteng sekolah. Sang guru, yang berasal dari keluarga menengah, berharap dapat menumbuhkan empati anak-anak didiknya yang serba berada terhadap nasib kelompok lain yang tak berpunya. Bakar masih kelas satu SD. Tapi, ia penulis yang andal. Ia sefasih bapaknya saat harus melontarkan kata-kata. Ia pun secerdas ibunya saat harus membuat hitung-hitungan dan perbandingan.

Ia menulis, seperti saran gurunya, dengan penuh perasaan. ''Menulislah dengan hati,'' begitu kata-kata sang guru yang selalu ia ingat. Lalu, dengan sesekali menerawang dan membayangkan kehidupan keluarga miskin, Bakar menggoreskan pinsilnya dengan huruf-huruf yang belum sempurna benar. Ia menamai tokoh dalam karangannya sebagai Pak Abu.
''Pak Abu,'' tulisnya, ''adalah orang yang sangat miskin. Benar-benar
miskin, sampi-sampai pembantunya juga miskin, sopirnya miskin, dan tukang kebunnya pun miskin.'' ''Karena sering tak punya uang, Pak Abu jarang membersihkan kolam renang di rumahnya. Ia juga hanya bisa memelihara ikan-ikan kecil di akuarium seperti lou han yang makannya sedikit, tidak seperti arwana dan koi di rumahku.

Kucing siam punya Pak Abu juga kurus, soalnya kurang makan. Ayam yang ia pelihara juga yang kecil-kecil, jenis kate.''

Bakar, yang berpikir bebas, menulis karangannya itu dengan penuh haru. Ia sesekali mengernyitkan dahi. Ia berpikir dirinya tak mungkin bisa menanggungkan kemiskinan seperti yang terjadi pada keluarga Pak Abu.

Alangkah malangnya keluarga Pak Abu, pikirnya. Jangan-jangan
anak-anaknya harus berebut saat bermain PS2, karena alat permainan itu hanya ada satu di ruang keluarga. Lain dengan di rumahnya, setiap kamar ada. Di kamar Bakar, di kamar kakak-kakaknya, bahkan di kamar ibu-bapaknya .

Sopir dan pembantu Pak Abu pun, pikirnya, pasti sedih karena tidak seperti pembantu dan sopir dirinya. Bakar membandingkan handphone yang dipegang sopir dan pembantu Pak Abu mungkin jenis monophonic yang ketinggalan zaman, lain dengan handphone pembantu dan sopirnya yang polyphonic dan bisa kirim MMS.

Ia membayangkan kepala urusan dapur di rumah Pak Abu mungkin hanya bisa belanja di pasar yang becek atau supermarket kecil di perempatan jalan. Padahal, pembantu di rumahnya sangat biasa berbelanja ke hypermarket Prancis dan mal-mal.

''Anak-anak Pak Abu,'' tulisnya dengan empati penuh, ''kalau liburan tidak bisa ke Eropa atau Amerika seperti aku. Mereka hanya bisa berlibur ke Bali. Itu pun pakai pesawat yang murah, low cost carrier.''

Demikianlah cerita karangan Bakar.

Terserahlah, Pembaca, Anda mau bekomentar apa tentang cerita itu. Saya hanya mau menyampaikan sebuah kegagalan empati.
Bukan karena orangnya tidak tulus, tapi ia memang tidak memiliki
pengalaman yang memadai tentang dunia di luar dirinya.

Bakar adalah wakil dari kegagalan itu. Saya kembalikan kepada Anda kisah-kisah di luar. Saat seorang menteri berkata, ''Kalau tidak mampu membeli elpiji, ya jangan gunakan elpiji,'' apa komentar Anda?
Bagi saya, itu adalah kegagalan empati. Mungkin karena sekadar
kurangnya wawasan dia tentang penderitaan, mungkin juga karena
kemalasan melihat dunia luar.

Bayangkan setelah si menteri berkata seperti itu, harga minyak tanah melambung tiga kali lipat.

Kita tentu tak berharap pejabat itu akan berkata, ''Kalau tidak mampu beli minyak tanah, jangan gunakan minyak tanah.'' Lalu, ketika harga beras melonjak sekian kali lipat, ia pun berpidato lagi, ''Kalau tidak mampu beli beras, jangan makan nasi.''

Empati adalah kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain. Di dalamnya tercakup kecerdasan emosional dan sosial. Nah, jika Anda berempati kepada orang miskin, maka Anda akan memerankan diri sepenuh perasaan sebagai orang miskin.

Persoalannya, apa fantasi Anda tentang kemiskinan?

Penguasa kolonial mendefiniskan kemiskinan sebagai buah kemalasan. Saat mendengar kata ''miskin'', mereka teringat pada kerbau yang hanya bergerak kalau dipacu dan lebih suka berkubang di lumpur hitam.
Pemerintah kita mendefinisikan kemiskinan sebagai hasil perhitungan dari sebuah nilai subsidi. Maka, ditemukanlah angka penghasilan Rp 175 ribu sebagai batas kemiskinan. Kurang dari angka itu berarti miskin dan berhak mendapat santunan Rp 100 ribu.
Persoalannya, orang yang berpenghasilan di antara Rp 175 ribu dan Rp 275 ribu masuk kategori apa?

Tidak jelas, kecuali satu hal: Mereka kini menjadi penduduk termiskin di negeri ini.