Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label dari Anda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dari Anda. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Mei 2013

Gairah Barisan Perindu Syurga

Kemenangan-kemenangan dakwah adalah sebuah kepastian. Karena dakwah adalah proyek Alah, maka segala sesuatunya Allah yang mempersiapkan, dan manusia sebagai pelaksananya.  

Instansurullah yansurkum. Maka saat itu juga kita harus yakin bahwa kemenangan dakwah akan tetap didapati untuk pejuang mukmin sejati.

Dalam perjuangan ini, maka kita harus senantiasa sadar bahwa segala sesuatu karena pertolongan Allah SWT.

Maka setiap perkara dinamika dalam membangun dakwah ini kembalikan kepada Allah. Alaa ila Allah tashiirul umuur. Dan memang kepada Allah segala urusan dikembalikan. Wa ila Allah turja’ul umuur.

Sebagai khadimul ummah, maka kita harus senantiasa menjaga agenda-agenda yang melayani masyarakat. Karena agenda-agenda itu yang akan menjadi wujud atas kerja-kerja dakwah. Sehingga memperlihatkan mana yang sebatas kata dengan mereka yang bekerja.

Dengan itu, ada sebuah nasihat dari seorang sahabat Ali bin Abi Thalib,“Kebaikan yang tidak terstruktur, akan dikalahkan oleh kejahatan yang terstruktur”. Maka kita perkuat barisan kita, hubungan kita antar sesama, perkuat ukhuwah kita.

Jangan biarkan kita sibuk dengan permasalahan-permasalah yang hanya akan membuat kita bekerja lambat dalam membangun dakwah ini. Allah mencintai muslim yang kuat.

Kuat atas pikirannya, ruhnya, jasadnya, dan barisannya. Sehingga perlu terus membangun agenda-agenda yang akan menelurkan agenda yang memperkuat barisan kita.

Sehingga semakin kuat barisannya, maka semakin besar dan luas kebermanfaatan yang dirasakan umat. Buatlah gairah itu lahir kedalam jiwa kita. Kerja-kerja kita didunia bukan karena masyarakat didepan kita, melainkan kita bekerja karena Rabb dari mereka. Wallahua'lam

:: Artikel dikirim oleh Nurdin Hoerrudin | sekarang tinggal di Jakarta-Depok | @BangNadash


Rumah Motivasi Online menerima tulisan, artikel membangun jiwa, motivasi. Kirim tulisan sahabat ke email saya; cepypram@yahoo.com atau infokan @CepPangeran

Senin, 22 April 2013

Sandi-Sandi Cinta, Kala Cinta Menyapa

Susah, memang susah. Rasanya jika kita menguraikan makna cinta, ia memiliki banyak makna tergantung siapa yang menerjemahkannya. Tidak cukup mulut mengatakan makna-maknanya, pun kertas tak muat untuk menuliskannya, dan siapa pun tak kan usang membicarakan makna cinta. Ya, begitulah cinta. Ia sebagai bahasa jiwa, jadi biarlah sang jiwa yang mengurai maknanya menjadi tulisan atau kata.

Kala cinta menyapa, tidak salah kita pun balik menyapa. Itu adalah fitrah yang telah Allah berikan kepada setiap manusia. Tapi semoga kita sapa ia dengan cara yang tepat. Jangan sampai cinta sebagai fitrah menjadi badai yang seketika menjatuhkan kita pada fitnah dari fitrahnya.

Kala cinta menyapa, saking senangnya kadang ia membuat hati berdegup-degup, jantung meloncat-loncat, raut muka sumringah bahagia, seolah si dia membisikan syair-syair yang menyihir benak dan rasa. Maka jangan heran ketika ada rekan kita senyum-senyum girang saat saling sapa, atau berpapasan dengan si dia. Karena memang begitulah cinta, ia menggelitik hati membawa riak-riak yang berubah menjadi gelombang lamunan yang amat jauh.

Ah, memang begitu lah cinta. ia hadir menjadi sebuah gelombang yang merubah struktur jiwa dan karakter manusia. Cinta dapat merubah manusia menjadi apapun. Majnun kah seperti cinta laila, Gila seperti cinta Romeo Juliet, Cemburu seperti Aisyah pada rosul atas khadijah, sengsara seperti cinta Fatkai yang berhujung “begitulah cinta, penderitaannya tiada akhir”.

Semoga kita tidak salah memberikan makna dan ruang atas cinta. biarkan cinta kita mengalir atas fitrah kesucian yang telah diberikan oleh ia yang maha Suci. sehingga ada dua jenis cinta yang beberapa kalangan sampaikan yaitu cinta imani dan cinta syahwat. Cinta imani ialah cinta yang semakin mendekatkan diri pada Rabb yang memberikan cinta dalam bingkai syariah yang lahir atas konsekuensi iman. Sedangkan cinta syahwat, ialah cinta yang hanya berlandaskan keinginan nafsu dan hasrat pribadi.

Kala cinta menyapa, maka akan ada sandi-sandi yang lahir tanpa adanya kordinasi dan komunikasi, sandi itu lahir atas keserasian rasa dan jiwa dari mereka yang sedang merasakan getar cinta. maka wajar jika cinta adalah hasil dari hati-hati yang saling mengenali. Jika kata rekan kampusku, “akhi, tau ga? jika orang yang sedang jatuh hati/cinta, itu kerasa.

Kerasa saat berpapasan, kerasa saat berkata, kerasa saat diberikan senyum. seolah ada getaran yang menggelombang”. Ungkapan saudaraku ini, mungkin ungkapaan karena ia sedang terserang penyakit cinta. Bisa jadi memang seperti itu rasanya. biasanya pelaku lebih valid, dibandingkan pengamat. Semoga Allah tetap menjaga antum akhi...

Kala cinta menyapa, ada sandi-sandi yang menautkan antara dua hati. Mungkin kita pernah menyaksikan pasangan suami istri, atau pasangan pengantin muda yang sedang dilanda badai cinta, ia begitu terlihat mesra, kompak dan bersahaja. Sepertinya benar menjadi keluarga Asmara yang kala pada resepsi banyak doa yang disampaikan pada kedua pasangan.

Saat mereka berbicara, bertindak, dan meminta, keduanya saling mengerti meski bukan kata yang bicara hanya mata yang mengerling saja. Inilah sandi-sandi cinta, kala cinta menyapa keduanya saling memahami dan mengerti. karena jiwa mereka telah bertaut, menyatu atas iman dan cinta pada tuhannya.

Hati mereka menjadi satu, sehingga wajar hati, kata salim A fillah “bicara tanpa kata, menjawab tanpa suara, dan sering menyengat tanpa terlihat. tapi terasa”. Semoga Allah SWT tetap menjaga diri kita atas hadiah yang Allah berikan kepada manusia yaitu cinta, semoga kala cinta menyapa, sandi-sandi itu di terjemahkan kala pada waktunya saja. Wallahua’lam

:: Artikel dikirim oleh Nurdin Hoerrudin | sekarang tinggal di Jakarta-Depok | @BangNadash


Rumah Motivasi Online menerima tulisan, artikel membangun jiwa, motivasi. Kirim tulisan sahabat ke email saya; cepypram@yahoo.com atau infokan @CepPangeran

Senin, 01 April 2013

Menikmati Liburan di Kota Lampung

Menikmati liburan bisa jadi salah satu jalan keluar untuk mengusir rasa jenuh dan penat yang meliputi aktivitas sehari-hari. Itulah yang terpikir dalam benak saya saat itu.

Setelah menjalankan rutinitas keseharian di Management Traninee PKPU batch-3, tiba saatnya bagi saya dan teman-teman untuk memanfaatkan waktu liburan sejenak.

Kami memilih moment hari liburan yang cukup panjang ini, yaitu sejak Jumat, 29 Maret 2013 untuk mengunjungi rumah orangtua dari Dasinah, salah seorang peserta MT PKPU batch-3 di Kelurahan Labuan Ratu, Lampung Timur.

Bermodalkan semangat dan tekad yang pasti, hari Kamis, 28 Maret 2013 mulai pukul 20.45 WIB, saya bersama enam orang teman yang juga peserta MT PKPU batch-3 masing-masing; Kak Dasinah, Uni Lidya, Dian, Ade, Mutia dan Widya berangkat menuju Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten.

Setelah melalui beberapa perjalanan dari daerah Condet menuju terminal Kampung Rambutan dengan menaiki transportasi umum, akhirnya sampailah kami di Kampung Rambutan untuk melanjutkan perjalanan menuju Merak.

Perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan bus Arimbi. Meski perjalanan malam, namun penumpang lumayan banyak saat itu, maklum moment liburan panjang.

Selama dalam perjalanan, para penumpang banyak memanfaatkan waktu dengan tidur-tiduran. Untuk sampai ke Merak membutuhkan waktu kurang lebih empat jam, karena itu kita bisa lebih sedikit bersantai. Dalam benak saya sempat terlintas di pikiran bahwa akan ada banyak destinasi yang dapat dituju untuk mengisi waktu libur ini bila kami tiba di Lampung nanti.

Biasanya, salah satu yang sering dijadikan tujuan favorit adalah pantai. Membayangkan sebuah pantai yang indah terbentang di hadapan, dengan sinar mentari hangat yang mengenai kulit, melihat cerahnya langit biru, dan menikmati suara deburan ombak sambil menikmati semangkuk kelapa muda yang segar, pastilah suatu hal yang sangat menyenangkan bukan?

Lamunanku tersentak ketika seorang penjaja keripik menawarkan barang dagangannya dan menaruhnya di tanganku. Aku kaget bukan main. Aku yang tak tahu-menahu kebiasaan cara berjualan di daerah Jawa dan mengira jika barang sudah diterima berarti membayar saat itu langsung mengembalikan barang dagangan si penjual.

Beliaunya tak berkata apa-apa, malah teman di sampingku, Mutia bertutur keras, “Kak Zura! Di sini itu, kalau ada yang menaruh barang dagangannya di tangan kita, sebaiknya diterima aja dulu. Jika gak niat beli, nanti penjualnya akan kembali lagi kok buat ngambil barang dagangannya. Jangan langsung dikembalikan seperti itu. Gak sopan namanya!”

Perkataan temanku ini akhirnya kupahami bahwa manakala kita berada di sebuah daerah, tentunya kita harus faham dan menghormati kebiasaan setempat. Terimakasih teman, sudah mengingatkan diri ini.

Akhirnya, bus tiba di Merak pada hari Jumat, 29 Maret 2013 pukul 02.10 WIB dinihari. Lumayan cepat dari perkiraan awal. Setelah itu, berlanjut menuju kapal Ferri yang sudah menanti. Setibanya di dalam kapal, kami semua mengambil tempat yang lumayan nyaman untuk sekedar tidur. Tanpa terasa, dua jam kemudian kapalpun merapat ke pelabuhan Bakauheni.

Akhirnya kami tiba juga di Lampung pukul 05.00 Wib. Terlihat juga pemandangan yang cukup menyejukkan mata di pagi hari. Subhanallah, Allahu Akbar.

Secara geografis, kota ini menjadi pintu gerbang utama pulau Sumatera, tepatnya kurang lebih 165 km sebelah barat laut Jakarta memiliki andil penting dalam jalur transportasi darat dan aktivitas pendistribusian logistik dari Jawa menuju Sumatera maupun sebaliknya.

Setelah rehat beberapa saat di rumah orang tua Kak Dasinah, pukul 10.00 Wib kamipun melanjutkan perjalanan kembali menuju Pantai Pasir Putih, Desa Tarahan, Lampung Selatan.

Pantai ini benar-benar menggambarkan suasana yang menggoda dan menyegarkan mata. Alam yang menakjubkan dan lokasi yang hanya berjarak 20 kilometer dari kota Bandar Lampung menjadikan pantai ini sebagai objek wisata andalan di Lampung.

Pantai Pasir Putih tak pernah sepi. Selalu saja ada pengunjung yang datang meski hanya untuk sekedar singgah.

Obyek wisata yang dulunya tempat latihan perang-perangan militer ini memang kondang sebagai tempat singgah melepas lelah bagi pelintas Jalan Lintas Sumatera ruas Bandar Lampung-Pelabuhan Bakauheni.

Ditambah lagi dengan deretan pohon waru di sepanjang bibir pantai menjadi tempat berteduh pengunjung. Di bawah pohon waru yang rindang, kami menikmati pemandangan laut biru sambil menikmati bekal makanan yang sengaja dibawa oleh Ibu Kak Dasinah dari rumah. Alhamdulillah.

Waktu yang kuhabiskan bersama teman-teman sungguh mengasyikkan. Pengalaman yang berarti dan tak akan pernah terlupakan. Semoga akan ada waktu kembali buat kami untuk bisa kembali ke kota ini kelak. Amin.


:: Artikel dikirim oleh Azzura Arsyiah (azzura4rsyiah@yahoo.com) | sekarang tinggal di Jakarta, berasal dari Medan | @azura_sely


Rumah Motivasi Online menerima tulisan, artikel membangun jiwa, motivasi. Kirim tulisan sahabat ke email saya; cepypram@yahoo.com atau infokan @CepPangeran



Kamis, 14 Maret 2013

Memaknai Waktu

--- Mendung, benarkah pertanda akan segera turun hujan. Deras, agar semua basah yang ada di muka bumi. Siramilah juga jiwa kami semua. Yang tengah dirundung kegalauan. Roda zaman menggilas kita, terseret tertatih-tatih. Sungguh hidup terus diburu berpacu dengan waktu ---

Ehm, syair di atas milik Ebiet G Ade. Tembang lawas yang pernah hits di eranya ini, memiliki arti tersendiri buat saya.

Selain maknanya yang menyentuh, lagu ini menceritakan nasehat bahwa sesibuk apapun aktifitas yang kita lakukan hendaknya kita harus tetap mengingat Allah SWT.

Kita hanyalah mahluk yang dhaif. Walaupun ada banyak persoalan kehidupan yang dihadapi, jika kita tidak mampu mengelolanya dengan baik, maka kitalah yang akan tergerus oleh perubahan zaman. Sejatinya kita membutuhkan Allah sebagai tempat bernaung dan memohon segala pengharapan.

Di bumi yang tengah berputar, ada yang merasa sesak oleh manisnya lisan, palsunya ucapan dan basinya perbuatan. Namun, betapa teduh dan syahdu firman-Nya Yang Maha Benar, suci dan menjadi referensi nyata, yang ketika berinteraksi dengan-Nya senantiasa ditemukan hal-hal yang dapat membangun spirit keimanan.

Kawan, hari ini kita tengah dikepung oleh berbagai macam perubahan yang sangat cepat. Namun, yang membinasakan kita adalah manakala kita terlambat untuk berubah, yakni selalu nyaman karena merasa di zona aman. Tanpa kita sadari, kitapun terjebak dalam lika-liku persoalan kehidupan yang secara perlahan menggerus kita. Kita gagal memaknai waktu yang ada.

Kembali ke syair di atas, “sungguh hidup terus diburu berpacu dengan waktu.” Meskipun terkadang aktifitas yang dilakukan lebih banyak daripada waktu yang tersedia, saling berkejar-kejaran dengan waktu seyogyanya tak menjadikan kita melepaskan ibadah kita terhadap-Nya.

Tidak juga membuat kita terlena dengan hal-hal lain yang dapat membuat kita jadi bermalas-malasan. Mencoba untuk memaknai waktu bisa jadi dengan membuat skala prioritas kegiatan agar waktu yang kita miliki dapat terkelola apik.

Oleh karena itu kawan, berusahalah juga memaknai waktu dengan mendekat selalu kepada-Nya. Membiasakan lisan untuk berbincang lembut dengan Allah, mesra dan tawadu. Membaca Al-Qur’an ketika sendiri sembari menghayati arti, tanpa sadar telah mengalir air mata di pipi, dan Allah bersemayam di dalam hati. Wallahu a’lam


:: Artikel dikirim oleh Azzura Arsyiah (azzura4rsyiah@yahoo.com) | sekarang tinggal di Jakarta, berasal dari Medan | @azura_sely


Rumah Motivasi Online menerima tulisan, artikel membangun jiwa, motivasi. Kirim tulisan sahabat ke email saya; cepypram@yahoo.com atau infokan @CepPangeran



Sabtu, 09 Maret 2013

Menyikapi Uzur Orang Lain

Kita harus memiliki akhlak Islam berkaitan dengan muamalah dengan orang lain.

Diantara akhlak Islam yang harus dimiliki oleh diri kita adalah berlapang dada (samahah) dan selalu memberi maaf (al afwu) serta menahan amarah (kazmul ghaiz).

Agar di dalam bermuamalah kita tidak terkejut atau kaget bila bertemu dengan karakter manusia yang berbeda-beda serta kurang pas karakternya dengan karakter kita.

Kita selalu diingatkan untuk selalu mengambil pelajaran dari para pemimpin, khususnya Rasulullah SAW dan para khalifah pengganti beliau, dimana banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari kehidupan mereka dalam menghadapi karakter serta perilaku umat serta rakyatnya yang terkadang tidak terlihat sopan.

Sebagai aktifis dakwah, ada baiknya pula kita membaca sejarah-sejarah para ulama dan pembaharu Islam kontemporer. Termasuk buku "mudzakkirat da’wah wad-da’iyah" (buku pegangan dakwah seorang daiyah) yang ditulis Imam Hasan Al Banna.

Didalam buku tersebut, beliau menceritakan seorang al akh yang keluar dari jamaah IM karena kecewa tidak mendapatkan posisi di Syu’bah Ismailiyyah, akan tetapi beliau tetap menghormati dan menghargainya sebagai kawan dan tokoh.

Jadilah seorang pemberani yang besar tanggung jawabnya dan sebaik-baik bentuk keberanian adalah tegas dalam kebenaran dan pandai menyimpai rahasia, mengakui kesalahan, adil terhadap diri dan mampu mengendalikannya ketika sedang marah.

Jadilah seorang yang adil yang mencerminkan kebenaran hukum dalam setiap situasi dan kondisi. Jangan sampai kemarahan kita melalaikan segala kebaikan, keridhaan kita menutupi segala kejelekan, jangan sampai perseteruan atau permusuhan itu membawa kita lupa kepada kebaikan. Ucapkan kebenaran walau pahit rasanya, baik terhadap diri kita sendiri maupun terhadap orang yang paling dekat dengan kita.

Jadilah kita orang yang belas kasihan, dermawan, lembut hati, suka memaafkan kesalahan orang lain dan menyayangi sesama manusia, juga kepada hewan sekalipun.

Berperilaku dan bermoral yang baik, bergaul kepada semua orang dengan baik dengan tetap menjaga tata aturan sosial yang diajarkan oleh Syari’at Islam.

Tidak memata-matai perbuatan dan pekerjaan orang lain, tidak menggunjing orang, tidak arogan dan meminta izin ketika masuk maupun keluar dari pertemuan dan sebagainya.

Catatan:
1. Sikap Rasulullah mengahadapi orang munafik, Abdullah bin Abbas menghadapi orang Khawarij
2. Banyak mendengar dan hindari debat yang tidak berguna
3. Berikan tausiyah dan tunjukkan rasa cinta kepadanya.


:: Artikel dikirim oleh Tarwiyah (tarwiyah1972@gmail.com) | Guru SD, tinggal di Jatiasih Bekasi | @tarwiyahawi


Rumah Motivasi Online menerima tulisan, artikel membangun jiwa, motivasi. Kirim tulisan sahabat ke email saya; cepypram@yahoo.com atau infokan @CepPangeran


Selasa, 05 Maret 2013

Menggerakkan Minat Baca Siswa Melalui Program Duta Cerdas

Sebagai negara berkembang, Indonesia masih menghadapi permasalahan mendasar dalam pencapaian target MDG’s di bidang pendidikan.

Meskipun pemerintah telah mencanangkan wajib pendidikan dasar 9 tahun bagi setiap penduduk, masih diketemukan adanya siswa usia sekolah yang tidak mampu untuk menyelesaikan pendidikan dasar 9 tahun.

Tingkat putus sekolah siswa bervariatif antar propinsi dengan adanya kecenderungan tingkat putus sekolah yang lebih tinggi di wilayah pelosok yang sulit di jangkau pelayanan pendidikan dasar dan wilayah slum area di perkotaan.

Adanya permasalahan putus sekolah siswa pada tingkat pendidikan dasar ini mendorong Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU bekerja sama dengan PT Petrosea menyelenggarakan program Duta Cerdas dengan memberikan pelatihan managemen perpustakaan dan membuat “Plan of Action” sebagai langkah nyata pengembangan perpustakaan di masing-masing sekolah.

Program ini sudah dilaksanakan di beberapa Sekolah Dasar di Propinsi Kalimantan Timur pada bulan Oktober hingga Desember 2012 dengan capaian terbentuknya manajemen perpustakaan sekolah yang lebih berkembang, sehingga terjadi peningkatan frekuensi siswa berkunjung ke perpustakaan yang secara langsung meningkatkan minat baca siswa.

Sosok ibu Ratnawati sebagai salah satu peserta program Duta Cerdas dari SDN 005 Margomulyo kota Balikpapan berhasil menggerakkan seluruh civitas sekolah untuk melakukan suatu perubahan sehingga memberikan pengaruh yang signifikan dalam kebijakan sekolah dalam pengembangan perpustakaan di sekolahnya.

Hasil akhir yang dapat dilihat ialah perpustakaan sekolah menjadi “tempat nongkrong” favorit bagi para siswa SDN 005 Margomulyo. Para siswa senang untuk berkunjung ke perpustakaan karena ketersediaan buku yang banyak, perpus yang tertata rapi, dan suasana yang nyaman dalam perpustakaan serta adanya kegiatan-kegiatan ekstra yang menarik siswa untuk aktif ke perpustakaan.

Dengan berakhirnya program ini bukan berarti tantangan pendidikan dasar di Indonesia telah terjawab. Bahkan posisi program ini dapat digambarkan sebagai adalah suatu pintu masuk untuk menghadapi menjawab tantangan benang kusutnya persoalan pendidikan dasar dan pengentasan buta huruf di Indonesia.

Untuk kedepanya semakin diperlukan adanya program-program pemberdayaan masyarakat hasil kerjasama antara LSM/NGO dengan seluruh pihak terkait baik itu mitra swasta maupun dengan mitra pemerintah untuk mengakselerasi peningkatan pendidikan dasar dan pengentasan buta huruf bagi penduduk Indonesia.


:: Artikel dikirim oleh Sigit Prastyo (sigit_cloud@yahoo.com) | Staf PME (Planning, Monitoring, and Evaluation) Direktorat Pendayagunaan PKPU | @oytsarptigis


Rumah Motivasi Online menerima tulisan, artikel membangun jiwa, motivasi. Kirim tulisan sahabat ke email saya; cepypram@yahoo.com atau infokan @CepPangeran


Senin, 04 Maret 2013

Belajar dan Belajar

Langit mendung hujan pun gerimis. Sayup terdengar suara adzan Isya dari masjid sebelah rumah.

Memanggil setiap insan muslim untuk menunaikan kewajibannya segera. Malam semakin larut, membuat hati sejenak berbisik mengenang cerita yang berkesudahan.

Menyadari bahwa sejatinya hidup yang kita jalani ini adalah serangkaian proses belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Hal-hal yang kita alami, rasakan, fikirkan dan kita amati, setiap waktu semuanya akan lebih berarti apabila kita mau menghayatinya.

Sarat makna, bahkan mampu memberikan pengalaman hidup untuk terus belajar dan belajar sehingga menjadikan hidup kita lebih ‘hidup’.

Manakala segelintir peristiwa datang menemui kita, tapi hanya numpang lewat begitu saja, maka merugilah kita. Hanya bisa menjadikan masa lalu tersebut sebagai sesuatu yang tak bernilai apa-apa, dilupakan tanpa memberikan pengaruh positif pada diri kita.

Padahal kan gak ada salahnya juga jika kita berhenti sejenak untuk melihat ke dalam, siapa tahu ada hal-hal penting yang berharga yang sedang menanti kedatangan kita untuk meraihnya.

Belajar untuk sebuah pembelajaran. Selalu mencoba mencari value pembelajaran dari setiap kejadian yang kita alami maupun kejadian yang dialami oleh orang lain. Hendaknya kita juga senantiasa dapat memaknai hidup dari sudut pandang positif, berkhusnudzon serta mampu melihat nilai-nilai kebaikan yang ada.

Sama halnya dengan Rasulullah SAW yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk belajar, maka kita pun juga hendaknya dapat belajar dan belajar. Belajar, menunjukkan bahwa kita adalah insan yang memiliki banyak kelemahan diri. Sampai ajal menjelang pun proses ini masih berlanjut, dan ketika maut datang menjemput diri, inilah barangkali saatnya proses itu berakhir.

Semoga kita dapat menjadikan setiap hal yang kita alami menjadi sebuah pembelajaran yang berarti. Mengambil hikmah dari setiap kejadian sehingga menjadikan kita sebagai manusia yang senantiasa belajar dan bersyukur.


:: Artikel dikirim oleh Azzura Arsyiah (azzura4rsyiah@yahoo.com) | sekarang tinggal di Jakarta, berasal dari Medan | @azura_sely


Rumah Motivasi Online menerima tulisan, artikel membangun jiwa, motivasi. Kirim tulisan sahabat ke email saya; cepypram@yahoo.com atau infokan @CepPangeran



Kamis, 28 Februari 2013

Dia Yang Terlewatkan

Mungkin salahku melewatkanmu
Tak mencarimu sepenuh hati
Maafkan aku

Sebait lirik lagu milik Sheila On-7 berjudul “Yang Terlewatkan”, mengingatkan saya pada sesuatu. Meskipun dalam lirik tersebut tujuannya adalah pada sang kekasih hati tapi kali ini buat saya merupakan hal yang berbeda. Sesuatu yang begitu penting, namun acap kali terabaikan dan tak temanfaatkan sebagaimana mestinya. Ya, apalagi kalau bukan sang waktu.

Sebelum tidur, biasanya sebagian orang sering memasang alarm untuk membangunkannya lebih awal, bisa saja karena ingin melaksanakan shalat malam, melanjutkan pekerjaan yang tertunda, menonton siaran TV yang dinanti dan melakukan aktifitas lainnya.

Namun, ketika alarm yang sudah di setting tersebut berbunyi untuk membangunkan, kita justru semakin menarik selimut dan melanjutkan tidur kembali. Pada akhirnya terlambat bangun, malas beraktifitas dan waktupun terlewatkan begitu saja tanpa arti. Pada akhirnya terlambat juga melaksanakan pekerjaan yang lainnya.

Kita sadari bahwa pada waktu yang terlewatkan itu seharusnya kita dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat, memaksimalkan kinerja, menyelesaikan aktifitas yang tertunda. Tetapi, karena keterlewatan ini banyak kesempatan yang terbuang sia-sia. Bahkan bisa saja keterlambatan yang kita ciptakan ini, membuat aktifitas-aktifitas dakwah ini pun ikut terlambat dan terhambat.

Perkataan Imam Hasan Al Banna masih terekam dalam memori kita. “Sesungguhnya kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang tersedia”. Gunakanlah skala prioritas dalam menentukan suatu aktivitas, dimulai dari yang penting dan mendesak, tidak penting tapi mendesak, penting tapi tidak mendesak, dan tidak penting dan tidak mendesak.

Dia yang terlewatkan begitu saja, seharusnya tidak kita biarkan berlalu sia-sia. Bukankah Allah SWT bersumpah dalam Al-Qur’an untuk beberapa waktu yaitu “Demi Dhuha”, Demi Fajar, Demi Subuh, Demi Cahaya Merah pada waktu senja, Demi Malam, Demi Siang, dan Demi Masa.” Sumpah Allah SWT yang berulang kali atas nama waktu itu menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Jadi, jangan dilewatkan atau dibuang percuma.

Waktu-waktu yang telah kita lewatkan tak akan pernah kembali lagi. Dan sudah barang tentu yang kita hadapi hari ini, kemarin dan esok akan berbeda sama sekali. Tak ada yang sama, baik para pelakunya, situasi maupun latarnya.

Karena itu, mari kita mulai kembali untuk menata waktu-waktu kita yang tercecer begitu banyak untuk hal yang sia-sia. Kita memang tidak bisa mengumpulkan atau menyatukan serpihan-serpihan dia yang terlewatkan. Kita berkomitmen untuk tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Kalaupun kita tidak bisa menggunakan waktu dengan efektif, paling tidak kita tidak melewatkannya begitu saja tanpa makna apa-apa. Semoga kita termasuk hamba-nya yang bisa memaksimalkan waktu dengan sebaik mungkin untuk sesuatu yang bermanfaat. Amin


:: Artikel dikirim oleh Azzura Arsyiah (azzura4rsyiah@yahoo.com) | MT Batch-3 Medan | @azura_sely


Rumah Motivasi Online menerima tulisan, artikel membangun jiwa, motivasi. Kirim tulisan sahabat ke email saya; cepypram@yahoo.com atau infokan @CepPangeran