Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Agustus 2013

Menjadi Manusia Baru Setelah Ramadhan

Tidak terasa, perjalanan waktu begitu cepat berlalu, tanpa bisa ditunda sedetik pun juga. Ramadhan, bulan yang penuh berkah, saat yang paling pas untuk menggali ibadah dan meminta ampun serta bertaubat kepada Allah SWT pergi meninggalkan kita semua hingga tahun berikutnya.

Sementara itu, kita tidak pernah mengetahui, apakah Ramadhan tahun depan masih sempat bersama dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai untuk melaksanakan ibadah Ramadhan?

Apakah Ramadhan tahun berikutnya masih dapat kita rasakan keindahannya untuk memperbanyak ibadah puasa, shalat tarawih, tilawah Alquran, memperbanyak istighfar kepada Allah SWT dan lainnya? Pertanyaan itu akan terus muncul dan tidak ada yang pernah mengetahui jawabannya selain Allah SWT, tempat kita menyembah dan meminta.

Setiap yang datang, pasti akan berlalu pergi. Sesungguhnya, bulan Ramadhan menjadi saksi atas segala amalan yang kita lakukan selama ini, apakah itu berupa keburukan dan maksiat, ataukah ibadah dan amal shaleh.

Karena itu, intropeksi diri menjadi suatu hal yang penting mulai saat ini, melakukan evaluasi (muhasabah) terhadap segala hal yang sudah kita lakukan di bulan Ramadhan yang kita jalani. Tentunya, agar Ramadhan tahun ini tidak berlalu begitu saja seperti Ramadhan-Ramadhan sebelumnya.

Setelah Ramadhan, adakah perubahan pada diri kita? Selama sebulan penuh, kita memasuki masa-masa ibadah yang telah diwajibkan, semoga kita mendapatkan ampunan dari-Nya. Lahir kembali sebagai manusia baru, layaknya seorang bayi yang lahir tanpa dosa.

Selama puasa Ramadhan kemarin, kita lakukan dengan tulus ikhlas semata hanya mencari ridhanya, dan terbebas dari hal-hal yang membatalkan puasa. Inilah kesempatan yang tak ternilai harganya bagi umat Islam. Allah SWT memberikan ‘mekanisme’ penambahan pahala sekaligus pembersihan dosa.

Janji Allah, jika seorang yang beriman berpuasa dengan tulus ikhlas semata-mata hanya untuk menjalankan perintah-Nya, maka Allah SWT berjanji akan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Bisa jadi, Allah SWT sudah mengampuni dosa-dosa kita, tetapi kita mungkin belum terbebas dari dosa-dosa yang kita perbuat kepada manusia lain.

Dan, Allah SWT tidak memberi garansi akan memaafkan dosa itu kecuali kita sendiri mohon maaf kepada orang-orang yang terhadapnya kita telah berbuat dosa. Ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap manusia menjadi lebih baik dibanding dengan bulan sebelumnya. Hal itu karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan untuk meninggalkan berbagai macam maksiat dan mudah melaksanakan kebajikan.

Mereka yang dahulu malas-malasan dalam melaksanakan shalat lima waktu seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Semoga, selepas Ramadhan ini, insya Allah setiap kita terlahir lagi menjadi manusia baru yang fitri. Mari kita isi lembaran baru itu dengan amalan yang Allah ridhai.

Cecep Y Pramana
@CepPangeran
blogmotivasionline.blogspot.com



Minggu, 28 Juli 2013

Ramadhan, Mendidik Kita Kejujuran

Ketika kita berpuasa Ramadhan, maka kejujuran seharusnya mewarnai kehidupan kita sehingga kita tidak berani makan dan minum meskipun tidak ada orang yang mengetahuinya. Namun, pasti Allah SWT akan melihat kita.

Hal ini karena kita meyakini bahwa Allah SWT yang memerintahkan kita berpuasa selalu mengawasi diri kita dan tentunya kita tidak mau membohongi Allah SWT dan tidak mau membohongi diri sendiri karena hal itu memang tidak mungkin.

Inilah kejujuran yang sesungguhnya. Kejujuran yang diajarkan di dalam bulan suci Ramadhan. Karena itu, setelah berpuasa sebulan Ramadhan semestinya kita mampu menjadi orang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur dalam perkataan, jujur dalam berinteraksi dengan orang, jujur dalam berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya.

Dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita sekarang ini, kejujuran merupakan sesuatu yang sangat diperlukan. Justru, banyak kasus di negeri kita yang tidak cepat selesai bahkan tidak selesai-selesai karena tidak ada kejujuran.

Orang yang bersalah sulit untuk dinyatakan bersalah karena belum bisa dibuktikan kesalahannya. Dan mencari pembuktian memerlukan waktu yang panjang, padahal jika yang bersalah itu mengaku saja secara jujur bahwa dia bersalah, tentu dengan cepat persoalan bisa selesai.

Sementara orang yang secara jujur mengaku tidak bersalah tidak perlu lagi untuk diselidiki apakah dia melakukan kesalahan atau tidak. Tapi karena kejujuran itu tidak ada, yang terjadi kemudian adalah saling curiga mencurigai bahkan tuduh menuduh yang membuat persoalan semakin rumit.

Ibadah puasa telah mendidik kita untuk berlaku jujur kepada hati nurani kita yang sehat dan tajam, bila kejujuran ini tidak mewarnai kehidupan kita sebelas bulan mendatang, maka pendidikan dari ibadah Ramadhan kita menemukan kegagalan, meskipun secara hukum ibadah puasanya tetap sah.

>> follow twitter @CepPangeran



Sabtu, 27 Juli 2013

Ramadhan: Menimba Ilmu Pengetahuan

Kita mesti memiliki tolok ukur keberhasilan ibadah Ramadhan dengan ketakwaan kepada Allah SWT yang terus meningkat.

Aktivitas Ramadhan juga telah merangsang kegairahan kita untuk menimba ilmu pengetahuan, khususnya yang menyangkut pendalaman ajaran Islam.

Kuliah subuh, kuliah zuhur, ceramah tarawih, pesantren Ramadhan dan studi keislaman lainnya di bulan Ramadhan merupakan aktivitas-aktivitas yang merangsang semangat kita untuk menimba ilmu pengetahuan.

Aktivitas ini membuat kita tidak hanya lebih fanatis sebagai seorang muslim, tapi juga paham dan memiliki wawasan keislaman yang lebih baik.

Namun perlu kita ingat bahwa sedalam-dalamnya ilmu yang kita gali, tetap saja terasa kecil dan sedikit ilmu yang kita peroleh, apalagi ilmu Allah itu sangat luas. Tidak akan pernah habis untuk digali

Menyadari hal ini semestinya kita semakin terangsang untuk menimba ilmu dan sesudah Ramadhan ini, semangat itu harus kita buktikan.

>> follow twitter @CepPangeran

Jumat, 26 Juli 2013

Rasa Tanggung Jawab Sosial

Ibadah Ramadhan telah mendidik kita merasakan betapa tidak enaknya lapar dan haus. Disamping itu kita juga diminta untuk menunaikan kewajiban zakat fitrah, bahkan diselingi dengan infak dan sedekah. Namun itu semuanya bermuara pada penumbuhan dan pemantapan rasa tanggung jawab sosial.

Karena itu sesudah Ramadhan berakhir, semestinya semakin mantap rasa tanggung jawab sosial dan iman kita sehingga punya perhatian lebih terhadap kaum muslimin yang mengalami kesulitan hidup secara ekonomi.

Wujud perhatian itu adalah dengan berusaha mengetahui kondisi kehidupan saudara-saudara kita sesama muslim. selanjutnya, memikirkan apa yang harus kita lakukan dalam rangka membantu mereka untuk meningkatkan martabat dan kualitas kehidupan mereka. Ini semua harus kita lakukan karena tentu saja kita tidak ingin hanya karena persoalan ekonomi mereka berubah menjadi kufur.

Dengan demikian, ibadah Ramadhan yang hampir kita akhiri, tentu saja harus meninggalkan bekas yang mendalam sehingga ketakwaan kita kepada Allah SWT semakin mantap yang berarti apapun yang kita hendak lakukan selalu berpijak pada nilai-nilai luhur yang terdapat dalam Islam yang agung. Wallahua’lam.

>> follow twitter @CepPangeran

Rabu, 24 Juli 2013

Ramadhan, Mengokohkan Jiwa Kemasyarakatan

Sebagai manusia, kita tentu menyadari bahwa hidup ini tidak mungkin bisa kita jalani dengan baik tanpa kebersamaan dengan manusia lainnya di sekitar kita.

Karena itu, interaksi dan komunikasi kita antara yang satu dengan yang lain merupakan suatu kebutuhan dan secara ekonomi, yang kaya harus membantu yang miskin.

Sementara, mereka yang kurang mampu (dhuafa) pun masih bisa bersyukur kepada Allah Swt, karena bisa jadi masih banyak orang yang lebih miskin darinya.

Dan ibadah puasa mendidik kita untuk mengokohkan jiwa kemasyarakatan itu. Sehingga sebagai orang yang memiliki kemampuan secara materi, maka kita siap memberikan bantuan kepada yang tidak mampu.

Mengapa demikian? Karena kita sudah merasakan tidak enaknya lapar dan haus, sebagaimana mereka yang kurang mampu (dhuafa) juga merasakannya.

Padahal itu hanya berlangsung beberapa jam saja. Sementara itu, masih begitu banyak anggota masyarakat kita yang memerlukan bantuan, apalagi dalam krisis ekonomi di negara kita sekarang ini yang telah melahirkan penduduk miskin baru dalam jumlah yang cukup banyak.

Dan menumbuhkan jiwa kemasyarakatan itu nantinya disimbolkan dalam bentuk menunaikan zakat fitrah yang memang harus diberikan kepada mereka yang miskin. Wallahua’lam.

>> follow twitter @CepPangeran


Rabu, 17 Juli 2013

Alam Akhirat, Tempat Perhitungan Amal

Hendaknya setiap Muslim senantiasa selalu bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah dilimpahkan. Baik nikmat iman, islam, sehat dan luangnnya waktu sehingga kita bisa melaksanakan dan menunaikan kewajiban yang di fardhukan Allah SWT kepada kita semua. Dan jangan sebaliknya, menjadi orang yang tidak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Tahap demi tahap semua manusia akan menjalani roda kehidupannya. Mulai dari alam kandungan, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat. Tahapan-tahapan tersebut harus dijalani manusia sampai akhirnya nanti kita semua menemui alam akhirat. Tempat perhitungan semua amal yang telah kita lakukan di dunia.

Dan hendaknya kita semua bersegera mencari bekalan amal kebaikan guna menuju pertemuan kita dengan Allah SWT. Kita semua tidak mengetahui kapan ajal ini dating menghampiri. “Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku Wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat! (QS Al Baraqah: 197).

Tatkala kita mendengar ayat-ayat Alquran dan hadits-hadits Nabi yang memberitakan tentang keadaan hari Akhir, maka hendaklah hati kita menjadi takut, menangis, dan menjadi dekat hati kita kepada Allah SWT.

Namun bagi orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah SWT saat disebut kata Neraka, adzab dan lainnya akan biasa-biasa saja. Seakan terasa ringan diucapkan oleh lisan-lisan tanpa makna sama sekali.

“Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku. Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku. Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu, hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku. (Allah berfirman),“Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.”Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dialah orang yang tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin". (QS Al Haqqah: 25-34)

Di dalam tafsir Ibnu Katsir diterangkan bahwa ayat tersebut menggambarkan keadaan orang-orang yang sengsara. Mereka adalah yang diberi catatan amalnya di padang pengadilan Allah dari arah tangan kirinya. Ketika itulah mereka benar-benar menyesal, dan berkata: ‘Andaikan saya tidak usah diberi catatan amal ini dan tidak usah tahu apakah hisab (perhitungan) terhadap dirinya dan andaikata saya mati terus dan tidak usah hidup kembali.

Dan bagi orang yang beriman yang mengetahui makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Bergetarlah hatinya, ia akan menetes air mata mereka, terisaklah tangis mereka dan keluarlah keringat dingin di tubuh mereka, seakan mereka saat itu sedang merasakan peristiwa yang sangat dahsyat. Maka tumbuhlah rasa takut kepada Allah kemudian berlindung kepada Allah SWT agar tidak menjadi orang-orang yang celaka seperti ayat di atas.

Pada hari Akhir nanti, matahari akan didekatkan di atas kepala-kepala sehingga keringat akan bercucuran sehingga sebagian manusia akan tenggelam oleh keringat-keringat mereka sendiri. Namun, hal itu tergantung dari apa yang telah diperbuat oleh kita semuanya semasa di dunia.

Perkara ghaib (Iman kepada Hari Akhirat/Kiamat) wajib bagi kita untuk mengimani dan membenarkannya tanpa menanyakan bagaimana. Perkara tersebut berada diluar jangkauan akal sehat manusia. Kita tidak mampu mengetahui dan menggambarkannya. Wallahua’lam

>> follow twitter @CepPangeran


Jumat, 12 Juli 2013

Mereka Yang Menikmati Manisnya Iman

Sumayyah, seorang shahabiyah didera dengan siksa yang keras oleh orang quraisy. Semakin keras siksa yang diterimanya, semakin kokoh pula pertahanannya untuk tetap istiqomah berada di jalan Allah dan RasulNya.

Asma binti Abu Bakar. Seorang shahabiyah yang berperan besar dalam hijrahnya Rasulullah SAW. Asma pulalah yang memasok makanan kepada Rasulullah SAW. Ia harus berangkat malam dan kembali sebelum orang-orang quraisy bangun, meskipun ia sedang hamil tua. Sungguh, suatu tugas yang tidak mudah, penuh rintangan, tantangan sekaligus penuh dengan bahaya yang mengancam keselamatan jiwanya, namun dapat dilakukannya dengan baik.

Siapa yang tidak kenal dengan sahabat yang satu ini. Namanya Mus'ab bin Umair. Mus’ab bin Umair adalah salah seorang sahabat yang memeluk Islam pada masa awal keislaman. Beliau lahir dan dibesarkan dalam kemewahan dan kesenangan.

Saat menginjak remaja, beliau menjadi perbincangan dikalangan gadis-gadis Mekah, karena wajahnya yang tampan ditambah dengan kekayaannya, otak yang cerdas serta akhlaknya yang terpuji. Mus’ab bin Umair, ia seorang pemuda idaman saat itu dan bila ia lewat, dari jauh sudah tercium bau parfumnya.

Ia rela meninggalkan segala fasilitas yang penuh kenikmatan dari orang tuannya hanya untuk memeluk agama Islam, walaupun ibu yang sangat ia cintai dan hormatinya mogok makan karena ia memeluk Islam.

Apa yang menyebabkan mereka mempunyai kekokohan dan keteguhan seperti itu? Faktor apa yang mereka punyai? Jika dilihat benang merahnya adalah karena mereka dapat merasakan betapa manisnya iman yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Apapun yang terjadi, rintangan seberat apapun yang ada ditambah siksaan macam apapun, hal itu tidak akan dapat menggoyahkan pendiriannya. Bahkan sering kita mendengar bahwa iman itu sebagai nikmat yang paling besar atau hidayah yang paling tinggi, paling berharga yang diberikan Allah pada kita (QS Ali Imran: 164).

Sebagai perumpamaan dapat kita lihat bagaimana seorang anak kecil yang berumur 2 tahun menemukan kalung berlian. Mungkin kalung itu akan dimainkan dan dicampurkan dengan tanah atau malah dipisah dari talinya.

Hal ini terjadi karena mereka tidak tahu bahwa kalung berlian itu adalah sesuatu yang berharga. Begitu juga halnya dengan orang-orang yang tidak mengenal secara baik, apa iman itu dan bagaimana harus memperlakukannya.

Apakah perasaan atau kemampuan merasakan iman itu sebagai suatu nikmat monopoli para ulama, sahabat, ustazd, dan sebagainya? Jadi Bagaimanakah cara kita merasakan kenikmatan iman itu.

Rasulullah SAW sendiri telah memberikan resepnya pada kita semua dalam sebuah hadis yang isinya kurang lebih menyebutkan, bahwa barang siapa yang memiliki 3 hal, dia akan merasakan manisnya iman. Tiga hal itu adalah:

Pertama, menjadikan Allah dan RasulNya sebagai yang ia cintai melebihi dari yang lainnya. Kedua, mencintai seseorang hanya karena Allah SWT bukan karena lainnya. Ketiga, dan tidak suka/ingin kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak suka dicampakkan ke dalam api neraka

Jika ketiga hal tadi dijalani, maka segala beban derita akan terasa ringan dikala mencintai Allah SWT. Hanya ridha Allah yang menjadi tujuannya, seperti yang dialami oleh para sahabat di atas untuk tetap teguh berada di jalan Allah SWT.

Para sahabat juga begitu sangat mencintai Rasulullah SAW. Sebagai contoh, bagaimana sahabat Abu Bakar, yang badannya telah babak belur dan luka-luka setelah dipukul oleh kaum quraisy. Pertanyaan yang muncul dari bibirnya pertama kali setelah sadar adalah, “Bagaimana keadaan Rasulullah?

Abu Bakar sendiri tidak peduli dengan keadaan tubuhnya saat itu yang telah babak belur dipukul kaum quraisy. Yang ia pikirkan hanya Rasulullah, karena Rasulullah berada disampingnya sebelum ia dipukul oleh kaum quraisy.

Begitu besarnya cinta sahabat Abu Bakar kepada Rasulullah SAW. Wujud cinta kita pada Rasulullah SAW yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan menjalankan sunnahnya. Dengan mencintai saudara seiman, maka iman juga akan terasa manis.Sudahkah kita merasakan manisnya iman, terutama saat Ramadhan ini.

Salah satu hadist yang memperlihatkan pentingnya mencintai orang lain adalah, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Kalian belum beriman sampai kalian saling mencintai...”. Kesimpulan yang dapat diambil adalah manisnya iman dapat dirasakan dengan mencintai Allah dan RasulNya serta membenci apa-apa yang dibenci Allah dan RasulNya. Wallahua’lam

>> follow twitter @CepPangeran
 

Selasa, 09 Juli 2013

Jika Ramadhan Tahun Ini adalah Ramadhan Terakhir Kita

Menyambut datangnya bulan Ramadhan tidak hanya dilakukan dengan menyiapkan bahan kebutuhan pokok makanan selama sebulan, menyiapkan kantong untuk berbelanja keperluan lebaran atau yang lainnya.

Tetapi Ramadhan adalah bulan beribadah selama sebulan penuh, dimana kita berlomba-lomba menjadi yang terbaik.

Terbaik dalam peningkatan ketakwaan dan keimanan, dengan taat adalah sebagai ukurannya. Taat kepada apa yang Allah dan Rasulullah saw perintahkan. Dapat bertemu dengan bulan Ramadhan adalah satu kenikmatan yang sangat berharga.

Ada kerinduan di sana, rindu ingin bertemu dengan yang dirindui-Nya. Apalagi jika pertemuan itu adalah pertemuan terakhir, pertemuan perpisahan. Pertemuan yang paling dirindui adalah pertemuan dengan Allah SWT di akhirat kelak.

Ibnu Al Qayyim dalam kitabnya mengungkapkan bahwa kenikmatan yang sempurna tidak sekadar makan dan minum di surga saja, tetapi juga nikmat bertemu dengan Allah swt. Jika kita tahu bahwa ini adalah bulan Ramadhan terakhir bagi kita, niscaya kita tidak akan meninggalkan segala kewajiban yang telah di fardhukan oleh Allah swt. Kita pasti akan bersungguh-sungguh melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan terbaik.

Jika kita tahu bahwa ini adalah bulan Ramadhan terakhir bagi kita, maka kita akan menjaga ibadah puasa kita tanpa berkurangnya pahala di sisi Allah SWT. Bisa jadi seseorang yang berpuasa, dia tidak mendapat dari puasanya melainkan hanya lapar dan dahaga.

Jadi, kita akan senantiasa mengevaluasi (muhasabah) setiap detik demi detik Ramadhan. “Barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR Bukhari)

Jika Ramadhan kali ini adalah yang terakhir, niscaya kita akan senantiasa menjaga shalat tarawih di masjid setiap malam. Menghayati dan tadabburi setiap ayat AlQuran yang dibaca. Jika Ramadhan kali ini adalah yang terakhir, niscaya kita akan melaksanakan semua amalan sunah berpuasa, menjauhkan diri dari segala larangnya.

Jika Ramadhan tahun ini adalah yang terakhir buat kita, niscaya kita tidak akan melupakan nasib saudaranya sesama umat Islam. Bagaimana nanti kita mampu berdiri di hadapan Allah SWT sedangkan kita tidak ambil peduli terhadap nasib umat Islam, nasib saudaranya seiman, dengan berbagi peduli.

Jika kita merasakan bahwa Ramadhan kali ini adalah bulan ramadhan yang terakhir. Niscaya setiap kita pasti akan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajiban yang telah Allah wajibkan kepada orang-orang yang beriman.

Setiap waktu yang kita lalui adalah kesungguhan, karena kita tidak tahu kapan kematian datang menjemput. Dan, kita tidak mempunyai banyak waktu, raih dan rebutlah Ramadhan kali ini dengan sebaik-baiknya. Inilah kesempatan kita untuk melakukan segala amalan terbaik di bulan penuh rahmat ini.

Bahkan kita harus menjadikan Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terbaik sepanjang hidup kita. Mengapa kita harus melakukannya? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan karena kita tidak pernah mengetahui apakah kita masih punya kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan di tahun depan.

Sungguh sangat ruginya jika ini merupakan Ramadhan terakhir kita, tetapi justru kita melakukan amalan terburuk dalam hidup kita. Karena itu, mulai saat ini harus kita kuatkan tekad dalam diri kita untuk melakukan segala aktivitas sebagai aktivitas terbaik dalam Ramadhan kali ini.

Shalat kita adalah shalat terbaik yang pernah kita kerjakan. Tilawah AlQuran kita adalah tilawah terbaik yang pernah kita baca. Shadaqah atau sedekah kita adalah shadaqah atau sedekah terbaik kita.

Semuanya yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini adalah yang terbaik. Agar amal yang kita lakukan diberikan ganjaran atau pahala dari Allah SWT sebagai ganjaran dan pahala yang paling terbaik. Wallahua’lam. (Cecep Y Pramana ~ follow twitter @CepPangeran)

Maaf Lahir Batin, Menyambut Ramadhan


Setitik embun diatas daun
Laksana hujan jatuh kebumi
Dosa tertimbun mohon diampuni
Terbisik khilaf mohon dimaafkan

Lalai lidah membawa cela
Lalai hati membuat luka
Ulurkan tangan maaf dipinta
Sucikan hati di bulan mulia

SELAMAT menyambut bulan suci RAMADHAN 1434 H

Cecep Y Pramana
Tarwiyah
Faris Kasyfi Aziz
Muhammad Ammar Azmi
Alifah Hurun Ain

Senin, 08 Juli 2013

Jadwal Ibadah Harian di Bulan Ramadhan

Ramadhan datang menjelang. Apa dan bagaimana kita harus melakukan ibadah puasa Ramadhan ini sepanjang hari. Mari kita buat jadwal harian kita sebagai seorang muslim dan muslimah di bulan Ramadhan.

Dengan jadwal ibadah harian ini, semoga jadi pemicu gairah dan penyemangat ibadah kita di bulan Ramadhan. Jadwal ibadah harian Ramadhan ini dibuat khusus untuk DKI Jakarta dan sekitarnya (Jadebotabek). Sedangkan, untuk luar daerah, silahkan bisa ditambahkan atau disesuaikan dengan wilayah masing-masing. Begitu pula yang di luar negeri, bisa disesuaikan atau ditambahkan.

03.00 pagi. Bangun pagi dan berdoa kepada Allah SWT dengan doa: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan aku, setelah Dia mematikan aku dan kepadaNya lah aku akan dikembalikan”. Berniatlah kepada Allah SWT untuk melaksanakan sebanyak-banyak kebaikan (ibadah) hari itu. Mandi dan bersihkan diri. Ambil air wudhu dan memakai pakaian yang bersih suci untuk beribadah, (bisa) pakai wewangian.

03.20 pagi. Shalat sunah Taubat : (niatkan masing-masing) Sengaja aku shalat sunat taubat 2 rakaat karena Allah Taala. Rakaat pertama selepas Al-Fatihah baca surah Al-Kafirun (dapat disesuaikan), rakaat kedua selepas Al-Fatihah baca surah Al-Ikhlas (diserahkan masing-masing). Selepas shalat, angkatlah kedua tangan, memohon ampun kepada Allah. Kita dapat menangis dengan disertai penyesalan atas dosa yang telah kita lakukan.

Shalat sunah Tahajud : (niatkan masing-masing) Sengaja aku shalat sunnah tahajjud 2 rakaat karena Allah Taala. Rakaat pertama selepas Al-Fatihah baca surah Al-Kafirun (dapat disesuaikan), rakaat kedua selepas Al Fatihah baca surah Al Ikhlas (diserahkan masing-masing). Selepas shalat, angkatlah kedua tangan, memohon ampun kepada Allah SWT. Menangis dengan disertai penyesalan atas dosa yang telah kita lakukan.

Shalat sunah Hajat : (niatkan masing-masing) Sengaja aku shalat sunnah hajat 2 rakaat karena Allah Taala. Selepas Al Fatihah rakaat pertama baca ayatul Kursi 1 kali (diserahkan masing-masing). Selepas Al Fatihah rakaat kedua baca surah Al Ikhlas 11 kali (diserahkan masing-masing). Ketika sujud terakhir baca 11 kali dan sertakan di dalam hati segala hajat-hajat kita.

Shalat sunnah Witir : (niatkan masing-masing) Sengaja aku shalat sunnah witir 2 rakaat karena Allah SWT. Selepas salam, bangun lagi dan sembahyang witir 1 rakaat (atau langsung bisa 3 rakaat). Perbanyaklah berdoa kepada Allah SWT dengan penuh rasa kehambaan, rendah diri, meminta kepada Allah, memohon kepada Allah, agar Allah mengampuni dosa-dosa kita, taubat kita, menerima amalan kita, memperkenankan doa dan permintaan kita.

03.50 pagi. Makan Sahur, menggosok gigi dan membersihkan sisa-sisa makanan di mulut.

04.25 pagi. Bersiap menunggu waktu Subuh dengan membaca AlQuran, berdzikir atau bershalawat. Shalat sunah Subuh, shalat Subuh berjamaah atau shalat sunah lainnya. Selesaikan wirid harian di tikar/sajadah atau baca AlQuran hingga terbit matahari.

06.00 pagi. Membuat persiapan ke tempat kerja. Melangkah ke tempat kerja dengan membaca Bismillah dan doa kepada Allah SWT agar semua aktivitas kita diberkahiNya. Sentiasa berdzikir, bershalawat kepada Rasulullah SAW di dalam hati.

Perbanyak istighfar, meminta ampun kepada Allah SWT. Melakukan pekerjaan dengan bersemangat dan penuh bertanggungjawab. Datangkan rasa bahwa Allah sentiasa memperhatikan kerja-kerja yang kita lakukan dan yakinilah bahwa Dia akan membalas segala kebaikan yang kita perbuat dan lakukan.

08.00 pagi. Shalat sunnah Dhuha. Ia adalah sumber rezeki yang berkah jika istiqamah diamalkan. Dengan niat: (niatkan masing-masing) Sengaja aku shalat sunnah dhuha 2 rakaat karena Allah Taala. Penuhi waktu dhuha itu dengan menambah ilmu atau membaca AlQuran. Jauhi dengan sungguh-sungguh dari melakukan perbuatan dosa, walaupun kecil serta perkara yang sia-sia.

Contoh perbuatan dosa, walaupun kecil : membicarakan orang lain, mengumpat, mengutuk, menyindir yang menyakitkan orang, bergaul bebas tanpa menjaga syariat seperti berkhalwat (berdua-duaan) dengan bukan muhrim mengenai perkara yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan.

11.45 siang. Bersiap-siap untuk shalat Zuhur. Menunggu waktu shalat dengan shalat sunah, berdzikir, bershalawat. Shalat dzuhur berjamaah. Laksanakan juga shalat sunnah Rawatib. Bersyukur setelah selesai melaksanakan shalat sunnah dan wirid sebagai tanda terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberi kita nikmat besar dapat menyembah dan bersujud kepadaNya.

15.00 sore. Bersiap-siap untuk shalat Ashar. Shalat Ashar berjamaah. Laksanakan juga shalat sunnah qabliyah. Bersujud syukur setelah selesai melaksanakan shalat sunnah dan wirid sebagai tanda terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat yang besar serta dapat menyembah dan bersujud kepadaNya.

17.30 petang. Membeli barang-barang untuk keperluan berbuka dan sahur, tanpa berlebih-lebihan. Ingatlah walaupun syaitan dirantai, namun nafsu masih ada dalam diri kita !!!

17.50 petang. Memperbanyakkan doa sebelum berbuka. Karena di waktu itu adalah masa yang mustajab untuk berdoa. Ingatlah sabda Rasulullah SAW : “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun yang mereka dapatkan hanya lapar dan dahaga”, bermohonlah kepada Allah SWT memohon agar amalan kita diterima.

Apabila masuk waktu Maghrib, bacalah doa dan berbuka : “Wahai Tuhan, karena Engkaulah aku berpuasa, dan kepada Engkaulah aku beriman dan dengan rezeki engkaulah aku berbuka”. Berbuka puasalah dengan makanan manis seperti buah kurma dan meminum air, terus menunaikan shalat maghrib berjamaah, setelah itu barulah makan makanan berat atau bisa ditunda ba’da shalat tarawih.

19.00 malam. Siap-siap untuk shalat isya berjamaah dan diteruskan dengan shalat tarawih hingga selesai. Coba pertahankan shalat tarawih, walau bagaimanapun keadaan, atau sekalipun karena fadhilahnya amat besar.

Bacalah AlQuran dengan penuh tawadhu, boleh dibaca dengan bertadarus (berkumpulan bergilir-gilir, seorang baca, yang lain menyimaknya), coba khatamkan membaca AlQuran paling kurang satu kali sepanjang ramadhan. Kebanyakan imam-imam besar (termasuk, Imam Syafi’i) mengkhatam AlQuran dua kali dalam sehari (60 kali sebulan Ramadhan)

22.30 malam. Memperbanyak istighfar sebelum tidur. Berniatlah untuk puasa keesokan hari dengan berniat: Sengaja aku berpuasa hari esok untuk menunaikan puasa ramadhan yang wajib ke atasku, tahun ini karena Allah SWT.

(untuk yang ini JANGAN SAMPAI LUPA loh, niat puasa Ramadhan untuk esok hari!!!). Tidur diawal agar dapat bangun untuk beribadah. Bacalah doa sebelum tidur: “Dengan namaMu Ya Allah! Aku hidup dan mati. Ingatlah tidur adalah mati yang sementara, kemungkinan kita dipanggil Allah ketika tidur". Amien Yaa Rabbal Alamin. Wallahua’lam


>> follow twitter @CepPangeran


Minggu, 07 Juli 2013

Marhaban Ya Ramadhan

Di beberapa masjid, mushalla, televisi, radio, internet, social media, blog serta berbagai mailing list, ungkapan Marhaban Ya Ramadhan memenuhi rubrik dengan berbagai ekpresi yang variatif. Seluruh umat Islam di dunia juga menyerukan “Marhaban Ya Ramadhan”.

Seluruh media, terutama televisi juga radio terlihat berlomba dengan sederet agendanya masing-masing terkait Ramadhan. Rasa gembira, khusyu, harapan, semangat dan nuansa spiritualitas lainnya terpancar dengan sarat makna untuk diekpresikan. Itulah Ramadhan, bulan yang tahun ini kita ingin memperbaiki kualitas ibadahnya, dan kini telah datang kembali.

Hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa pun marak dikaji dan dikembangkan. Ada nilai sosial, kemanusiaan, solidaritas, kebersamaan, persahabatan yang terus dicari untuk dinikmati dalam nilai-nilai ibadah Ramadhan ini.

Semuanya adalah nilai-nilai positif yang terkandung dalam puasa Ramadhan yang sudah selayaknya tidak hanya dipahami sebagai wacana yang memenuhi intelektualitas kita saja, namun menuntut implementasi dan penghayatan dalam setiap aspek kehidupan kita.

Selain itu, tentunya bagaimana kita merancang langkah-langkah strategis dalam mengisinya agar mampu memproduksi nilai-nilai positif dan hikmah yang dikandungnya. Jadi, tidak hanya berfiktir untuk menu untuk berbuka puasa dan sahur saja.

Ramadhan adalah bulan penyemangat jiwa. Bulan yang mengisi kembali baterai jiwa setiap umat muslim. Ramadhan sebagai bulan ibadah, harus dapat dimaknai dengan semangat pengamalan ibadah yang sempurna. Ramadhan sebagai bulan petunjuk, harus diimplementasikan dengan semangat dalam mengajak kepada jalan yang benar.

Ramadhan sebagai bulan kemenangan, harus dimaknai dengan memenangkan kebaikan atas segala keburukan. Ramadhan sebagai bulan ampunan, harus kita hiasi dengan meminta dan memberikan ampunan.

Dengan persiapan dan program aktifitas yang kita jalani selama bulan Ramadhan ini, insya Allah akan menghasilkan kebahagiaan. Kebahagiaan akan terasa istimewa manakala melalui perjuangan dan jerih payah.

Semakin berat dan serius usaha kita meraih nilai-nilai kabahagiaan, maka semakin terasa nikmat kebahagiaan itu kita rasakan. Itulah yang dijelaskan dalam sebuah hadist Nabi bahwa orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Tuhannya.

Inilah kebahagian ukhrawi, saat pertemuan yang hakiki dengan al-Khaliq, Allah SWT. Kebahagiaan yang merupakan puncak dari setiap kebahagiaan yang ada. Kebahagiaan yang tidak dapat digantikan dengan kenikmatan lainnya. Marhaban Ya Ramadhan, selamat datang ya Ramadhan.  ~ Cecep Y. Pramana | @CepPangeran

Marhaban Ya Ramadhan

Saudaraku…
setahun telah berlalu
untaian hari dan bulan telah kita lalui
perjalanan panjang telah kita jalani
ada suka ada duka
ada senyum dan tawa

Saudaraku…
setiap nafas yang kita hirup
setiap episode kehidupan yang kita nikmati
terkadang membuat kita terlupa akan arti hidup ini
pertengkaran, kesalahpahaman, ketidaktahuan
kebencian kadang mengaburkan arti persaudaraan diantara kita

Saudaraku…
sekian lama kita bersama dalam hari-hari indah yang penuh makna
semoga dalam perjalanan ini dapat mewarnai hari-hari kita
dengan senyuman dalam iman Ramadhan
dan kepasrahan kepada dzat yang Maha Pencipta
telah banyak pula kesalahan dan kekhilafan
yang telah kita lakukan selama ini
begitu banyak dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan

Saudaraku…
disaat ini, saat yang kita nanti nantikan
senyum Ramadhan yang begitu tentram
sepenuh hati menyadari kekurangan yang kita miliki
dan dengan tulus permohonan maaf
atas segala kesalahan dan kekurangan
semoga sahabat memaafkan kami dengan tulus dan ikhlas

Saudaraku…
selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan 1434 H
mari kita jalani bulan Ramadhan ini dengan kebersihan hati
dalam menikmati jamuan Allah yang Maha Pengasih
dan menggapai pahalaNya yang begitu luas

>> follow twitter @CepPangeran


Jumat, 05 Juli 2013

Mengapa Ramadan Harus Disambut dengan Gembira?

RAMADAN adalah penghulu para bulan. Bulan mulia dan suci, di mana Allah SWT begitu derma membagikan pahala berlipat ganda kepada siapa saja yang beramal saleh. Saat Ramadan tahun lalu berakhir, salah satu harapan yang kita dambakan adalah berjumpa dengan Ramadan tahun ini.

Alhamdulillah, setidaknya beberapa hari menjelang Ramadan 1434 H ini harapan itu terpenuhi. Kita berharap semoga Allah SWT benar-benar menyampaikan usia kita ke Ramadan, bahkan hingga Ramadan tahun-tahun berikutnya.

Sebagai tamu istimewa, Ramadan tidak akan kita sia-siakan begitu saja. Ada banyak pahala yang Allah SWT turunkan sebagai ganjaran kepada siapa saja yang melakukan kebaikan. Itu tidak akan terjadi di bulan lainnya. Pintu surga dibuka, sebaliknya pintu neraka ditutup. Artinya, peluang untuk berbuat kebajikan begitu besar.

Sudah sepantasnya kita bergembira menyambut Ramadan. Kegembiraan itu menjadi modal bagi kita untuk semangat beribadah. Ibadah apa pun yang dilakukan di Ramadan terasa ringan sementara di bulan lain sepertinya begitu berat.

Salah satu manivestasi kegembiraan dalam menyambut Ramadan adalah dengan melakukan persiapan batin, termasuk menjalin silaturahim. Mari eratkan silaturahim, perbaiki hubungan yang renggang dengan saudara.

Marilah kita sambut bulan yang penuh hikmah ini dengan semangat. Siapkan jiwa, fisik, ruhiyah, dan harta, agar Ramadan kali ini berkesan.

:: Tulisan ini dimuat di ramadan.okezone.com

>> follow twitter @CepPangeran


Senin, 01 Juli 2013

Mungkin Karena Kita Belum Siap Bertemu Ramadhan

Ramadhan adalah bulannya bulan. Bulan yang mulia, bulan yang suci, dimana kita bisa berlomba-lomba mendapatkan kebaikan di dalamnya, yaitu amal ibadah, mendapatkan ridha dari Allah SWT.

Dan ketika ibadah Ramadhan tahun lalu kita akhiri, maka salah satu harapan yang ada di dalam jiwa kita adalah keinginan untuk bisa menjumpai dan menikmati lagi dengan bulan Ramadhan pada tahun berikutnya.

Alhamdulillah, harapan itu telah terpenuhi pada hari ini, karena itu kita berharap semoga Allah SWT benar-benar menyampaikan usia kita hingga akhir Ramadhan ini, bahkan pada Ramadhan tahun-tahun yang akan datang.

Karenanya, kehadiran bulan Ramadhan tahun ini insya Allah tidak akan kita sia-siakan begitu saja. Kita tidak perlu malu atau belum siap bertemu Ramadhan. Sebagai orang yang gembira atas datangnya kembali bulan Ramadhan, maka target yang ingin kita capai adalah mendapatkan nilai-nilai keistimewaan dari bulan Ramadhan itu sendiri.

Ada banyak pahala yang Allah SWT turunkan di dalam bulan Ramadhan, salah satunya adalah Alquran. Alquran pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan. Selain itu, pintu syurga yang kita ingin sekali bisa masuk ke dalamnya dengan segala kenikmatannya dibuka pada bulan Ramadhan, sedangkan pintu neraka ditutup.

Di bulan Ramadhan ini, dosa-dosa kita dimasa lalu akan diampuni. Ini merupakan peluang yang sangat besar yang diberikan Allah SWT dan kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu.

Karena rahasia puasa merupakan sesuatu yang amat penting bagi kita semua, maka sudah sepantasnyalah jika kita harus bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang dengan penuh rasa gembira, sehingga kegembiraan kita ini akan membuat kita bisa melaksanakan ibadah Ramadhan dengan perasaan yang ringan walaupun sebenarnya ibadah Ramadhan itu berat.

Kita tidak perlu malu apalagi bersedih hati dengan kedatangan Ramadhan ini. Karenanya, kita harus tunjukkan kegembiraan kita dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Kegembiraan kita terhadap datangnya bulan Ramadhan harus kita tunjukkan dengan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan momentum setahun sekali itu sebagai momentum untuk mendidik atau mentarbiyah diri, keluarga dan masyarakat kearah pengokohan, pemantapan takwa kepada Allah SWT.

Ini adalah sesuatu yang sangat kita perlukan bagi upaya meraih keberkahan dan kebaikan bulan Ramadhan. Sekali lagi, janganlah kita sia-siakan kesempatan sekali dalam setahun ini.

Mari eratkan tali silaturahmi, perbaiki hubungan yang renggang dengan saudara-saudara kita, dan jangan memutuskan tali persaudaraan dengan seseorang di bulan yang suci ini.

Allah SWT mengambil hidayah seseorang secara berturut-turut, pastikan diri kita mendapatkan hidayah sepenuhya dan tidak kehilangan sedikitpun.

Marilah kita sambut bulan yang penuh hikmah ini dengan semangat baru. Siapkan jiwa, fisik, ruhiyah, dan harta kita agar Ramadhan kali ini berkesan dalam hidup kita. Insya Allah.

>> follow twitter @CepPangeran

Minggu, 30 Juni 2013

Jangan Ditahan Untuk Bersegera dalam Membayar Zakat

Termasuk perkara yang kebanyakan manusia jatuh terjerumus kepadanya adalah menunda-nunda perkara kebaikan. Karena merasa masih memiliki waktu luang.

Terkadang kita membiarkan waktu dan kesempatan yang ada untuk melakukan suatu kebaikan, sehingga di belakang hari datang sakit, kesibukan dan sesuatu yang lain akhirnya kita tidak mampu melaksanakan kebaikan tersebut. Oleh karena itulah para ulama memperingatkan kepada kita untuk selalu menjaga perkara ini.

Rasulullah SAW mengingatkan kita semua akan artinya bersegera berbuat kebaikan dan jangan ditunda-tunda untuk berbuat kebaikan. Dari Uqbah bin Harits r.a, ia berkata, “Saya pernah salat Ashar di belakang Nabi SAW, di Madinah Munawwarah. Setelah salam, beliau berdiri dan berjalan dengan cepat melewati bahu orang-orang, kemudian beliau masuk ke kamar salah seorang istri beliau, sehingga orang-orang terkejut melihat perilaku beliau SAW. Ketika Rasulullah SAW keluar, beliau merasakan bahwa orang-orang merasa heran atas perilakunya, lalu beliau bersabda, “Aku teringat sekeping emas yang tertinggal di rumahku. Aku tidak suka kalau ajalku tiba nanti, emas tersebut masih ada padaku sehingga menjadi penghalang bagiku ketika aku ditanya pada hari Hisab nanti. Oleh karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan.” (HR Bukhari).

Jika kita bisa bersegera untuk menunaikannya, mengapa harus ditunda-tunda? Demikian sikap Rasulullah SAW dalam berbuat kebaikan. Sehingga beliau terlihat tergesa-gesa untuk segera menunaikannya. Namun, kini kebanyakan orang justru suka menunda atau menahan-nahan kebaikan? Dan apa yang dicontohkan Rasulullah di atas patut kita renungkan. Sebab, dengan bersegera dalam kebaikan, kita juga bersegera meraih ridlo-Nya.

Harta yang dikeluarkan di jalan Allah, diganti dengan pahala yang berlipat ganda. Menundanya, kadang malah membuat kita terlena. Harta yang mestinya untuk kebaikan, bisa-bisa terseret habis untuk memenuhi keinginan konsumtif belaka. Jadi kalau ingin beruntung, bersegeralah menuju kebaikan.

Jangan menunda atau menahan-nahan sebuah pekerjaan. Demikian petuah yang sangat popular di telinga kita. Menunda pekerjaan akan banyak membawa bahaya pada pekerjaan yang akan kita lakukan. Bila menunda pekerjaan akan berdampak buruk, maka sebaliknya dengan menyegerakan pekerjaan akan membuahkan kenikmatan dan keberkahan. Menyegerakan akan memperluas pintu rizki.

Itulah alasan mengapa setiap mukmin harus mengambil kesempatan pertama untuk melaksanakan sebuah pekerjaan, seperti bersegera melaksanakan salat, bersegera istighfar, bersegera berbuka puasa, termasuk bersegera dalam berzakat dan jangan ditahan-tahan.

Allah SWT berfirman memerintahkan kepada kita untuk bersegera kepada maghfirah-Nya bersegera berbuat kebaikan dan jangan ditunda-tunda untuk berbuat kebaikan. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS Ali Imran: 133)

Bersegera, bergegas, bercepat-cepat dan jangan ditahan-tahan inilah yang seharusnya menjadi salah satu ciri pelaksanaan zakat, yaitu dengan menyegerakan pembayaran zakat pada saat memperoleh penghasilan, gaji, komisi, barang temuan dan lain sebagainya. Sebagaimana para petani yang mengeluarkan zakat pada saat panen, atau para peternak yang menunaikan kewajibannya saat memasuki haul dan hisab.

Hal itu pula yang harus dilakukan oleh profesi manapun, apakah dia seorang dokter, insinyur, atlet, pesepakbola, akuntan, direktur, manager dan lain sebagainya dengan bersegera dan jangan ditahan-tahan untuk mengeluarkan zakat, infak-sedekah saat menerima penghasilan, gaji, bonus, komisi, honor, dan lainnya. Allah SWT berfirman: “…dan tunaikanlah haknya pada waktu memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya)…”. (QS Al An’am: 141)

Karena pada hakekat membayar zakat adalah untuk membersihkan harta, karena kita semua meyakini bahwa harta yang didapatkan tidak semuanya suci. Bisa jadi masih ada harta atau hak orang lain dalam harta kita, sehingga ini menjadi kewajiban untuk membersihkan harta kita. Rasulullah SAW selalu bersegera dalam kebaikan karena hati beliau memang benar-benar yakin bahwa berzakat, infak-sedekah akan mengundang rahmatNya. Dan beliau tak mau menunda-nundanya karena khawatir akan murkaNya.

Bagi mereka yang suka menunda-nunda mengeluarkan hartanya, sebenarnya bukan keuntungan yang didapat. Justru harta yang demikian itu bisa kehilangan berkahnya. Bukannya membuat hati ini menjadi tenteram dan bahagia, justru semakin gundah gulana.

Oleh karena itu, dalam hal kebaikan, janganlah menunda atau menahan-nahan. Bersegeralah dalam menunaikan zakat, infak-sedekah. Bahkan kita diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Lihatlah orang yang lebih bersegera dari kita, agar diri termotivasi untuk lebih baik lagi. Lebih bersegera, lebih bergegas. Itulah yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dalam hal melakukan kebaikan. “Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan”. (QS Al Baqarah: 148)

Sungguh sama sekali tidak kerugian untuk bersegera dalam kebaikan, justru akan dapat banyak keuntungan. Dengan menyebar rahmatNya kepada sesama, Allah yang Maha Pemurah tak akan terlambat mengganti dan mengalirkan rahmat dan berkah-Nya pada harta kita. Wallahua’lam.

:: artikel ini pernah dimuat di Dakwatuna

>> follow twitter @CepPangeran


Kamis, 27 Juni 2013

Sambut Ramadhan, Bulan Penuh Berkah

Niat dan tekad kita sebagai individu Muslim yang berpuasa di bulan Ramadhan tahun ini harus lebih bermakna dan berbekas dalam kehidupan. Selain itu, juga memiliki kualitas yang lebih sempurna daripada puasa kita di tahun-tahun sebelumnya.

Hal ini karena puasa merupakan ibadah mahdhah yang melibatkan unsur-unsur jasmani dan rohani. Jadi, dalam menyambut puasa Ramadhan dengan baik dan maksimal, maka harus ada persiapan yang diperlukan. Persiapan itu bisa terdiri dari persiapan fisik dan spiritual.

Persiapan spiritual antara lain: pertama adanya perasaan kebahagiaan, cinta dan selalu bersyukur kepada Allah SWT karena kita layak untuk bertemu lagi dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah, maghfirah dan bebas dari api neraka.

Kedua, harus miliki kebersihan, ketulusan, dan besar hati. Artinya bahwa setiap dari kita harus siap untuk menerima perintah puasa tanpa dipaksa, dan tanpa memamerkan. Karena puasa itu hanya untuk Allah SWT. Ketiga, tidak mudah untuk mendapatkan nilai emosional, memiliki tekad diri dan kesabaran saat berpuasa, seperti menghindari dari segala sesuatu yang dapat mengurangi manfaat puasa.

Keempat, perbanyak meminta maaf dan memaafkan kesalahan orang lain. Bahkan sebelum mereka meminta maaf, kita telah memaafkannya. Kelima, selalu berdoa kepada Allah SWT sambil berharap dan bermohon kepada-Nya agar kita diberikan kekuatan dalam iman, diberikan umur panjang, kesehatan dan kekayaan, serta selalu bertaubat kepada Allah SWT.

Setelah itu, diikuti oleh persiapan fisik. Pertama, tidak memakan makanan secara berlebihan, karena hal itu akan membuat kita malas untuk melakukan kegiatan ibadah dan lainnya, seperti melakukan tarawih di masjid atau membaca Alquran, dan lainnya.

Kedua, tidak tidur di pagi hari, di sore hari atau tidur hingga larut malam. Karena hal itu akan mengakibatkan tubuh kita menjadi lemah, menyebabkan sakit kepala, dan lainnya. Ketiga, bersiap-siap untuk memanfaatkan Ramadan dengan perbuatan baik, sebagai usaha untuk membuat kita lebih dekat kepada Allah SWT dan berharap rahmat-Nya.

Karenanya, kita harus selalu mempersiapkan diri dari segala sesuatu yang dapat mengurangi nilai manfaat puasa, seperti menghindari pandangan dari setiap hal yang dilarang Allah SWT. Selain itu, kita juga harus menjaga mulut kita dari kata-kata buruk seperti berbohong, gosip, membuat janji palsu, mengadu domba, dan lainnya yang dapat menyebabkan dosa.

Selanjutnya, menjaga telinga kita dari kata-kata yang dilarang oleh Allah SWT dan menjaga tubuh kita dari segala dosa dan perbuatan buruk. Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi mereka tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali hanya lapar dan dahaga” (HR An Nasai dan Ibnu Majah).

Mari kita bulatkan tekad dan niat diri kita untuk lebih tulus ikhlas dan sungguh-sungguh dalam ibadah Ramadhan tahun ini. Kembalinya Ramadhan memberikan apresiasi dan optimisme bagi setiap pribadi Muslim, karena hal itu akan membawa kita pada kenyamanan fisik dan spiritual dalam kehidupan. Wallahua’lam.

>> follow twitter @CepPangeran