Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label Potret Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Potret Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Mei 2012

Video Wanita Memukuli Bayi Umur 1 Tahun Dengan Sadis

gambar video wanita memukuli bayi
Video Wanita Memukuli Bayi - Di youtube disini : http://www.youtube.com/watch?v=KtB4LPGuUsQ sebuah video yang sekarang bikin heboh, terlihat disitu seorang wanita sedang memukuli bayi berusia ssekitar 1 tahun. Video wanita sadis memukuli bayi ini saat ini ramai diperbincangkan di dunia twitter, dan kebanyakan merasa prihatin dan miris menyaksikan adegan tersebut. Yang mana sebenarnya kejadian itu sudah terjadi sejak tahun lalu dan pelakuknya yang ternyata si Ibu dari bayi tersebut sekarang telah dihukum 18 bulan penjara oleh kepolisian Malaysia, ya wanita dan bayinya itu adalah orang Malaysia. Hal ini diketahui dari laman Facebook Polis Diraja Malaysia (Royal Malaysia Police). Kepolisian Diraja Malaysia rupanya menerima banyak keluhan dari warga mengenai video itu. Dan Kepolisian Malaysia memasang status atas kasus yang berkaitan dengan video itu pada Rabu (9/5/2012) sekitar 45 menit lalu, saat ditengok detikcom pukul 16.20 WIB.

Baik si wanita yang memukuli bayi maupun yang merekam video itu sama aja gilanya, yang merekam video tersebut mestinya mencegah atau melerai si wanita sadis tersebut...

Dalam video tak berjudul berdurasi 4 menit 19 detik itu, si perempuan terus memukuli bayi itu, kendati bayi itu sudah menangis kencang. Tak hanya dengan bantal, perempuan itu juga terlihat memukuli bayi dengan tangannya, di bagian kepala, muka dan kaki. Plak! Plak!

Bayi itu tengkurap, memakai celana dan baju cokelat, terlihat pampers menyembul dari bagian celananya. Sementara perempuan itu, bertampang Melayu, rambut awut-awutan dikuncir kuda menggunakan jepit, berkemeja lengan panjang motif garis-garis cokelat-hijau, dan bawahan hitam. Wajahnya hanya terlihat dari samping.

Perempuan itu memukuli sang bayi bak petinju yang memukulisand sack, bertubi-tubi. Tampak dia geram, dan meluapkan emosinya yang entah disebabkan oleh apa.

Bayi itu terus meraung-raung, merayap-rayap di atas kasur yang bersprei merah muda. Saat tangisan sudah reda, perempuan itu seakan tak rela. Memukul, entah muka, kepala, tangan atau kakinya hingga bayi itu menangis kembali. Perempuan itu juga mencubit muka, pantat, dan lengan.

Selama perempuan itu memukuli sang bayi, tampak bocah laki-laki berusia sekitar 4-5 tahun memakai celana dan kaos putih sambil memegang bungkus makanan ringan, serta bocah perempuan berusia sekitar 6-7 tahun memakai rok merah muda. Kedua bocah itu berdiri, melihat di pinggir kasur. Ada juga perekam video.
Sumber: news.detik.com

Semoga pemandangan memilukan itu bisa menjadi inspirasi positif yang bisa lebih menyadarkan para ibu yang suka kesal kepada anaknya, jangan cuma amu enaknya aja ketika ah...uh...memproduksi anak.... Ingatlah , perbuatan seperti itu dilaknat dunia akhirat dan akan membuahkan penyesalan tak terkira pada akhirnya.

Rabu, 27 Oktober 2010

Mbah Maridjan Meninggal Dunia

foto mbah marijanKabar bahwa Mbah Maridjan meninggal dunia akibat gunung merapi meletus itu tentu sudah banyak yang dengar, Awalnya berita itu karena awalnya ditemukan sosok mayat orang tua mengenakan pakaian batik yang meninggal dalam posisi sujud dan di duga itu adalah Mbah Marijan ,

Sempat ada kabar bahwa tidak jauh dari rumahnya di Dusun Kinahrejo Kabupaten Sleman,Yogyakarta, sang juru kunci Gunung Merapi itu dikabarkan telah ditemukan selamat. Namun dalam kondisi lemas akibat terpapar luncuran awan panas atau yang dikenal warga wedhus gembel. Sementara belasan orang lainnya meninggal dunia dengan luka bakar di sekujur tubuh di dalam rumah Mbah Maridjan dan sekitar halaman rumah.

Dalam akun Twitter RadioElshinta yang diposting sekira pukul 02.20 WIB, Rabu (27/10/2010) ditulis, "Agus Wiyarto krabat Mbah Marijan: Tidak benar informasi Mbah Marijan ditemukan di lereng Merapi dgn kondisi lemas, slamat oleh relawan TNI."

Sebelumnya, dalam sejumlah pemberitaan media massa dilaporkan Mbah Marijan ditemukan dalam keadaan selamat dengan kondisi lemas. Komandan Pangkalan TNI AL Yogyakarta Kolonel Laut Aloysius Pramono menyebutkan juru kunci Gunung Merapi itu ditemukan dalam kondisi selamat oleh salah seorang anggota tim SAR.

Kepada okezone, Direktur Dompet Dhuafa Yogyakarta M Fauzi, yang mendapat inforamasi dari tim evakuasi, mengabarkan juru kunci Merapi ini selamat. Namun kondisinya lemas akibat terpapar awan panas. "Ditemukan lemas, tapi saya sendiri belum bertemu langsung," ujarnya.

Mengenai korban, tercatat 15 orang tewas. Terdiri dari 13 warga setempat dan dua orang yang telah teridentifikasi dr.Tutur, anggota TNI dan wartawan Vivanews Yuniawan. "Rata-rata korban luka bakar,"

Sosok Mbah Marijan, dibalik kesederhanaanya adalah tokoh yang menebarkan inspirasi dan motivasi kepada banyak orang, berikut sebuah kiriman email yang menceritakan tentang sosok beliau, yang awalnya si pengirim email juga beranggapan bahwa Mbah Maridjan telah meninggal dunia

Sebuah kiriman email
Mbah Maridjan

Siang itu saya tak terlalu antusias ketika seorang kawan mempersilahkan naik mobil menuju Gunung Merapi. Kejenuhan segera merambati hati. Setelah menderu-deru mendaki gunung, mobil yang saya tumpangi akhirnya berhenti di pelataran luas yang menampung beberapa rumah, pendopo dan masjid.

Saya menguntit rombongan menuju rumah yang terbuat dari kayu itu. Usai mengucapkan salam dan menyalami Mbah Maridjan, hati saya mendadak berbunga-bunga. Senyumnya yang ramah mendarat tepat di jantung. Spontan suasana hati saya riang gembira.

Tangannya yang kasar langsung menunjukkan bahwa dia adalah pemimpin yang mengisi hidupnya dengan kerja keras. Ada kesan kuat bahwa dia telah hidup dalam kerja keras dan keprihatinan panjang. Meski sudah berusia 83 tahun, badannya tetap tegap dengan dua kaki mantap yang menunjangnya.

Inilah sosok yang telah lama saya rindukan. Inilah pemimpin yang tanpa hingar-bingar memanifestasikan apa yang disebut dengan “kearifan lokal”. Tak berlebihan bila saya katakan bahwa Mbah Maridjan yang tinggal di lereng gunung itu telah menyadarkan saya tentang fakta yang selama ini kurang saya hayati. Bahwa budaya dan lingkungan tak menghalangi seseorang untuk menjadi pemimpin besar.

Lama saya menduga bahwa pemimpin itu harus berasal dari latar belakang tertentu. Tapi, semua dugaan itu spontan hilang ditelan oleh kehadiran Mbah Maridjan. Kini, saya sepenuhnya yakin bahwa pemimpin itu bisa berasal dari golongan dan latar belakang mana saja. Dan bahwa kemuliaan seorang pemimpin itu berasal dari akhlak dan kepribadiannya, bukan dari keturunan dan penampilan luarnya.

Sejauh yang dapat saya pahami, dengan segala kesederhanaannya, Mbah Maridjan telah menjelmakan sejumlah sifat pemimpin ideal: keberanian yang tidak mengandung kebencian; ketegasan yang tidak bercampur amarah; kerendahan hati yang bukan dari kepengecutan; keramahan yang tidak menjilat; kehati-hatian yang sejalan dengan akal sehat dan sebagainya.

Menurut saya, Mbah Maridjan telah melalui proses panjang menundukkan nafsu dengan membersihkan batinnya. Kenikmatan duniawi dan kekuasaan tak lagi mengganggunya, apalagi mencemarinya. Dan seperti layaknya manusia-manusia yang dekat dengan Allah, mudah saja baginya untuk menundukkan gunung sebesar Merapi dan meyakinkan warga yang dipimpinnya bahwa bencana tak bakal menimpa mereka.

Mbah Maridjan agaknya telah berupaya keras mengikuti jejak tokoh panutannya, Semar Badranaya, yang gambarnya terpampang di ruang tamunya. Mirip dengan Semar, Mbah Maridjan mencoba menjadi sarana manusia untuk kembali mendekatkan diri pada Allah. Banyak ucapannya yang mengaitkan bencana alam, terutama meletusnya Gunung Merapi, dengan peringatan Allah terhadap perilaku manusia.

Salah satu sikap Mbah Maridjan yang paling mengesankan saya ialah keinginan kuatnya untuk selalu tawaduk dan sadar akan batas-batas dirinya. Sifat ini terasa sekali dalam semua tutur kata dan tingkah lakunya. Jelas bahwa dia telah lama berupaya menjauhkan dirinya dari sifat sombong, tak tahu diri, dan melampaui batas yang dewasa ini sudah menjangkiti sebagian besar pemimpin kita.

Saat beberapa wartawan mencoba mengambil fotonya, dia berseloroh bahwa orang jelek sepertinya tak pantas difoto. Sambil menunjuk ke arah karikatur yang terpajang di atas lemari ruang tamunya, Mbah Maridjan menyatakan bahwa foto itu sering kali membuatnya semakin jelek, “mirip dengan gambar yang di sana itu.” Dia senantiasa berbicara dalam bahasa Jawa, lantaran menurutnya sendiri dia adalah orang kecil yang tak layak berbicara dalam bahasa Negara (baca: bahasa Indonesia).

Ada pengendalian yang kuat dalam dirinya untuk tidak terjebak oleh kenikmatan duniawi. Semua pendapatannya sebagai bintang iklan produk jamu langsung dia salurkan untuk perbaikan sarana dan prasarana umum. Sikap yang sama dia ulang kembali saat seorang perwakilan rombongan menyerahkan bantuan uang. Setelah berterima kasih, Mbah Maridjan sama sekali tidak memedulikan uang tersebut. Bahkan, begitu azan Magrib berkumandang, bungkusan berisi uang itu dia biarkan tergeletak di meja ruang tamu yang saat itu penuh sesak dengan orang.

Ada banyak hikmah yang dapat saya petik dari pertemuan dengan Mbah Maridjan. Tapi, satu hikmah yang segera menghunjam saya ialah fakta bahwa Allah niscaya meninggikan derajat siapa saja yang merendahkan dirinya. Ini janji yang pasti terjadi. Bagaimana tidak. Hampir semua tokoh nasional, mulai presiden sampai artis terkenal, plus sejumlah besar duta besar negara-negara Barat sudi berzigzag mendaki gunung guna mengunjunginya dan meminta nasihatnya. Duta Besar Jerman malah pernah menyampaikan undangan Walikota Munich kepada Mbah Maridjan untuk berkunjung. Tentu saja undangan itu ditolak Sang Mbah. Semua orang itu rupanya datang untuk mencari satu barang yang akhir-akhir ini semakin langka: perikemanusiaan. Dan sepertinya, mirip dengan yang saya alami sore hari itu, para pengunung bisa menemukannya pada Mbah Maridjan.

Akhirnya, jelas bahwa saya dan juga Mbah Maridjan tak ingin ada kultus terhadap individu. Tapi, saya ingin mengajak kita untuk melakukan kultus pada nilai2 kemanusiaan yang belakangan semakin senyap dari jiwa kita.

Sebuah email dari seoramg teman . . . . .

Selamat jalan mbah. Kepergianmu mengajarkan seni bertauladan kepada para pemimpin negeri ini. Mengajarkan tentang makna tanggungjawab dan makna kemanusiaan. Dan begitulah pemimpin seharusnya, bukan colong playu. . . .

Pun, kebergianmu adalah jalan kematian ala kekasih Tuhan. Kebergianmu mengajarkan kepada mereka yang menololkan jalan yang kau tempuh. . . .


Referensi:
okezone
Indonesia

Kamis, 23 September 2010

Kalian manusia apa binatang

Bukan hal baru fenomena rebutan zakat makan korban, rebutan antrian BLT makan korban, atau rebutan daging qurban makan korban, yaitu suatu acara mulia penuh citra yang dilakukan para dermawan dengan mengumpulkan ratusan/ribuan orang dilapangan dan lalu ratusan/ribuan orang itupun berebut bagian hingga ada yang pingsan bahkan meninggal dunia. Mirip seperti seseorang yang memberi makan binatang-binatang peliharaanya yang kelaparan .

Sebuah potret kehidupan lagi, masih seputar acara mulia penuh citra itu, Tadi siang seperti yang diberitakan MetroTV, Sejumlah pelajar pingsan akibat berebut telur, susu, dan madu gratis di Lapangan Karebosi Makassar . Seperti inikah implementasi dari program Kemendiknas yang bernama Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS) itu?

Moral
Menurut teori, moral merupakan bentuk ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh yang berisi nilai-nilai positif dalam kerangka bersosialisasi supaya manusia saling menghormati dan menghargai, dan moral merupakan sifat dasar yang diajarkan di setiap sekolah atau institusi pendidikan lainnya, dan dalam event bagi-bagi makanan itu dimana letak menghargai dan menghormatinya ? dan lalu apakah acara membagi-bagikan makanan atau uang dengan gaya binatang seperti tersebut diatas bisa dikategorikan bermoral atau beradab?

Jika kalian manusia, apakah tidak bisa memikirkan cara yang lebih manusiawi dan beradab dari mengumpulkan manusia dilapangan untuk membagi-bagikan makanan?

Jika kalian manusia , mengapa mau dikumpulkan dilapangan seperti binatang?


Kutipan dari Metrotvnews.com ,
Makassar - Sejumlah pelajar pingsan akibat berebut telur, susu, dan madu gratis di Lapangan Karebosi Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (23/9). Mereka tumbang berdesak-desakan dalam kerumunan 20 ribu pelajar bersama orang tua.

Puluhan ribu pelajar berasal dari SD dan SMP di Makassar. Mereka memadati Lapangan Karebosi Makassar sejak pagi. Tujuannya, ikut serta dalam Program Anak Makassar Sehat dan Cerdas. Semestinya didampingi orang tua, siswa diberikan telur, madu, dan susu gratis.

Ketika Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin mencanangkan program, sejumlah anak mulai terlibat saling dorong. Mereka berebut susu gratis dari panitia. Seketika anak-anak pingsan, sejumlah orang tua justru menyerbu panitia. Alhasil, tak sedikit siswa tumbang.

Rabu, 28 Juli 2010

Kisah tragis pemulung dan mayat anaknya

Sepertinya manusia tak pernah menciptakan Bumi ini dengan tangannya, lalu mengapa manusia menjadi begitu pelit sekali, sampai tak ada yang mau merelakan sedikit tanah untuk mengubur mayat seorang anak miskin ini.

Kisah nyata berikut benar-benar fenomena yang sangat keterlaluan...........

Salemba, Warta Kota - Pejabat Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger

Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari”. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karen atidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia”, ujarnya.

Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah. Sumber :www.kaskus.us