Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label Kenalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenalan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Agustus 2013

Akhirnya Nongol di Twitter

twitter-kiralmoerad

Salam alaikum sobat Ruang, Akhirnya Nongol di Twitter? sebenarnya dulu sudah pernah nyoba bikin twitter, tapi karna lebih asyik nongkrong di facebook dan google+ akhirnya jejaring sosial yang satu ini jadi terbengkalai, dan terakhir lupa password sama username untuk login, ya sudahlah.

Entah apa yang memotivasi, akhirnya disebuah pagi ingin rasanya melebarkan tali pertemenan ke dunia Twitter yang katanya memiliki iklim lebih gimana gitu (but i dont care) so this is it, @KiralMoerad jika tidak keberatan atau sedikit terasa ringan, silahkan di follow, and be sure i'll be there on your follower list soon (sok english)




Salam kenal, dan salam persahabatan, selalu ada rasa yang beda jika ada teman berbagi dan memberi.
Wassalamualaikum

Jumat, 17 Mei 2013

SIAPA SYEIKH IBNU ATHA'ILLAH AS-SAKANDARI?

Ibnu-Athaillah-as-sakandari
SIAPA SYEIKH IBNU ATHA'ILLAH AS-SAKANDARI?>>Pada kesempatan ini, saya akan share biografi seorang Ulama terkenal yakni SYEIKH IBNU ATHA'ILLAH AS-SAKANDARI. Awalnya saya mendengar nama beliau adalah karna banyaknya kitab-kitab ulama yang menyertakan petikan-petikan mutiara hikmah yang pernah disampaikan oleh SYEIKH IBNU ATHA'ILLAH AS-SAKANDARI, dan temen-temen yang sering mengutip nasihat nasihat beliau. Setelah semakin penasaran, saya akhirnya mencari referensi tentang Beliau, dan alhamdulillah dapatlah saya membaca kitab yang sangat terkenal karangan beliau yakni Al-Hikam. Berikut adalah biografi SYEIKH IBNU ATHA'ILLAH AS-SAKANDARI.

Sebelumnya saya pernah share beberapa nasihat dan petuah dari SYEIKH IBNU ATHA'ILLAH AS-SAKANDARI di blog POJOK MOTIVASI ini, diataranya adalah NASIHAT IBNU ATHA'ILLAH TENTANG TOBAT dan RAHMAT dan ADAB BERDOA 

Syeikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari (w. 1309 M) hidup di Mesir di masa kekuasaan Dinasti Mameluk. Ia lahir di kota Alexandria (Iskandariyah), lalu pindah ke Kairo. Julukan Al-Iskandari atau As-Sakandari merujuk kota kelahirannya itu. Di kota inilah ia menghabiskan hidupnya dengan mengajar fikih mazhab Imam Maliki di berbagai lembaga intelektual, antara lain Masjid Al-Azhar. Di waktu yang sama dia juga dikenal luas dibidang tasawuf sebagai seorang “master” (syeikh) besar ketiga di lingkungan tarekat sufi Syadziliyah ini.

Sejak kecil, Ibnu Atha’illah dikenal gemar belajar. Ia menimba ilmu dari beberapa syekh secara bertahap. Gurunya yang paling dekat adalah Abu Al-Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri tarikat Al-Syadzili. Dalam bidang fiqih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki, sedangkan di bidang tasawuf ia termasuk pengikut sekaligus tokoh tarikat Al-Syadzili.

tergolong ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 karya yang pernah dihasilkannya. Meliputi bidang tasawuf, tafsir, aqidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya itu yang paling terkenal adalah kitab al-Hikam. Buku ini disebut-sebut sebagai magnum opusnya. Kitab itu sudah beberapa kali disyarah. Antara lain oleh Muhammad bin Ibrahim ibn Ibad ar Rundi, Syaikh Ahmad Zarruq, dan Ahmad ibn Ajiba.

Beberapa kitab lainnya yang ditulis adalah Al-Tanwir fi Isqath al-Tadbir, ‘Unwan at-Taufiq fi’dab al-Thariq, miftah al-Falah dan al-Qaul al-Mujarrad fil al-Ism al-Mufrad. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap Syaikhul Islam ibn Taimiyyah mengenai persoalan tauhid. Kedua ulama besar itu memang hidup dalam satu zaman, dan kabarnya beberapa kali terlibat dalam dialog yang berkualitas tinggi dan sangat santun. Ibn Taimiyyah adalah sosok ulama yang tidak menyukai praktek sufisme. Sementara ibn ‘Athaillah dan para pengikutnya melihat tidak semua jalan sufisme itu salah. Karena mereka juga ketat dalam urusan syari’at.

Ibn ‘Athaillah dikenal sebagai sosok yang dikagumi dan bersih. Ia menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat.

Ia dikenal sebagai master atau syaikh ketiga dalam lingkungan tarikat Syadzili setelah yang pendirinya Abu al Hasan Asy Syadzili dan penerusnya, Abu Al Abbas Al Mursi. Dan Ibn ‘Athillah inilah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khazanah tarikat syadziliah tetap terpelihara.

Meski ia tokoh kunci di sebuah tarikat, bukan berarti aktifitas dan pengaruh intelektualismenya hanya terbatas di tarekat saja. Buku-buku ibn Athaillah dibaca luas oleh kaum muslimin dari berbagai kelompok, bersifat lintas mazhab dan tarikat, terutama kitab Al Hikam yang melegenda ini.

Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atho’ al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya’rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa’ribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.

Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili -pendiri Thariqah al-Syadziliyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Atho’ dalam kitabnya “Lathoiful Minan “ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: “Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.

Keluarga Ibnu Atho’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atho’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa Arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ Sholihin

Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjt sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya.

Ibnu Atho’ menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho’ yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”,

... dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ” Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”. Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”.

Pada akhirnya Ibn Atho’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi tiga masa:

  1. Masa pertama
    Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau". Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya".

  2. Masa kedua
    Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama’ tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini. Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya :

    “"Aakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.

    Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara'. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku".

    Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.

    Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan :

    "Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan : "Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’.

    Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : "Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?". Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : "Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga". Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: "Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka".

    Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah".

  3. Masa ketiga
    Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho’ dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atho’illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT.

    Menurut Ibnu Atho’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya. Ibnu Atho’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.

    Ibnu Hajar berkata:

    "Ibnu Atho’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan".

    Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi :

    "Ibnu Atho’illah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah".

    Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab "Tobaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro".
     
~Karya~
Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atho’ meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah.
Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama Hikam, yang telah diberikan komentar oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan yang juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.

Beberapa kitab lainnya yang ditulis adalah Al-Tanwir fi Isqath Al-Tadbir, Unwan At-Taufiq fi’dab Al-Thariq, Miftah Al-Falah dan Al-Qaul Al-Mujarrad fil Al-Ism Al-Mufrad. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap Syekhul Islam ibnu Taimiyyah mengenai persoalan tauhid.

Kedua ulama besar itu memang hidup dalam satu zaman, dan kabarnya beberapa kali terlibat dalam dialog yang berkualitas tinggi dan sangat santun. Ibnu Taimiyyah adalah sosok ulama yang tidak menyukai praktek sufisme. Sementara Ibnu Atha'illah dan para pengikutnya melihat tidak semua jalan sufisme itu salah. Karena mereka juga ketat dalam urusan syari’at.

Ibnu Atha'illah dikenal sebagai sosok yang dikagumi dan bersih. Ia menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat.

~Karomah Ibn Athoillah~
Al-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: “Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka”. Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atho’illah ketika meninggal kelak.

Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketiak mendengar teman-temannya menjawab “Tidak".

Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : “Siapa saja yang kamu temui ?" lalu si murid menjawab : “Tuanku… saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya".

~Wafat~

Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar SYEIKH IBNU ATHA'ILLAH AS-SAKANDARI yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.

Minggu, 30 Desember 2012

Siapakah Imam Al-Ghazali?

Imam-Al-Ghazali

Ada yang belum kenal Siapa Imam Al-Ghazali? Kebangetan Hep, kalau engkau belum kenal dan saya yakin kita juga pernah mendengar Nasihat-nasihat beliau yang banyak diangkat dalam kajian-kajian oleh para Ulama dan tuan guru kita.

Untuk lebih mengenal lagi siapakah Imam Al-Ghazali? berikut adalah sejarah Ringkas beliau.

Nama lengkapnya ialah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad, Imam Besar Abu Hamid Al Ghazali Hujjatul Islam. Dilahirkan di Tunsia, suatu kota di Khurasan dalam tahun 450 Hijrah (1058M). Ayahnya berkerja membuat pakaian dari bulu (wol) dan menjualnya di pasar Thusia.

Sebelum meninggal ayah Al Ghazali meninggalkan kata pada seorang ahli tasawuf iaitu temannya juga, supaya mengasuh dan mendidik Al Ghazali dan adiknya Ahmad. Setelah meninggal ayahnya, maka hiduplah Al Ghazali dibawah asuhan ahli tasawuf itu.

Harta pusaka yang diterimanya adalah sedikit sekali. Ayahnya seorang miskin yang jujur, hidup atas usaha sendiri bertenun kain bulu. Di samping itu selalu mengunjungi rumah alim ulama, memetik ilmu pengetahuan, berbuat jasa dan memberi bantuan kepada mereka. Apabila mendengar huraian alim ulama itu maka ayah al Ghazali menangis tersedu-sedu seraya bermohon kepada Allah SWT kiranya dia dianugerahkan seorang putera yang pandai dan berilmu.

Pada masa kecilnya Al Ghazali mempelajari ilmu feqah dinegerinya sendiri dengan Syeikh Ahmad bin Muhammad Ar Razikani. Kemudian pergi ke negeri Jurjan dan belajar pada Imam Abi Nasar Al Ismail. Setelah mempelajari beberapa ilmu dinegeri tersebut, berangkatlah Al Ghazali ke negeri Nisapur dan belajar pada Imam Al Haramain. Disana mulalah Al Ghazali memperlihatkan tanda-tanda ketajaman otaknya yang luar biasa dan dapat menguasai beberapa ilmu pengetahuan pokok pada masa itu seperti ilmu mantic(logika) falsafah, dan fiqh madzhab Syafie. Imam Al Haramain amat berbesar hati dan selalu mengatakan “Al Ghazali itu lautan tak bertepi…..”

Setelah wafat Imam Haramain, lalu Al Ghazali berangkat ke Al Askar mengunjungi Menteri Nizamul Muluk dari pemerintahan dinasti Saljuk. Ia disambut dengan kehormatan sebagai seorang ulama besar. Kemudian dipertemukan dengan alim ulama dan pemuka-pemuka ilmu pengetahuan. Semuanya mengakui akan ketinggian dan keahlian Al Ghazali. Menteri Nizamul Muluk melantik Al Ghazali pada tahun 484 H menjadi guru besar pada Perguruan Tinggi Nizamiah yang didirikan di kota Baghdad. Empat tahun lama Al Ghazali mengajar di perguruan tersebut dengan cukup mendapat perhatian dari para pelajar, dari dekat dan jauh, sampai datang kepadanya suatu masa, dimana dia menjauhkan diri dari masyarakat ramai. Maka pada tahun 488 H, Al Ghazali pergi ke Mekah menunaikan rukun Islam yang kelima. Setelah selesai mengerjakan Haji, ia terus ke Negeri Syam(Syria), mengunjungi Baitul Maqdis. Kemudian ke Damaskus dan terus menetap beribadah di Masjid Al Umawi di kota tersebut pada satu sudut yang terkenal sampai sekarang dengan nama “ Al Ghazaliyah” , diambil dari nama mulia itu. Pada masa itulah Al Ghazali mengarang kitab IHYA ULUMUDDIN. Keadaan hidup dan kehidupannya pada saat itu amat sederhana, dengan berpakaian kain kasar, menyedikitkan makan dan minum, mengunjungi masjid-masjid dan desa, melatih diri berbanyak ibadah dan menempuh jalan yang membawanya kepada kerelaan Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian dia kembali ke Baghdad, mengadakan majlis pengajaran dan menerangkan isi dan maksud dari kitabnya, Ihya Ulumuddin. Tidak lama selepas itu beliau berangkat pula ke Nisapur dan mengajar sebentar di Perguruan Nizamiyah Nisapur. Akhirnya kembali ia ke kampung asalnya Thusia. Maka didirikannya disamping rumahnya sebuah madrasah untuk ulama-ulama feqah dan sebuah pondok untuk kaum sufi (ahli Tasawuf). Dibagikan waktunya antara membaca Al Quran, mengadakan pertemuan dengan kaum sufi, memberi pelajaran kepada penuntut-penuntut ilmuyang ingin menyauk dari lautan ilmunya, mendirikan solat, dan lain-lain ibadah. Cara hidup yang demikian diteruskan sampai akhir hayatnya. Dengan mendapat husnul khatimah Al Ghazali meninggal dunia pada hari Isnin tanggal 14 Jumadil akhir tahun 505 H (1111M) di Thusia.

Jenazahnya dikebumikan di makam Ath Thabiran, berdekatan dengan makam Al Firdausi, seorang ahli syair yang termasyhur. Sebelum meninggal Al Ghazali pernah mengucapkan kata-kata yang diucapkan pula kemudian oleh Farancis Bacon seorang filosofi Inggeris iaitu: “ Ku letakkan arwahku dihadapan Allah dan tanamkanlah jasadku dilipat bumi yang sunyi sepi. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir ummat manusia di masa hadapan”

Ia meninggalkan pusaka yang tidak dapat dilupakan oleh ummat Muslimin khususnya dan dunia umumnya dengan karangan-karangan yang berjumlah hamper 100 buah banyaknya. Diantaranya kitab Ihya yang teriri daripada empat jilid besar. Kitab Ihya amatlah terkenal dirata-rata dunia. Di Eropah ia mendapat perhatian besar sekali dan telah dialih bahasa ke dalam beberapa bahasa moden. Dalam dunia Kristian telah lahir pula kemudian Thomas a Kempis (1379-1471 M) yang mendekati dengan peribadi Al Ghazali dalam dunia Islam berhubung dengan karangannya “De Imitation Christi” yang sifatnya mendekati IHYA, tetapi dipandang dari pendidikan Kritian.

Diantara karangannya yang banyak itu, terdapat dua buah yang kurang dikenali dinegara kita, akan tetapi sangat terkenal didunia Barat. Malah menyebabkan pecah perang pena antara ahli falsafah iaitu kitab “Maqashidul falasifah” (Ahli-ahli falsafah) dan “Tahafutul falasifah”(Kesesatan ahli-ahli falsafah).

Kitab yang pertama berisi ringkasan dari bermacam-macam ilmu falsafah dan mantic, metafizika, dan fizika. Kitab ini sudah diterjemahkan oleh Dominicus Gundisalvus ke bahasa Latin di akhir abad ke 12 M

Anda juga bisa melihat biografi lengkap 

Kitab yang kedua memberi kritikan yang tajam atas system falsafah yang telah diterangkan satu persatu dalam kitab yang pertama tadi. Al Ghazali sendiri menerangkan dalam kitab yang kedua itu, bahawa maksudnya menulis kitab yang pertama tadi adalah mengumpul dahulu bahan-bahan untuk para pembaca, dan yang kemudiannya akan dikritiknya satu persatu dalam kitab yang kedua.

Beberapa puluh tahun kemudia lahirlah di Andalusia (Sepanyol) Ibnu Rusyd, digelarkan Filosof Cordova(1126-1198). Dia membantah akan pendirian Al Ghazali dalam hal falsafah itu dengan mengarang sebuah kitab yang dinamainya “Tahafutu-tahafutil falasifah”(Kesesatan buku Tahafutul falasifah Al Ghazali)

Dalam buku ini Ibnu Rusyd telah menjelaskan kesalahan pahaman Al Ghazali tentang pergertian apa yang dinamakan falsafah dan beberapa salah fahamnya tentang pokok-pokok pelajaran falsafah.

Demikianlah telah beredar dua buah buku dalam dunia Islam, yang satu menyerang dan menghancurkan falsafah dan yang satu lagi mempertahankan falsafah itu. Keduanya bertempur secara aktif dalam dunia fikiran umat Islam dan menantikan waktunya masing-masing, siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah.

Disamping kemasyhuran dan keagungan yang dipunyai Al Ghazali, dilontarkannya kitab Tahafutul falasifah ketengah-tengah umat manusia dengan gaya bahasa yang hidup bergelora. Sehingga karangan Ibnu Rusyd menjadi lumpuh menghadapi kekayaan bahasa Al Ghazali. Maka pada akhirnya dalam peperangan alam fikiran ini, Al Ghazali tampil ke tengah gelanggang pemenang.

Sebagai filosofi, Al Ghazali mengikut aliran falsafah yang boleh dinamakan “madzhab hissiyat” iaitu dapat dikira-kira sama erti dengan mazhab perasaan .Sebagaimana filosof Inggeris David Hume (1711-1776) yang mengemukakan bahawa perasaan menentang aliran rasionalisme, yakni satu aliran falsafah yang timbul di abad ke 18 M, yang semata-mata berdasar kepada pemeriksaan panca indera dan akal manusia.

Al Ghazali telah mengemukakan pendapat yang demikian, selama 700 tahun terlebih dahulu dari David Hume. Ia mengakui bahawa perasaan itu boleh keliru juga akan tetapi akal manusia juga tidak terpelihara dari kekeliruan dan kesesatan. Dan tidak dapat mencapai kebenaran sesempurnanya dengan sendiri sahaja. Dan tidak mungkin dapat dibiarkan bergerak dengan semahu-mahunya sahaja. Lalu akhirnya Al Ghazali kembali kepada apa yang dinamakannya “dlaruriat” atau aksioma sebagai hakim dari akal dan perasaan dan kepada hidayah yang datang dari Allah SWT.

Al Ghazali tidak kurang mengupas falsafah Socrates, Aristoteles dan memperbincangkan pelbagai masalah yang sulit-sulit dengan cara yang halus dan tajam. Tidak kurang juga ia membentangkan ilmu mantic dan menyusun ilmu kalam yang tahan uji disbandingkan dengan karangan-karangan filosof yang lain. Semua ini menunjukkan ketajaman otaknya. Disamping itu tidak enggan dia berkata dengan kerendahan hatinya serta khusyuk akan kata-kata “wallahhu a’lam” artinya “Allah yang Maha Tahu”

Dalam zaman Al Ghazali, masih berkobar pertentangan antara ahli tasawuf dan ahli feqah. Maka salah satu dari usaha Al Ghazali ialah merapatkan kedua golongan yang bertentangan itu. Baik semasa hidupnya atau sesudah wafatnya, Al Ghazali mendapat teman sealiran dan sefahaman, disamping lawan yang menentang akan pendiriannya. Yang tidak sefahaman, diantaranya Ibnu Rusyd, Ibnu Thaimiyah, Ibnu Qayyim dan lain-lain ahli feqah. Didunia barat Al Ghazalimendapat perhatian besar, mendapat penghargaan dari para filosofi. Diantaranya Renan, Cassanova, Carra de Vaux dan lain-lain.

Seorang ahli ketimuran Inggeris bernama Dr. Zwemmer pernah memasukkan Al Ghazali menjadi salah seorang dari empat orang pilihan pihak Islamdari mulai zaman Rasulullah Saw sampai kepada zaman kita sekarang, iaitu:

Nabi Besar Muhammad s.a.w sendiri
Imam Al Bukhari, ulama hadis yang terbesar.
Imam Al Asya’ri, ulama tauhid yang termasyhur.
Imam Al Ghazali, pengarang Ihya yang terkenal.

Demikianlah sekelumit sejarah hidup ulama besar ini, dengan kita menyebut beberapa bidang lagi, dimana Al Ghazali mempunyai saham yang tidak kecil, seperti bidang pendidikan, dakwah, feqah dan lain-lain lagi.

Sekian,,,wassalamualaikum

Selasa, 27 November 2012

Biography Syekh Abdul Qadir Jaelani

Biography-Syekh-Abdul-Qadir-Jaelani
Assalamualaikum sahabat Pojok
Pada kesempatan sebelumnya saya pernah share tantang Nasihat Seikh Abdul Qadir Al-Jaelani , bagi anda yang belum baca, silahkan di buka dulu link tersebut, dan seperti janji saya, kali ini saya ingin share tentang biography Sekh Abdul Qadir Jaelani.
Berikut adalah biography lengkapnya.


Syekh Abdul Qadir Jaelani nama lenkap beliau Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani adalah orang Kurdi atau orang Persia ulama sufi yang sangat dihormati oleh ulama Sunni. Syekh Abdul Qadir dianggap wali dan diadakan penghormatan besar oleh kaum Muslim dari anak benua India. Di antara pengikut di Pakistan dan India, ia juga dikenal sebagai Ghaus-e-Azam. Ia lahir pada hari Rabu tanggal 1 Ramadan di 470 H, 1077 M selatan Laut Kaspia yang sekarang menjadi Provinsi Mazandaran di Iran atau tepatnya beliau lahir di Jailan atau Kailan tahun 470 H/1077 M, sehingga diakhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliydan.


Kelahiran, Silsilah dan Nasab 
Ada dua riwayat sehubungan dengan tanggal kelahiran al-Ghauts al_A'zham Syekh Abdul Qodir al-Jilani Amoli. Riwayat pertama yaitu bahwa ia lahir pada 1 Ramadhan 470 H. Riwayat kedua menyatakan Ia lahir pada 2 Ramadhan 470 H. Tampaknya riwayat kedua lebih dipercaya oleh ulama. Silsilah Syekh Abdul Qodir bersumber dari Khalifah Sayyid Ali al-Murtadha radiiyallahu'anhu, melalui ayahnya sepanjang 14 generasi dan melaui ibunya sepanjang 12 generasi. Syekh Sayyid Abdurrahman Jami rah.a memberikan komentar mengenai asal usul al-Ghauts al-A'zham radiiyallahu'anhu sebagi berikut : "Ia adalah seorang Sultan yang agung, yang dikenal sebagi al-Ghauts al-A'zham. Ia mendapat gelar sayyid dari silsilah kedua orang tuanya, Hasani dari sang ayah dan Husaini dari sang ibu". Silsilah Keluarganya adalah Sebagai berikut : Dari Ayahnya(Hasani): Syeh Abdul Qodir bin Abu Shalih bin Abu Abdillah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah Tsani bin Musa al-Jaun bin Abdul Mahdhi bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan as-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam Dari ibunya(Husaini) : Syeh Abdul Qodir bin Ummul Khair Fathimah binti Abdullah Sum'i bin Abu Jamal bin Muhammad bin Mahmud bin Abul 'Atha Abdullah bin Kamaluddin Isa bin Abu Ala'uddin bin Ali Ridha bin Musa al-Kazhim bin Ja'far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainal 'Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam

PERJALANAN HIDUP Syekh Abdul Qadir Jaelani

  1. Masa Muda
  2. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali.

    Di Baghdad belajar kepada beberapa orang ulama’ seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Muharrimi . Beliau belajar sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama’. Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil-kecilan di daerah yang bernama Babul Azaj. Pengelolaan sekolah ini diserahkan sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim disana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang yang ada tersebut. Banyak sudah orang yang bertaubat setelah mendengar nasehat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau, sehingga sekolah itu tidak muat menampungnya.

  3. Murid Murid
  4. Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqih terkenal al Mughni.

  5. Perkataan Ulama tentang Beliau
  6. Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani sampai beliau meninggal dunia. (Siyar A'lamin Nubala XX/442).

    Syeikh Ibnu Qudamah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir menjawab, "Kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Ia menempatkan kami di sekolahnya. Ia sangat perhatian terhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Ia senantiasa menjadi imam dalam salat fardhu."

  7. Tentang Karamahnya
  8. Syeikh Abdul Qadir al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh para syeikh, ulama, dan ahli zuhud. Ia banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi, ada seorang yang bernama al Muqri' Abul Hasan asy Syathnufi al Mishri (nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf bin Jarir al Lakhmi asy Syathnufi) yang mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir al Jailani dalam tiga jilid kitab. Al Muqri' lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia dituduh berdusta dan tidak bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya).

    "Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar", demikian kata Imam Ibnu Rajab. "Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh dari agama dan akal, kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas, seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah."

    Kemudian didapatkan pula bahwa al Kamal Ja'far al Adfwi (nama lengkapnya Ja'far bin Tsa'lab bin Ja'far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal al Adfawi), seorang ulama bermadzhab Syafi'i. Ia dilahirkan pada pertengahan bulan Sya'ban tahun 685 H dan wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi beliau dimuat oleh al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452. al Kamal menyebutkan bahwa asy Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.(Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah as Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa'dah 1415 H / 8 April 1995 M.).

  9. Karya
  10. Imam Ibnu Rajab juga berkata, "Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma'rifat yang sesuai dengan sunnah."

    Karya karyanya :

    • Tafsir Al Jilani
    • al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
    • Futuhul Ghaib.
    • Al-Fath ar-Rabbani
    • Jala' al-Khawathir
    • Sirr al-Asrar
    • Asror Al Asror
    • Malfuzhat
    • Khamsata "Asyara Maktuban
    • Ar Rasael
    • Ad Diwaan
    • Sholawat wal Aurod
    • Yawaqitul Hikam
    • Jalaa al khotir
    • Amrul muhkam
    • Usul as Sabaa
    • Mukhtasar ulumuddin

    Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasihat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Ia membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.

  11. Ajaran-ajaranya
  12. Sam'ani berkata, " Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Ia seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau." Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A'lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut,"Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat."

    Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan beliau mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, "Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau."( Siyar XX/451 ). Imam Adz Dzahabi juga berkata, " Tidak ada seorangpun para kibar masyayikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi".

    Syeikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil,hal.136, " Aku telah mendapatkan aqidahnya ( Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani ) di dalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. (Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94) Maka aku mengetahui bahwa dia sebagai seorang Salafi. Ia menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Ia juga membantah kelompok-kelompok Syi'ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf." (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa'dah 1415 H / 8 April 1995 M.)

  13. Awal Kemasyhuran
  14. Al-Jaba'i berkata bahwa Syeikh Abdul Qadir pernah berkata kepadanya, "Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dengan membawa lilin dan obor hingga memenuhi tempat tersebut. Kemudian, aku dibawa ke luar kota dan ditempatkan di sebuah mushalla. Namun, orang-orang tetap datang kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat di sekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali radhiallahu 'anhum]].

    Dalam beberapa manuskrip didapatkan bahwa Syeikh Abdul Qadir berkata, "Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, "kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang". Aku pun ke Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti mereka". "Sesungguhnya" kata suara tersebut, "Mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu". "Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku/keyakinanku" tanyaku. "Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu" jawab suara itu.

    Aku pun membuat 70 perjanjian dengan Allah. Di antaranya adalah tidak ada seorang pun yang menentangku dan tidak ada seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah.

  15. Hubungan Guru dan Murid
  16. Syeikh Abdul Qadir berkata, "Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya.
Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf).
Dua karakter dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam yaitu penyayang dan lembut.
Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.
Dua karakter dari Umar yaitu amar ma'ruf nahi munkar.
Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.
Dua karakter dari Ali yaitu alim (cerdas/intelek) dan pemberani.

    Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas dalam bait syair yang dinisbatkan kepadanya dikatakan:

    Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syeikh maka ia adalah Dajjal yang mengajak kepada kesesatan.
    Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat zhahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah kepada tamu, lemah lembut kepada si miskin, mengawasi para muridnya sedang ia selalu merasa diawasi oleh Allah.
    Syeikh Abdul Qadir juga menyatakan bahwa Syeikh al Junaid mengajarkan standar al Quran dan Sunnah kepada kita untuk menilai seorang syeikh. Apabila ia tidak hafal al Quran, tidak menulis dan menghafal Hadits, dia tidak pantas untuk diikuti.
    Syeikh Abdul Qadir berkata, "Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh mursyidnya saat menghadapi sakaratul maut".
    Karena itulah Syeikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan (maut).

    Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.

    Syeikh Abdul Qadir juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar didunia bernama Tarekat Qodiriyah.
    Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.
Sekiab semoga bermanfaat, insyaAllah pada kesempatan berikutnya saya ingin share beberapa kitab terjemahan milik beliau Syekh Abdul Qadir Jaelani
wassalamualaikum warohmatullahi wa barokatuhu`


sumber id.wikipedia.org/wiki/Syekh_Abdul_Qadir_Jaelani 

Jumat, 09 November 2012

Sukarno dan Mati Tersenyum [Kisah Sufi]

sukarno

Berhubung bulan hari ini adalah hari pahwalan Repoblik indonesia tercinta, mungkin sedikit menarik mengangkat sebuah kisah seorang pahlawan Nasional bung Karna "Pencarian Bung Karno dan Mati Tersenyum"(Dialog Bung Karno dengan ulama sufi Syekh Kadirun Yahya). Kisah ini masih banyak menuai pro dan kontra, pesan saya, sebagai seorang pembaca juga "padanglah lebih kisah ini dari makna kebaikan yang terkandung di dalamnya, tanpa harus terlalu memperdebatkan apakah cerita ini benar atau tidak" dan cerita  ini insyaAllah berasal dari sumber yang bisa dipercaya.

Berikut adalah kisah  Sukarno dan Mati Tersenyum [Kisah Sufi]:

Suatu hari, pada sekitar bulan Juli 1965, Bung Karno berdialog dengan Kadirun Yahya, anggota dewan kurator seksi ilmiah Universitas Sumatra Utara (USU).
Bung Karno (BK): Saya bertanya-tanya pada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu, tapi semua jawaban tidak ada yang memuaskan saya, en jij bent ulama, tegelijk intellectueel van de exacta en metaphysica-man.
Kadirun Yahya (KY): Apa soalnya Bapak Presiden?
BK: Saya bertanya lebih dahulu tentang hal lain, sebelum saya memajukan pertanyaan yang sebenarnya. Manakah yang lebih tinggi, presidentschap atau generaalschap atau professorschap dibandingkan dengan surga-schap?
KY: Surga-schap. Untuk menjadi presiden, atau profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan mengabdi pada nusa dan bangsa, atau ilmu pengetahuan, sedangkan untuk mendapatkan surga harus berkorban untuk Allah segala-galanya berpuluh-puluh tahun, bahkan menurut Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup baru dapat masuk nirwana.

BK: Accord, Nu heb ik je te pakken Proffesor (sekarang baru dapat kutangkap Engkau, Profesor.) Sebelum saya ajukan pertanyaan pokok, saya cerita sedikit: Saya telah banyak melihat teman-teman saya matinya jelek karena banyak dosanya, saya pun banyak dosanya dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Quran dan hadist. Bagaimana caranya supaya dengan mudah menghapus dosa saya dan dapat ampunan dan mati senyum; dan saya ketemu satu hadist yang bagi saya sangat berharga.

Bunyinya kira-kira begini: Seorang wanita pelacur penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing yang kehausan. Wanita tadi mengambil segayung air dan memberi anjing yang kehausan itu minum. Rasulullah lewat dan berkata, “Hai para sahabatku, lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, terhapus dosa wanita itu di dunia dan akhirat dan ia ahli surga!!! Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan surga harus berkorban segala-galanya, berpuluh tahun itu pun barangkali. Sekarang seorang wanita yang banyak berdosa hanya dengan sedikit saja jasa, itu pun pada seekor anjing, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli surga. How do you explain it Professor? Waar zit‘t geheim?
Kadirun Yahya hening sejenak lalu berdiri meminta kertas.
KY: Presiden, U zei, dat U in 10 jaren’t antwoor neit hebt kunnen vinden, laten we zein (Presiden, tadi Bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, mari kita lihat), mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam dua menit, saya dapat memberikan jawaban yang memuaskan.
Bung karno adalah seorang insinyur dan Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fisika, jadi bahasa mereka sama: eksakta.
KY menulis dikertas:10/10 = 1.
BK menjawab: Ya.
KY: 10/100 = 1/10.
BK: Ya.
KY: 10/1000 = 1/100.
BK: Ya.
KY: 10/bilangan tak berhingga = 0.
BK: Ya.
KY: 1000000/ bilangan tak berhingga = 0.
BK: Ya.
KY: Berapa saja ditambah apa saja dibagi sesuatu tak berhingga samadengan 0.
BK: Ya.
KY: Dosa dibagi sesuatu tak berhingga sama dengan 0.
BK: Ya.
KY: Nah…, 1 x bilangan tak berhingga = bilangan tak berhingga. 1/2 x bilangan tak berhingga = bilangan tak berhingga. 1 zarah x bilangan tak berhingga = tak berhingga. Perlu diingat bahwa Allah adalah Mahatakberhingga. Sehingga, sang wanita walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekali pun, mengkaitkan, menggandengkan gerakkannya dengan Yang Mahaakbar, mengikutsertakan Yang Mahabesar dalam gerakkannya, maka hasil dari gerakkannya itu menghasikan ibadat paling besar, yang langsung dihadapkan pada dosanya yang banyak, maka pada saat itu pula dosanya hancur berkeping keping. Hal ini dijelaskan sebagai berikut: (1 zarah x tak berhingga)/dosa = tak berhingga.
BK diam sejenak lalu bertanya: Bagaimana ia dapat hubungan dengan Sang Tuhan?
KY: Dengan mendapatkan frekuensinya. Tanpa mendapatkan frekuensinya tidak mungkin ada kontak dengan Tuhan. Lihat saja, walaupun 1mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio kita dengan frekuensi yang tidak sama, radio kita tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga, walaupun Tuhan dikabarkan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tidak mungkin kontak jika frekuensinya tidak sama.
BK berdiri dan berucap: Professor, you are marvelous, you are wonderful, enourmous. Kemudian dia merangkul KY dan berkata: Profesor, doakan saya supaya saya dapat mati dengan senyum di belakang hari.
Beberapa tahun kemudian, Bung karno meninggal dunia. Resensi-resensi harian-harian dan majalah-majalah ibukota yang mengkover kepergian beliau, selalu memberitakan bahwa beliau dalam keadaan senyum ketika menutup mata untuk selama-lamanya.

Catatan:
Nama lengkap yang berdialong dengan Bung Karno adalah Prof. Dr.H.SS. Kadirun Yahya MA, Msc, Rektor Universitas Pembangunan Panca Budi Medan, Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Uraian tentang riwayat beliau pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/09/syekh-kadirun-yahya/

Minggu, 09 September 2012

Who Was Prophet Muhammad saw.?


Who was Prophet Muhammad Sal Allahu Alihi Wa Salam?
This is the character Prophet Muhammad
He was the messenger of Allah who carried his mission as Allah instructed Him to. Among His message lets look at his life:


Who-was-Prophet-MuhammadHis dress generally consisted of a shirt, tamad (trousers), a sheet thrown round the shoulders and a turban. On rare occasions, he would put on costly robes presented to him by foreign emissaries in the later part of his life (Ahmed, Musnad, Hafiz Bin Qaiyyam).

His blanket had several patches (Tirmizi). He had very few spare clothes, but he kept them spotlessly clean (Bukhari). He wanted others also to put on simple but clean clothes.

Once he saw a person putting on dirty clothes and remarked,"Why can't this man wash them." (Abu Dawud, Chapter "Dress").

On another occasion he enquired of a person in dirty clothes whether he had any income. Upon getting a reply in the affirmative, he observed, "When Allah has blessed you with His bounty, your appearance should reflect it." (Abu Dawud)

He used to observe: "Cleanliness is piety".

His mode of living was simple: He advised the people to live simple lives and himself practiced great austerities. Even when he had become the virtual king of Arabia, he lived an austere life bordering on privation. He used to say: "What have I to do with worldly things. My connection with the world is like that of a traveler resting for a while underneath the shade of a tree and then moving on."

About himself the prophet (pbuh) said: "Allah has sent me as an apostle so that I may demonstrate perfection of character, refinement of manners and loftiness of deportment." (Malik, Mawatta; Ahmed, Musnad; Mishkat)

"I am a Prophet of Allah but I do not know what will be my end." (Bukhari, Sahih Bukhari, Chapter "Al-Janaiz")

In one of his sermons calculated to instill the fear of Allah and the day of reckoning in the hearts of men, he said: "O people of Quraish be prepared for the hereafter, I cannot save you from the punishment of Allah; O Bani Abd Manaf, I cannot save you from Allah; O Abbas, son of Abdul Mutalib, I cannot protect you either; O Fatima, daughter of Muhammad, even you I cannot save." (Sahahin)

He used to say: "O Allah! I am but a man. If I hurt any one in any manner, then forgive me and do not punish me." (Ahmed, Musnad, Vol. 6 pg. 103)

He always received people with courtesy and showed respect to older people and stated: "To honor an old man is to show respect to Allah."

He would not deny courtesy even to wicked persons. It is stated that a person came to his house and asked permission for admission. The Prophet (pbuh) remarked that he was not a good person but might be admitted. When he came in and while he remained in the house, he was shown full courtesy. When he left Aiysha (ra) said, "You did not think well of this man, but you treated him so well." The Prophet (pbuh) replied, "He is a bad person in the sight of Allah who does not behave courteously and people shun his company because of his bad manners." (Bukhari, Sahih Bukhari)

He used to visit the poorest of ailing persons and exhorted all Muslims to do likewise (Bukhari, Sahih Bukhari, Chapter "Attendance on ailing persons").

He would sit with the humblest of persons saying that righteousness alone was the criterion of one's superiority over another. He invariably invited people be they slaves, servants or the poorest believers, to partake with him of his scanty meals (Tirmizi, Sunan Tirmizi).

Whenever he visited a person he would first greet him and then take his permission to enter the house. He advised the people to follow this etiquette and not to get annoyed if anyone declined to give permission, for it was quite likely the person concerned was busy otherwise and did not mean any disrespect (Ibid).

There was no type of household work too low or too undignified for him. Aiysha (ra) has stated: "He always joined in household work and would at times mend his clothes, repair his shoes and sweep the floor. He would milk, tether, and feed his animals and do the household shopping." (Qazi Iyaz: Shifa; Bukhari, Sahih Bukhari, Chapter: Kitabul Adab)

Muhammad (pbuh) preached to the people to trust in Allah (swt). His whole life was a sublime example of the precept. In the loneliness of Makkah, in the midst of persecution and danger, in adversity and tribulations, and in the thick of enemies in the battles of Uhud and Hunain, complete faith and trust in Allah (swt) appears as the dominant feature in his life. However great the danger that confronted him, he never lost hope and never allowed himself to be unduly agitated. Abu Talib knew the feelings of the Quraish when the Prophet (pbuh) started his mission. He also knew the lengths to which the Quraish could go, and requested the Prophet (pbuh) to abandon his mission, but the latter calmly replied,

"Dear uncle, do not go by my loneliness. Truth will not go unsupported for long. The whole of Arabia and beyond will one day espouse its cause." (Ibn Hisham, Sirat-ur-Rasul.)

When the attitude of the Quraish became more threatening, Abu Talib again begged his nephew to renounce his mission but the Prophet's (pbuh) reply was:

"O my uncle, if they placed the sun in my right hand and the moon in my left, to force me to renounce my work, verily I would not desist thereform until Allah made manifest His cause, or I perished in the attempt." (Ibid)

To another well-wisher, he said, "Allah will not leave me forelorn."

A dejected and oppressed disciple was comforted with the words: "By Allah, the day is near when this faith will reach its pinnacle and none will have to fear anyone except Allah." (Bukhari, Sahih Bukhari)

The Prophet (pbuh) asked people to be just and kind. As the supreme judge and arbiter, as the leader of men, as generalissimo of a rising power, as a reformer and apostle, he had always to deal with men and their affairs. He had often to deal with mutually inimical and warring tribes when showing justice to one carried the danger of antagonizing the other, and yet he never deviated from the path of justice. In administering justice, he made no distinction between believers and nonbelievers, friends and foes, high and low.

Muhammad (pbuh) asked people to shun notions of racial, family or any other form of superiority based on mundane things and said that righteousness alone was the criterion of one's superiority over another. It has already been shown how he mixed with everyone on equal terms, how he ate with slaves, servants and the poorest on the same sheet (a practice that is still followed in Arabia), how he refused all privileges and worked like any ordinary laborer.

The Prophet (pbuh) not only preached to the people to show kindness to each other but also to all living souls. He forbade the practice of cutting tails and manes of horses, of branding animals at any soft spot, and of keeping horses saddled unnecessarily (Muslim, Sahih Muslim). If he saw any animal over-loaded or ill-fed he would pull up the owner and say, "Fear Allah in your treatment of animals." (Abu Dawud, Kitab Jihad).

The Prophet (pbuh) enjoined upon Muslims to treat the poor kindly and to help them with alms, zakat, and in other ways. He said: "He is not a perfect Muslim who eats his fill and lets his neighbor go hungry."

He asked, "Do you love your Creator? Then love your fellow beings first."

Monopoly is unlawful in Islam and he preached that "It is difficult for a man laden with riches to climb the steep path that leads to bliss."

He did not prohibit or discourage the aquisition of wealth but insisted that it be lawfully acquired by honest means and that a portion of it would go to the poor. He advised his followers "To give the laborer his wages before his perspiration dried up."

He did not encourage beggary either and stated that "Allah is gracious to him who earns his living by his own labor, and that if a man begs to increase his property, Allah will diminish it and whoever has food for the day, it is prohibited for him to beg."

To his wife he said, "O Aysha, love the poor and let them come to you and Allah will draw you near to Himself." (Bukhari, Sahih Bukhari)

His love for the poor was so deep that he used to pray: "O Allah, keep me poor in my life and at my death and raise me at resurrection among those who are poor." (Nasai, Chapter: Pardon)

May Allah grant our noble Prophet Jannatul Firdaus!

Taken from: http://www.itsislam.net/articles/character_of_Prophet_Muhammad.asp

Rabu, 29 Agustus 2012

Riwayat Imam Ali bin Abu Thalib ra.

Assalamualaikum Warohmatullahi Wa Barokatuhu
Ada banyak hal yang mungkin kita belum ketahui tentang diri Salah satu Sahabat nabi saw. sekaligus sebagai menantu Beliau saw. yakni Imam Ali bin Abu Thalib. Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang riwayat dari Imam Ali bin Abu Thalib ra. Pada Tulisan sebelumnya saya juga pernah berbagi tentang beberapa nasihat Dari Imam Ali, bagi yang belum membaca silahkan baca dulu Beberapa Nasihat dari Imam Ali

Imam Ahmad bin Hanbal, Ismail Al Qadli, An Nasa’i :
“Tidak ada hadits yang menerangkan tentang diri salah seorang dari sahabat dengan sanad-sanad yang bagus sebanyak hadits yang menerangkan tentang Ali ra"

Sayyidina Al-Imam Ali bin Abu Thalib Karramallahu Wajhah adalah sahabat yang sangat beruntung karena sejak kecil dididik Rasulullah SAW. Dari kalangan muda, beliaulah yang yang pertama masuk islam. Begitu beliau dewasa, Rasulullah SAW mengambilnya sebagai menantu.

Rasulullah SAW menikahkan Sayyidatuna Fatimah dengan Sayyidina Ali bin Abu Thalib pada bulan Rajab, beberapa bulan setelah hijrah dari Mekah ke Madinah. Namun keduanya tidak langsung berkumpul layaknya pasangan suami istri. Karena saat itu, Rasulullah SAW masih menetap di rumah Abu Ayub Al-Anshari, di Madinah. Sementara beliau sendiri masih menyelesaikan pembangunan rumahnya di sekitar Masjid Nabawi.

Baru setelah rumah itu berdiri, bertepatan dengan selesainya perang Badar, Sayyidatuna Fatimah dan Sayyidina Ali berkumpul. Yaitu pada tahun kedua setelah Hijrah. Ketika Rasulullah SAW bermaksud pulang setelah mengantar putri tersayangnya ke rumah Sayyidina Ali; Sayyidatuna Fatimah menangis karena sedih bakal berpisah dengan bapaknya.

Sebelum menikah dengan Sayyidina Ali bin Abu Thalib; dua orang sahabat Nabi SAW yaitu Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khaththab, telah meminta kepada Nabi SAW agar mengangkatnya sebagai menantu. Tapi Nabi SAW menolaknya, dengan alasan Sayyidatuna Fatimah masih terlalu kecil dan menunggu petunjuk dari Allah SWT.

Seusai pernikahan, Sayyidina Ali menyerahkan uang empat ratus dirham kepada Rasulullah SAW. Sepertiga dari jumlah itu beliau serahkan untuk membeli wewangian. Sepertiga lainnya digunakan membeli pakaian. Sedang sisanya di serahkan pada Ummu Salamah untuk disimpan.

Sepertiga uang yang dibelanjakan ternyata hanya cukup untuk membeli barang-barang sederhana. Seluruh barang yang didapat terbuat dari bahan kain kasar, kulit, kayu dan tembikar. Bahkan Rasulullah SAW sempat menangis melihat peralatan pernikahan putri yang dicintainya sangat sederhana.

Rasulullah pernah bersabda kepada Sayyidatuna Fatimah pada waktu beliau dinikahkan dengan Sayyidina Ali Kw :
“Kamu Kunikahkan dengan Ahli Baitku yang paling Kucintai.” (HR.Thabrani, Hakim, Nasa’i dan Ahmad)

Sayyidina Ali adalah anak Abdu Manaf, yang lebih dikenal dengan sebutan “Abu Thalib” ( ayah Thalib ). Thalib adalah anak tertua Abdu Manaf. Berbeda dengan kebiasaan petinggi kaum Quraisy lainnya, Abu Thalib memiliki kebiasaan khusus, yaitu berpantang meminum minuman keras.
Ibunda Sayyidina Ali adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim. Ia tercatat sebagai wanita pertama dari Bani Hasyim yang menikah dengan pria dari Bani Hasyim pula. Sebelum itu telah menjadi kebiasaan bagi pria Bani Hasyim menikah dengan wanita Quraisy lain yang bukan Bani Hasyim.

Rasulullah SAW mendidik dan membina Sayyidina Ali sedari kecil. Hal itu dilakukannya dengan ikhlas, karena sadar betapa Abdu Manaf dan keluarganya telah melindungi dan menolong Rasulullah SAW sejak kecil sampai dewasa.
Sayyidina Ali memiliki nama selain pemberian ayahnya. Dari ibunya, beliau memiliki nama Haidarah (singa). Sayyidina Ali juga kerap dipanggil Abul Hasan dan Abul Husein.

Setelah selesai perang Asyirah di daerah Yanbu’, Sayyidina Ali beserta salah seorang sahabat yang lain tertidur di bawah pohon kurma yang rindang tanpa alas apapun. Hingga keduanya dibangunkan Rasulullah SAW dalam keadaan punggungnya berlumuran debu. Ketika melihat punggung Sayyidina Ali penuh debu, Rasulullah SAW berujar :
“ Hai Abu Turab mengapa engkau tidur di tempat ini ?
Rasullah SAW memberikan nama panggilan kepadanya “Abu Turab”(bapak debu, yang bermakna “Orang yang sangat rendah hati”.
Selain Abdul Muthalib dan Abu Thalib, Sayyidina Ali pun ikut membantu dan melindungi Rasulullah SAW dalam melaksanakan dakwah. Hal ini dilakukan Sayyidina sejak beliau masih kanak-kanak. Suatu ketika kaum Quraisy mengalami kebuntuan dalam mengganggu dakwah Rasulullah. Tanpa berputus asa, kaum Quraisy kemudian menghasut anak-anak untuk melempari batu ke arah nabi SAW.

Paman Rasulullah SAW, Abu Thalib tidak mungkin melawan anak-anak kaum Quraisy tesebut. Maka ketika Abdu Manaf mengkhawatirkan keselamatan Nabi SAW, tampillah Sayyidina Ali yang kala itu masih kanak-kanak melawan mereka. Beliau menggigit wajah dan kuping anak-anak kaum Quraisy yang coba mengganggu Nabi SAW. Karena kebiasaan itulah, beliau mendapat julukan Al-Qadhim ( tukang gigit ) dari kalangan penduduk Mekah.
Sayyidina Ali adalah laki-laki pertama yang masuk islam setelah Rasulullah SAW sendiri. Dalam hal ini An-Nasai dalam kitab Al-Khasha’ishah mengemukakan sebuah riwayat berasal dari Afif Al-Kindi yang menyaksikan sebuah “keanehan”. Suatu hari pada zaman Jahiliyah, ia datang ke Mekah untuk membeli pakaian dan wewangian. Saat singgah di rumah Sayyidina Abbas bin Abdul Muthalib, ia melihat keanehan itu dekat Ka’bah. Lalu ia bertanya kepada Sayyidina Abbas :
“Adakah kau melihat satu keanehan disana?”
Sayyidina Abbas menjawab :
“Soal aneh, tahukah kamu siapakah anak muda itu?”
Setelah Sayyidina Abbas mengatakan adanya agama baru, ia melanjutkan kalimatnya.
“Kemenakanku ( Muhammad SAW ) memberitahu kepadaku bahwa tuhannya adalah Tuhan penguasa langit dan bumi. Dan ia diperintahkan oleh Tuhannya untuk membawakan agama yang dianutnya itu. Demi Allah, tidak ada seorang pun di muka bumi yang menganut agama itu selain mereka bertiga, yaitu Rasulullah SAW, istri beliau ( Khadijah binti Khuwalid ) dan Ali bin Abu Thalib.”
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa ketika Sayyidina Ali menyatakan dirinya memeluk islam, usianya kala itu baru sepuluh tahun.

Sayyidina Ali bin Abu Thalib Kw adalah seorang Alim yang cerdas, Ahli Fiqih, panglima yang bijaksana, yang kealimannya tidak pernah rusak oleh kekuasaan, yang keputusannya tidak pernah menyimpang demi kepuasan para pengikutnya, Imam yang Wara’, cendikiawan yang berotak cemerlang, Qadhi yang jenius, Amirul Mu’minin, salah seorang ksatria yang diperhitungkan, seorang Orator berbahasa fasih dan seorang ahli Zuhud yang di agungkan.
Beliau tidak pernah menundukkan diri kepada berhala selama hidupnya; orang yang pertama kali masuk islam dari kalangan pemuda serta orang pertama kali melakukan shalat di belakang Rasulullah saw.
Beliau adalah pembawa bendera Rasulullah saw dalam sebagian besar peperangan beliau, mengikuti semua peperangan selain perang Tabuk, karena ketika itu beliau diangkat sebagai pengganti oleh Rasulullah saw. Beliau berhati mulia di dalam perdamaian dan mulia dalam pertempuran. Di antara kemulian yang Allah swt limpahkan kepada dirinya adalah bahwa mata beliau tidak pernah memandang aurat sama sekali.
Beliau adalah Kholifah ke empat diantara Khulafaur Rasyidin, termasuk diantara sepuluh orang yang telah memperoleh kabar gembira akan masuk Syurga.

Beliau menyadari kemuliaan ini, seraya berkata :
“Kamu sekalian mengetahui posisi saya disisi Rasulullah saw dengan hubungan kerabat yang sangat dekat dan kedudukan istimewa. Beliau meletakkan saya ke dalam pangkuan beliau; sedangkan saya adalah seorang anak kecil yang beliau dekap didadanya. Beliau menempatkan saya di tempat tidur beliau. Beliau merekatkan saya dengan tubuh beliau, mengharumkan saya dengan keringat beliau. Beliau tidak pernah menjumpai kedustaan dalam ucapan saya dan kesalahan dalam perbuatan saya. Saya selalu mengikuti beliau seperti halnya anak sapi yang disapih yang selalu ikut serta dibelakang ibunya. Beliau setiap hari memperlihatkan sifat-sifat beliau kepada saya sebagai pendidik dan beliau menyuruh saya agar selalu mengikuti ajaran beliau.”
 
Rasulullah pernah bersabda tentang Sayyidina Ali Kw, ketika berada di mata air Ghadir Khum :
“Barang siapa mengakui bahwa saya adalah junjungannya, maka Ali adalah junjungannya juga. Ya Allah sertailah orang yang menyertai Ali dan musuhilah orang yang memusuhi Ali”
( HR.Turmuzi, Hakim, Nasai, Ahmad, Bazzar, Thabrani Abu Ya’la )

Rasulullah saw pernah memberitahu kepada Sayyidina Ali bahwa sesungguhnya tidak akan mencintai Ali kecuali orang Mu’min dan tidak akan membencinya kecuali orang munafik

Diriwayatkan dari Zir bin Hubaisy, bahwa ia berkata : Saya pernah mendengar Sayyidina Ali Kw berkata:
“Demi zat yang telah menumbuhkan biji-bijian dan yang telah menciptakan makhluk hidup, sesungguhnya adalah jaminan seorang Nabi yang Ummi kepada saya bahwasanya tidak akan mencintai saya kecuali orang mu’min dan tidak akan membenci saya kecuali orang munafik.”
( HR.Muslim, Turmuzi, Nasa’i dll )

Ketika turun ayat Muhabalah :
“Maka katakanlah ( Wahai Muhammad ) : Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu….
( QS.Ali Imran :61 )
Maka Rasulullah saw mengumpulkan Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fatimah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein dan beliau bersabda :
“Ya Allah mereka inilah keluargaku.”
( HR.Muslim, Turmuzi, Hakim, dll ).

Berlanjut ke Beberapa Kelebihan yang di miliki oleh Imam Ali.

Sekian, semoga tulisan ini bisa bermanfaat.
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wa Barokatuhu

Sabtu, 25 Agustus 2012

Siapakah Abu Nawas?


Assalamualaikum Warohmatullah Wa Barokatuhu
Pada bulan Syawal ini sepertinya saya akan banyak mengisi blog Pojok Motivasi ini dengan beberapa biografi tokoh-tokoh inspiratif Isalam, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Ada yang belum mengenal siapa Abu Nawas, Atau ada yang belum pernah membaca salah satu kisah dari Beliau?
Berikut adalah biografi dari Abu Nawas,


Siapakah-Abu-NawasNama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Abu Nawas merupakan seorang pujangga Arab dan dianggap sebagai salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah Seribu Satu Malam. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman.

Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.

Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.

Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya’irul bilad). Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.
Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah.

Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan – tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.

Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.
Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti – yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.


Sekian Semoga Bermanfaat
Wassalamualaikum Warohmatullah Wa Barokatuhu 

Jumat, 24 Agustus 2012

Siapakah Bilal bin Rabah ra.?

Siapakah-Bilal-bin-Rabah

Siapa yang tidak kenal dengan Beliau, orang berkulit hitam pengumandang azan pada zaman Nabi saw. yang konon memiliki suara yang sangat indah, sehingga sampai saat ini, setiap orang yang mengumandangkan azan di masjid-masjid di panggil dengan nama Beliau "Bilal"
Berikut adalah biografi dari Bilal bin Rabah ra.

Lahir dan pertumbuhannya:
Beliau (Bilal bin Rabah ra.)lahir di Mekah, sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Bilal tumbuh di Mekah sebagai seorang hamba sahaya milik anak-anak yatim keluarga Bani Abdud Dar yang berada di bawah asuhan Umaiyah bin Khalaf.
Pada saat datangnya Islam, Bilal termasuk dalam kelompok yang pertama-tama memeluk Islam. Dia memeluk Islam pada saat di atas permukaan bumi hanya ada segelintir pemeluk Islam. Yaitu; Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar Sidik, Ali bin Abi Talib, Ammar bin Yasir dan ibunya; Sumaiyah, Shuhaib Ar-Rumi dan Miqdad bin Aswad.

Kesabarannya ketika disiksa:
Bilal bin Rabah ra. adalah salah seorang sahabat Nabi yang paling banyak merasakan siksa dan kekerasan kaum musyrikin Quraisy. Para pemeluk Islam saat itu, rata-rata mempunyai pelindung dari keluarga mereka kecuali dia, Ammar bin Yasir beserta bapak dan ibunya, dan Shuhaib. Karenanya mereka ini banyak menjadi sasaran kesewenang-wenangan kaum musyrikin Quraisy.
Pada suatu hari, ketika matahari di atas kepala dan pasir Mekah seolah mendidih karena sangat panasnya, Umaiyah bin Khalaf dan sekelompok kaum musyrikin melepas bajunya, lalu memakaikan baju besi dan menjemurnya di terik matahari. Selama itu tidak henti-hentinya dia dicambuki dan disuruh mencela Nabi Muhammad saw.
Tetapi selama itu juga, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Bilal kecuali, “Yang Mahaesa! Yang Mahaesa!” Bila mereka sudah lelah menyiksanya, Umaiyah mengikat lehernya dengan tali besar lalu menyerahkannya kepada anak- anak untuk mereka seret berkeliling kota Mekah.
Setelah itu Bilal dimerdekakan oleh Abu Bakar Sidik ra. setelah dia beli seharga 9 uqiah emas (1 uqiah = 31, 7475). Umaiyah bin Khalaf menjualnya mahal, dengan harapan Abu Bakar enggan membelinya, padahal dalam hatinya dia mengatakan, “Jika dia membelinya 1 uqiah pun akan saya jual.” Sebaliknya Abu Bakar juga mengatakan dalam hati, “Jika tidak mau menjualnya di bawah harga 100 uqiah pun akan saya beli.”
Hal itu membuat Bilal gembira sekali. Dia memulai fase hidup baru. Di kemudian hari dia ikut hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin yang lain.
Kelebihan-kelebihannya:
Muazin Rasul saw. sepanjang hidup beliau. Suatu ketika, setelah Nabi wafat, dia mengumandangkan azan, tetapi setelah sampai pada kata-kata, “Asyhadu anna Muahammadan Rasulullah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah)” dia menangis terisak-isak dan meminta kepada Abu Bakar agar dibebaskan dari tugas itu. Dia tidak mampu lagi melakukannya setelah Nabi tidak ada.
Bilal termasuk anggota delegasi dakwah Muslimin pertama yang berangkat ke Syam, dia menetap di Darya (dekat Damaskus) hingga Umar bin Khatab datang ke Damaskus dan menyuruhnya untuk mengumandangkan azan kembali. Umar sangat mencintai dan menghormatinya, dia pernah mengatakan, “Abu Bakar tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).” Setelah suara azan Bilal mengumandang Umar dan seluruh yang hadir menangis terisak-isak. Mereka teringat saat-saat mendengarkan suara itu pada saat Nabi masih hidup.
Wafatnya:
Bilal berpulang ke rahmatullah setelah pada hari-hari akhirnya mengulang-ulang kata-kata, ?Besok kita akan bertemu dengan para kekasih (Muhammad dan para sahabatnya)?. Semoga Allah meridai dan memberinya pahala yang baik atas sumbangan yang dia persembahkan kepada Islam.

Baca Juga biografi Abu Nawas Siapakah Abu Nawas, Tokoh Jenaka sekaligus seorang sufi, semoga bermanfaat

Rabu, 18 Juli 2012

Ngaku Blogger-Mari gabung Bloggers Shout Out

Berawal dari keinginan sederhana seorang Blogger pemula untuk menyumbang 1 atau 2, mudahan bisa lebih, konten-konten positif ditengah maraknya konten negatif yang berjejer gratis dipasar dunia Maya, memberikan semangat tersendiri untuk terus menulis dan meneriakkan kebaikan kebaikan kecil yang mulai terabaikan.
Saya tidak perlu detail bercerita bagaimana, seperti apa, linkungan dunia maya saat ini, terutama di negeri Indonesia tercinta ini, saya, dia, kalian, termasuk mereka, saya yakin tidak butuh 5 menit untuk mendapatkan [mohon maaf] tulisan, gambar, atau video porno hanya dengan bemodal koneksi internet yang ter-lelet sekalipun.
Jika tidak punya kuasa untuk menegur, menutup atau memblogkir, hal yang terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan membuat konten tandingan, Ya...sisi negatif selalu memiliki musuh seimbang pada sisi positif.

Saya memulai langkah kecil itu dengan blogwalking, ikut nyimak dan bersuara di forum-forum, join beberapa Group Facebook, etc berharap bisa mendapatkan teman untuk sekedar bercerita, berbagi, teman seperjuangan untuk melangkah, tertawa dan berteriak bersama....bukankah akan selalu ada semangat beda jika dilakukan bersama.

Bloggers Shout Out-Saya tidak ingat detailnya sampai saya menemukan group yang satu ini. Seingat saya, suatu malam, ketika jari saya sudah merasa lelah blog walking ria, tak sengaja saya tertarik pada profile seorang blogger, hmm..gadis tentunya, setelah masuk ke blog gadis yang saya lupa nama dan alamat blognya itu saya menemukan logo biru seperti gambar di bawah.



Penasaran, langsung saya klik, dan diarahkan ke halaman gropu Facebook bloggers shout out.
Ada yang menarik dari group yang satu ini, yang saya rasa tidak saya temukan pada beberapa group yang sudah pernah saya ikuti, Yang pertama adalah berjejalnya peraturan peraturan, ha ha tapi saya suka, karna peraturan membuat hidup lebih rapi dan indah, dan kedua memiliki thema unik yakni Blogger Campaign Project

Apa itu blogger Campaign ?
  • Blogger Campaign tidak bertindak dengan tujuan mendapatkan uang.
  • Blogger Campaign tidak bertindak dengan tujuan mempromosikan suatu produk tertentu, atau mendukung suatu hal yang berkenaan dengan masalah politik di dalam negeri. 
  • Blogger Campaign menyampaikan aspirasi positif , ide baru, kreatifitas dan lain-lain. Jadi, daripada meraup keuntungan, Blogger Campaign ini lebih punya tujuan untuk memperbaiki suatu pemikiran negatif pada umumnya menjadi positif dan juga memperluas wawasan para onliners di Indonesia. 
  • Media yang digunakan adalah sama. Yaitu, blog masing-masing peserta Blogger Campaign yang sudah didaftarkan pada Bloggers' Shout Out! ini. Hanya saja model postingannya boleh berupa tulisan bebas, cerpen, puisi, artwork dan bahkan juga video. Yang penting sesuai dengan tema yang sedang diangkat. 
Tertarik Ingin Bergabung, silahkan klik banner di atas, atau di sidebar blog ini, tapi itu jika anda memang benar benar serius sebagai blogger dan ingin bergabung, karna akan ada banyak peraturan. Tapi peraturan tersebut sebenarnya bukanlah peraturan-peraturan yang memberatkan, bagi seorang blogger.
Dan siaplah sewaktu waktu ditendang keluar jika melanggar peraturan peraturan yang sudah di tetapkan.

Wassalam...

Minggu, 01 April 2012

Bismillah!!!-Tulisan pembuka Blog Pojok Motivasi

catatan

Assalamualaikum Warohmatullahi Wa Barokaatuh... 

"Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian. 
Bukan berarti aku orang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling salih di antara kalian. Sungguh aku pun telah banyak melampaui batas atas diriku. Aku tidak sanggup mengekangnysa dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. 
Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat."[ Imam Hasan al-Bashri ]

"Tidaklah seorang muslim memberikan hadiah kepada sesama saudaranya, lebih utama selain hadiah menyampaikan nasihat bijak (kalimat hikmah) yang dengannya Allah Swt. menambah petunjuk-Nya atau mengangkatnya dari lembah kehinaan." [H.R. Imam Baihaqi]

Ini adalah tulisan pembuka di blog ini, sebagai perkenalan dan tentunya sebagai pegangan buat saya kedepannya dalam mengembangkan konten di blog ini.

KENAPA SAYA MENULIS DI BLOG INI?

Semangat Berbagi!!!

Alhamdulillah,,,Semanggat ini melampaui dangkalnya ilmu saya, melampaui terbatasnya wawasan dan segala jenis kekurangan saya. Semoga semngat ini tetap terjaga, dan semoga niat di dada tetap lurus, lurus hanya karna-NYA.

Mudahan segala yang saya tulis ini bukan karna nama, bukan karna harta, bukan karna terpaksa, dan bukan karna siapa siapa[allahseeker[dot]blogspot[dot]com]

Tentu akan banyak sekali kekurangan dalam blog ini nantinya,dan itu semata-mata karna keterbatasan saya sebagai manusia biasa, oleh karna itu saya akan sangat senang jika teman-teman nantinya berkenan memebrikan komentar, berupa tanggapan dan koreksi jika saya melakukan suatu kesalahan, baik berupa materi, penulisan atau hal-hal keliru lainnya. Dan semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang beruntung karna saling memperingati dalam kebaikan.

Saya akan sangat merasa bahagia jika nantinya melalui blog ini saya bisa menjalin silaturrahmi dengan teman seiman dan seperjuangan, mungkin dengan cara bertukar link blog, atau follow memfollow blog, Google+, facebook, twiiter. Dan bersama sama kita berbagi dan saling memperingati dalam kebaikan.

Terakhir saya menuliskan setiap baris kalimat dalam psoting di blog ini diawali dengan bacaan basmalah "Bismillahirrahmaanirraahiim"

Dan bagi temen-temen yang ingin menjalin tali silaturrahmi, saya sudah menempelkan beberapa acount jejaring sosial milik saya, silahkan kita follow memfollow blog atau twiiter kita, dan add meng-add pada acount facebook.

Wassalamualaikum warohmatullahi wa barokatuh....

Herman Sopian/nama pena "Moerad Qrad"

Sholawat and salam to Muhamaad s.a.w